Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Tak Selamanya Selingkuh Itu Indah

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 7 Sep 2023
  • print Cetak

Oleh: Djumriah Lina Johan
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Kepala Inspektorat Daerah (Itda) Provinsi Kalimantan Timur (Itda Kaltim) Irfan Prananta mengakui adanya kasus perselingkuhan antar Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan pemerintahan daerah. Namun, pihaknya tidak bisa merinci berapa jumlah kasus yang ditangani setiap bulan.

“Perselingkuhan intinya kita tahu ada terjadi. Kalau jumlah saya tidak bisa menyebutkan berapa, tapi kalau setiap bulan pasti ada yang kami tangani,” ujar Irfan Prananta di Samarinda, Kamis. (Antara Kaltim, Kamis, 31/8/2023)

Maraknya perselingkuhan sejatinya tengah menunjukkan rapuhnya ikatan pernikahan dan bangunan keluarga saat ini, atau desakralisasi pernikahan. Suami atau istri bisa dengan mudah melanggar komitmen yang telah mereka ucapkan. Pernikahan pun tidak lagi menjadi ikatan sakral yang harus dijaga. Bahkan, perselingkuhan dianggap “solusi” untuk kehidupan yang lebih bahagia. Inilah dampak kehidupan sekuler liberal terhadap mahligai rumah tangga.

Setidaknya ada empat alasan sekularisme liberal menjadi sebab pangkal rapuhnya ikatan rumah tangga dan memicu terjadinya fenomena perselingkuhan. Pertama, paham sekuler menjauhkan kehidupan umat manusia dari agama, termasuk kehidupan berkeluarga. Inilah yang menjadikan ikatan pernikahan rapuh, sebab tidak dilandasi agama.

Misalnya, fungsi qawwamah (kepemimpinan) yang hilang dari suami, serta fungsi ummun wa rabbatul baiti (ibu dan pengurus rumah tangga) yang hilang dari istri. Jika fungsi qawwamah sudah hilang, memudarlah keinginan suami untuk melindungi dan memenuhi seluruh kebutuhan istrinya. Padahal, kedua hal inilah yang dapat membahagiakan istri.

Begitu pula jika ketika fungsi ummun wa rabbatul baiti hilang, ketaatan dan pelayanan pada suami akan minimalis. Padahal, kedua hal ini pula yang akan membawa ketenteraman pada hubungan mereka. Jika sudah begitu, bukankah menjadi besar peluang suami dan istri mencari kebahagiaan di luar rumah?

Kedua, standar kebahagiaan. Dalam sistem kehidupan sekuler liberal, standar kebahagiaan adalah materi. Suami istri akan sibuk bekerja demi mendatangkan kebahagiaan. Tanpa disadari, mereka telah menelantarkan anak dan menggeser fungsi rumah. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman seluruh anggota keluarga, malah menjadi “terminal” tempat suami istri transit untuk tidur sejenak. Bukankah ini yang telah merenggut kehangatan sebuah keluarga?

Sistem kehidupan sekuler pun menjadikan kesenangan jasmani sebagai sumber kebahagiaan. Wajar akhirnya banyak perselingkuhan hanya gara-gara kepincut oleh orang lain yang terlihat lebih cantik ataupun menawan. Tidak bisa dimungkiri, ketertarikan secara fisik dan mencari kesenangan adalah hal dominan yang menjadi alasan terjadinya perselingkuhan.

Ketiga, rusaknya sistem pergaulan. Banyaknya perselingkuhan terjadi di tempat kerja menjadi bukti bahwa sistem pergaulan dalam masyarakat sekuler pun rusak. Interaksi perempuan dan laki-laki hari ini tidak berbatas. Khalwat antara laki-laki dan perempuan non mahram menjadi hal biasa. Bukankah perselingkuhan biasa berawal dari mengobrol intens dan beraktivitas berdua, lalu tumbuhlah benih-benih jinsiah?

Keempat, budaya liberal. Sistem kehidupan sekuler mendewakan kebebasan. Jadilah individu-individu di dalamnya merasa bebas melakukan apa pun demi meraih kesenangan. Ditambah media yang terus menstimulus syahwat, menjadikan hubungan laki-laki dan perempuan hanya sebatas hawa nafsu.

Atas nama kebebasan, para perempuan juga tidak malu-malu untuk menjadi “pelakor” ataupun mencari sugar daddy demi membiayai gaya hidupnya. Para laki-lakinya pun kadang merasa tidak puas dengan istrinya sehingga akhirnya “jajan” di luar, berselingkuh dengan teman satu kantor, dan sebagainya.

Akhirnya, budaya kebebasan ini makin merapuhkan ikatan pernikahan. Kesakralan pernikahan pun memudar dan siapa pun tidak segan untuk merusaknya.

Pernikahan Menurut Islam

Islam memandang pernikahan adalah ibadah. Siapa pun yang menikah, mereka telah berjanji untuk saling memenuhi dan melaksanakan hak dan kewajibannya masing-masing sebagai suami istri.

