Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Ekonomi Sumut Stagnan, Provinsi Lain Bikin Lompatan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika Maluku Utara melonjak lewat hilirisasi, Bali bangkit lewat Pariwisata dan Sulawesi menyalakan industri baru — Sumatera Utara Justru Tampak Berjalan dengan Mesin Lama

Di atas kertas, ekonomi Sumatera Utara masih tumbuh.

Tidak runtuh. Tidak krisis. Dan, nilainya tidak pula merah.

Tetapi justru di situlah problemnya: Sumut memang masih bergerak, namun tidak lagi terasa menghentak.

Di saat sejumlah provinsi mulai melompat dengan identitas ekonomi baru, Sumatera Utara justru tampak seperti mesin besar yang berat berbelok — hidup, tetapi kehilangan ledakan energinya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Sumut Triwulan I-2025 tumbuh 4,67 persen secara tahunan. Angka itu memang positif, tetapi melaz gyengapa provinsi sebesar Sumut justru mulai terdengar biasa?

Padahal secara geografis, Sumut nyaris memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi regional:
pelabuhan strategis,
jalur Selat Malaka,
perkebunan besar,
bandara internasional,
kawasan industri,
bonus demografi,
hingga posisi sebagai pintu utama Sumatera.

Tetapi entah mengapa, energi ekonominya tidak meledak.

Yang terlihat justru ekonomi yang terus bergerak dalam pola lama: perdagangan,
transportasi, konsumsi,
dan distribusi barang.

Sumut tampak ramai, tetapi belum tentu progresif.

Bandingkan dengan Maluku Utara.

Provinsi itu dahulu nyaris tidak masuk radar ekonomi nasional. Kini ia menjadi simbol baru pertumbuhan lewat hilirisasi nikel. Sulawesi Tengah bergerak dengan smelter dan industrialisasi mineral. Kepulauan Riau mengandalkan manufaktur dan kawasan industri Batam. Bali bangkit kembali dengan pariwisata global.

Mereka menemukan “mesin pertumbuhan baru”.

Sementara Sumut?
Masih sibuk mengedarkan energi lama.

Inilah yang mulai terasa mengkhawatirkan:
Sumut tumbuh, tetapi tidak sedang meloncat.

Padahal dalam kompetisi ekonomi modern, yang menentukan bukan hanya besar kecilnya ekonomi, melainkan kecepatan transformasinya.

Dan di titik itu, Sumut mulai terlihat tertinggal.

Masalah lainnya adalah pertumbuhan Sumut tampak semakin terkonsentrasi di kawasan tertentu:
Medan,
Deli Serdang,
koridor industri,
dan jalur perdagangan utama.

Sementara banyak wilayah pinggiran masih bergerak lambat.

Pantai barat Sumatera Utara belum benar-benar berubah menjadi pusat ekonomi baru.

Daerah pertanian masih terjebak pada komoditas mentah.

Petani sawit dan karet tetap rentan pada fluktuasi harga.

Anak muda desa terus bergerak ke kota — atau keluar daerah.

Akibatnya, statistik pertumbuhan terlihat sehat, tetapi denyut optimisme sosial tidak benar-benar terasa merata.

Di sinilah publik mulai mengalami semacam paradoks:
ekonomi tumbuh,
tetapi rasa percaya diri daerah tidak ikut tumbuh.

Yang lebih menarik lagi, struktur pertumbuhan Sumut justru menunjukkan dominasi sektor-sektor yang bersifat “sirkulatif”:
perdagangan,
transportasi,
akomodasi,
makan-minum,
dan jasa.

Artinya ekonomi bergerak karena orang belanja, bepergian, memindahkan barang, dan mengonsumsi sesuatu.

Tetapi pertanyaannya:
di mana ledakan industri baru?
di mana hilirisasi besar?
di mana manufaktur modern?
di mana pusat inovasi?

Sumut seperti terlalu nyaman menjadi pasar — bukan pemain utama produksi masa depan.

Padahal sejarah menunjukkan:
daerah yang hanya kuat dalam konsumsi biasanya ramai di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Yang paling problematik mungkin bukan melambatnya angka pertumbuhan.

Melainkan hilangnya narasi besar.

Hari ini publik sulit menjawab:
Sumut sebenarnya mau menjadi apa?

Pusat agroindustri?
Kawasan hilirisasi sawit?
Pusat logistik ASEAN?
Kekuatan industri maritim?
Ekonomi digital Sumatera?
Atau sekadar provinsi transit perdagangan?

Belum ada jawaban yang benar-benar terasa hidup.

Dan, ketika sebuah daerah kehilangan arah transformasi, pertumbuhan ekonomi perlahan berubah hanya menjadi rutinitas statistik:

  • angka naik,
  • laporan dibacakan,
  • grafik dipamerkan,

Tetapi, masyarakat tidak benar-benar merasakan ledakan “hoki” untuk masa depan.

