Senin, 27 Jul 2026
light_mode

In Memoriam H. Samad Lubis, SE

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Apr 2016
  • print Cetak
Almarhum H. Samad Lubis,SE

Almarhum H. Samad Lubis,SE

Catatan Kecil : Askolani Nasution

“Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan.

Akhir tahun 2005, ketika saya memenangkan Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, H. Samad Lubis, SE, yang ketika itu menjadi Kadis Pendidikan Mandailing Natal, memanggil saya ke ruang kerjanya. Ia bertanya apa saya bisa membuat majalah pendidikan. Saya segera mengiyakan, karena dari dulu saya terobsesi membuat media seperti itu.

Beliau segera meminta konsepnya, mulai dari ukuran, warna, tampilan, rubrikasi, hingga kontent. Pendeknya, media dalam bentuk siap cetak. Hanya empat hari, saya kembali menemui beliau dan menunjukkan format yang telah disiapkan. Beliau langsung setuju. Lalu segera dimasukkan dalam APBD 2006.

Kesanku ketika itu, beliau amat percaya kepada orang, karena tak sedikitpun ada perubahan dari konsep yang saya buat. Itulah awal pertama kali saya berhubungan tugas dengan beliau hingga tahun 2009, ketika beliau mencalonkan diri menjadi wakil bupati Mandailing Natal.

Saya merasakan bahwa beliau amat menghargai kami para awak redaktur Buletin “Gema Pendidikan” itu. Bertemu di jalan saja beliau langsung berhenti dan menegur duluan. Justru kami yang merasa segan. Tiap kali berpapasan di kantor Dinas Pendidikan, kami langsung di panggil ke ruangannya, lalu bercerita banyak tentang persoalan dan target pendidikan di daerah ini, mulai dari angka melek huruf, APK, peningkatan mutu guru, penggenjotan siswa berprestasi, dan lain-lain.

Konsepnya yang paling menonjol seingat saya adalah bagaimana meningkatkan jumlah SMK harus lebih banyak dari jumlah SMA. Sebab, menurut beliau, untuk persaingan di masa depan, lebih dibutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi kewirausahaan, karena angka lulusan SLTA yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak dari pada lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya ingat betul, ketika itu beliau menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, jumlah SMK harus 70 persen dan SMA 30 persen, berbanding terbalik dengan kondisi saat itu.

Selain itu, hal yang paling inovatif saya kira adalah usaha beliau untuk mengembangkan potensi anak-anak berbakat. Karena beliau meyakini bahwa potensi kecerdasan justru lebih banyak lahir dari dari daerah. Karena itu, waktu itu beliau menggagas Pelatihan Fisika bekerja sama dengan Lembaga Fisika Indonesia yang digagas Prof. Johannes Surya. Beberapa anak-anak cerdas dikumpul, lalu diberi pelatihan Matematika dan Fisika. Dan hasilnya amat signifikan. Banyak ajang lomba di tingkat provinsi dan nasional yang segera didominasi oleh anak-anak yang berasal dari Mandailing Natal. Apalagi anak-anak berbakat itu dilatih secara simultan oleh guru-guru terbaik pada masa itu.

Para guru juga diberi dukungan yang signifikan untuk mengembangkan potensinya. Kami para guru berprestasi diperkenalkan sedemikian rupa kepada publik dalam berbagai kesempatan. Itu reward yang luar biasa saya kira. Tahun 2007 misalnya, saya bahkan diberi reward 20 juta karena terpilih menjadi guru berprestasi tingkat SMA/SMK. Saya juga ditawari umroh, tetapi saya tolak karena belum cukup siap rasanya ketika itu. Saya juga ditawari beasiswa S2 yang sempat saya jalani beberapa bulan saja di UBH. Saya keluar karena tidak betah saja. Saya yakin, hingga hari ini, tidak pernah ada hadiah sebesar itu untuk para guru berprestasi.

Reward serupa juga dirasakan oleh teman saya, Ahmad Syukri Lubis, pemenang Medali Emas Nasional untuk Media Pembelajaran Berbasis TIK. Ahmad Syukri Lubis diberi ruang untuk mengajar di SMA Plus Kotanopan ketika itu, meskipun yang bersangkutan hanya lulusan STM. Itu menunjukkan bahwa, bagi beliau, kompetensi jauh lebih penting dari pada ijazah. Ahmad Syukri bercerita kepada saya, bagaimana ia merasa amat dihargai setiap kali bertemu dengan H. Samad Lubis, meskipun dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan yang dilakukannya saya kira tulus, tanpa basa-basi layaknya pejabat lain ketika itu.

Hal yang paling membuat saya terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan. Itu amat berkesan bagi saya. Tentu karena saya cuma guru rendahan ketika itu, dan beliau secara hirarkis beberapa tingkat kedudukannya di atas saya. Orang seperti saya mungkin tidak akan dianggap ada oleh pejabat setingkat beliau, tetapi beliau tampak tulus memperlakukan kami para guru berprestasi.

Askolani Nasution

Askolani Nasution

Banyak tugas-tugas inovasi yang diberikan kepada kami. Misalnya membuat video profil pendidikan Mandailing Natal. Semua konsepnya diserahkan kepada kami, dan semua konsep yang kami tawarkan tidak pernah ditolak. Ketika kami datang memperlihatkan profil yang kami buat, beliau memanggil semua staf untuk menyaksikan bersama, menunda semua pekerjaan dulu. Kami ditawari berbagai makan dan minum sambil terus memuji-muji pekerjaan kami di depan stafnya. Saya kira, itu bentuk reinforcement yang luar biasa untuk membuat orang bisa total bekerja.

