Jumat, 15 Mei 2026
light_mode

Benarkah Negara Nyasar di Arse Tapsel?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epcentrum

 

Ada bincang-bincang di Grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”. Tajam, hiperbolis dan emosional. Muncul Pertanyaan tentang negara yang terlalu lama tersesat di jalan negara, jalan miliknya sendiri. Sekaligus mohon izin, kami angkat topik seru ini ke media. Teorinya, agenda media bisa jadi sama dengan agenda negara.

Kadang-kadang, kegelisahan paling jujur tentang negara tidak lahir dari seminar, forum pembangunan, atau rapat resmi.

Debat kerap muncul dari grup WhatsApp.

Di grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”, beberapa hari terakhir, percakapan tentang akses jalan menuju Dusun Aeknabara, Tanoponggol dan Nanggoluon di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, berubah menjadi potret kecil tentang bagaimana rakyat memandang negara hari ini.

Ada yang mempertanyakan validitas database jalan milik pemerintah daerah.
Ada yang membela dengan menjelaskan hambatan kawasan hutan lindung dan regulasi kehutanan. Ada pula yang menyentil keberanian politik pemerintah daerah dalam memperjuangkan rakyat marginal.

Diskusi itu mungkin terlihat biasa.
Padahal sebenarnya sedang membuka luka lama pembangunan Sumatera Utara: Negara kita terlalu sering hadir sebagai administrasi, tetapi terlalu lambat hadir sebagai keberpihakan.

Masalahnya menjadi lebih serius karena fakta di lapangan ternyata memang keras.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, bahkan mengakui sendiri beratnya medan menuju Dusun Aek Nabara setelah turun langsung ke lokasi.

Jalan terjal. Licin. Berada di kawasan hutan lindung. Nyaris mustahil dilalui kendaraan.

Dan yang paling menampar adalah pengakuan warga:

Selama Kabupaten Tapanuli Selatan berdiri, baru kali ini ada seorang bupati yang datang langsung ke Aek Nabara.

Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi secara politik, itu sangat brutal.

Artinya: Selama puluhan tahun, ada wilayah yang secara administratif masuk Tapanuli Selatan — tetapi secara psikologis mungkin merasa terlalu jauh dari negara.

Ironinya, jumlah warga di sana sebenarnya sangat kecil. Dusun Nanggoluan hanya dihuni 7 KK.

Dusun Aek Nabara 19 KK. Dan, Dusun Tano Ponggol sekitar 35 KK sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Secara hitung-hitungan teknokratis, kawasan seperti ini sering kalah prioritas:

  • penduduk sedikit,
  • biaya pembangunan mahal,
  • medan ekstrem,
  • terbentur status hutan lindung.

Tetapi justru di situlah ukuran moral dan empati sebuah negara diuji. Keadilan pembangunan seharusnya tidak hanya dihitung dari:

Berapa banyak suara pemilih,
melainkan juga:
seberapa jauh negara bersedia hadir untuk warganya yang paling terpencil.

Di sinilah diskusi grup WA itu menjadi menarik. Di situ, Asman Hutasuhut memberi kalimat pancingan. Lalu, Rudy Hermato Hutaliang dan Halomoan Harahap pun memberi respon sinergis.

Ada warga yang marah karena menganggap pemerintah terlalu birokratis: izin, regulasi, kajian dan koordinasi kementerian. Ada pula yang membela bahwa kawasan hutan lindung memang tidak bisa disentuh sembarangan.

Keduanya benar.

Dan justru karena keduanya benar, masalah ini menjadi tragis sekaligus strategis.

Karena rakyat kecil akhirnya terjebak di antara:

  • negara ekologis yang menjaga hutan,
  • dan negara kesejahteraan yang seharusnya menjaga manusia.

Akibatnya, negara seperti sibuk berdebat dengan dirinya sendiri,
sementara rakyat tetap berjalan di lumpur yang sama.

Yang paling mengganggu sebenarnya bukan soal jalan rusak.

Tetapi soal bagaimana publik mulai memandang negara.

Ketika ada anggota grup yang berkata:

“Untuk kepentingan elite, aturan bisa dilenturkan. Tapi untuk rakyat kecil semuanya mendadak kaku.”

Itu bukan lagi kritik biasa. Sudah menjadi tanda mulai munculnya krisis kepercayaan. Ketika rakyat melihat:

  • proyek strategis bisa dipercepat,
  • kepentingan politik bisa menemukan celah hukum,
  • investasi besar bisa mendapat karpet merah.

Tetapi, untuk akses dusun terpencil? Negara mendadak terkesan penuh kehati-hatian.

Seolah penderitaan rakyat harus menunggu disposisi.

Namun “kripis” (kritik tipis) ini juga tidak boleh jatuh menjadi romantisme ngawur:
seolah semua hutan harus dibuka demi popularitas politik.

Karena jika kawasan lindung dibabat sembarangan, seperti yang sudah menjadi sejarah viral, maka yang datang berikutnya adalah:

  • longsor,
  • banjir,
  • rusaknya sumber air,
  • dan kehancuran ekologis yang justru menghantam rakyat miskin lebih dulu.