Karena itu, mungkin sudah waktunya Sumut berhenti sekadar merasa besar — lalu mulai berani menentukan lompatan.

Pemerintah daerah, dunia kampus, pelaku usaha, hingga elite politik tidak cukup hanya menjaga stabilitas angka pertumbuhan. Mereka harus mulai membangun “visi ekonomi baru” yang lebih berani:

Hilirisasi sawit dan pertanian, industri pengolahan berbasis pelabuhan, penguatan kawasan pantai barat,
pengembangan ekonomi kreatif anak muda, hingga transformasi UMKM menjadi rantai industri modern.

Sumut tidak kekurangan sumber daya. Yang mulai terasa langka justru keberanian membangun arah.

Dan, mungkin, di situlah pekerjaan paling mendesak hari ini:
Bukan sekadar membuat ekonomi tetap tumbuh,
tetapi mengembalikan keyakinan bahwa Sumatera Utara masih mampu menjadi kekuatan yang mengejutkan masa depan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Suhu Panas Menghantui Jamaah Masjid Al Muhajirin di Madina. Jamaah Diminta Menjauh Sementara

    Suhu Panas Menghantui Jamaah Masjid Al Muhajirin di Madina. Jamaah Diminta Menjauh Sementara

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA|| Mandailing Online – Warga dan jemaah Masjid Al Muhajirin, Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, diminta untuk sementara waktu menjauh dari area masjid. Hal ini menyusul meningkatnya suhu panas di dalam masjid yang semakin memanas. Suhu panas yang muncul tiba-tiba dari bawah lantai kramik hingga ke tiang masjid kini semakin bertambah panas dan […]

  • Disegmen ke 5 Debat Pilkada Madina, Harun Beberkan Cara Memajukan Madina

    Disegmen ke 5 Debat Pilkada Madina, Harun Beberkan Cara Memajukan Madina

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PALUTA ( Mandailing Online ) – Di Segmen ke 5 debat Pilkada Madina Harun beberkan cara memajukan Kabupaten Mandailing Natal. Paslon 01 Manfaatkan kedekatannya dengan Presiden ke 8 Republik Indonesia. Untuk mengurai ketertinggalan Kabupaten Mandailing Natal di tingkat Nasional Harun Paslon 01 menjelaskan. Kita hadir untuk masyarakat bukan untuk diri sendiri Kata Harun. Jadi, jika nanti […]

  • Jembatan Kian Rusak, 7 Desa Di Naga Juang Diambang Terisolir

    Jembatan Kian Rusak, 7 Desa Di Naga Juang Diambang Terisolir

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NAGA JUANG (Mandailing Online) – Jembatan Naga Juang, Mandailing Natal (Madina) kian mengkhawatirkan, sebab abutmennya makin miring akibat hantaman arus Sungai Batang Gadis yang terus meluap di musim penghujan saat ini. Jembatan ini menghubungkan Kecamatan Naga Juang dengan jalan negara. Kondisi ini menyebabkan kecamatan yang memiliki 7 desa itu diambang terisolir. Saat ini jembatan itu […]

  • Permintaan Hewan Qurban di Madina Berkurang

    Permintaan Hewan Qurban di Madina Berkurang

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Hinga sepekan menjelang hari Raya Idul Adha permintaan hewan qurban masih rendah dibanding masa yang sama tahun lalu di Mandailing Natal (Madina). Kondisi ini menurut pedagang hewan, akibat pereknomian masyarakat sedang turun. Abdul Hakim penjual hewan qurban kepada wartawan, Senin (21/9/2014) di lokasinya, Lintas Timur, Kelurahan Kota Siantar, Panyabungan mengatakan […]

  • APBDes 2024 Madina Kolektif Anggarkan Pengadaan Lampu, Nilainya Pantastis

    APBDes 2024 Madina Kolektif Anggarkan Pengadaan Lampu, Nilainya Pantastis

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : APBDes Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) kembali hambur hamburkan anggaran, dari data yang di dapat, ada proyek pengadaan lampu yang nilai anggarannya senilai Rp. 34.000.000 untuk dua paket lampu. Proyek pengadaan lampu sumber dana APBDes ini merata di 377 desa di Madina, seolah proyek ini adalah pesanan karena pagu […]

  • Sungai Aek Mata Meluap

    Sungai Aek Mata Meluap

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sungai Aek Mata meluap menyebabkan jalan protokol di jantung kota Panyabungan digenangi air berakibat terganggunya arus lalu lintas, Jum’at (8/5). Sejauh ini belum ada laporan kasus perumahan penduduk diterjang arus sungai, meski air sempat masuk ke kawasan pemukiman di sepanjang bantaran sungai. Sungai yang membelah kota Panyabungan ini meluap akibat […]

expand_less