Selasa, 30 Jun 2026
light_mode

Benarkah Negara Nyasar di Arse Tapsel?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epcentrum

 

Ada bincang-bincang di Grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”. Tajam, hiperbolis dan emosional. Muncul Pertanyaan tentang negara yang terlalu lama tersesat di jalan negara, jalan miliknya sendiri. Sekaligus mohon izin, kami angkat topik seru ini ke media. Teorinya, agenda media bisa jadi sama dengan agenda negara.

Kadang-kadang, kegelisahan paling jujur tentang negara tidak lahir dari seminar, forum pembangunan, atau rapat resmi.

Debat kerap muncul dari grup WhatsApp.

Di grup WA “Kami Sumut Bersatu dan Bersaudara”, beberapa hari terakhir, percakapan tentang akses jalan menuju Dusun Aeknabara, Tanoponggol dan Nanggoluon di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse, Tapanuli Selatan, berubah menjadi potret kecil tentang bagaimana rakyat memandang negara hari ini.

Ada yang mempertanyakan validitas database jalan milik pemerintah daerah.
Ada yang membela dengan menjelaskan hambatan kawasan hutan lindung dan regulasi kehutanan. Ada pula yang menyentil keberanian politik pemerintah daerah dalam memperjuangkan rakyat marginal.

Diskusi itu mungkin terlihat biasa.
Padahal sebenarnya sedang membuka luka lama pembangunan Sumatera Utara: Negara kita terlalu sering hadir sebagai administrasi, tetapi terlalu lambat hadir sebagai keberpihakan.

Masalahnya menjadi lebih serius karena fakta di lapangan ternyata memang keras.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, bahkan mengakui sendiri beratnya medan menuju Dusun Aek Nabara setelah turun langsung ke lokasi.

Jalan terjal. Licin. Berada di kawasan hutan lindung. Nyaris mustahil dilalui kendaraan.

Dan yang paling menampar adalah pengakuan warga:

Selama Kabupaten Tapanuli Selatan berdiri, baru kali ini ada seorang bupati yang datang langsung ke Aek Nabara.

Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi secara politik, itu sangat brutal.

Artinya: Selama puluhan tahun, ada wilayah yang secara administratif masuk Tapanuli Selatan — tetapi secara psikologis mungkin merasa terlalu jauh dari negara.

Ironinya, jumlah warga di sana sebenarnya sangat kecil. Dusun Nanggoluan hanya dihuni 7 KK.

Dusun Aek Nabara 19 KK. Dan, Dusun Tano Ponggol sekitar 35 KK sekaligus menjadi pusat pemerintahan desa.

Secara hitung-hitungan teknokratis, kawasan seperti ini sering kalah prioritas:

  • penduduk sedikit,
  • biaya pembangunan mahal,
  • medan ekstrem,
  • terbentur status hutan lindung.

Tetapi justru di situlah ukuran moral dan empati sebuah negara diuji. Keadilan pembangunan seharusnya tidak hanya dihitung dari:

Berapa banyak suara pemilih,
melainkan juga:
seberapa jauh negara bersedia hadir untuk warganya yang paling terpencil.

Di sinilah diskusi grup WA itu menjadi menarik. Di situ, Asman Hutasuhut memberi kalimat pancingan. Lalu, Rudy Hermato Hutaliang dan Halomoan Harahap pun memberi respon sinergis.

Ada warga yang marah karena menganggap pemerintah terlalu birokratis: izin, regulasi, kajian dan koordinasi kementerian. Ada pula yang membela bahwa kawasan hutan lindung memang tidak bisa disentuh sembarangan.

Keduanya benar.

Dan justru karena keduanya benar, masalah ini menjadi tragis sekaligus strategis.

Karena rakyat kecil akhirnya terjebak di antara:

  • negara ekologis yang menjaga hutan,
  • dan negara kesejahteraan yang seharusnya menjaga manusia.

Akibatnya, negara seperti sibuk berdebat dengan dirinya sendiri,
sementara rakyat tetap berjalan di lumpur yang sama.

Yang paling mengganggu sebenarnya bukan soal jalan rusak.

Tetapi soal bagaimana publik mulai memandang negara.

Ketika ada anggota grup yang berkata:

“Untuk kepentingan elite, aturan bisa dilenturkan. Tapi untuk rakyat kecil semuanya mendadak kaku.”

Itu bukan lagi kritik biasa. Sudah menjadi tanda mulai munculnya krisis kepercayaan. Ketika rakyat melihat:

  • proyek strategis bisa dipercepat,
  • kepentingan politik bisa menemukan celah hukum,
  • investasi besar bisa mendapat karpet merah.

Tetapi, untuk akses dusun terpencil? Negara mendadak terkesan penuh kehati-hatian.

Seolah penderitaan rakyat harus menunggu disposisi.

Namun “kripis” (kritik tipis) ini juga tidak boleh jatuh menjadi romantisme ngawur:
seolah semua hutan harus dibuka demi popularitas politik.

Karena jika kawasan lindung dibabat sembarangan, seperti yang sudah menjadi sejarah viral, maka yang datang berikutnya adalah:

  • longsor,
  • banjir,
  • rusaknya sumber air,
  • dan kehancuran ekologis yang justru menghantam rakyat miskin lebih dulu.

