Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Menghitung Energi Sahata di 100 Hari Pertama

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 18 Mar 2025
  • print Cetak

Oleh : Muhammad Ludfan Nasution*

Memang, pertempuran 1-100 harinya belum mulai. Baru persiapan. Baru sosialisasi, pra aktualisasi. Justru karena itu, coba kita hitung-hitung berapa besar energi Sahata dan segenap timnya. Jangan sampai energi itu malah menyublim (menguap) ketika “perang” kian memanas.

Sahata selaku pasangan bupati dan wakil bupati Madina (Mandailing Natal) 2025-2030 adalah satu paket energi (tenaga) besar. Bolehlah kita debut juga “dwi tunggal”. Paduan antara mantan pejabat Bea Cukai dan mantan Wakil Bupati ini sudah sangat mengerti organisasi pemerintahan dan budaya birokrasinya.

Bahkan, mereka sangat faham bagaimana merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi pemerintahan.

Akan tetapi, keberhasilan program/kegiatan pemerintahan di level kabupaten, pun sangat tergantung pada kepiawaian mereka merangkul semua kekuatan menjadi energi yang mumpuni.

Bolehlah, kata kuncinya, konsolidasi. Siapa saja yang mesti dikonsolidasi? Bagaimana menggalang konsolidasinya?

Agar energi yang terhimpun mumpuni (100 persen), Saipullah-Atika harus hitung semua potensi. Mulai dari diri mereka berdua, tim pemenangan, OPD, ormas, OKP, ormawa dan publik Madina. Jangan lupa, penting untuk bersiasat merangkul yang tadinya jadi lawan politik (On Ma) agar kekuatan benar-benar full: utuh, bulat dan satu.

Dwi Tunggal
Di banyak daerah, bahkan sejarah Madina sendiri, cerita tentang dwi tunggal itu retak atau malah pecah berkeping. Artinya, fakta pemaduan dua pribadi menjadi satu unsur pimpinan sering kali gagal.

Di konteks Madina 2025-2030, yang pertama berkonsolidasi adalah bupati yang mantan pejabat Bea Cukai dan wakil bupati yang mantan Wakil Bupati. Terlepas dari romantika hubungan keduanya pada masa pemenangan, mereka mungkin akan tarik-menarik soal kekuasaan dan kewenangan.

Walau teorinya sudah jelas, posisi wakil itu hanya pengisi ruang kosong pemerintahan, kecil kemungkinan sang wabup tak meminta pembagian yang sama — lebih-lebih kalau dalam soal akumulasi pembiayaan juga lumayan atau malah seimbang.

Singkatnya, kalau keduanya beda persepsi dan beda matematika soal beban pembiayaan perahu dan kampanye, upaya konsolidasi selanjutnya pun jelas makin rumit. Bisa-bisa energinya terkuras hingga 50-75 persen.

Jika sang bupati sangat faham dan pengertian, pembagian kewenangan tidak jadi soal dan karena itu tidak akan jadi hal yang mengganjal nantinya. Aman dan nyaman untuk bergerak dari hari pertama hingga hari ke-100 dan lima tahun selanjutnya. Energi besarnya utuh 100 persen.

Konsolidasi ini jadi titik awal yang sangat menentukan ke fase-fase selanjutnya. Mestinya, mulus-mulus sajalah. Toh, untuk membangun Madina sesuai visi-misi, kita butuh energi lebih dari 100 persen.

Tim Pemenangan
Garis besarnya, di dalam tim pemenangan cuma ada dua tim. Tim non-partai dan tim partai politik. Hanya saja, di kedua tim itu sama banyak faksi-nya. Ada yang dari keluarga, profesional, relawan dan simpatisan. Ada yang ikut mengusung ada juga yang cuma pendukung. Dan, di antara semua itu, suka tak suka, ada juga penggembira (tim sorak) dan “panglima talam”.

Apakah semuanya mau mengecilkan ekspektasinya sehingga sabar dan ikhlas saja manakala harus tersingkir atau tak kebagian apa-apa?

Pertanyaan itu teramat sulit untuk dijawab, bahkan oleh “dwi-tunggal”-nya. Jika memang datang dari motivasi untuk mendapatkan sesuatu (fee proyek, jabatan atau keduanya), agak-agak mustahil ekspektasi mereka yang merasa sudah menang itu akan bergeser. Kan yang berdarah-darah tempo hari sudah di posisi menang!

