Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Fix Hanya Dua Pasangan Cakada Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 29 Agt 2024
  • print Cetak

Oleh: Dr. M. Daud Batubara

Dipertengahan masa-masa pemilihan umum untuk legislatif yang lalu, tebaran bau pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Madina sepertinya mulai tercium. Wanginya telah semerbak di lopo (kedai kopi), yang sampai saat ini bagi orang Mandailing, lopo merupakan episentrum bersosialisasi dalam banyak hal yang berhubungan dengan masyarakat di Madina. Bahkan tidak terlalu keliru bila disebut lopo di Mandailing dapat dijadikan lokasi termudah dan tercepat mengukur persepsi masyarakat, terutama mengukur persepsi kaum pria dewasa terkhusus masalah politik.

Saat itu, prediksi para pemikir-pemikir politik telah menembus jauh ke ranah pilkada dengan menggunakan  Politick Forecasting (Peramalan Politik).

Peramalan politik ini bertujuan untuk meramalkan hasil dari peristiwa politik, berupa sejumlah peristiwa seperti keputusan politik, tindakan oleh para pemimpin politik dan bidang lain yang berkaitan dengan politisi dan lembaga politik. Bidang peramalan politik yang berkaitan dengan pemilihan umum sangat populer, terutama di antara khalayak pasar massal, ia sering menggunakan matematika, statistik dan ilmu data dengan pendekatan kuantitatif.
Peramalan dilakukan terhadap keberadaan partai yang akan mengusung, orang-orang partai yang berencana mencalon di pilkada, sampai pada orang-orang yang berusaha berada di belakang partai sebagai pem-backup, namun berusaha menjadikan partai tersebut sebagai bahtera di pilkada.

Keputusan politik yang terjadi kali ini agak melenceng dari perkiraan politik di episentrum lopo di Mandailing. Hal ini terlihat dari ramainya informasi bahwa pertanggal pendaftaran sesuai jadwal yang ditetapkan KPU, sepertinya keputusan politik dalam hal pengusungan Calon Kepala Daerah (Cakada) oleh pengambil keputusan di internal partai telah menentukan pasangan yang partai percayai akan dapat memenangkan pesta demokrasi pada parhelatan Pilkada Serentak di Tahun 2024 ini.

Jauh hari, di masyarakat terdengar info dari sebuah tim merencanakan borong partai pengusung. Tentu ini bukan main-main karena tim ini dianggap mampu melakoni rencana tersebut, baik dari sisi lobi dan koneksitas, apalagi finansial.

Bisa saja partai-partai yang berhak mengusung (sebelum terbit Putusan MK), secara matematis melihat peluang ini sebagai sesuata yang menguntungkan terutama sisi finansial. Mungkin pula hal seperti ini akan mempengaruhi pola pengambilan keputusan partai di tingkat daerah sebagai pemasok informasi bagi pengurus partai di tingkat pusat.

Peramalan awalnya, akan terjadi peristiwa Melawan Bumbung Kosong, dengan gambaran bahwa ada tim yang merespon tiap pembukaan pendaftaran di partai dengan positif ikut mendaftar. Kondisi ini telah memicu debat di lopo bahwa diyakini partai-partai akan pasang tarif tinggi sesuai kondisi tim ini secara umum diyakini punya kemampuan finansial yang mumpuni.

Seiring waktu dinamika politik usungan bergeser secara perlahan, ternyata partai-partai besar mulai memunculkan gambaran yang berbeda dengan perediksi awal. Banyak kaum awam, mulai melihat fenomena ini sebagai persepsi yang salah dan sepertinya kurang percaya. Tapi partai, terutama partai-partai yang memiliki kursi menentukan, tentu tidak akan mengambil risiko dari sebuah keputusan yang dapat merugikan, ketika sudah melihat kesediaan waktu sudah relatif menyempit.

Benar saja, partai-partai besar mulai menunjukkan arah kebijakannya masing-masing. Orang di Mandailing mulai mencium rebakan informasi dengan berbagai tingkat kekecewaan, karena tim yang dibesar-besarkan dan diyakini akan memberi pengganti upah harian terbesar dan terloyal, semakin redup dari parhelatan politik pilkada.

Oleh tim lain, tentu dengan jeli melihat fenomena usungan politik ini sebagai peluang, dan mulai merentangkan sayap dengan cermat, untuk mengitari partai-partai sebagai sebuah harapan akan ikut berlayar.

Sayangnya, sampai di pertengahan waktu dalam penentuan usungan, sebahagian partai sepertinya masih juga tetap berada keyakinannya, sehingga boleh dipersepsikan tidak “move on” dan menerima kenyataan bahwa kondisi politik pada tim yang diharapkan, telah berakhir dan seharusnya melanjutkan hidup dengan keberanian dan optimisme suasana politik yang baru meskipun tidak sesuai lagi dengan ekspektasi awal.

Kondisi di last minut waktu pendaftaran ke KPU, keadaan boleh disebut telah semakin memaksa bertindak cepat dan cerdas. Lilitan aturan yang akan ditanggung oleh partai yang berhak mengusung di periode ini apabila tidak mengusung Cakada, maka akan kehilangan hak di periode depan dalam mengusung pasangan Cakada.

Ekspektasi untuk memperoleh Ikan Mera (Jurung Besar), secara perlahan semakin mengecil. Bahkan dengan aturan tersebut semakin terjepit. Anehnya, ada tim yang secara terus-menerus masih berburu sampai detik nadir terakhir waktu pendaftaran pada kondisi ini, akhirnya juga belum diberi kesempatan oleh partai yang belum memiliki usungan tersebut, entah alasan apa belum tertelusuri.