Islam juga menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalidza (perjanjian agung) yang tidak bisa dimain-mainkan (lihat QS An-Nisa: 21). Pernikahan dalam Islam bukan hanya mengenai meraih kesenangan antara suami istri. Lebih dari itu, pernikahan adalah tujuan mulia dan suci yang harus dijaga dalam kehidupan bermasyarakat.

Standar kebahagiaan seorang muslim adalah rida Allah Taala, bukan materi semata. Walhasil, suami istri akan berlomba-lomba memenuhi hak pasangannya dengan melaksanakan kewajiban yang telah Allah tetapkan pada mereka. Sang istri akan taat pada suami dan optimal dalam pelayanannya; sang suami pun akan gigih bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjadi pelindung bagi mereka.

Kehidupan berumah tangga yang dibangun berlandaskan agama akan menghadirkan pernikahan yang samara (sakinah, mawadah, rahmah). Sakinah adalah ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan. Mawadah menurut Ibnu Katsir adalah al-mahabbah (rasa cinta) yang tulus dari suami dan istri. Rahmah adalah kasih sayang. Semua itu akan terhimpun dalam bangunan keluarga muslim. Wajar jika dalam Islam, sangat jarang, bahkan tidak akan ditemukan fenomena perselingkuhan yang marak seperti saat ini.

Begitu pula kelas ekonominya, tidak menjadi masalah dalam berumah tangga sebab setiap pasangan yakin Allah telah menetapkan rezeki bagi hamba-Nya. Bukankah ini yang akan mendatangkan kuatnya ikatan pernikahan?

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Batu Bara Fokus Terima Tenaga Teknis & Guru

    Batu Bara Fokus Terima Tenaga Teknis & Guru

    • calendar_month Selasa, 9 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang direncanakan pada bulan November ini, Pemkab Batu Bara lebih memfokuskan usulan formasi untuk tenaga teknis dan guru. “Untuk formasi CPNS Batu Bara yang telah kita ajukan ke Menpan lebih dominan formasi teknis dan guru. Di mana saat ini kita masih kekurangan tenaga teknis dan guru,” kata Kepala […]

  • Di Madina Prabowo-Hatta 76,1 %, Jokowi-JK 23,8 %

    Di Madina Prabowo-Hatta 76,1 %, Jokowi-JK 23,8 %

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) pasangan Prabowo-Hatta memperoleh suara 147.000 atau 76,1 %, sedangkan pasangan Jokowi-JK memperoleh 45.876 suara atau 23,8 %. Demikian dirilis tim Merah Putih yang ditandatangani Ketua Koalesi Merah Putih, As Imran Khaitamy Daulay, SH dan Sekretaris Dahler Nasution tertanggal 9 Juli 2014. Sejauh ini belum ada konfirmasi […]

  • Madina Tuan Rumah Pospedasu 2016

    Madina Tuan Rumah Pospedasu 2016

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal dipastikan sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pospedasu ke-7 tahun 2016. Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Daerah ini akan dimulai pada tanggal 29 Mei sampai dengan 4 Juni 2016. “Diikuti oleh para pondok pesantren setiap Kabupaten/kota se sumatera Utara,” kata Kabid Keolahragaan, Disporbudpar Madina, Ali Himsar Nasution kepada […]

  • Banyak desa di Sumut tak dapat listrik

    Banyak desa di Sumut tak dapat listrik

    • calendar_month Minggu, 19 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara menyatakan banyak desa di provinsi itu yang belum menikmati layanan listrik yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Hal Itu disampaikan beberapa anggota Komisi D DPRD Sumut dalam rapat dengar pendapat di Medan, yang dihadiri Direktur Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang, Direktur Operasi Indonesia Barat […]

  • LPSE Langkah Peningkatan SDM Pengadaan Barang dan Jasa

    LPSE Langkah Peningkatan SDM Pengadaan Barang dan Jasa

    • calendar_month Kamis, 9 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan MO-Langkah awal dari sebuah proses pembelajaran terhadap peningkatan sumber daya manusia dibidang pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Mandailing Natal adalah dengan kehadiran Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Demikian disampikan Kepala bagian Layanan Barang dan Jasa Madina Jufri Anthoni ST Msi kepada Mandailing Online, Kamis (9/2) diruang kerjanya usai melakukan acara Launcing LPSE dan […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 45)

    MARSIDAO-DAO (episode 45)

    • calendar_month Rabu, 7 Sep 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara Luas mangan manyogot, namangalao ma Hamzah dohot Isrot maroban daganak i tu Bilah Hulu nangkan manopotkon ompungna. Marmotor do alai tu sadun. Ngada jabat dao, ngada sadao tu Rantau Prapat. “Waktu paman ke sana tiga tahun lalu, nenekmu masih sehat,” ning Hamzah tu Si Poso i topi dalan i […]

expand_less