Dengan ekspektasi masing-masing yang cenderung besar, energi yang bisa dihimpun akan sangat minim. Kekecewaan tim pemenangan akan terus menguras energi. Bahkan, bisa-bisa semakin menyedot kekuatan yang tersisa.

OPD
Di tubuh Pemkab Madina juga masih terbagi dalam sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Dwi-tunggal mungkin saja punya catatan tentang keikutsertaan pimpinan masing-masing OPD dalam “upaya-upaya” pemenangan (terlarang). Setidaknya, secara informal, orang-orang birokrat yang mau pasang badan ambil risiko melanggar aturan tentu punya gaya untuk tampil dan punya nilai tawar dalam transisi dan setiap reposisi kelak.

Pasukan pemkab ini juga perlu mendapat pemahaman bahwa kemenangan itu juga terutama milik tim pemenangan. Sehingga pengisian posisi yang lowong kelak harus mempertimbangkan kehendak orang-orang yang ada di tim pemenangan. Tentu saja, ini juga sangat tergantung pada kepiawaian dwi-tunggal itu untuk mendengar yang perlu disimak dan mengabaikan suara-suara yang bikin brisik.

Masing-masing harus sadar, tidak semua yang mengaku loyal dan merapat mau peduli pada energi yang dibutuhkan. Justru sebaliknya, banyak yang berharap Sahata melemah agar mereka bisa bernyanyi dengan suara yang terdengar lebih nyaring.

Dwi-tunggal mestinya bisa bersikap bijak dan tegas sesuai aturan dengan mengabaikan semua kepentingan yang muncul dari kegiatan pemenangan kemarin. Jika tidak, terlalu banyak oknum OPD yang merasa sudah ikut ambil resiko.

Ormas, OKP dan Ormawa
Secara formal, semua organisasi ini ada di luar tim pemenangan. Karena itu, harus ada strategi khusus untuk merangkul semuanya.

Bisa saja dengan siasat mendatangi mereka secara maraton atau mengundang mereka sekaligus. Setidaknya, Sahata bisa komunikasi dan identifikasi. Mereka yang tergolong ormas (organisasi masyarakat), OKP (organisasi kepemudaan) dan ormawa (organisasi mahasiswa) sebagai in-group, out-group atau abu-abu. Sebab, dwi-tunggal harus bisa ambil sikap/tindakan lebih presisi ketika nantinya harus membagi “bola”.

Publik Madina
Pada dasarnya, publik mendukung yang unggul. Paling tidak, sesuai hasil pencoblosan, lebih banyak yang akan kasih support. Namun, dukungan paling minim dari publik adalah doa dan restu, hadir atau tidak hadir. Sahata harus jelas mendapatkan dan mempertahankan dukungan masyarakat luas ini.

Lawan Politik
Konsekuensi Pilkada, tentu ada yang jadi musuh. Jika disederhanakan, karakteristik musuh itu sama. Tak mungkin semua akan berbalik mendukung. Makanya, target minimalnya, mereka jadi kekuatan kritis yang siap sedia menegur atau mengkritik manakala muncul kebijakan yang keliru.

Memang, sebagai kekuatan besar yang sempat jadi lawan politik, mereka tak punya pengaruh buruk yang langsung berdampak signifikan. Tapi, jika komunikasi politiknya cukup canggih, ini bisa jadi energi cadangan, lebih-lebih ketika yang di dalam berulah atau berubah jadi kontra produktif (destroyer, pengganggu).

Simplikasi
Kalau disederhanakan, kalkulasi yang dibutuhkan hanya menghitung kekuatan yang bisa dihimpun agar tersedia energi 100 persen. Jika bisa bertindak cerdik, cerdas dan mulus, debut Sahata akan melejit. Tapi, jika dalam hal hitungan ini berlaku ceroboh, asal-asalan atau cuek-bebek, Sahata akan menjerit kehabisan tenaga/nafas tahun ke tahun dan Madina akan setback lagi jauh ke belakang menelan semua capaian dan mimpi-mimpi indahnya bernama “Madina yang Madani”. Bisa-bisa ungkapannya jadi frustratif lagi: “Madina na Madabu”.

