Rabu, 13 Mei 2026
light_mode

Pembongkaran Dua Kuburan Bukan Akibat Perebutan Warisan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 menit yang lalu
  • print Cetak

 

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pembongkaran dua kuburan di Desa Huta Lombang Lubis, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut bukan akibat perebutan harta warisan, melainkan disebabkan kesepakatan yang tidak terrealisasi.

Hal itu ditegaskan Sakti Matondang, keponakan Nurhayati (almarhumah) dan Fahrizal Piliang (almarhum). “Tak ada yang berebut, mungkin yang ada merebut. Ini perlu saya luruskan supaya masyarakat tahu cerita sebenarnya. Biar masyarakat yang menilai,” katanya, Rabu (13/5/2026) pagi sebagaimana dilansir BeritaHuta.

Sakti, yang juga keponakan K, menjelaskan sebelum Nurhayati meninggal ada kekhawatiran bahwa apabila penyakit Nurhayati tak sembuh atau umurnya pendek, maka hasil penjualan rumah milik almarhumah dipakai membayar utang terhadap Sakti, sisa uang tersebut semuanya diwakafkan.

Ceritanya, sekitar dua bulan sebelum Idul Fitri 2025 lalu, K menemui Sakti di rumanya, Huta Lombang Lubis. Ia meminta tolong supaya keponakannya itu mengurus Nurhayati yang sedang sakit parah.

Ini lantaran K ditegur kepala desa setempat. Sebab dalam keadaan sakit Nurhayati hanya seorang diri di rumah lantaran suaminya sudah meninggal sekitar 10 tahun lalu, sementara mereka tak punya anak.

“Saya dan saudara-saudara saya bukan tak mau ngurus, tapi kami kan punya keterbatasan. Kami juga punya keluarga dan aktivitas sehari-hari. Semestinya K-lah selaku ahli waris yang lebih bertanggung jawab,” katanya.

Namun K terkesan enggan mengurus adiknya karena terkait waktu, dan biaya berobat.

Saat datang ke rumah Sakti, K meminta tolong kepada keponakannya itu supaya mengurus Nurhayati. “Mangido tolong bere pature etekmu. Sanga sadia habis epengmu, adong do bagas ni etekmu,” kata paman seolah memelas.

Saat itu K secara tegas mengatakan suatu saat jika rumah dijual, hanya dipakai untuk bayar utang terhadap Sakti dan untuk Nurhayati—jika umurnya pendek diwakafkan semuanya.

Intinya, K meminta Sakti menanggung semua biaya perawatan dan berobat selama Nurhayati sakit.

“Sah mei mamak,” tegas Sakti dua kali berturut-turut.

Bahkan ketiga kalinya, Sakti mengulang lagi, “Sah mei mamak, ulang suatu saat jadi parbadaan jita. Rundut kita non.”

“Sah bere,” jawab K. Pernyataan ini juga disaksikan istri Sakti.

“Jadi mamak, upature mei etek,” kata Sakti.

Saat itulah Sakti menelepon kakak-kakak dan adiknya supaya berkumpul di rumah Nurhayati menyampaikan kesepakatan dengan K. Mereka juga membicarakan teknis menjaga Nurhayati secara bergiliran supaya ada kawan di rumahnya.

Beberapa hari kemudian, Nurhayati dibawa berobat di Bukit Tinggi selama seminggu. Berdasarkan pemeriksaan dr. Delsi Hidayat, almarhumah mengidap pembekakan usus dan syaraf kejepit.

Setelah berobat di Bukit Tinggi, penyakitnya belum juga ada perkembangan positif. Lalu, dibawa ke dr. Saud Siregar di Sibolga. Juga tak banyak perubahan. Tentu saja upaya penyembuhan juga dilakukan secara medis dan alternatif di sekitar Panyabungan.

Pernah sekitar sebulan Nurhayati dirawat oleh seseorang yang digaji merawatnya. Karena tak tahan, perawat itu berhenti.

Sempat dicari penggantinya, tak dapat. “Selama bulan puasa, kami bersaudara-lah secara bergantian mengurus etek. Kalau jujur, istri saya sempat mengeluh karena buang air besar almarhumah selalu berserakan. Tetapi alhamdulillah saya sabar-sabarkan, dan tetap kami urus dengan baik.”

