BANDARA DI TENGAH JALAN ASPAL (bagian 2)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Mengapa Bus, Travel, dan Moda Darat Tetap Menjadi Tulang Punggung Madina
Dalam euforia membicarakan bandara, ada satu kelompok yang tidak boleh dilupakan:
para pelaku angkutan umum darat.
Karena jauh sebelum bandara hadir, yang menjaga keterhubungan Madina dengan dunia luar adalah:
* bus AKAP,
* travel Medan–Madina,
* trayek Madina–Padang,
* sopir lintas provinsi,
* dan jaringan transportasi rakyat yang tumbuh organik selama puluhan tahun.
Mereka bukan sekadar moda transportasi.
Mereka adalah:
* pengangkut mahasiswa,
* pengantar pasien,
* jalur ekonomi kecil,
* penghubung kampung,
* hingga urat sosial masyarakat perantauan.
Dan ketika moda udara pernah melemah, merekalah yang tetap bertahan.



Tiga foto di atas armada darat yang selama ini melayani rute Madina-Medan, Madina Padang
Publik tentu masih ingat ketika Susi Air pernah melayani rute Aek Godang–Kualanamu dengan dukungan subsidi lima pemerintah daerah, termasuk Mandailing Natal (Madina).
Saat itu harapan besar juga pernah dibangun.
Tetapi ketika rute itu perlahan berhenti, siapa yang tetap menjaga mobilitas rakyat?
Bukan pesawat.
Bukan subsidi.
Bukan proyek.
Melainkan:
* bus malam,
* travel lintas provinsi,
* dan angkutan rakyat yang terus berjalan meski jalan rusak, BBM naik, dan keuntungan makin tipis.
Karena itu, pembukaan jalur Lion Air hari ini tidak boleh dibangun dengan mentalitas:
“pesawat menggantikan moda darat.”
Itu keliru.
Transportasi modern bukan soal siapa yang menang dan siapa yang mati.
Tetapi:
bagaimana semua moda saling menopang.
Pesawat unggul di kecepatan.
Moda darat unggul di jangkauan dan fleksibilitas.
Keduanya harus hidup bersama.
Yang dibutuhkan Madina sekarang adalah:
* shuttle bandara,
* integrasi jadwal travel dan penerbangan,
* terminal terpadu,
* konektivitas antarkecamatan,
* dan dukungan nyata bagi pengusaha angkutan lokal.
Sebab tanpa moda darat yang sehat, bandara juga akan lumpuh.
Pesawat hanya membawa penumpang sampai satu titik.
Tetapi yang mengantarkan masyarakat masuk ke denyut kehidupan sehari-hari tetap jalan raya.
Karena itu pemerintah harus berhati-hati.
Jangan sampai modernisasi transportasi justru:
* meminggirkan sopir kecil,
* membuat trayek rakyat mati perlahan,
* dan memindahkan keuntungan hanya ke sektor yang terlihat lebih modern.
Karena pembangunan yang sehat bukan pembangunan yang membuat satu moda tumbang demi moda lain.
Melainkan pembangunan yang memastikan:
langit hidup, jalan raya tetap bernapas, dan rakyat kecil tidak tersingkir. (bersambung)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

