Minggu, 31 Mei 2026
light_mode

Layakkah Pernyataan “Tuhan Bukan Orang Arab” Diucapkan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 1 Des 2021
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Diam itu adalah emas! Mungkin inilah nasehat yang cocok disampaikan kepada Bapak KSAD Dudung Abdurrahman. Sebab tidak punya kepabilitas menyampaikan sesuatu namun memaksakan diri untuk menjelaskan demi pembelaan dan pembenaran. Apalagi jika pernyataan tersebut dimaksudkan untuk bercanda. Layakkah ajaran agama sendiri dibawa untuk bersenda gurau? Terlebih urusan mendasar yaitu Tuhan!

Belum lama dilansir oleh republika online.co.id, hari ini, berita yang menyebutka bahwa KSAD Dudung Abdurrahman berbagi pandangan tentang ajaran Islam. Dikutip dari pernyataan Dudung saat menjadi bintang tamu ‘Deddy Corbuzier Podcas‘ pada detik 01.02.39, Rabu (1/12).

Dalam acara tersebut, rupublika co.id menuliskan tentang pernyataan-pernyataan KSAD Dudung terkait pandangannya terhadap ajaran Islam. Ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dari ucapan-ucapannya. Seperti sedekah yang menurutnya harus dilaksanakan oleh mereka yang mampu atau kaya. Kemudian tentang doa. Dalam artikel berita yang dimuat oleh rupublika.co.id, Dudung mengatakan bahwa dirinya berdoa dalam shalat cukup simple dengan bahasa Indonesia saja karena Tuhan bukan orang Arab.

Pandangan KSAD Dudung Abdurrahman tersebut tidak boleh dibiarkan dan harus diluruskan. Sebab, ucapan tersebut mengandung ambigu dan bisa membuat gaduh. Sebagai manusia yang mengaku beriman kepada Allah swt, tentu ia akan mudah menerima nasehat dan senang dinasehati jika salah dalam berucap dan bertindak. Karena nasehat adalah bukti cinta dan penjagaan dalam ajaran Islam. Adapun poin-poin yang perlu dikritisi sebagai berikut.

Pertama, terkait perkara sedekah. Kalau menurut KSAD Dudung, bersedekah haruslah orang yang kaya dan mampu. Tidak salah. Tetapi pemaknaan kaya dan mampu juga harus tepat. Jika yang dimaksud adalah kaya/mampu secara materi, ia keliru. Karena sedekah yang harus dipahami pertama adalah sunnah yang dianjurkan. Tidak ada prasyarat harus mampu/kaya secara materi dulu baru bersedekah. Seberapa pun yang disanggupi oleh seseorang, Islam tidak memandang nilainya namun amalnya. Toh, bicara standar kaya/mampu juga harus ada ukurannya.

Apalagi di zaman kapitalis sekarang, standar kaya/mampu juga tidak jelas. Jadi, tidak perlu menunggu standar kapitalisme untuk kaya/mampu. Jika ada niat dan barangnya halal dari zat dan cara memperolehnya untuk disedekahkan, maka segera laksanakan. Bukankah sedekah pahalanya akan terus mengalir bagi pemberinya? Jika hanya untuk orang kaya saja dianjurkan, berarti orang tidak kaya tidak punya peluang untuk meraih pahala sedekah? Tuhan tidak pilih kasih dalam memberi.

Kedua, pernyataan yang sangat ambigu dan kontroversi KSAD Dudung soal Tuhan bukan orang Arab. Ia menyebut kata “Tuhan”,  selanjutnya menyematkan “Orang Arab”. Adakah Tuhan yang Maha Pencipta layak disematkan atau dibandingkan dengan orang Arab sebagai makhlukNya? Tuhan itu Allah swt, Al-Khaliqu ala kulli syaii fissamawati wama fil ardh. Dia juga Al-Mudabbir, Al-Malik, Al-Awwalu wal Akhiru. Sementara manusia tidak memiliki segala yang dimiliki oleh-Nya. Lalu, kenapa berani menyandingkan Tuhan dengan kata kalimat “bukan orang Arab”?  Astaghfirullah!

Seharusnya, jika sudah tidak punya bahan untuk dibincangkan, alangkah bagusnya pakai nasehat diam itu adalah emas untuk keselematan diri sendiri. Akhiri saja perbincangan. Khawatirnya, kejadian yang dilakukan oleh KSAD Dudung dengan pernyataannya tersebut bisa saja dianggap sebagai pelecehan terhadap Allah swt.

Perbuatan semacam itu tentu bukanlah perbuatan yang karimah dan ahsan. Melainkan perilaku yang tercela dan dilarang. Bahkan bisa membuat pelakunya masuk dalam ketegori munafik jika berniat memperolok-olok Sang Pencipta. Tidakkah ada rasa takut dalam diri dan jiwa yang diciptakan lemah dan serba terbatas itu ketika kelak berhadapan dengan Sang Pemiiliknya?

Ketiga, persoalan berdoa dengan bahasa Arab atau tidak, itu persoalan keutamaan. Bahasa Arab diutamakan dan tidak ada pertentangan di kalangan ulama terkait keutamaan tersebut. Bahkan bacaan shalat itu isinya semua doa. kalau doa dimaknai sebatas lepas shalat, betul, tidak ada yang melarang pakai bahasa apapun. Pokoknya yang berdoa ngerti isi doanya.

Jadi, tidak ada hubungan berdoa memakai bahasa Arab dengan orang Arab. Jadi logikanya sangat dangkal jika menyamakan orang Arab dengan bahasa Arab dalam berdoa terlebih menyematkan kepada Tuhan.