Hakikinya, dua partai terakhir yang apabila bersepakat, berhak mengusung satu pasangan Cakada, akan tetapi malah salah satunya telah mengambil keputusan memberikannya pada Cakada yang sudah kelebihan perahu.

Boleh jadi, salah satu partai dari dua partai terakhir sengaja dirancang maksimal untuk diambil oleh Pasangan Cakada yang sudah berlebih, bila hipotesa tim-nya akan lebih menguntungkan perolehan suara dengan pola fight satu lawan satu.

Fix sudah, Cakada Madina hanya dua Pasangan (Harun-Ichwan) dan (Saifullah-Atika). Mau tidak mau, satu partai terakhir dipastikan pada posisi sangat khawatir terhadap dalam lilitan aturan ke periode depan. Malah, ibarat permainan terjadi ‘Terbalik Point’. Posisi akhir dari satu partai terakhir boleh disebut akan menyerahkan diri kemanapun yang dianggap mereka berkenan menerima.

Sebagian menganalisa dinamika ini sebagai dampak dari kuatnya harapan terhadap kehadiran salah satu tim yang awalnya sangat semangat dan jauh hari telah mempersiapkan tim sampai ke akar bawah. Tapi itulah dinamika politik, maka disebut dengan Politick Forecasting, karena liar dan cepatnya gerak laju perubahan kepentingan di dalamnya.

Dr. M. Daud Batubara, Staf Ahli Bupati Madina Bid. Pemerintahan dan Hukum

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kualifikasi Pendidikan Untuk CPNS Pemprov Sumut

    Kualifikasi Pendidikan Untuk CPNS Pemprov Sumut

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    Untuk penerimaan CPNS 2013 ini Pemprov Sumut menerima formasi sebanyak 329 orang. Sesuai ketetapan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho Nomor 800/17787/BKD/II/2013 tentang Pengadaan CPNS Pelamar Umum dan Pelatih Olahraga dari Atlit Berprestasi Pemprov Sumut tahun 2013 tertanggal 18 September 2013, dirincikan: Untuk formasi jabatan tenaga Guru sebanyak 16 orang yang terdiri dari: (1) Guru SLB […]

  • Ribuan Rakyat Penambang Tuntut Pemkab Madina Terbitkan Regulasi

    Ribuan Rakyat Penambang Tuntut Pemkab Madina Terbitkan Regulasi

    • calendar_month Kamis, 12 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 5000 orang rakyat penambang melakukan unjukrasa ke DPRD Madina, Kamis (12/12/2019). Mereka menuntut Pemkab Mandailing Natal (Madina) melakukan pembinaan tambang rakyat, bukan membinasakan penambang. Karena ribuan kepala keluarga di Madina telah terbantu oleh rezeki dari tambang emas ditengah kegagalan pemerintah daerah menciptakan lapangan kerja untuk rakyatnya. Pemkab Madina diminta […]

  • Motif Pembunuhan: Untuk Ambil Roh Anak Nabi Muhammad?

    Motif Pembunuhan: Untuk Ambil Roh Anak Nabi Muhammad?

    • calendar_month Selasa, 17 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Belum diketahui alasan pasti pembunuhan terhadap anak-anak di Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) yang terjadi Minggu (15/11) kemarin. Sejauh ini, tersangka bernama Syahril alias Wawa (25) yang ditengarai mengalami stress, mengaku melakukan pembunihan karena ada bisikan roh halus untuk mengambil roh anak Nabi Muhammad. “Sampai saat ini kita belum bisa memeriksa […]

  • Gelombang di Pantai Barat Sumut Capai Ketinggian 3,5 Meter

    Gelombang di Pantai Barat Sumut Capai Ketinggian 3,5 Meter

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Ombak di pantai barat Sumatera Utara diperkirakan bisa mencapai ketinggian 3,5 meter. Ombak setinggi itu berpeluang terjadi di perairan Tapanuli Tengah, Kepulauan Nias, dan Sibolga. Karenanya, nelayan di kawasan itu diminta waspada. Tidak hanya di pantai barat, di Pantai Timur seperti perairan Belawan, Deli Serdang, Asahan, dan Tanjung Balai, ombak bisa mencapai […]

  • Gatot Sempat jadi Tersangka Bansos, Hilang Usai Pertemuan di DPP NasDem

    Gatot Sempat jadi Tersangka Bansos, Hilang Usai Pertemuan di DPP NasDem

    • calendar_month Kamis, 1 Okt 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      JAKARTA – Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho sempat ditetapkan oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos). Hal itu diungkap oleh istri muda Gatot, Evy Susanti. Menurut Evy, pihak Kejagung pernah melayangkan surat penggilan pemeriksaan kepada Sekda dan kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut untuk diperiksa sebagai saksi […]

  • Covid-19 dan Kesadaran Bersama

    Covid-19 dan Kesadaran Bersama

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan Ringkas : Atika Azmi Utammi Nasution Covid 19 merupakan musibah yang tak terbendung penyebarannya hingga saat ini. Statusnya pun dinaikkan oleh World Health Organisation (WHO) dari epidemi menjadi pandemi. Pandemi adalah penyebaran virus atau penyakit yang mendunia. Namun, ada satu kekosongan yang mungkin luput dari pandangan bersama. Vaksin penawar Covid-19 per akhir Maret 2020 […]

expand_less