Selasa, 4 Agu 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 8 Okt 2015
  • print Cetak

 

Oleh: Askolani Nasution

PRAKATA

Mengidentifikasi tipikal Mandailing membutuhkan kajian yang komprehensif. Amat naif jika hanya menggeneralisir begitu saja bahwa Mandailing hanya sebatas teritorial saja, tanpa acuan-acuan yang signifikan. Apalagi kita meyakini bahwa filsafat, norma, dan budaya—yang sering digunakan untuk pengelompokan sosial—bukanlah satuan-satuan yang berdiri sendiri tanpa pengaruh dari identitas suku lain.

Studi sastra banyak digunakan untuk mengidentifikasi satu entitas sosial. Itu karena keyakinan bahwa sastra selalu lahir dari dinamika sosial pembacanya. Sastra yang baik bukan hanya membawa renungan sosial tapi bahkan menciptakan perubahan sosial. Saya percaya bahwa sebuah karya bukan hanya menimbulkan kontemplasi estetik semata, tetapi mampu menciptakan kesadaran sosial.

Sastra merupakan aspek penting dalam merekonstruksi kondisi sosial masyarakat. Sebab, sastra—sebagai hasil ekspresi imajinasi pengarang—mampu merefleksikan keadaan zamannya, bahkan meredefinisikan sebuah konteks yang tidak sepenuhnya bisa dilakukan ilmu sejarah. Sastra adalah lembaga sosial, begitu kata Sapardi Joko Damono (1984).

Sastra juga sering digunakan sebagai salah satu pendekatan keilmuan penting untuk menganeksasi suatu kawasan. Banyak bukti-bukti sejarah yang menunjukkan bahwa kolonialisme selalu dimulai dari pengetahuan etnografi, dan bahasa sebagai salah satunya. Karena itu, Susan Rodgers (2002) mengatakan bahwa negara kolonial memperpanjang kekuasaan politik mereka dengan mensponsori proyek etnologis terhadap penduduk desa pribumi terkait bahasa dan budaya setempat.

Sulit menemukan suatu studi yang komprehensif tentang kontekstualitas Mandailing di masa lalu, terutama karena minimnya literasi tentang kawasan ini. Selain itu tipikal akrasa Mandailing juga bukan digunakan untuk tradisi literer, melainkan lebih banyak untuk tradisi lisan. Hal itu diperburuk lagi dengan nyaris tidak adanya satu kajian sejarah tentang Mandailing yang komprehensif dan diakui validitasnya.

Dalam konteks demikian, studi atas berbagai karya sastra Mandailing menjadi hal yang penting. Tentu bukan hanya sebatas karya yang diklaim sebagai genre sastra saja (prosa, puisi, dan drama).

KESUSASTRAAN MANDAILING KLASIK

Studi tentang folklore tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kontekstualitas linguistik, epik, ideologi, dan ritual penutur asli. Berbagai dimensi tersebut saling berkorelasi untuk membentuk kemasan perkembangan sastra.

Seni Budaya Mandailing, termasuk sastra tentu saja, harus dirunut dari masa pra-Islam. Masyarakat tradisional Mandailing percaya kepada penguasa gaib yang disebut sibaso yang diyakini memiliki kekuatan supernatural. Kekuatan itu bukan hanya melekat pada kekuasaan raja, tetapi juga kepada seluruh desa.

Penting untuk memahami bahwa merebaknya Perang Paderi tahun 1810 signifikan dengan menguatnya tradisi Islam di kawasan Mandailing. Tetapi masuknya Islam tidak serta merta mengubah seni budaya tradisional yang telah ada sebelumnya, walaupun pengaruhnya tentu ada. Penolakan raja-raja tradisional terhadap dominasi Paderi, mendorong kolonialisme masuk di kawasan Mandailing tahun 1835. Meskipun Paderi akhirnya mundur dan kalah, tetapi pendidikan bermuatan Islam terus berkembang di kawasan ini. Meskipun begitu, dalam interaksi sosial masyarakat hubungan antarindividu tetap dalam relasi kaidah “Dalihan na Tolu.” Hal ini menjadi satu sistem sosial yang luar biasa, karena Islam tidak masuk ke dalam tatanan sendi-sendi adat dan budaya tradisional. Islam hanya digunakan dalam relasi hubungan manusia dengan Tuhan, bukan dalam norma-norma yang lebih luas.

