Rabu, 22 Apr 2026
light_mode

In Memoriam H. Samad Lubis, SE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
  • print Cetak
Almarhum H. Samad Lubis,SE

Almarhum H. Samad Lubis,SE

Catatan Kecil : Askolani Nasution

“Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan.

Akhir tahun 2005, ketika saya memenangkan Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, H. Samad Lubis, SE, yang ketika itu menjadi Kadis Pendidikan Mandailing Natal, memanggil saya ke ruang kerjanya. Ia bertanya apa saya bisa membuat majalah pendidikan. Saya segera mengiyakan, karena dari dulu saya terobsesi membuat media seperti itu.

Beliau segera meminta konsepnya, mulai dari ukuran, warna, tampilan, rubrikasi, hingga kontent. Pendeknya, media dalam bentuk siap cetak. Hanya empat hari, saya kembali menemui beliau dan menunjukkan format yang telah disiapkan. Beliau langsung setuju. Lalu segera dimasukkan dalam APBD 2006.

Kesanku ketika itu, beliau amat percaya kepada orang, karena tak sedikitpun ada perubahan dari konsep yang saya buat. Itulah awal pertama kali saya berhubungan tugas dengan beliau hingga tahun 2009, ketika beliau mencalonkan diri menjadi wakil bupati Mandailing Natal.

Saya merasakan bahwa beliau amat menghargai kami para awak redaktur Buletin “Gema Pendidikan” itu. Bertemu di jalan saja beliau langsung berhenti dan menegur duluan. Justru kami yang merasa segan. Tiap kali berpapasan di kantor Dinas Pendidikan, kami langsung di panggil ke ruangannya, lalu bercerita banyak tentang persoalan dan target pendidikan di daerah ini, mulai dari angka melek huruf, APK, peningkatan mutu guru, penggenjotan siswa berprestasi, dan lain-lain.

Konsepnya yang paling menonjol seingat saya adalah bagaimana meningkatkan jumlah SMK harus lebih banyak dari jumlah SMA. Sebab, menurut beliau, untuk persaingan di masa depan, lebih dibutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi kewirausahaan, karena angka lulusan SLTA yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak dari pada lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya ingat betul, ketika itu beliau menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, jumlah SMK harus 70 persen dan SMA 30 persen, berbanding terbalik dengan kondisi saat itu.

Selain itu, hal yang paling inovatif saya kira adalah usaha beliau untuk mengembangkan potensi anak-anak berbakat. Karena beliau meyakini bahwa potensi kecerdasan justru lebih banyak lahir dari dari daerah. Karena itu, waktu itu beliau menggagas Pelatihan Fisika bekerja sama dengan Lembaga Fisika Indonesia yang digagas Prof. Johannes Surya. Beberapa anak-anak cerdas dikumpul, lalu diberi pelatihan Matematika dan Fisika. Dan hasilnya amat signifikan. Banyak ajang lomba di tingkat provinsi dan nasional yang segera didominasi oleh anak-anak yang berasal dari Mandailing Natal. Apalagi anak-anak berbakat itu dilatih secara simultan oleh guru-guru terbaik pada masa itu.

Para guru juga diberi dukungan yang signifikan untuk mengembangkan potensinya. Kami para guru berprestasi diperkenalkan sedemikian rupa kepada publik dalam berbagai kesempatan. Itu reward yang luar biasa saya kira. Tahun 2007 misalnya, saya bahkan diberi reward 20 juta karena terpilih menjadi guru berprestasi tingkat SMA/SMK. Saya juga ditawari umroh, tetapi saya tolak karena belum cukup siap rasanya ketika itu. Saya juga ditawari beasiswa S2 yang sempat saya jalani beberapa bulan saja di UBH. Saya keluar karena tidak betah saja. Saya yakin, hingga hari ini, tidak pernah ada hadiah sebesar itu untuk para guru berprestasi.

Reward serupa juga dirasakan oleh teman saya, Ahmad Syukri Lubis, pemenang Medali Emas Nasional untuk Media Pembelajaran Berbasis TIK. Ahmad Syukri Lubis diberi ruang untuk mengajar di SMA Plus Kotanopan ketika itu, meskipun yang bersangkutan hanya lulusan STM. Itu menunjukkan bahwa, bagi beliau, kompetensi jauh lebih penting dari pada ijazah. Ahmad Syukri bercerita kepada saya, bagaimana ia merasa amat dihargai setiap kali bertemu dengan H. Samad Lubis, meskipun dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan yang dilakukannya saya kira tulus, tanpa basa-basi layaknya pejabat lain ketika itu.

Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan. Itu amat berkesan bagi saya. Tentu karena saya cuma guru rendahan ketika itu, dan beliau secara hirarkis beberapa tingkat kedudukannya di atas saya. Orang seperti saya mungkin tidak akan dianggap ada oleh pejabat setingkat beliau, tetapi beliau tampak tulus memperlakukan kami para guru berprestasi.

Askolani Nasution

Askolani Nasution

Banyak tugas-tugas inovasi yang diberikan kepada kami. Misalnya membuat video profil pendidikan Mandailing Natal. Semua konsepnya diserahkan kepada kami, dan semua konsep yang kami tawarkan tidak pernah ditolak. Ketika kami datang memperlihatkan profil yang kami buat, beliau memanggil semua staf untuk menyaksikan bersama, menunda semua pekerjaan dulu. Kami ditawari berbagai makan dan minum sambil terus memuji-muji pekerjaan kami di depan stafnya. Saya kira, itu bentuk reinforcement yang luar biasa untuk membuat orang bisa total bekerja.

