Rabu, 15 Apr 2026
light_mode

Modernisasi Pada Bentuk dan Tema Dalam Prosa-Prosa Willem Iskander (1840-1876) (bagian 4-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 7 Feb 2017
  • print Cetak


Oleh: HARIS SUTAN LUBIS
Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara
 

Willem Iskander (Sati Nasution)

Unsur karakter dan tokoh sebagaimana dapat diikuti melalui cerita yang dibangunnya dapat pula dilihat melalui penggambaran sikap secara psikologis, yang ditemui pada setiap tokoh utama yang ditampilkan. Memang penggambaran karakter tersebut tidaklah setajam dan selengkap sebagaimana dapat ditemui dalam cerpen-cerpen modern Indonesia dewasa ini. Namun pengertian besar dapat memperlihatkan sikap dan tindakan para tokoh yang ditampilkannya dapatlah dipahami dan dimaklumi sebagai upaya pengenal tokoh kepada khalayak pembaca, yang salah satu tujuannya ialah untuk mengidentifikasikan ataupun penyejajaran tokoh dengan pembaca, agar pembaca merasa terlibat ke dalam cerita tersebut.

Jelaslah bahwa semua cerita yang disampaikannya tetap memiliki tokoh sebagai pembaca cerita dan situasi.

Sementara itu aspek hentakan-hentakan yang dilakukannya dalam setiap persoalan yang dikemukakannya melalui jalan cerita yang dibangunnya, juga mampu menjadikan daya pikat bagi pembaca, yang dalam cerita pendek sekarang dikenal dengan istilah suspens, yang bertujuan menarik perhatian pembaca untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana cerita akan diperankan. Di samping itu Willem Iskander juga telah mampu mengajak pembaca untuk dapat membayangkan kajian yang dikemukakannya sehingga imajinasi pembaca akan selalu bermain-main ke arah yang dilukiskannya.

Demikian pula dalam aspek keterlibatan pengarang dalam cerita tersebut, dalam arti dari mana pengarang berpijak untuk memulai cerita yang dipaparkannya (point of view). Sebagian besar cerita yang dikarangnya itu memakai cara ”orang ketiga” (author-ominiscient) dengan mempergunakan tokoh (nama/sebutan orang ketiga), meskipun dalam salah satu ceritanya Willem Iskander hadir sebagai peninjau (author-observer).

Melalui unsur limited focus dan unity, Willem Iskander pun ternyata mampu membawa setiap pembaca yang baik kepada persoalan yang dikemukakannya tanpa harus membatasi perkembangan imajinasi pembaca. Pengarahan kepada titik penceritaan ini dilakukannya melalui keterkaitan sesama unsur yang ditampilkannya dalam membangun cerita-cerita yang ingin disampaikannya.

Dengan tergambarnya semua unsur cerita pendek dalam setiap cerita yang dijalinnya, maka pengaruh yang kemudian nyata di hadapan pembaca ialah terbentuknya suatu struktur cerita yang pada dewasa ini dikenal sebagai cerita pendek. Padahal jelas bahwa bentuk cerpen pada masa tradisi kesusasteraan dengan berlangsung belumlah dikenal sama sekali khususnya di daerah Mandailing, Tapanuli Selatan dan daerah lainnya di seluruh (kini) Indonesia. Apalagi kalau ditinjau keseluruhan dari bangunan setiap cerita yang ditampilkannya itu, maka dapat dilihat konflik-konflik yang dihadapi tokoh mampu merangsang daya nalar kita untuk mengetahui konsepsi Willem Iskander mengenai kehidupan yang sebenarnya, baik mengenai hakikat kehidupan itu sendiri maupun hakikat ilmu pengetahuan, dan pandangannya mengenai kedudukan manusia dalam memandang kekuasaan Tuhan sebagai Yang Maha Besar.