Maaf, kata dia, ini disampaikan supaya semua tahu cerita sebenarnya. “Jangan seolah-olah saya berebut harta warisan, seperti pemberitaan. Kami sudah berkoban untuk saudara kandungnya, tapi apa balasannya, kami disebut seolah merebut harta warisan,” ucap Sakti.

Siang hari pada Hari Raya kedua 2025, lanjut Sakti, Nurhayati mengembuskan nafas terakhir. Saat K datang ke rumah duka, dia langsung marah-marah. Dia menyebut para keponakannya tidak mengurus etek mereka.

“Dia datang hanya liat. Kami semua yang mengurus, termasuk mengurus jenazah etek, bahkan sampai setelah hari ketiga kami adakan mangido doah. Saya semua yang nanggung biaya. Seribu rupiah pun dia tak pernah memberi uang.”

Saat musyawarah, K sempat meminta izin kepada Sakti supaya Nurhayati dimakamkan di tempat pemakaman keluarga miliknya, apalagi suami almarhum juga dimakamkan di lokasi tersebut. “Tak masalah,” jawabnya.

Usai “palampas kubur”, K mulai bahas soal rumah. “Kita jual saja rumah ini supaya uangmu dikembalikan,” ujarnya.

Pendek cerita, seseorang mau membeli rumah itu seharga Rp250 juta. Pembeli tidak menawar sama sekali lantaran dia tahu, hasil penjualan rumah semua diwakafkan setelah uang Sakti dikembalikan. Pembeli juga mau membeli rumah itu lantaran dia mengenal pribadi Sakti, bukan disebabkan orang lain.

Bahkan, ketika istri pembeli hendak menawar Rp5 juta sekadar pengganti biaya administrasi, sang suami langsung menyebutkan, “Biarlah, uangnya kan mau diwakafkan.”

Sebagai ahli waris K pun mengambil semua uang tersebut dari tangan pembeli disaksikan Sakti. Apalagi surat tanah rumah itu atas nama K karena dibeli dari dia. Kabarnya, Nurhayati sudah beberapa kali mau balik nama surat tanah, namun K tak pernah memberikan KTP-nya.

Setelah uang diterima K, Sakti menerima pengganti biaya perawatan dan pengobatan Nurhayati sebesar Rp24 juta. Termasuk dibayar juga utang pengobatan di Bukit Tinggi Rp10 juta.

Menurut Sakti, semua sisa penjualan rumah dipegang K. “Katanya saya tidak ada urusan. Memang betul, tetapi saya ada kesepakatan dengan dia. Sisa uang setelah bayar utang ke saya dan (jika ada) ke pihak lain, dipakai untuk wakaf almarhum-almarhumah. Itu yang saya tuntut.”

Bukti bahwa janji atau kesepakatan itu dipegang teguh oleh Sakti, dia sempat janji dengan salah seorang pengurus masjid di salah satu desa akan memberi wakaf almarhum-almarhumah ke masjid di desa tersebut, namun tak jadi terealisasi.

Setahun lebih berlalu, tidak ada kejelasan soal penggunaan uang sisa penjualan rumah, Sakti mengaku emosi lantaran merasa dibohongi. “Anggo naso diwakafkon do epeng i, ela kuburuan ni etek dohot apak sian tano pemakaman nami i,” ujar Sakti suatu ketika.

Dengan kalimat seperti itu, harapannya K ingat janji yang pernah diucapkannya di dapur rumah Sakti. Harapan kedua, K tak tega melihat kuburan Nurhayati dan Fahrizal dibongkar.

Almarhum-almarhumah, kata dia, butuh amal jariyah disebabkan mereka tidak punya anak. “Dari awal sedikit pun saya tidak mengharap sepeser pun dari hasil penjualan rumah, kecuali utang ke saya dibayar. Saya sadar, saya bukan ahli waris. Dan InsyaAllah warga Huta Lombang Lubis dan sekitarnya tahu tentang saya.”

