Kamis, 15 Okt 2026
light_mode

Sulit Atasi Hama Tikus pada Padi, Dosen IPB Bagikan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
  • print Cetak

hama tikus pada padi

 

Hama tikus saat ini masih menjadi ancaman bagi pertanian, khusunya padi. Untuk mengatasinya, telah dilakukan berbagai upaya pengendalian terpadu yang dianggap cocok agar bisa menekan kerugian.

Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Swastiko Priyambodo mengatakan, relief Candi Borobudur menunjukkan bahwa tikus sejak dulu telah menjadi hama padi sejak dulu. Sampai dengan saat ini, hama tikus mampu bertahan dan melawan setiap upaya tindakan pengendalian.

Swastiko menuturkan, terdapat tiga kata kunci dalam manajemen pengendalian hama tikus. Pertama, yaitu keterpaduan berbagai metode pengendalian mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi dan kimia yang dipadukan dan bersifat kompatibel.

Kedua, lanjut dia, yaitu kebersamaan dalam pengendalian populasi hama tikus sawah. Terakhir, yaitu keberlanjutan upaya pengendalian pada setiap musim tanam perlu dilakukan secara terus menerus.

Pakar tikus dari IPB University tersebut menjelaskan, manajemen populasi tikus secara non-kimia namun dapat bersifat toksik biasanya dengan menggunakan protozoa. Namun, cara ini terbilang sulit untuk diterapkan di lapangan dan terbilang mahal.

Selain itu, dia mengatakan, metode ini juga masih kalah saing dengan rodentisida kimia yang harganya lebih murah dan dijual bebas di pasaran. Sebaliknya, manajemen kimia namun bersifat non-toksik dengan menggunakan rodentisida seperti Rodol dinilai tidak terlalu efektif.

Dia menyebut, keefektifannya sudah diuji di IPB dan hasilnya menunjukkan, tikus tidak terlalu suka dengan umpan tersebut.

“Alternatifnya, manajemen tikus dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan metode budidaya tertentu. Misalnya, seperti trap crop dan push-pull system repellent,” ungkap Swastiko dalam Webinar Propaktani “Ayo Kendalikan Tikus“ yang digelar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Rabu (6/7/2022).

Sayangnya, tambah Swastiko, kedua metode tersebut tidak bisa dikombinasikan pada hamparan pertanaman padi.

Untuk metode budidaya lainnya yakni, tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo atau tanam padi serempak pada area sawah. Tanam padi serempak ini dapat dikembangkan menjadi agroekowisata pada hamparan sawah.

Saat ini, IPB dan mahasiswanya telah mencoba mengembangkan hamparan sawah menjadi agroekowisata yang dilakukan bersama pemerintah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar).

Lebih lanjut, Swastiko menjelaskan, upaya manajemen lainnya yakni dengan cara sanitasi atau bersih lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena lingkungan yang buruk akan menjadi tempat yang disukai bagi tikus.

Sementara itu, untuk manajemen tikus secara fisik atau mekanis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi terkini seperti Internet of Things (IoT). Menurutnya, dengan aplikasi handphone, petani lebih mudah untuk mendeteksi perangkap yang berhasil menangkap tikus.

Namun, tutur Swastiko, biaya operasional cenderung mahal, berbeda dengan cara pengedalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, seperti Tyto alba, musang atau garangan, dan ular tikus.

Selain itu, umumnya petani juga menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun. Petani juga kerap mencoba mengkreasikan rodentisida dengan menggunakan tumbuhan yang dapat meracuni tikus.

Berkenaan dengan hal itu, Swastiko sendiri mendukung upaya kreasi dan inovasi yang datang dari petani.

“Namun, perlu diingat tikus sifatnya melawan, belum tentu tikus yang tersisa mau memakan umpan tersebut. Di lapangan banyak tersedia makanan yang lain. Namun, upaya ini harus tetap didukung agar tidak lagi ketergantungan pada industri pestisida,” terang Swastiko.

Swastiko juga mengimbau kepada para petani agar waspada pada rodentisida illegal karena akan sangat bersifat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani sendiri.