Karena itu, pernyataan Gus Irawan tentang dua solusi — relokasi warga atau meminta izin khusus membuka akses terbatas berupa rabat beton, sebenarnya memperlihatkan bahwa masalah ini jauh lebih kompleks daripada sekadar “pemerintah malas”.

Tetapi, kompleksitas itu bukan alasan untuk membiarkan keterasingan menjadi warisan turun-temurun, apalagi hingga ratusan tahun.

Sebab ketika seorang bupati baru pertama kali tiba di sebuah dusun setelah sekian lama daerah itu berdiri, maka sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan cuma kondisi jalan.

Melainkan:

Benarkah negara sedang nyasar di Arse Tapsel?

Karena mungkin problem terbesar kita hari ini bukan kekurangan anggaran.

Bukan pula sekadar soal regulasi.

Tetapi karena terlalu banyak pejabat melihat jalan hanya sebagai proyek fisik.

Padahal bagi rakyat kecil, jalan adalah:

  • akses hidup,
  • harga diri, dan
  • bukti apakah negara benar-benar menganggap mereka ada.

Dan dari ujung Arse, rakyat seperti sedang bertanya pelan kepada republik ini:

“Kalau negara memang tahu jalan pulang ke rakyatnya, kenapa kami baru ditemukan sekarang?”

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Madina: Gedung Penangkaran Walet di Panyabungan Tak Berizin. Satpol PP Akan Lakukan Penertiban

    Pemkab Madina: Gedung Penangkaran Walet di Panyabungan Tak Berizin. Satpol PP Akan Lakukan Penertiban

    • calendar_month Senin, 1 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online: Pemerintah Daerah Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) mengaku belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) terkait gedung penangkaran sarang burung walet. Namun Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2021 tentang Standar Usaha dan Standar Produk ada. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Satu Pintu Pemkab Madina Ahmad Faisal Lubis mengatakan, hari ini senin […]

  • PDI Perjuangan Madina-Tapsel dan Ayah Toni Darius Ucapkan Terimaksih Kepada Poldasu

    PDI Perjuangan Madina-Tapsel dan Ayah Toni Darius Ucapkan Terimaksih Kepada Poldasu

    • calendar_month Kamis, 20 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Natal) – PDI Perjuangan Tapsel dan Madina mengucapkan terimakasih kepada kapolda Sumut yang telah berhasil mengungkap kasus pembajakan akun facebook Toni Darius Sitorus. “Dengan tertangkapnya pembajak akun facebook Toni Darius Sitorus, maka semua sudah jelas dan terang benderang. Oleh karenanya kita dari PDI Perjuangan Madina mengucapkan terimakasih kepada Pak Kapolda Sumut,” kata Ketua […]

  • Pengurus KTNA Madina Dilantik

    Pengurus KTNA Madina Dilantik

    • calendar_month Jumat, 21 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Mandailing Natal (Madina) priode 2014-2019 dilantik. Pelantikan dilakukan Wakil Ketua KTNA Sumut, H. Rahim Pasaribu di aula Kantor Ketahanan Pangan Madina, Kamis (20/3/2014) dihadiri Sekretaris Daerah Madina Yusuf Nasution. Nama-nama yang dilantik: AHLI ANDALAN Ponimin Nasution Ahmad Syafi’I Nasution Sudirman Batubara BADAN PENGURUS Ketua : […]

  • Antisipasi DBD, Pemdes Salambue Lakukan Penyemprotan dan Aksi Bersih Bersih

    Antisipasi DBD, Pemdes Salambue Lakukan Penyemprotan dan Aksi Bersih Bersih

    • calendar_month Jumat, 19 Jan 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Rentannya Potensi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada setiap individu maupun kolektif, Pemerintah Desa Salambue, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) lakukan penyemprotan serta gotong royong bersihkan jalanan dan seluruh pekarangan warga Jum’at 19/01/2024. Sabaruddin Muhammad Kepala Desa Salambue mengatakan langkah tersebut merupakan atensi Pemerintah Desa (Pemdes) untuk mengantisipasi menularnya […]

  • Tol Sumatera terganjal perpres

    Tol Sumatera terganjal perpres

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Hutama Karya (HK), sebagai perusahaan pelat merah yang mendapat tugas menggarap tol Trans Sumatera menyatakan kesiapannya membangun jalan Tol Sumatera. Namun, rencana memulai proyek ini masih belum jelas. Pemerintah belum bisa menentukan kapan Peraturan Presiden (Perpres) penunjukkan Hutama Karya keluar. Hutama Karya baru bisa memulai setelah aturan tersebut keluar. “Proses sudah ada […]

  • Warga Tapus Unjuk Rasa ke DPRD Madina, Minta Izin PT.M3 Dicabut

    Warga Tapus Unjuk Rasa ke DPRD Madina, Minta Izin PT.M3 Dicabut

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 300 warga Kelurahan Tapus Kecamatan Lingga Bayu melakukan unjukrasa ke DPRD Mandailing Natal (Madina), Rabu (12/8) meminta pencabutan izin PT. Madinah Madani Mining (M3) yang melakukan usaha penambangan emas di kawasan Desa itu. Massa yang terdiri dari laki-laki dan perempuan itu tiba di gedung DPRD Madina sekira pukul 14.00 Wib […]

expand_less