Tahun 2013, ketika kami menggarap film “Senandung Willem”, beliau juga beberapa kali datang melihat-lihat. Beliau seperti tim bagi kami karena dapat lentur bercerita tentang berbagai persoalan seni, tanpa batas-batas status sosial. Padahal beliau Asisten Sekdakab ketika itu, dan kami cuma para pekerja film. Duduk bersama di bawah kayu, emperan rumah, atau tempat apa saja tanpa sungkan. Itu hal yang luar biasa saya kira, karena sulit bertemu tokoh yang mau mensejajarkan diri dengan orang-orang rendah seperti kami.

Terlalu panjang jadinya tulisan ini, kalau harus saya runut semua segala penciptaan kesan baik yang diperankan H. Samad Lubis, SE kepada kami orang-orang kecil. Tulisan ini tanpa pretensi apa pun, hanya sebatas memperkenalkan sisi lain dari pribadi seorang mantan Kadis Pendidikan Mandailing Natal.

Semoga beliau mendapat tempat yang mulia di hadapan Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Pesona kerendah-hatian beliau kiranya dapat menjadi teladan bagi anak-anak yang ditinggalkan, juga bagi kita semua untuk dapat sedikit merendahkan kedudukannya di hadapan orang-orang kecil yang tak dicatat sejarah. (penulis kini beraktifitas sebagai sutradara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Moral Penduduk Madina Kian Merosot

    Moral Penduduk Madina Kian Merosot

    • calendar_month Senin, 24 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Saat ini kondisi pengamalan keagamaan di Mandailing Natal (Madina) cukup memprihatinkan. Akhlak dan moral manusianya sudah jauh dari ajaran Islam yang haikiki. Ini terlihat dari minimnya warga yang memakmurkan masjid, pengajian pengajian yang dilaksanakan warga sudah jauh berkurang. Rasa persaudaraan dan silaturrahmi sudah mulai pupus dan maraknya pelanggaran agama baik yang […]

  • Capaian PAD Madina Masih 33 Persen

    Capaian PAD Madina Masih 33 Persen

    • calendar_month Kamis, 11 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hingga awal oktober 2012 perolehan PAD Kabupaten Mandailing Natal (Madina) masih 33, 75 persen atau atau 15 milayar rupiah dari target 45 Milyar. Data ini terungkap pada pembahasan KUA PPAS oleh badan Anggaran DPRD Madina dan pihak eksekutif di ruang paripurna DPRD, Rabu (10/10). Pembahasan hari itu lebih banyak terfokus pada […]

  • Pertokoan di Pasar Baru Panyabungan Banyak Tutup

    Pertokoan di Pasar Baru Panyabungan Banyak Tutup

    • calendar_month Jumat, 1 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Puluhan pedagang di Pasar Baru Panyabungan, Mandailing Natal ( Madina ) memilih menutup toko nya karena sepinya pembi. Selain faktor sepi pembeli, masalah tempat juga menjadi alasan pedagang menutup dagangannya. Kebanyakan mereka yang menutup tokonya adalah pedagang kain dan assesoris, akibatnya puluhan toko di pasar baru sementara itu bagaikan pasar kelas […]

  • TPID Bisa Meningkatkan Pendapatan Daerah

    TPID Bisa Meningkatkan Pendapatan Daerah

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      P Sidimpuan – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sibolga menggelar Rapat Kordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Tabagsel, di Aula Kantor Walikota Padangsidimpuan, Jumat (24/4). Rapat TPID itu digelar dalam rangka penguatan kerja sama perdagangan antar daerah dan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang palsu. Rapat Kordinasi TPID ini dihadiri perwakilan kepala daerah Tapanuli Selatan (Tapsel), Padang […]

  • Objek Wisata Sampuraga Mengecewakan, Perlu Perhatian Pemerintah

    Objek Wisata Sampuraga Mengecewakan, Perlu Perhatian Pemerintah

    • calendar_month Kamis, 30 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (MO) – Tokoh masyarakat Kecamatan Panyabungan Barat, Salamuddin mendesak Pemkab Madina, Kamis (30/8) untuk lebih memperhatikan kesinambungan objek wisata Sampuraga yang terletak di Desa Sirambas Kecamatan Panyabungan Barat. Kondisi fisik objek wisata Sampuraga sudah bertahun-tahun memprihatinkan akibat kurang penanganan menyebabkan banyak pengunjung kecewa dan tak mau kembali mengunjunginya. “Lokasinya bersemak, becek, tempat untuk duduk-duduk […]

  • Khofifah: BKKBN Harus Miliki Manajemen Kependudukan

    Khofifah: BKKBN Harus Miliki Manajemen Kependudukan

    • calendar_month Selasa, 26 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara harus memiliki manajemen kependudukan dan membahasnya secara komprehensif. Hal ini bertujuan dalam mengantisipasi terjadinya ledakan penduduk di Indonesia. “Ledakan penduduk tidak bisa dianggap main-main, karena jumlah penduduk sudah tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada. Harus ada manajemen kependudukan dan dibahas secara komprehensif,” ungkap Ketua […]

expand_less