Pindahkan Kuburan

Seperti diberitakan sejumlah media, Selasa (12/5/2026) siang, kuburan suami-istri yakni Nurhayati dan Fahrizal yang berlokasi di Huta Lombang Lubis dibongkar, lalu dipindahkan ke tempat lain. Menurut informasi yang beredar, hal ini diduga akibat perselisihan harta warisan.

Rajab Lubis, keponakan Nurhayati, membenarkan adanya perselisihan keluarga terkait warisan yang menjadi pemicu pembongkaran kedua makam tersebut.

Rajab yang juga anak kandung K mengaku ikhlas dan rido memindahkan kedua makam ke tempat lain agar menghindari konflik dengan Sakti, selaku pemilik tempat pemakaman keluarga itu. (rel)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Doa yang Paling Penting untuk Seorang Muslim

    Doa yang Paling Penting untuk Seorang Muslim

    • calendar_month Jumat, 9 Jul 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Alfi Ummuarifah, S.Pd Guru dan Pegiat Literasi Islam Kota Medan   Mayoritas ulama Salaf menganjurkan bagi kaum muslimin untuk berdoa salam beberapa doa yang penting. Doa itu adalah doa yang terpenting. Lebih penting dan paling berharga bagi manusia. Berharga untuk kehidupannya yang abadi di akhirat. Sebab kehidupan di dunia memang hanya sementara. Tentu tak […]

  • Cabub Madina Harun Mustafa Nasution Dicegat Emak Emak Desa Sirangkap

    Cabub Madina Harun Mustafa Nasution Dicegat Emak Emak Desa Sirangkap

    • calendar_month Jumat, 11 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Saat rombongan Calon Bupati Madina Harun Mustafa Nasution melintasi Desa Sirangkap di Kecamatan Panyabungan Timur, segerombolan emak emak tiba tiba cegat iring iringan kendaraan rombongan, sontak rombongan Harun pun berhenti. Harunpun menyempatkan diri tegur sapa dengan emak emak.” Pak Harun, kami dukung bapak jadi Bupati Madina berikurnya karena kami keluarga besar […]

  • Menunggu Lemang

    Menunggu Lemang

    • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan kecil: Askolani Nasution   Selasa, 12 Agustus 1980. Pagi-pagi pancuran sudah ramai. Anak-anak berebut delapan bilah pancuran di sebelah mesjid. Semua membawa bambu untuk memasak lemang. Sudah dipotong-potong setiap ruasnya, lalu diikat dengan tali dari kulit batang pisang. Kami menyebutnya “sarisir”, dan tentu cukup kuat untuk mengikat 6-10 ruas bambu. Anak-anak riuh. Ada yang […]

  • Prof David Keldani, Pendeta yang Menemukan Kebenaran Islam

    Prof David Keldani, Pendeta yang Menemukan Kebenaran Islam

    • calendar_month Senin, 7 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    “Saya tidak bisa menghubungkan sebab-sebab saya memeluk Islam, kecuali kepada petunjuk Allah RabbulAlamin. Tanpa petunjuk Allah, segala pelajaran atau ilmu, pembahasan dan lain-lain usaha untuk menemukan kepercayaan yang lurus ini bahkan mungkin menyebabkan orang tersesat,” ujar Prof Abdul-Ahad Dawud B.D, bekas Pendeta Tinggi di David Bangamni Keldani, Iran. Pendeta David Benjamin Keldani,B.D, merupakan namanya sebelum […]

  • Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Bank Sumut diminta menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai agenda kerja prioritas. Sebab, posisi KUR sangat penting dalam pemulihan ekonomi. Itu dikatakan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah saat membuka Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun 2021 dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Sumut di […]

  • Soal Kelangkaan Pupuk, Ternyata Akibat Pengurangan Kuota

    Soal Kelangkaan Pupuk, Ternyata Akibat Pengurangan Kuota

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengakui kebenaran kelangkaan pupuk bersubsidi di daerah ini. Penyebabnya, terjadi pengurangan kuota oleh pemerintah. Kepala Bdang Agribisnis Dinas Pertanian Peternakan Madina, Latifa Hannum menjawab wartawan, Jum’at (25/10/2013) mengungkapkan jenis kuota pupuk yang dikurangi adalah ZA, Ponska dan SP36. Penyebab kekurangan pupuk subsidi ini akibat kelengahan kelompok […]

expand_less