Tahun 2013, ketika kami menggarap film “Senandung Willem”, beliau juga beberapa kali datang melihat-lihat. Beliau seperti tim bagi kami karena dapat lentur bercerita tentang berbagai persoalan seni, tanpa batas-batas status sosial. Padahal beliau Asisten Sekdakab ketika itu, dan kami cuma para pekerja film. Duduk bersama di bawah kayu, emperan rumah, atau tempat apa saja tanpa sungkan. Itu hal yang luar biasa saya kira, karena sulit bertemu tokoh yang mau mensejajarkan diri dengan orang-orang rendah seperti kami.

Terlalu panjang jadinya tulisan ini, kalau harus saya runut semua segala penciptaan kesan baik yang diperankan H. Samad Lubis, SE kepada kami orang-orang kecil. Tulisan ini tanpa pretensi apa pun, hanya sebatas memperkenalkan sisi lain dari pribadi seorang mantan Kadis Pendidikan Mandailing Natal.

Semoga beliau mendapat tempat yang mulia di hadapan Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Pesona kerendah-hatian beliau kiranya dapat menjadi teladan bagi anak-anak yang ditinggalkan, juga bagi kita semua untuk dapat sedikit merendahkan kedudukannya di hadapan orang-orang kecil yang tak dicatat sejarah. (penulis kini beraktifitas sebagai sutradara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • RI Berpeluang Masuk 10 Negara Ekonomi Terbesar

    RI Berpeluang Masuk 10 Negara Ekonomi Terbesar

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PIDATO KENEGARAAN : Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Bersama DPR/DPD memperingati HUT Ke-66 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (16/8). Presiden Yudhoyono memaknai kemerdekaan sebagai sebuah jembatan untuk mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang lebih adil, makmur, unggul, dan bermartabat. FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma/ed/pd/11 Jakarta : Presiden RI, […]

  • Kasus Kepala Babi di Musolla, Bupati Himbau Warga Tenang

    Kasus Kepala Babi di Musolla, Bupati Himbau Warga Tenang

    • calendar_month Rabu, 12 Jul 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution menghimbau warga tetap tenang menyikapi pelaku peletak kepala babi di depan musolla. “Persoalan ini kita serahkan saja kepada aparat penegak hukum, biarkan mereka bekerja untuk mengusut kasus ini,” kata bupati kepada wartawan di Taman Raja Batu, Selasa (11/7/2017). Dia menghimbau agar masyarakat jangan mau […]

  • Aishah Schwartz, Hidayah dan Burkini

    Aishah Schwartz, Hidayah dan Burkini

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu dekade silam, Aishah Schwartz memutuskan menjadi Muslim. Putusan ini diambilnya, setelah 41 tahun tak pernah tahu apa itu Islam dan Muslim. Kini, ia kian memahami mengapa Allah memberikan hidayah kepadanya. “Subhanallah, aku bersyukur menjadi Muslim,” kata dia seperti dikutip onislam.net, Rabu (13/11). Sebelum menjadi Muslim, Aishah gemar berenang. Ia bahkan rutin mengunjungi laut Merah […]

  • Keajaiban Zamzam di Mata Ilmuwan

    Keajaiban Zamzam di Mata Ilmuwan

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Seorang ilmuwan terkenal Jepang, Dr Masasro Imoto, pernah berkata, “Air zamzam memiliki beberapa keistimewan yang tidak tertandingi oleh air biasa.” Merujuk pada sejumlah kajian ilmiahnya terhadap air zamzam dengan teknik nano, ternyata hal itu tidak mampu mengubah karakteristiknya sedikit pun. Apabila setetes air zamzam dicampur ke dalam 1000 tetes air biasa, maka air tersebut akanmemiliki […]

  • Info Mudik Mandailing Online : Jalur-jalur Rawan di Tabagsel

    Info Mudik Mandailing Online : Jalur-jalur Rawan di Tabagsel

    • calendar_month Rabu, 29 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JALUR PANYABUNGAN-KOTANOPAN Di jalur Jalan Lintas Sumatera sepanjang Panyabungan-Kotanopan terdapat dua titik yang harus diingat supir. Pertama, di titik Desa Muara Mais, dimana tebing bukit jalan merupakan rawan longsor. Saat ini terdapat longsoran kecil, tetapi tak mengganggu badan jalan. Kedua, saat ini pekerja sedang bekerja memperbaiki jembatan Pasar Laru di titik Desa Laru, Kecamatan Tambangan. […]

  • 1.445 Guru Belum Sertifikasi

    1.445 Guru Belum Sertifikasi

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANGBOLAK- Sebanyak 1.445 guru PNS di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) belum sertifikasi. Dari total guru PNS sebanyak 1.637 ini hanya 192 guru yang sudah lulus sertifikasi, atau hanya sekitar 11 persen saja. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Paluta Drs Hazairin Hasibuan melalui Kabid Pengendalian Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Drs Hasmy Siregar, Jumat […]

expand_less