Kamis, 5 Mar 2026
light_mode

Rivalitas Abdul Haris Nasution vs Zulkifli Lubis (bagian 2 dari 2 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 3 Agt 2022
  • print Cetak

Abdul Haris Nasution dan Zulkifli Lubis

Suatu hari, kepala Stasiun Padalarang, yang berada di wilayah Divisi Siliwangi, ditembak PMC. “Maka terpaksa PMC ditindak. Semua badan penyelidik yang beroperasi dibawah markas besar atau kementerian pertahanan di Yogya, berangsur-angsur kena penertiban oleh Divisi saya,” aku Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1989: 217).

Seperti Lubis, Nasution juga tak ketinggalan ikut Republik. Dia memimpin para pemuda dan bekas tentara di Bandung setelah proklamasi 1945. Seperti Lubis pula, pangkatnya dengan cepat jadi kolonel. Waktu Nasution menjadi Panglima Markas Besar Komando Djawa (MBKD) setelah 1948, Lubis, yang ditendang Perdana Menteri Amir Sjafruddin sebagai kepala intel, memimpin badan intelijen di MBKD. Dan sulit baginya membangun intelijen di Kementerian Pertahanan setelah 1948, hingga dia lebih banyak di militer (Angkatan Darat).

Perang Kolonel

Setelah tentara Belanda cabut, Lubis berusaha membangun lagi badan intelijen dengan nama Intelijen Kementerian Pertahanan (IKP) pada 1952. Badan ini tak lama umurnya. Lubis lalu diarahkan oleh Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Kolonel Tahi Bonar Simatupang untuk memimpin Biro Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP).

Sementara itu, pada awal 1950-an, Nasution sudah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dua kali dia mengisi posisi itu. Dalam sejarah Angkatan Darat, dia orang terlama yang menjadi KSAD, sekitar 7 tahun. Semasa Nasution jadi KSAD itulah pertentangan antara Lubis dengan Nasution meruncing.

Sejak akhir era Revolusi, menurut catatan Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995), “sudah terjadi ketidakserasian antara TB Simatupang, AH Nasution dan Z Lubis. Ketiga perwira berkedudukan tinggi ini punya pendukung masing-masing” (hlm. 399).

Perseteruan pun berlanjut di Staf Umum Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan era 1950-an.

Rivalitas antara Lubis dengan Nasution tentu diperparah dengan pertentangan para politisi era 1950-an. Lubis jelas berseberangan dengan Nasution dalam Peristiwa 17 Oktober 1952. Lubis berhasil mengintai kelompok Nasution yang hendak membubarkan parlemen—yang berisikan politisi yang dianggap tidak becus urus negara. Lubis, yang kala itu berada di pihak presiden—yang tak ingin parlemen bubar—kasak-kusuk membayangi demonstran yang digerakkan kelompok Nasution.

“Orang-orang saya sempat masuk diantara mereka,” kata Lubis dalam memoarnya (hlm. 61).

Orang-orang Lubis berhasil mengarahkan demonstran dan bikin kecewa kelompok Nasution. Di akhir demontrasi, para demonstran berteriak “Hidup Bung Karno” dan usaha kelompok Nasution untuk membubarkan parlemen pun gagal.

Setelah 17 Oktober 1952 itu, Lubis diangkat menjadi Wakil KSAD. Sementara Nasution tersingkir dari posisi KSAD dan dari 1952 hingga 1955 ia jadi orang sipil yang menyusun banyak buku dan membangun Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Lubis mendampingi Bambang Sugeng sebagai KSAD. Bambang Sugeng hanya jadi KSAD dari 1952 hingga 1955. Lubis pun jadi pejabat KSAD selama hampir dua bulan. Setelahnya Bambang Utoyo pun jadi KSAD untuk empat bulan. Setelahnya Nasution naik lagi jadi KSAD.

Hario Kecik dalam memoarnya menyebut, Perdana Menteri Burhanudin Harahap pernah menunjuk Zulkifli Lubis sebagai KSAD. Tapi karena tak ingin dianggap ambisius, Lubis menolak. Lubis pun mengajukan beberapa nama seperti Gatot Subroto, Simbolon, Sudirman, dan lain-lain (hlm. 407-408).

Waktu Perdana Menteri bertanya, “Mengapa Nasution tidak masuk dalam daftar?” Lubis menjelaskan bahwa dalam Konferensi Yogya, Nasution pernah menyatakan sikap bahwa dirinya akan meninggalkan Angkatan Darat. Namun, Lubis mengatakan, jika Burhanudin Harahap berkenan, nama Nasution akan dimasukkan dalam daftar.

“Sebenarnya, yang menggarap ‘pengusulan Nasution’ ini adalah orang-orang Masyumi. Pada waktu itu disarankan pada Lubis untuk mendatangi Nasution untuk minta keterangan tertulis kesediaan Nasution dicalonkan sebagai KSAD,” tulis Hario Kecik.

Beberapa perwira yang belakangan terlibat PRRI/Permesta tak suka Nasution jadi KSAD lagi. Nasution dua kali menolak ketika Lubis menghampiri. Namun waktu Lubis di Makassar, Nasution mengatakan kepada media bahwa dirinya mau jadi KSAD.

