Sabtu, 6 Jun 2026
light_mode

Bahasa Mandailing, Sastra Klasik Hingga Masa Kolonial (bagian 3)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 17 Jan 2022
  • print Cetak

Jalan Pos di Mandailing tahun 1890. Arsip Leiden, Belanda (Madina Madani/Basyral Hamidi Harahap)

Masa Kolonial

Beberapa tonggak sastra yang berkembang pada masa kolonial antara lain:

Willem Iskander (1840-1876) Pria kelahiran Pidoli bernama asli Sati Nasution ini menulis beberapa buku, antara lain:

1) “Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865).

2) “Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)

3) “Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)

4) “Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)

Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:

1) “Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)

2) “Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.” (1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.

3) “Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.

Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:

1) Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit).

2) “Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut. Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.

3) “Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.

Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku: “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.

Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.

Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain:

1) “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”.

2) “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983)

Dan karya lainnya. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat sastrawan Mandailing juga memiliki peran dalam pertumbuhan sastra Indonesia yang berbahasa Melayu mengadopsi warna lokal.

Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, harta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

Sastra Mandailing kontemporer tidak lagi berkembang sejak pra-kemerdekaan, dikarenakan berubahnya kurikulum pendidikan yang memakai bahasa Nasional dengan sendirinya mengikis pemakaian bahasa Mandailing. [4]

Sumber: Wikipedia

Referensi Wikipedia:

[4] Askolani Nasution (27 Januari 2014). “Kesusatraan Mandailing”. www.jendelasastra.com.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Data Privasi Rakyat Tidak Aman di Era Kapitalisme

    Data Privasi Rakyat Tidak Aman di Era Kapitalisme

    • calendar_month Rabu, 31 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nurmala Sari, S.Pd Aktivis Dakwah, tinggal di Tapanuli Utara Kasus kebocoran data privasi rakyat kembali terjadi. Dilansir dari Liputan6.com, 21/08/22, 26 juta riwayat pencarian Indihome diduga bocor, nama dan NIK pelanggan terungkap dan dibagikan gratis di situs gelap. Isu ini mendapat komentar dari masyarakat, salah satunya dari akun di twitter Teguh Aprianto, yang mengatakan […]

  • Hati-Hati, Jalur Roburan-Sirambas Berbahaya

    Hati-Hati, Jalur Roburan-Sirambas Berbahaya

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Sudah 3 Tahun Lamanya, Pemerintah Tatap Membiarkan     PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) : Jalur Kayu Laut-Roburan-Sirambas  sangat berbahaya dilalui kenderaan akibat satu titik tebing jalan yang longsor. Titik longsor tepat di Desa Aek Ngali, Kecamatan Panyabungan Selatan. Panjang badan jalan yang longsor sekitar 8 meter. Berada di tikungan badan jalan. Kasus longsor ini […]

  • Dua Pembunuh Wartawan Ditangkap, 4 Lainnya Buron

    Dua Pembunuh Wartawan Ditangkap, 4 Lainnya Buron

    • calendar_month Selasa, 5 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      LABUHANBATU (Mandailing Online) – Dua dari 6 tersangka pembunuh dua wartawan di Labuhanbatu, Sumut ditangkap Polres Labuhanbatu, Selasa (5/11/2019). Keduanya ditangkap di Kecamatan Panai Hilir sekira pukul 01.30 WIB. Kapolres Labuhanbatu, AKBP Agus Darajot mengatakan, kedua tersangka yang ditangkap masing-masing berinisial VS (49) dan SH. Keduanya warga Dusun VI Sei siali, Desa Wonosari, Kecamatan Panai […]

  • Eksotisme  Rodang Tinapor di Film “MARINA”

    Eksotisme Rodang Tinapor di Film “MARINA”

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Tympanum Novem Films kembali menggarap film Mandailing terbaru untuk produksi ke sepuluh mereka. Kali ini memilih judul “Marina” dengan rencana durasi sekitar 2 jam, lebih panjang dari film-film yang diproduksi Tympanum sebelumnya. Film “Marina” ini digarap dengan plot cerita bisa lebih lentur agar penonton lebih terhibur. Hingga kini tahapan produksinya masih […]

  • SMPN 01 Panyabungan Selatan Isi Ramadan Bernuansa Religi

    SMPN 01 Panyabungan Selatan Isi Ramadan Bernuansa Religi

    • calendar_month Senin, 20 Mei 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) – SMP Negeri 01 Panyabungan Selatan mengisi Ramadan dengan berbagai kegiatan pelajar yang bernuansa mengasah religiusitas. Kegiatan-kegiatan itu meliputi Tadarus Al-Qur’an, Tahfizd Al-Qur’an, Lomba Azan, dan Pidato yang berlangsung sepekan penuh. Berakhir pada Sabtu (18/05/2019). Kepala Sekolah SMP Negeri 01 Panyabungan Selatan, Zulkarnain S.Pd menyerahkan hadiah kepada pera pelajar pemenang. Lomba […]

  • Ada Dana APBN Untuk Wisata Desa, PMD Madina Akui Dana Belum Cair

    Ada Dana APBN Untuk Wisata Desa, PMD Madina Akui Dana Belum Cair

    • calendar_month Kamis, 19 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ternyata Ada anggaran untuk Bantuan Pengembangan Obyek Wisata di Kabupaten Mandailing Natal senilai Rp. 250.000.000. Dasar bantuan tersebut yakni usaha mendorong perubahan kepariwisataan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan manfaat yang lebih baik. Diketahui dari data yang diperoleh Mandailing Online sumber dana dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Kementrian Desa Pembangunan Daerah […]

expand_less