Unsur setting ternyata memiliki perhatian yang agak khusus pula bagi Willem Iskander. Tiga dari sembilan cerita itu mengambil tempat di dunia Barat, sekaligus tokoh-tokohnya. Kenyataan ini tentu saja sangat menarik perhatian, karena Willem Iskander pun dikenal hanya sebagai seorang sastrawan daerah Tapanuli Selatan. Namun meskipun sebagai seorang sastrawan daerah, ternyata wawasan pengetahuannya telah melewati dunia di luar daerahnya sendiri, dan merupakan indikasi keinginan Willem Iskander untuk turut membangun masyarakat bangsanya dengan kemampuan dan keunggulan ilmu pengetahuan yang memang telah lebih dahulu berkembang di wilayah Barat sana. Pemilihan setting dan tokoh yang bersumber dari dunia Barat itu mungkin dapat dipandang sebagai usaha atau pancingan Willem Iskander untuk merangsang masyarakat bangsanya agar berpikir lebih jauh dan luas lagi sampai ke benua asing, sebagai usaha mengejar ketertinggalan yang dialami selama ini. Oleh karena itu terasa wajar kalau setiap membaca cerita karangannya tersebut selalu ada kesan yang tertinggal, baik tentang kehidupan, ilmu pengetahuan, rasa kemanusiaan, maupun tentang keberadaan Tuhan sebagai Yang Maha.

Aspek bahasa dalam cerita Willem Iskander ini hanya dibicarakan secara selintas dan sederhana saja, karena melalui aspek ini yang akan dilihat hanyalah strategi penggunaan jenis bahasa saja, sebagaimana empat jenis bahasa yang dimiliki masyarakat Mandailing, Tapanuli Selatan. Melalui bahasa, kebudayaan suatu bangsa dapat dibentuk, dibina, dan dikembangkan untuk dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, hanya mendapat tanggapan apabila dilakukan komunikasi secara tepat dan efektif melalui salah satu alatnya yakni bahasa. Susunan dan pengungkapan yang baik akan memudahkan komunikasi berjalan sesuai dengan tujuan penuturnya. Menurut Keraf (1980: 1) bahwa, komunikasi melalui bahasa akan memungkinkan tiap orang banyak menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya. Ia memungkinkan setiap orang untuk mempelajari kebiasaan adat-istiadat, kebudayaan serta latar belakangnya masing-masing. Dari penuturannya itu dapat dipahami betapa pentingnya bahasa tersebut sebagai alat komunikasi, karena memang sebagaimana dikatakan Keraf bahwa fungsi bahasa adalah untuk menyatakan ekspresi diri, alat komunikasi, alat untuk mengadakan kontrol sosial, alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial.

Apabila ditinjau bahasa yang dipergunakan Willem Iskander dalam menyampaikan cerita-ceritanya, maka dapat dilihat keempat fungsi bahasa sebagaimana dikemukakan Keraf tersebut tercakup di dalamnya. Kenyataan ini tak lain karena dalam menyampaikan idenya Willem Iskander mempergunakan hata somal yakni ragam sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat Mandailing. Padahal sebenarnya dalam kesusasteraan daerah Mandailing dikenal satu ragam khas untuk kesusasteraan yakni hata andung sebagaimana lazim digunakan dalam turi-turian. Namun bagi Willem Iskander, penggunaan hata andung itu tidaklah tepat untuk cerita ataupun gagasan yang disampaikannya sebagaimana terkumpul dalam Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Karena jika ragam hata andung digunakannya maka fungsi bahasa sebagaimana diterapkan tadi tidak akan tercapai.Dengan demikian sasaran penulisan gagasannya pun akan mengalami hambatan, karena hata andung yang khas sastra ini hanya diketahui dan dimengerti oleh sebagian kecil masyarakat. Hal ini disebabkan ungkapan kata-katanya sangat jauh berbeda dengan ungkapan kata-kata sehari-hari. Jadi, dalam rangka mengkomunikasikan pesan melalui cerita yang ditulisnya itu, Willem Iskander pun memanfaatkan ragam hata somal sebagai ragam yang paling mudah untuk dimengerti.