Jangan ya, jangan biarkan Madina kehilangan optimisme dan kembali jadi korban!

*) Penulis adalah jurnalis freelance, alumni IISIP Jakarta dan Anggota DPRD Madina 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Kandidat Bersaing Jelang Muscam Golkar MBG

    Dua Kandidat Bersaing Jelang Muscam Golkar MBG

    • calendar_month Sabtu, 25 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SINGKUANG (Mandailing Online) – Dua kandidat muncul menjelang musyawarah kecamatan (Muscam) Partai Golkar di Kecamatan Muara Batang Gadis pada Minggu (26/9) besok. Hal itu disampaikan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Madina Arsidin Batubara kepada Mandailing Online di Singkuang, Muara Batang Gadis, Sabtu (25/9). Kedua kandidat tersebut adalah Maspaluddin Daulay dari Desa Singkuang I dan Asmaul […]

  • Penerima BLT Tak Transparan, Warga Sinonoan Akan Polisikan Kepdes

    Penerima BLT Tak Transparan, Warga Sinonoan Akan Polisikan Kepdes

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puluhan warga Desa Sinonoan Kecamatan Siabu mendatangi Polres Madina Kamis (21/5) siang. Warga hendak mengadukan semrawutnya penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa 2020 di desa mereka. Diantara poin yang dikeluhkan : pemerintah desa kurang transparan menentukan warga penerima manfaat. Banyak yang kategori berhak tak masuk daftar. Edy Saputra Nasution gelar […]

  • Perjuangan Warga Terkabul, Kepala Desa Gunungtua Jae Diberhentikan Sementara

    Perjuangan Warga Terkabul, Kepala Desa Gunungtua Jae Diberhentikan Sementara

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mardansyah Rangkuti diberhentikan sementara dari jabatannya sebagai Kepala Desa Gunungtua Jae, Kecamatan Panyabungan. Pemberhentian tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Mandailing Natal Dahlan Hasan Nasution Nomor 141/0272/K/2020 tentang pemberhentian sementara dan pengangkatan pelaksana harian Kepala Desa Gunungtua Jae Kecamatan Panyabungan tertanggal 14 April 2020. Dalam surat tersebut juga diangkat Ikhsan S.Pd sebagai […]

  • Dajjal dalam Suatu Sistem

    Dajjal dalam Suatu Sistem

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    “Fitnah terbesar itu justru ketika manusia kehilangan orientasi kebenaran. Saat wahyu tak lagi dijadikan standar. Yang dijadikan ukuran hanyalah opini (sekulerisme) dan mayoritas (demokrasi)” Bayangkan sebuah sistem siluman menjalar di setiap sendi kehidupan: ekonomi, media, pendidikan, bahkan teknologi. Semuanya bergerak tanpa disadari, kecuali oleh mereka yang jiwanya peka dan imannya hidup. Banyak orang menunggu kemunculan […]

  • Harga Kopi Beras Masih Tinggi

    Harga Kopi Beras Masih Tinggi

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tidak semua jenis biji kopi yang harganya anjlok. Biji kopi beras justru masih bertahan dengan harga di kisaran 50.000 rupiah per kilo gram. Kasi Perkebunan Dinas Kehutanan Perkebunan Madina, Yasir Nasution SP, Senin (16/9/2013) mengatakan memang terjadi penurunan harga biji kopi dari Rp.18.000 menjadi Rp.8.000/ Kg. Hal ini juga terjadi pada […]

  • Pejabat Dinkes Harus Minta Maaf Kepada Rakyat Madina

    Pejabat Dinkes Harus Minta Maaf Kepada Rakyat Madina

    • calendar_month Rabu, 8 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pejabat di Dinas Kesehatan didesak meminta maaf kepada seluruh rakyat Madina terkait kesalahan input data covid-19 penyebab Madina masuk PKPM Level 4. Desakan itu dicuatkan ustad Sahminan Rangkuti, Rabu (18/9/2021). Jangan gara-gara oknum tertentu di Dinas Kesehatan Mandailing Natal (Madina), rakyat jadi korban menanggung rugi yang sangat besar. “Mau salah input […]

expand_less