Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Aku Ingin Diratukan, Tapi Sistem Telah Merampasnya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
  • print Cetak

Oleh: Nesty Laila Sari

 

Sejak awal menikah, aku punya impian sederhana: ingin diratukan. Sebagai seorang istri, aku hanya ingin taat kepada suami, merawat anak-anakku, dan membangun rumah tangga dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian.

Namun, kenyataannya berbeda jauh. Setelah melewati hari demi hari, aku merasakan bahwa jalan ini tidak mudah. Terlebih setelah memiliki anak, ternyata bukan hanya impianku yang memudar, tapi juga beban tanggung jawabku semakin berat. Aku harus merawat anak, mengurus rumah, memenuhi kebutuhan suami, bahkan mengusahakan biaya hidup yang seharusnya bukan hanya menjadi tugasku.

Ya, aku paham betul bahwa merawat anak adalah amanah dari Allah, kewajiban mulia seorang ibu. Tapi pertanyaannya: mengapa seluruh biaya hidup dan keperluan anak harus aku yang menanggung? Ke mana tanggung jawab seorang suami?

Aku tidak menafikan bahwa suamiku telah berusaha keras. Ia mencoba memenuhi kebutuhan keluarga, memberikan yang terbaik dari apa yang mampu ia usahakan. Tetapi apa daya, sistem hari ini begitu kejam. Hidup semakin mahal, pekerjaan sulit dicari, dan rakyat dibiarkan berjuang sendiri tanpa ada solusi yang meringankan.

Semua ini adalah akibat dari sistem sekularisme yang memengaruhi negeri ini. Sistem yang membuat negara abai terhadap rakyatnya, seolah buta dan tuli terhadap penderitaan keluarga-keluarga kecil seperti kami. Lalu, bagaimana mungkin seorang suami bisa memuliakan istrinya dan mendidik anak-anaknya dengan tenang jika ia sendiri terhimpit oleh sistem yang menindas?

Tidak heran, banyak yang akhirnya memilih jalan pintas. Ada yang menempuh perceraian, ada yang lari pada judi online untuk menenangkan jiwa, bahkan ada pula istri yang terpaksa berutang melalui pinjol demi sekadar bertahan hidup — meski akhirnya terjerat lilitan hutang.

Sementara itu, para pemimpin negeri justru sibuk menikmati kekayaan dari rakyat, bersenang-senang di atas penderitaan istri-istri yang tertekan dan suami-suami yang kebingungan mencari nafkah.

Maka, sungguh bukan suamiku yang gagal. Yang gagal adalah sistem hari ini, yang tidak pernah memberi jalan keluar untuk rakyatnya. Yang menindas, bukan menolong. Yang membiarkan, bukan mengayomi. Dan selama sistem ini terus dipertahankan, kisah getir para istri sepertiku akan terus berulang.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • PP Gabema Madina Beberkan Dampak Negatif Geothermal

    PP Gabema Madina Beberkan Dampak Negatif Geothermal

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Ketua Pimpinan Pusat Keluarga Besar Mahasiswa Mandailing Natal (PP Gabema Madina) Agussalam Nasution mengatakan, sebetulnya banyak sekali dampak negatif dari kehadiran geothermal, diantaranya pengeboran sumur geothermal menghasilkan berbagai macam limbah. Hal itu disampaikan Agussalam di Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jumat (25/03/2011). Dijelaskannya, dalam eksplorasi geothermal jumlah limbah […]

  • Razman Arief Nasution : Dua Kasus Madina Dilaporkan ke Mabes Polri

    Razman Arief Nasution : Dua Kasus Madina Dilaporkan ke Mabes Polri

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online)– Pengacara Razman Arief Nasution menyatakan ada dua kasus Madina yang ditangani Mabes Polri. “Kemarin saya sudah melaporkan Dahlan Hasan Nasution kepada Bareskrim Polri, pertama terkait persoalan uang 700 juta kepada H.Tajuddin Pardosi, kemudian persoalan KP.USU perkebunan yang ada di Muara batang Gadis,” kata Razman kepada wartawan, Minggu (4/10) di Panyabungan dalam […]

  • Inilah Kronologi Bentrok Warga di Tarakan

    Inilah Kronologi Bentrok Warga di Tarakan

    • calendar_month Rabu, 29 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Divisi Humas Mabes Polri merilis kronologi bentrok antar kelompok warga yang terjadi di Kampung Juata Permai, Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (28/9/2010). Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang tewas. Berikut konologi yang dirilis via jejaring sosial facebook oleh Divisi Humas Mabes Polri. Minggu tanggal 26 September 2010 sekitar pukul 22.30 WITA. Pada saat Abdul Rahmansyah, Warga Kel […]

  • Program Wisata Religi di Madina Disukai Kaum Ibu

    Program Wisata Religi di Madina Disukai Kaum Ibu

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wisata religi merupakan salah satu program yang digagas pemerintahan Sukahairi-Atika (SUKA). Program ini sudah berjalan mulai tahun 2022 hingga sekarang. Sejak program ini dimulai, ada puluhan pengajian kaum ibu di Mandailing Natal (Madina) yang mengikuti wisata religi. Wisata religi diartikan sebagai destinasi wisata yang berhubungan dengan sejarah hingga tempat ibadah. Wisata […]

  • Oknum TNI Miliki Kafe Prostitusi di Siantar

    Oknum TNI Miliki Kafe Prostitusi di Siantar

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Prostitusi di Kafe Nasional di tikungan manis Kelurahan Tong Simarimbun, Kecamatan Siantar Simarimbun, Pematangsiantar, berjalan mulus lantaran keterlibatan oknum TNI. Pekerja seks komersil (PSK) yang ditemui Tribun di Kafe Nasional mengaku aman lantaran ada beking dari oknum berseragam. ”Bahkan pemiliknya juga seorang oknum tentara. Makanya, banyak oknum petugas berpakaian loreng yang datang kemari […]

  • Pekan Raya Sumatera Utara Harus Menampilkan Wajah Utuh Budaya Mandailing Natal

    Pekan Raya Sumatera Utara Harus Menampilkan Wajah Utuh Budaya Mandailing Natal

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Dina Syarifah
    • 0Komentar

      Oleh: Dina Syarifah Nasution Pegiat di GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)   Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang strategis untuk memperkenalkan identitas, kekayaan budaya, serta potensi setiap kabupaten dan kota kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, […]

expand_less