Strategi ini jelas bertujuan untuk dapat memasyarakatkan pesan yang dikomunikasikannya itu secara lebih luas dan efektif. Selain berisi pesan ajaran-ajaran moral, cerita yang ditulisnya itu pun berisi kritik terhadap keberadaan kaum bangsawan pada masa itu, di samping untuk merangsang masyarakat bangsanya memberi perhatian kepada masalah keunggulan ilmu pengetahuan. Ternyata strategi yang dipakai Willem Iskander itu sangat berhasil. Salah satunya ialah, mampunya cerita-cerita tersebut memasyarakatkan di kalangan orang-orang dewasa, padahal tujuan sebenarnya penulisan buku itu ialah untuk bahan bacaan anak-anak sekolah dasar. Dalam hal ini bisa dilihat betapa cemerlangnya wawasan pemikiran Willem Iskander yang menyiapkan bahan bacaan/pelajaran bagi pendidikan dasar bangsanya (di Tapanuli Selatan), yang pada akhirnya ternyata mampu memberikan inspirasi bagi kaum pergerakan kebangsaan Tapanuli Selatan. Sebagai buku bacaan di sekolah, ternyata pula buku tersebut mampu bertahan selama 61 tahun, sebelum akhirnya dilarang beredar oleh pemerintah kolonial masa itu.

Dengan demikian peranan pemakaian bahasa yang digunakan oleh Willem Iskander pun dapat memberi petunjuk betapa pandangan dan pemikiran beliau sangat jauh mendahului tradisi yang berlangsung di masa hidupnya di abad kesembilan belas yang lalu, terutama dihubungkan dengan konteks penulisan karya sastra.

4. SIMPULAN
Berdasarkan kajian terhadap prosa-prosa Willem Iskander ternyata memiliki kesamaan atau kesejajaran dengan bentuk cerpen yang eksis pada masa kesusasteraan Indonesia modern. Kesamaan dapat dilihat terutama dari segi bentuk dan tema cerita yang diciptakannya (gagasan), struktur ceritanya dan pemakaian bahasanya. Tentu saja penelaahan ini masih jauh dari sempurna, karena beberapa aspek tertentu yang akan mengukuhkan prosa Willem Iskander tersebut sebagai bentuk cerpen secara lokal masih belum disinggung. Namun dari penguraian yang sederhana ini, tentu saja dapat diambil kesimpulan bahwa memang jiwa dan raga bentuk cerpen ”sebagai produk sastra modern” sudah kelihatan dalam prosa-prosa ciptaan Willem Iskander.

***

DAFTAR PUSTAKA
Damono, Sapardi Djoko. 1981. Tifa Budaya. Jakarta: Leppenas.
Eneste, Pamusuk (Ed). 1983. Cerpen Indonesia Mutakhir. Antologi Esei dan Kritik. Jakarta: Gramedia.
Harapan, Basyral Hamidy. (Penerjemah). 2002. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Jakarta: Sanggar Willem Iskander.
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Flores: Nusa Indah.
Lubis, H. S. 1985. Willem Iskander Penyair Modern Mandailing Abad XIX. (Skripsi). Fakultas Sastra USU Medan.
Lubis, Mochtar. 1981. Teknik Mengarang. Jakarta: Kurnia Esa.
Teeuw, A. 1982. Khazanah Sastra Indonesia Beberapa Masalah Penelitian dan Pengembangannya. Jakarta: Balai Pustaka.
Usman, Zuber. 1963. Kesusasteraan Lama Indonesia. Jakarta: Gunung Agung.


________________
Sumber awal: LOGAT, JURNAL ILMIAH BAHASA DAN SASTRA Volume III No. 1 April Tahun 2007 (Halaman 18 – 25), lihat http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16669/3/log-apr2007-3%20(1).pdf.txt.

