Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Sulit Atasi Hama Tikus pada Padi, Dosen IPB Bagikan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
  • print Cetak

hama tikus pada padi

 

Hama tikus saat ini masih menjadi ancaman bagi pertanian, khusunya padi. Untuk mengatasinya, telah dilakukan berbagai upaya pengendalian terpadu yang dianggap cocok agar bisa menekan kerugian.

Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Swastiko Priyambodo mengatakan, relief Candi Borobudur menunjukkan bahwa tikus sejak dulu telah menjadi hama padi sejak dulu. Sampai dengan saat ini, hama tikus mampu bertahan dan melawan setiap upaya tindakan pengendalian.

Swastiko menuturkan, terdapat tiga kata kunci dalam manajemen pengendalian hama tikus. Pertama, yaitu keterpaduan berbagai metode pengendalian mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi dan kimia yang dipadukan dan bersifat kompatibel.

Kedua, lanjut dia, yaitu kebersamaan dalam pengendalian populasi hama tikus sawah. Terakhir, yaitu keberlanjutan upaya pengendalian pada setiap musim tanam perlu dilakukan secara terus menerus.

Pakar tikus dari IPB University tersebut menjelaskan, manajemen populasi tikus secara non-kimia namun dapat bersifat toksik biasanya dengan menggunakan protozoa. Namun, cara ini terbilang sulit untuk diterapkan di lapangan dan terbilang mahal.

Selain itu, dia mengatakan, metode ini juga masih kalah saing dengan rodentisida kimia yang harganya lebih murah dan dijual bebas di pasaran. Sebaliknya, manajemen kimia namun bersifat non-toksik dengan menggunakan rodentisida seperti Rodol dinilai tidak terlalu efektif.

Dia menyebut, keefektifannya sudah diuji di IPB dan hasilnya menunjukkan, tikus tidak terlalu suka dengan umpan tersebut.

“Alternatifnya, manajemen tikus dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan metode budidaya tertentu. Misalnya, seperti trap crop dan push-pull system repellent,” ungkap Swastiko dalam Webinar Propaktani “Ayo Kendalikan Tikus“ yang digelar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Rabu (6/7/2022).

Sayangnya, tambah Swastiko, kedua metode tersebut tidak bisa dikombinasikan pada hamparan pertanaman padi.

Untuk metode budidaya lainnya yakni, tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo atau tanam padi serempak pada area sawah. Tanam padi serempak ini dapat dikembangkan menjadi agroekowisata pada hamparan sawah.

Saat ini, IPB dan mahasiswanya telah mencoba mengembangkan hamparan sawah menjadi agroekowisata yang dilakukan bersama pemerintah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar).

Lebih lanjut, Swastiko menjelaskan, upaya manajemen lainnya yakni dengan cara sanitasi atau bersih lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena lingkungan yang buruk akan menjadi tempat yang disukai bagi tikus.

Sementara itu, untuk manajemen tikus secara fisik atau mekanis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi terkini seperti Internet of Things (IoT). Menurutnya, dengan aplikasi handphone, petani lebih mudah untuk mendeteksi perangkap yang berhasil menangkap tikus.

Namun, tutur Swastiko, biaya operasional cenderung mahal, berbeda dengan cara pengedalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, seperti Tyto alba, musang atau garangan, dan ular tikus.

Selain itu, umumnya petani juga menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun. Petani juga kerap mencoba mengkreasikan rodentisida dengan menggunakan tumbuhan yang dapat meracuni tikus.

Berkenaan dengan hal itu, Swastiko sendiri mendukung upaya kreasi dan inovasi yang datang dari petani.

“Namun, perlu diingat tikus sifatnya melawan, belum tentu tikus yang tersisa mau memakan umpan tersebut. Di lapangan banyak tersedia makanan yang lain. Namun, upaya ini harus tetap didukung agar tidak lagi ketergantungan pada industri pestisida,” terang Swastiko.

Swastiko juga mengimbau kepada para petani agar waspada pada rodentisida illegal karena akan sangat bersifat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani sendiri.

Dia juga menjelasakan, terdapat tiga faktor dalam manajemen tikus yaitu, faktor ekologi, faktor ekonomi, dan faktor sosiokultural. Selain memperhatikan faktor lingkungan dan biaya, pengendalian hama tikus juga harus memberikan dampak sosial yang positif terhadap masyarakat.

Sumber: Media Tani

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • SPBU Kosong, Ketengan  Bensin Menjamur

    SPBU Kosong, Ketengan Bensin Menjamur

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bahan bakar minyak jenis bensin kembali langka di SPBU Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Anehnya pengecer ketengan di titik-titik tak jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) justru tak kunjung habis stok dengan harga diatas harga SPBU. Harga bensin di tingkat pengecer pingir jalan antara 8.000 rupiah hingga 13.000 rupiah […]

  • Pemko Tebing Tinggi tak Respon

    Pemko Tebing Tinggi tak Respon

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banjir Kiriman Rendam Dua Kelurahan TEBING TINGGI- Sungai Padang dan Sungai Behilang yang membelah Kota Tebing Tinggi meluap, Sabtu (2/4). Akibatnya, ratusan rumah warga di Kelurahan Persiakan dan Kelurahan Mandailing Kecamatan Tebing Tinggi Kota, terendam banjir. Banjir terparah dialami warga yang bermukim di Lingkungan I, II, III dan IV, Kelurahan Mandailing. Ketinggian air hampir mencapai […]

  • Pj Bupati Madina Tempati Rumah Dinas

    Pj Bupati Madina Tempati Rumah Dinas

    • calendar_month Senin, 20 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ratusan tokoh masyarakat menyambut kedatangan Pj Bupati Mandailing Natal (Madina) Ir H Aspan Sopian Batubara MM, di rumah dinas Bupati Madina di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina, Minggu (19/9). Amatan METRO di lokasi, ucapan selamat disampaikan ratusan masyarakat yang terdiri dari Tokoh Adat, Agama, Pemuda, dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka berharap Pj Bupati Madina […]

  • Pembangunan Pola Gotong-royong di Desa Pangkat

    • calendar_month Rabu, 29 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lembah Sorik Marapi (Mandailing Online) – Pemkab Madiling Natal (Madina) menerapkan pembangunan pola gotong-royong di Desa Pangkat Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Selasa (28/5). Proyek yang digotong-royongkan adalah pembangunan rabat beton sepanjang 200 meter. “Pemerintah menyiapkan material yang dibutuhkan. Sementara itu, warga melaksanakan kegiatannya,” ungkap Asisten I Pemkab Madina, Musaddad Daulay. Pola ini diharapkan memiliki tiga […]

  • Siap Edar

    Siap Edar

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kapolres Madina AKBP Fauzi SIK menunjukkan dua karung ganja siap edar yang ditemukan di salah satu rumah warga saat dilakukan penggerebekan di Desa Hutatinggi Kecamatan Panyabungan Timur, Rabu (14/9). (medanbisnis / henri) Sumber : Medanbisnis

  • Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    Warga Madina Dihimbau Menunda “Horja”

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Segenap warga Mandailing Natal yang sudah merencanakan resepsi pernikahan atau “Horja” agar ditunda. Penundaan “mambaen horja” ini satu dari 8 poin himbauan yang tertuang dalam Keputusan Bersama Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tertanggal 27 Maret 2020. Himbauan itu diterbitkan Forkopimda Mandailing Natal mencermati perkembangan terkini Covid-19. Tujuh […]

expand_less