Pemahaman kondisi sosial di atas penting untuk mendudukkan peran sastra Mandailing. Sebab, sastra tidak lahir dari kekosongan sosial. Karena itu, sastra Mandailing sepatutnya bisa memiliki fungsi yang luas, yakni selain untuk pembentuk opini sosial, juga sebagai wahana untuk merekonstruksi konteks sosial zamannya.

Ada hal yang sangat ironis dalam konteks sastra Mandailing, karena kita tidak sepenuhnya menggunakan tradisi literer tertulis, sebagaimana dibandingkan dengan luasnya tradisi sastra Jawa misalnya. Seni sastra Mandailing ditularkan melalui tradisi yang khas, misalnya melalui medium berikut

  1. Marturi

Tradisi bercerita dalam konteks sosial Mandailing yang dilakukan secara verbal. Cerita ditularkan secara turun-temuran. Plot menggunakan alur maju dan banyak memuat ajaran tentang budi pekerti.

      2. Ende Ungut-ungut

Dibedakan atas temanya. Ende merupakan ungkapan hati, ekspresi kesedihan karena berbagai hal, misalnya kesengsaraan hidup karena kematian, ditinggalkan, dan lain-lain. Selain itu juga berisi pengetahuan, nasehat, ajaran moral, sistem kekerabatan, dan sebagainya. Ende ungut-ungut menggunakan pola pantun dengan persajakan ab-ab atau aa-aa. Sampiran biasanya banyak mengadopsi nama tumbuhan, karena adanya bahasa daun.

Misalnya: tu sigama pe so lalu/madung donok tu Ujung Gading/di angan-angan pe so lalu/laing tungkus abit partinggal

 

SASTRA MANDAILING KOLONIAL

Tahun 1840, kontrolir Belanda pertama berdiri di Natal. Awalnya berfungsi untuk mengontrol perkebunan kopi yang berkembang di kawasan Mandailing dan Angkola. Kemudian di Panyabungan berdiri sekolah percontohan untuk pendidikan guru, Kweekschol, yang dikelola Willem Iskander. Sekolah ini didirikan untuk masyarakat Mandailing yang didominasi Islam setelah Perang Paderi 1816-1837. Pada saat yang sama di kawasan Sipirok sudah berkembang misionaris Jerman yang menguasai 10% populasi masyarakat.

Reformasi Agraria di Eropah Tahun 1870 mendorong pengembangan investasi perkebunan karet dan tembakau di Deli. Selain itu, Politik Etis menyebabkan tumbuhnya pendidikan untuk kalangan pribumi yang didalamnya tentu membutuhkan bahan bacaan. Hal itu juga menuntut intensifikasi pengelolaan sekolah-sekolah inlander. Momentum ini sekaligus mendorong diterbitkannya bahan bacaan partikelir untuk buruh perkebunan.

Penting juga untuk memahami peranan H.N. Van der Tuuk’s yang menyusun Tata Bahasa Batak (1864-1867).[1] untuk kebutuhan silabus buku teks di sekolah. Tata bahasa ini menjadi acuan dalam penulisan sastra daerah di kawasan Tapanuli bagian selatan ketika itu.

Tahun 1870-an berdiri sebuah sekolah guru di Padang Sidimpuan yang menjadi pusat pendidikan dan pusat administrasi pemerintahan. Budaya dan Bahasa Lokal mulai dipelajari di sekolah ini. Tahun 1914, Ch Van Ophuysen mengembangkan studi bahasa lokal di kawasan ini.

Di Sipirok berdiri sekolah pemerintahan, sekolah bible. Sipirok pada saat itu telah memiliki surat kabar berbahasa berbahasa Melayu dan Batak. Sipirok bahkan melahirkan beberapa penulis novel untuk buruh perkebunan.