Dia juga menjelasakan, terdapat tiga faktor dalam manajemen tikus yaitu, faktor ekologi, faktor ekonomi, dan faktor sosiokultural. Selain memperhatikan faktor lingkungan dan biaya, pengendalian hama tikus juga harus memberikan dampak sosial yang positif terhadap masyarakat.

Sumber: Media Tani

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    Bupati Madina Lepas Kontingen Porsadin

    • calendar_month Jumat, 14 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jafar Sukhairi Nasution melepas 29 peserta asal Madina mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Sumatera Utara (Sumut) di Masjid Agung Nur Ala Nur, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Jumat (14/10/2022). Porsadin kali ini, Kabupaten Madina mengikuti 12 cabang yaitu, cabang puisi islam, cabang […]

  • Produksi dan Harga Kakao Turun, Petani Madina Kelimpungan

    Produksi dan Harga Kakao Turun, Petani Madina Kelimpungan

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Petani kakao di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam beberapa bulan terakhir mengalami masa sulit, selain produksi menurun, harga biji kakao juga menukik. Penurunan produksi tersebut diakibatkan musim danga, penurunan produksi mencapai hingga 50 %. “Musim danga itu akibat musim penghujan yang berkepanjangan melanda daerah ini sejak bulan September 2014 hingga […]

  • Gelar Perkara Kelar. Kasus Kades Jamburbaru Madina Tinggal Menunggu Keputusan Bupati

    Gelar Perkara Kelar. Kasus Kades Jamburbaru Madina Tinggal Menunggu Keputusan Bupati

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA||Mandailing Online – Setelah periksa pelapor, saksi, hingga gelar perkara, Inspektorat Mandailing Natal resmi naikkan berkas dugaan korupsi Dana Desa 2024-2025 dan perusakan aset jalan Rp147,6 juta oleh Kepala Desa Jambur Baru ke Bupati. “Tim sudah gelar perkara. Hari ini hasilnya kita naikkan ke Pak Bupati untuk ditindaklanjuti,” tegas Kepala Inspektorat Madina, Munawar, SH, Senin […]

  • Bonus Produksi PT SMGP tak Maksimal, PNNB Puncak Sorik Marapi Demo ke Kantor Bupati Madina

    Bonus Produksi PT SMGP tak Maksimal, PNNB Puncak Sorik Marapi Demo ke Kantor Bupati Madina

    • calendar_month Senin, 15 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA-Mandailing Online: Ratusan pemuda mengatasnamakan dirinya dari Persatuan Naposo Nauli Bulung ( PNNB) di Kecamatan Puncak Sorik Marapai, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) datangi kantor Bupati Madina Senin 15/7. Kedatangan mereka mempertanyakan bonus produksi PT. Sorik Marapi Geotermal Power ( SMGP) yang beroperasi di wilayah mereka. Dalam orasinya di depan Sekretaris Daerah, Riski Koordinator Aksi […]

  • Warga Hayu Raja Curigai Pencairan BLT 24 Desember 2020

    Warga Hayu Raja Curigai Pencairan BLT 24 Desember 2020

    • calendar_month Kamis, 4 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN SELATAN (Mandailing Online) – Penduduk Desa Hayu Raja Kecamatan Panyabungan Selatan, Mandailing Natal mencurigai masa pembagian BLT Dana Desa yang harus di tanggal 24 Desember 2020. Padahal, menurut warga, BLT itu bisa disalurkan jauh sebelum Desember yang sejatinya tanpa kendala. Pejabat pemerintah desa beralasan pihak bank Sumut Panyabungan selaku bank penyalur Dana Desa kehabisan […]

  • Marsisalamatkon Dirina Boto Jolmai

    Marsisalamatkon Dirina Boto Jolmai

    • calendar_month Kamis, 7 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Songonimada dihangolunon, pala adongma tando-tando nagiot karom parau ibarat ni namarlayar di laut nabolak, marsisalamatkon dirina mei jolmai, adong namamuhung-muhung songoni baen biarna ia ona jorat, adong antong mamasang kuda-kuda gorarna anso bisa morot sian parau nagiot karomi, adong muse sifat nijolmai nabulus putus asado, hodoma tuhan namangida anggo audo inda adong dayo upayo ningiama […]

expand_less