Sumber kedua : http://gondang.blogspot.co.id/search/label/puisi%20dan%20prosa%20lama

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kantor Camat Berastagi Dibakar

    Kantor Camat Berastagi Dibakar

    • calendar_month Senin, 8 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KARO-Aksi teror pasca Pemilukada Karo kembali terjadi, setelah sebelumnya aksi pembakaran ban saat kunjungan Kapolda Sumut, Selasa (2/11) lalu. Kemarin (6/11), Kantor Camat Berastagi dibakar orang tak dikenal ( OTK) sekira pukul 01.15 WIB. Akibatnya, seperangkat peralatan di ruangan kerja camat hangus dilalap api. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun sejumlah peralatan dan […]

  • 2 Orang TS Dahlan-Sukhairi Divonis 4 Bulan Kasus Politik Uang

    2 Orang TS Dahlan-Sukhairi Divonis 4 Bulan Kasus Politik Uang

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengadilan Negeri  Panyabungan, kamis (22/9) memvonis 2 personil tim sukses pasangan Dahlan-Sukhairi masing-masing 4 bulan penjara dalam kasus politik uang Pilkada Madina. Kedua orang yang mendapat vonis itu masing-masing Kasiruddin warga Simangambat Kecamatan Siabu dan Andy Riski Nasution warga Kelurahan Siabu. Hakim Ketua, Erry Irawan,SH dalam amar putusan menyatakan bahwa kasus […]

  • Di Desa Terisolir, Raskin Bukan Beras Miskin

    Di Desa Terisolir, Raskin Bukan Beras Miskin

    • calendar_month Senin, 9 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailig Online) –  Beras miskin kadang tak lah menjadi beras miskin, terutama bagi penduduk di desa terisolir. Beras miskin untuk Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal sudah masuk pekan lalu. Tetapi penduduk miskin harus mengeluarkan ongkos ojek sebesar 1.000 rupiah per kilo gram. Penduuduk miskin di desa-desa terisolir harus memakai jasa ojek mengangkut […]

  • Kejatisu jangan ‘mainkan’ Rahudman!

    Kejatisu jangan ‘mainkan’ Rahudman!

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) sejak Senin (25/10) lalu menetapkan Walikota Medan, Rahudman Harahap, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintahan Desa (TPAPD) Kabupaten Tapsel TA 2005 Rp1,5 miliar lebih. Namun, hingga kini prosesnya masih terkesan lamban. Pasalnya, sudah 13 hari ditetapkan menjadi tersangka, Kejatisu baru memeriksa 6 orang saksi. […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 44)

    MARSIDAO-DAO (episode 44)

    • calendar_month Selasa, 6 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara “Itu rumah kakek kalian, Nak. Paman kalian sekarang yang tinggal di sini. Namanya Hamzah. Dia adik ayahmu,” ning dadaboru i tu Si Poso. Inotnoti Si Poso bagas i. “Onma najolo bagas ni ayangku,” ning roana. Bagas i ngada saru godang, hum sa bagas ni alai na i Mandailing i […]

  • Mantan Polisi Bacok Selingkuhan Istri

    Mantan Polisi Bacok Selingkuhan Istri

    • calendar_month Sabtu, 11 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KISARAN- Mantan polisi Mapolres Asahan, Ronggo Warsito (43) menggerebek istrinya, RS (40) sedang berhubungan intim dengan pria selingkuhannya ZE (42) di rumah kontrakannya, Jumat (10/2), di Jalan DR Wahidin Gang Beruang, Kisaran. Akibatnya, Warsito emosi dan membacok ZE. Informasi yang dihimpun POSMETRO MEDAN (Grup Sumut Pos) di lokasi kejadian menyebutkan, Warsito sudah lama mendengar kabar […]

expand_less