Selain itu, sejak masa kolonial, kawasan yang disebut Tapanuli Selatan, memiliki tokoh-tokoh eksponen yang amat besar peranannya dalam pertumbuhan sastra. Mereka terutama tumbuh dari output pendidikan berkarakter Eropah. Masa-masa ini menjadi penting karena menjadi awal tumbuhnya tradisi sastra tertulis dan menguatnya peran aksara Latin, suatu tradisi yang belum dikenali dalam sejarah Mandailing Klasik. Cerita menjadi lebih imajinatif dan dalam berbagai sisi tampak muatan pola pandang Eropah. Menguatnya peran aksara Latin tersebut menandai pudarnya tradisi aksara Mandailing. (bersambung)

Catatan kaki:

 [1] Tata bahasa dan dialek untuk kebutuhan translate Bible dalam bahasa Karo, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak, Angkola, dan Mandailing.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nama-Nama PNS Yang Mutasi

    • calendar_month Rabu, 5 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ansor, S.Pd.MM yang selama ini menjabat kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata dimutasi menjadi kepala BLU STAIM dalam mutasi di lingkungan Pemkab Mandailing Natal, Rabu (4/6/2013). Sementara kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata yang baru dijabat oleh Ahmad Meinul Lubis, AP yang selama ini menjabat Kepala Kantor Pelayanan Perizinan […]

  • Fakhrizal Efendi Nasution Bantu Persatuan Wirid Yasin Hutapuli

    Fakhrizal Efendi Nasution Bantu Persatuan Wirid Yasin Hutapuli

    • calendar_month Sabtu, 4 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Kaum ibu Desa Hutapuli mengucapkan terimakasih kepada Anggota DPRD Sumut, H. Fakhrizal Efendi Nasution,SH atas bantuan peralatan dapur untuk pengajian di desa itu. Bantuan itu diserahkan melalui Kepala Desa Hutapuli, Hanafi kepada 5 organisasi Wiritan Yasin di Hutapuli, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal Jum`at (3/8/2018). “Terima kasih yang sedalam-dalam nya kami […]

  • Parbuko Ramadan : Toge Taing Tumpat Masih Dicari Warga

    Parbuko Ramadan : Toge Taing Tumpat Masih Dicari Warga

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Masyarakat  kota Panyabungan, Mandailing Natal setiap bulan Ramadhan selalu ramai mengunjungi tempat-tempat penjualan menu buka puasa (parbuko), baik yang di pinggir jalan maupun di pasar dadakan. Yang paling ramai dikunjungi oleh masyarakat adalah Pasar Baru Panyabungan untuk membeli toge dan pakkat (pusuk ni otang) sebagai makanan yang tidak pernah tinggal jika waktu berbuka tiba. […]

  • Sidak Pembangunan Sejumlah Ruas Jalan, Elpiyanti Harahap Minta Kontraktor Kejar Progres Dengan Kedepankan Kualitas

    Sidak Pembangunan Sejumlah Ruas Jalan, Elpiyanti Harahap Minta Kontraktor Kejar Progres Dengan Kedepankan Kualitas

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online : Pengerjaan proyek jalan di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) tahun anggaran 2024 sumber dana dari Dana Alokasi Khusus ( DAK) yang diposkan di Dinas Pekerjaan Umum dan Penata Ruang (PUPR) terus dikebut pengerjaannya dengan mengedepankan kualitas. Pj Kadis PUPR Madina Elpiyanti Harahap bersama sejumlah Kepala Bidang beberapa hari terkahir pun melakukan […]

  • Harga TBS di Madina Semakin Membaik

    Harga TBS di Madina Semakin Membaik

    • calendar_month Selasa, 26 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Harga tandan buah segar (TBS) sawit di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terus membaik. Dan dalam dua minggu terakhir, harganya kembali mengalami kenaikan Rp50 per kilogramnya dari sebelumnya Rp1.100 menjadi Rp1.150 per kg. Demikian dikatakan Sugeng (37), petani sawit warga Sinunukan, Kecamatan Sinunukan, kepada MedanBisnis, Senin (25/10) di Panyabungan. Disebutkannya, harga jual TBS sebesar Rp1.150 […]

  • Danau Toba dikelola swasta?

    Danau Toba dikelola swasta?

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TOBASA –Setelah dibentuk oleh peristiwa alam selama ratusan tahun lalu, kawasan Danau Toba berubah menjadi keajaiban alam luar biasa. Tapi selama puluhan tahun sejak pariwisata modern dikenal peradaban manusia, wisata ke kawasan ini tak kunjung booming ke manca negara. Wacana pengelolaan oleh swasta pun mencuat. Almarhum T Rizal Nurdin pernah membuat gebrakan dengan kegiatan Network […]

expand_less