Kenapa orang Arab mesti dibawa-bawa? Kalau bahasa Arab sudah jelas posisinya dalam ajaran Islam. Bahasa yang diwajibkan secara individu (fardh ain) untuk dipelajari dan diketahui oleh umat Islam. Sebab Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup di dunia diturunkan oleh Allah swt dengan memakai bahasa Arab.

Itulah keutamaan bahasa Arab sebagai bahasa pilihan langusng oleh Allah swt. kalau orang Arab? Ya, Allah swt juga memilih Nabi terakhir, yaitu Rasulullah Muhammad saw dari kalangan bangsa Arab. Tetapi apakah semua orang Arab lalu harus dianggap Nabi atau keturunan yang paling mulia tanpa dosa? Tentu konteksnya berbeda.

Atau apakah kalimat “Tuhan bukan orang Arab” itu adalah pernyataan untuk menguatkan sentimen terhadap bangsa tertentu yaitu “Arab”? Bukankah sentien terhadap suatu bangsa/suku adalah rasisme? Apakah rasisme dibenarkan di negeri yang konon demokratis?

Teruntuk sentilan orang Arab sendiri, pertanyaan yang muncul adalah, adakah orang Arab pernah menggores luka menganga di negeri ini? Seperti menjajah, merampok, korupsi, mengintervensi? Bukankah semua itu dilakukan oleh orang Barat? Kenapa tidak sentimen kepada Barat? Malah ke Arab? Aneh bukan?

Logika dan pemikiran yang salah serta bebas menyematkan sesuatu yang tidak sepadan lahir dari sistem kehidupan yang sekuler dan liberal. Andaipun tidak bermaksud melecehkan Tuhan, namun kalimat itu sungguh tidak layak terucap dari lisan seoarang Muslim. Kehati-hatian dalam berbicara adalah cerminan seorang muslim. Rasulullah saw sudah mengingatkan bahwa lisan dan kemaluan adalah dua perkara yang banyak membuat manusia kelak tergelincir ke dalam api neraka.

Bahkan ucapan-ucapan yang keluar dari lisan adalah cermin pemahaman, yang pastinya juga merupakan cermin keimanan. Jadi, waspadalah dengan lisan! Wallahu a’alam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Seleksi Tenaga Honorer untuk Diangkat Jadi CPNS

    Pemerintah Seleksi Tenaga Honorer untuk Diangkat Jadi CPNS

    • calendar_month Selasa, 11 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN : Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara telah menyeleksi sekitar 890 ribu lebih tenaga honorer yang diusulkan dari seluruh provinsi untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Usai peresmian “Samsat Drivethru” di lingkugan Bank Sumut di Medan, Rabu, 29 Desember 2010 Sekretaris Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Tasdik Kinanto mengatakan, setelah pemberlakuan PP 48/2005 tentang […]

  • Penanganan Sektor Pariwisata Madina Dipertanyakan

    Penanganan Sektor Pariwisata Madina Dipertanyakan

    • calendar_month Kamis, 12 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penanganan sektor pariwisata di Mandailing Natal (Madina) dinilai masih rendah sehingga masih stagnan. Demikian  diungkap Pengamat Pembangunan Madina, Ali Musa Manto Lubis kepada Mandailing Online di Panyabungan, Kamis (12/7/2018). Banyak titik wisata yang sangat potensial di Madina yang memiliki nilai jual tinggi untuk wisatawan lokal maupun turis luar negeri, namun penggarapan […]

  • Tiga Penambang Tewas, Diduga Menghirup Gas Beracun

    Tiga Penambang Tewas, Diduga Menghirup Gas Beracun

    • calendar_month Selasa, 25 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Diduga akibat menghirup gas beracun dari lobang tambang emas, tiga orang penambang meninggal dunia di Hutan Garunggung, Desa Koto Boru, Kecamatan Muara Sipongi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Senin (24/9). Ketiganya bernama Armen penduduk Desa Koto Baringin; Ilham warga Desa Tanjung Medan dan Gadang yang juga warga Desa Tanjung Medan Kecamatan […]

  • 60 Instansi tak Rekrut CPNS Baru

    60 Instansi tak Rekrut CPNS Baru

    • calendar_month Minggu, 17 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Waspadai Strategi untuk Raih Remunerasi JAKARTA- Tuntas sudah pengajuan kebutuhan calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2011. Berdasar data dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN dan RB), hingga batas akhir pengajuan, terdapat 60 intansi yang tak memasukkan data kebutuhan pegawai baru. Ke-60 instansi tersebut terdiri atas instansi pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan […]

  • Pembunuh Istri dan Mertua di Madina, Warga Medan Ditangkap di Labuhanbatu

    Pembunuh Istri dan Mertua di Madina, Warga Medan Ditangkap di Labuhanbatu

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    RANTAUPRAPAT: Personel Polres Labuhanbatu berhasil menangkap seorang tersangka yang diduga pelaku pembunuhan di dusun III desa Bintungan Bejangkar Baru Kec Batahan Kab Madina. Itu, berkat informasi yang dikirimkan pihak Polres Madina. Disebutkan, pelaku kejahatan yang disangkakan melanggar pasal 338 KUHP tersebut berhasil ditangkap di Dusun Sidorukun Simpang Pangkatan kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu, Selasa 19 April […]

  • Lanjutan Pembangunan Mesjid Al Muhajirin Tabuyung Butuh Dana

    Lanjutan Pembangunan Mesjid Al Muhajirin Tabuyung Butuh Dana

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Masjid Al-Muhajirin di Km18, Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal (Madina) butuh dana pembangunan lanjutan. bangunan masjit selama ini jenis kayu, warga berinisiatif melakukan rehab berat dan mengganti fisik kayu dengan beton atas swadaya masyarakat. Tetapi pengerjaan terhambat, lantaran tak mencukupinya biaya. Karena itu, masyarakat berharap adanya […]

expand_less