Karena itu, pernyataan Gus Irawan tentang dua solusi — relokasi warga atau meminta izin khusus membuka akses terbatas berupa rabat beton, sebenarnya memperlihatkan bahwa masalah ini jauh lebih kompleks daripada sekadar “pemerintah malas”.

Tetapi, kompleksitas itu bukan alasan untuk membiarkan keterasingan menjadi warisan turun-temurun, apalagi hingga ratusan tahun.

Sebab ketika seorang bupati baru pertama kali tiba di sebuah dusun setelah sekian lama daerah itu berdiri, maka sesungguhnya yang sedang dipertanyakan bukan cuma kondisi jalan.

Melainkan:

Benarkah negara sedang nyasar di Arse Tapsel?

Karena mungkin problem terbesar kita hari ini bukan kekurangan anggaran.

Bukan pula sekadar soal regulasi.

Tetapi karena terlalu banyak pejabat melihat jalan hanya sebagai proyek fisik.

Padahal bagi rakyat kecil, jalan adalah:

  • akses hidup,
  • harga diri, dan
  • bukti apakah negara benar-benar menganggap mereka ada.

Dan dari ujung Arse, rakyat seperti sedang bertanya pelan kepada republik ini:

“Kalau negara memang tahu jalan pulang ke rakyatnya, kenapa kami baru ditemukan sekarang?”

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kenapa DPRD Madina Enggan Membahas 11 Ranperda

    Kenapa DPRD Madina Enggan Membahas 11 Ranperda

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 4Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sejak tanggal 27 Juni 2013 lalu, 11 Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) menyangkut kepentingan pembangunan dan hajat hidup rakyat Mandailing Natal (Madina) masih terkatung-katung nasibnya di DPRD Madina. Pasalnya, sampai saat ini Badan Legislasi (Baleg) DPRD Madina masih enggan untuk membahas Ranperda tersebut. “Informasi yang kita himpun digedung DPRD Madina menyebutkan enggannya […]

  • Ini Dia Strategi Yusuf-Imron Wujudkan Madina Yang Mulia

    Ini Dia Strategi Yusuf-Imron Wujudkan Madina Yang Mulia

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Kesejahteraan bagi masyarakat Kabupaten Mandailing Natal Madina (Madina) adalah tujuan yang masih di kejauhan. Memang betul, indikator pembangunan bidang ekonomi relatif membaik. Seiring dengan itu, angka kemiskinan pun sudah menurut hingga 9,62 persen di 2013. Salah satu faktor penyebabnya adalah kepemimpinan hingga Pilkada 2015 ini menjadi teramat penting hingga harus dibiayai sekalipun mesti menyedot […]

  • Oknum Pengurus Satu Ormas di Madina Minta Hentikan Pemberitaan PETI

    Oknum Pengurus Satu Ormas di Madina Minta Hentikan Pemberitaan PETI

    • calendar_month Sabtu, 15 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ): Maraknya pemberitaan Aktifitas penambangan emas tanpa izin ( PETI ) di Desa Lobung Kecamatan Lingga Bayu Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) yang terus beroperasi tanpa ada tindakan dari penegak hukum membuat seorang jurnalis yang bertugas di Madina merasa tertekan akibat adanya permintaan oknum pengurus salah satu organisasi masyarakat untuk […]

  • Pastikan Besok Pengumuman Hasil Tes CPNS

    Pastikan Besok Pengumuman Hasil Tes CPNS

    • calendar_month Senin, 23 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Azwar Abubakar memastikan, pengumuman hasil tes CPNS tidak molor lagi. Besok, (Selasa, 24/12), para peserta tes bisa melihat pengumuman di situs resmi Kemenpan-RB, Badan Kepegawaian Negara (BKN), rencananya juga diumumkan di JPNN.com. Azwar menjelaskan, dirinya memang sudah menerima laporan adanya sejumlah daerah yang menolak mengumumkan […]

  • Hak Peten Kopi Mandailing Menunggu Masa Sanggah

    Hak Peten Kopi Mandailing Menunggu Masa Sanggah

    • calendar_month Kamis, 18 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tak lama lagi pemerintah Indonesia akan menerbitkan hak paten bagi komoditi Kopi Mandailing. Hak paten ini diberikan hanya kepada kopi varietas Arabika saja, tidak termasuk untuk varietas Robusta. Sehingga kelak yang tersebit di hak paten itu bernama Kopi Arabika Mandailing. Penerbitan hak paten ini mengacu pada hak indikasi georafis dari […]

  • Pemkab Madina Lantik 73 Pejabat Eselon III dan IV

    Pemkab Madina Lantik 73 Pejabat Eselon III dan IV

    • calendar_month Jumat, 20 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekda Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Safe’i Lubis melantik 73 pejabat eselon III dan IV Pemkab Madina. Pelantikan berlangsung di aula kantor Bupati Madina, Jum’at (20/7/2018). Pelantikan itu berdasar Keputusan Bupati Madina Nomor 821.2/0675/K/2018 tanggal 19 Juli 2018. Dari 73 pejabat yang dilantik antara lain : Dr.M.Daud Batubara, M.Si dilantik untuk […]

expand_less