Di awal-awal Nasution jadi KSAD lagi itu, seperti diakuinya dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua (1984), ia berusaha menjaga hubungan dengan Lubis. Waktu Lubis naik haji bersama istrinya, Nasution ikut mengantar dan menjemput ke bandara Kemayoran (hlm. 20-23). Tapi apa yang terjadi kemudian adalah cerita soal rivalitas mereka.

“Sudah jadi pembicaraan umum, bahwa KSAD [Nasution] dan WKSAD [Lubis] tidak bersatu. Bung Hatta pun pernah menyebut gekibbel (cekcok terus menerus) antara kami berdua,” tulis Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua.

Tak heran, posisi Lubis sebagai Wakil KSAD pun kemudian digantikan oleh Gatot Subroto pada 1956. Lubis sendiri hendak ditempatkan sebagai Panglima TT I Sumatra, menggantikan Kolonel Mauludin Simbolon. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Perseteruan kian meruncing.

Lubis membuat gerakan-gerakan, tapi gagal. Satu yang terkenal adalah Peristiwa Kranji. Ada tuntutan dari Lubis dan kawan-kawannya agar pemerintah memberhentikan Nasution. Lubis kemudian dipecat. Waktu Sumatra memanas, Lubis pergi ke sana. Dia bergabung PRRI/Permesta dan kalah besar dari Nasution.

Menjelang HUT TNI ke-73, Tirto menayangkan dua serial khusus tentang sejarah militer Indonesia: “Seri Para Panglima Soeharto” dan “Seri Rivalitas Tentara”. Serial pertama ditayangkan tiap Kamis, serial kedua tiap Jumat. Edisi khusus ini hadir hingga puncak perayaan HUT TNI pada 5 Oktober 2018.***

Dicopy dari: Tirto.id, edisi 28 Agustus 2018 berjudul “Perang Saudara Nasution vs Lubis Panaskan Angkatan Darat”

Penulis untuk Tirto.Id: Petrik Matanasi

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dishut tak punya data kerusakan hutan

    Dishut tak punya data kerusakan hutan

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIBUHUAN – Tingkat kerusakan hutan (deforestasi) di Kabupaten Padanglawas tergolong tinggi akibat perambahan dan adanya dugaan penyalahgunaan HPH, sehingga mengarah pada pembalakan liar. “Ternyata Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak mempunyai data tentang kerusakan hutan itu,” ungkap Kepakla Dinas Hutbun Padanglawas, Sulaiman Harahap, siang ini. Dia mengatakan, pihaknya belum mempunyai data tetang deforastasi. Mereka juga belum […]

  • Ini Jalur Alternatif Menghindari Mompang Julu

    Ini Jalur Alternatif Menghindari Mompang Julu

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pelintas jalur lintas Sumatera (Jalinsum) bisa memakai jalur alternatif agar tidak terjebak di titik Desa Mompang Julu, Kecamatan Panyabungan Utara, Mandailing Natal, Sumut yang masih diblokir warga siang ini Kamis (2/7/2020). Jalur alternatif itu adalah Panyabungan-Huatabargot-Jambur. Berdasar penelusuran Mandailing Online jalur itu hanya dapat dilalui kenderaan roda empat. Kenderaan roda empat […]

  • Antikritik di Negeri yang Menjunjung Tinggi Demokrasi

    Antikritik di Negeri yang Menjunjung Tinggi Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 20 Agt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Khadijah Nelly, M.Pd Akademisi dan Pemerhati Sosial Masyarakat   Viralnya sejumlah mural yang dijadikan sebagian rakyat untuk menyuarakan kritikannya malah ditanggapi para penggawa negeri dengan penghapusan dan tindakan hukum bagi pembuatnya. Nampaknya bersuara lewat senipun di negeri demokrasi terus di bungkam.  Sungguh ini sangat bertolak belakang dengan jargon negeri ini yang katanya menjunjung tinggi […]

  • PAN Setujui Sofwat-Zubeir

    PAN Setujui Sofwat-Zubeir

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Partai Amanat Nasional (PAN) memberikan persetujuan kepada Sofwat-Zubeir calon Bupati dan Wakil Bupati Madina di Pilkada 2020. Persetujuan itu tertuang dalam surat keputusan DPP PAN nomor PAN/A/Kpts/KU-SJ/066/VI/2020 tentang persetujuan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Surat keputusan tanggal 18 Juni 2020 yang ditandatangani Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan […]

  • Tujuh Kepala Daerah harus Berjuang Bentuk Sumteng

    Tujuh Kepala Daerah harus Berjuang Bentuk Sumteng

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    SIDIMPUAN (Mandailing Online) – Usulan pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara di Komisi II DPR RI tidak akan berjalan maksimal jika kepala daerah tidak satu kata. Untuk itu, empat kabupaten dan satu kota di wilayah Tabagsel plus Labuhan Batu dan Labuhan Batu Selatan harus bersatu memperjuangkan percepatan pembentukan provinsi ini. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Pengurus Pusat […]

  • Tak Berkategori

    Kemendagri: E-KTP Boleh Difotokopi

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA, — Direktur Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil Kementerian Dalam Negeri Irman mengatakan, kartu tanda penduduk elektronik atau e-KTP boleh difotokopi. Menurut Irman, cip dalam e-KTP itu tak akan rusak bila difotokopi. “Tidak ada masalah kalau difotokopi dan tidak ada larangan bagi masyarakat untuk memfotokopi,” kata Irman seusai rapat bersama Komisi V di Gedung […]

expand_less