Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

17 % anggota DPR tak pernah bicara

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
  • print Cetak


SEMARANG –
Masih banyak anggota DPR RI yang belum pernah berkomentar bahkan tidak pernah menyampaikan gagasan dan ide yang sebenarnya menjadi salah satu tugas para wakil rakyat itu sejak dilantik pada 2009.

“Jumlahnya sekitar 17 persen anggota DPR tak pernah bicara,” kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Pramono Anung di Semarang, siang ini.

Padahal, menurut Pram, demikian dia biasa dipanggil, politik adalah berbicara. Bahkan, kata dia, sejago apapun politisi tidak akan punya arti apapun jika tidak bisa bicara di depan media.

Politisi PDI Perjuangan ini juga melihat ada beberapa anggota dewan yang sebelum dilantik sangat dekat dengan media massa.

Tapi, kata Pram, saat ini mereka juga tak pernah bicara menyampaikan gagasan dan ide untuk kepentingan publik maupun menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Dalam kelompok ini, Pram menyebut biasanya adalah para artis sinetron. Sebelum mereka jadi anggota DPR, mereka sangat dekat dengan media.

Tetapi begitu jadi anggota dewan, ternyata mereka tidak pernah berbicara.

Pram memberi contoh sejumlah anggota dewan itu antara lain Primus Yustisio, Eko Patrio, Vena Melinda, dan lain-lain.

Pram mengakui para artis itu memang pernah bicara di depan media. Tapi, kata dia, bahan pembicaraannya kadang tak terkait dengan masalah publik. Misalnya berbicara tentang berapa harga sepatu atau harga tas.

Meski ada anggota DPR yang tak pernah bicara, tapi Pram menyebut ada beberapa anggota DPR yang tiap hari selalu berbicara.

Anggota DPR tersebut selalu menempatkan diri pada posisi yang tepat jika dihadapan media.

Pram mencontohkan anggota DPR yang selalu bicara di media adalah Ruhut Sitompul, anggota Komisi III dari Fraksi Partai Demokrat.

Saat ini, kata Pram, politisi memang suka retorika, sedangkan media sudah mengarah pada hyper-realitas. Akibatnya, yang tampil di televisi hanya orang yang itu-itu saja. Pram menyebut para anggota yang kerap tampil itu misalnya Bambang Soesatyo, Akbar Faisal, Sutan Batugana dan lain-lain.

Pram menyatakan di era konvergensi saat ini, media menempati posisi yang strategis. Sebab, apapun perkataan orang tidak akan ada artinya jika tidak diekspos media. “Kalau tidak bisa gunakan media ya jangan jadi politisi,” katanya.
Sumber : waspadaonline

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • LKPJ Bupati Madina ditolak

    LKPJ Bupati Madina ditolak

    • calendar_month Kamis, 2 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Laporan keterangan pertanggungjawaban (LKPJ) akhir masa jabatan Bupati Madina tahun anggaran 2005-2010 kembali ditolak fraksi Partai Keadilan sejahtera (PKS). Penolakan itu berdasarkan hasil rapat paripurna DPRD Madina yang dipimpin langsung ketua DPRD As Imran Khatamy Daulay, dihadiri Bupati Madina, Amru Daulay. Dalam rapat paripurna, cuma enam fraksi DPRD Madina menerima LKPJ dengan catatan. “Sebelum melangkah […]

  • Wakil Bupati Madina, saat menerima tuntutan mahasiswa AMBM saat unjuk rasa. Kamis (20/10)

    Atika Jelaskan Soal Kewenangan Pemerintah Daerah dan Tim Investigasi PT SMGP

    • calendar_month Jumat, 21 Okt 2022
    • account_circle Sahrul Ramadhan Harahap
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (MANDAILING ONLINE) – Dalam sistem negara ini  Pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah masing-masing memiliki kewenangan. Oleh karena itu, persoalan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) tak tepat bertumpu ke Pemerintah Daerah. Proyek PLTP di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), adalah proyek strategis nasional. Kewenangan menutup dan […]

  • Kritik Untuk SBY “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”

    Kritik Untuk SBY “Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan”

    • calendar_month Minggu, 12 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tulisan Kolonel Adjie Suradji Berisi Kritik pada SBY di Harian Kompas Oleh: Adjie Suradji Terdapat dua jenis pemimpin cerdas, yaitu pemimpin cerdas saja dan pemimpin cerdas yang bisa membawa perubahan. Untuk menciptakan perubahan (dalam arti positif), tidak diperlukan pemimpin sangat cerdas sebab kadang kala kecerdasan justru dapat menghambat keberanian. Keberanian jadi satu faktor penting dalam […]

  • Mantan Walikota Tanjungbalai Kembalikan Uang Negara Rp 500 Juta ke Kejari

    Mantan Walikota Tanjungbalai Kembalikan Uang Negara Rp 500 Juta ke Kejari

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tanjungbalai, Tersangka dugaan korupsi penyalahgunaan biaya operasional kepala daerah, mantan Walikota Tanjungbalai Dr.H SH SpOG mengembalikan uang negara sebesar Rp 500 juta dari total Rp 947 juta yang diduga diambil secara melawan hukum dari APBD Tanjungbalai 2001-2004 kepada tim penyidik Kejari Tanjungbalai, Kamis (23/12). Informasi diperoleh di kantor Kejari Tanjungbalai menyebutkan, seyogianya penyidik kejaksaan melakukan […]

  • Jelang Didakwa, LHI Ambeien

    Jelang Didakwa, LHI Ambeien

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sidang Perdana Terancam Molor JAKARTA – Sidang perdana kasus suap pengaturan kuota daging impor dengan terdakwa Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terancam molor. Mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu sedianya menjalani sidang minggu depan. Namun, jadwal tersebut bisa jadi mundur karena LHI mengeluh sakit. Pengacara LHI, Zainuddin Paru, kemarin (18/6) mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi […]

  • Job Hugging, Efek Ketidakpastian Ekonomi Kapitalisme

    Job Hugging, Efek Ketidakpastian Ekonomi Kapitalisme

    • calendar_month Jumat, 26 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Djumriah Lina Johan Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban Muncul fenomena baru di dunia kerja yang disebut job hugging. Kalau dulu banyak orang sering pindah-pindah kerja atau job hopping demi mengejar tawaran gaji yang lebih tinggi. Kini, justru banyak pekerja memilih ‘memeluk’ pekerjaannya yang ada saat ini meskipun merasa merana dan tidak nyaman. Fenomena ini […]

expand_less