Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

Ekonomi Sumut Stagnan, Provinsi Lain Bikin Lompatan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika Maluku Utara melonjak lewat hilirisasi, Bali bangkit lewat Pariwisata dan Sulawesi menyalakan industri baru — Sumatera Utara Justru Tampak Berjalan dengan Mesin Lama

Di atas kertas, ekonomi Sumatera Utara masih tumbuh.

Tidak runtuh. Tidak krisis. Dan, nilainya tidak pula merah.

Tetapi justru di situlah problemnya: Sumut memang masih bergerak, namun tidak lagi terasa menghentak.

Di saat sejumlah provinsi mulai melompat dengan identitas ekonomi baru, Sumatera Utara justru tampak seperti mesin besar yang berat berbelok — hidup, tetapi kehilangan ledakan energinya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Sumut Triwulan I-2025 tumbuh 4,67 persen secara tahunan. Angka itu memang positif, tetapi melaz gyengapa provinsi sebesar Sumut justru mulai terdengar biasa?

Padahal secara geografis, Sumut nyaris memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi regional:
pelabuhan strategis,
jalur Selat Malaka,
perkebunan besar,
bandara internasional,
kawasan industri,
bonus demografi,
hingga posisi sebagai pintu utama Sumatera.

Tetapi entah mengapa, energi ekonominya tidak meledak.

Yang terlihat justru ekonomi yang terus bergerak dalam pola lama: perdagangan,
transportasi, konsumsi,
dan distribusi barang.

Sumut tampak ramai, tetapi belum tentu progresif.

Bandingkan dengan Maluku Utara.

Provinsi itu dahulu nyaris tidak masuk radar ekonomi nasional. Kini ia menjadi simbol baru pertumbuhan lewat hilirisasi nikel. Sulawesi Tengah bergerak dengan smelter dan industrialisasi mineral. Kepulauan Riau mengandalkan manufaktur dan kawasan industri Batam. Bali bangkit kembali dengan pariwisata global.

Mereka menemukan “mesin pertumbuhan baru”.

Sementara Sumut?
Masih sibuk mengedarkan energi lama.

Inilah yang mulai terasa mengkhawatirkan:
Sumut tumbuh, tetapi tidak sedang meloncat.

Padahal dalam kompetisi ekonomi modern, yang menentukan bukan hanya besar kecilnya ekonomi, melainkan kecepatan transformasinya.

Dan di titik itu, Sumut mulai terlihat tertinggal.

Masalah lainnya adalah pertumbuhan Sumut tampak semakin terkonsentrasi di kawasan tertentu:
Medan,
Deli Serdang,
koridor industri,
dan jalur perdagangan utama.

Sementara banyak wilayah pinggiran masih bergerak lambat.

Pantai barat Sumatera Utara belum benar-benar berubah menjadi pusat ekonomi baru.

Daerah pertanian masih terjebak pada komoditas mentah.

Petani sawit dan karet tetap rentan pada fluktuasi harga.

Anak muda desa terus bergerak ke kota — atau keluar daerah.

Akibatnya, statistik pertumbuhan terlihat sehat, tetapi denyut optimisme sosial tidak benar-benar terasa merata.

Di sinilah publik mulai mengalami semacam paradoks:
ekonomi tumbuh,
tetapi rasa percaya diri daerah tidak ikut tumbuh.

Yang lebih menarik lagi, struktur pertumbuhan Sumut justru menunjukkan dominasi sektor-sektor yang bersifat “sirkulatif”:
perdagangan,
transportasi,
akomodasi,
makan-minum,
dan jasa.

Artinya ekonomi bergerak karena orang belanja, bepergian, memindahkan barang, dan mengonsumsi sesuatu.

Tetapi pertanyaannya:
di mana ledakan industri baru?
di mana hilirisasi besar?
di mana manufaktur modern?
di mana pusat inovasi?

Sumut seperti terlalu nyaman menjadi pasar — bukan pemain utama produksi masa depan.

Padahal sejarah menunjukkan:
daerah yang hanya kuat dalam konsumsi biasanya ramai di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Yang paling problematik mungkin bukan melambatnya angka pertumbuhan.

Melainkan hilangnya narasi besar.

Hari ini publik sulit menjawab:
Sumut sebenarnya mau menjadi apa?

Pusat agroindustri?
Kawasan hilirisasi sawit?
Pusat logistik ASEAN?
Kekuatan industri maritim?
Ekonomi digital Sumatera?
Atau sekadar provinsi transit perdagangan?

Belum ada jawaban yang benar-benar terasa hidup.

Dan, ketika sebuah daerah kehilangan arah transformasi, pertumbuhan ekonomi perlahan berubah hanya menjadi rutinitas statistik:

  • angka naik,
  • laporan dibacakan,
  • grafik dipamerkan,

Tetapi, masyarakat tidak benar-benar merasakan ledakan “hoki” untuk masa depan.

Karena itu, mungkin sudah waktunya Sumut berhenti sekadar merasa besar — lalu mulai berani menentukan lompatan.

Pemerintah daerah, dunia kampus, pelaku usaha, hingga elite politik tidak cukup hanya menjaga stabilitas angka pertumbuhan. Mereka harus mulai membangun “visi ekonomi baru” yang lebih berani:

Hilirisasi sawit dan pertanian, industri pengolahan berbasis pelabuhan, penguatan kawasan pantai barat,
pengembangan ekonomi kreatif anak muda, hingga transformasi UMKM menjadi rantai industri modern.

Sumut tidak kekurangan sumber daya. Yang mulai terasa langka justru keberanian membangun arah.

Dan, mungkin, di situlah pekerjaan paling mendesak hari ini:
Bukan sekadar membuat ekonomi tetap tumbuh,
tetapi mengembalikan keyakinan bahwa Sumatera Utara masih mampu menjadi kekuatan yang mengejutkan masa depan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 4)

    Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 4)

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Sebelum Ki Hadjar Dewantara, Mandailing Sudah Bicara Pendidikan Tulisan ini bukan untuk membandingkan apalagi mengecilkan Ki Hadjar Dewantara. Tetapi, sejarah tetap perlu dibaca secara utuh. Sebab jauh sebelum Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa tahun 1922, Willem Iskander sudah mendirikan sekolah guru bumiputera di Tanobato pada tahun 1862.[1] Sekolah untuk […]

  • Dana ADD Madina Tahun Ini 24 Milayar Untuk 377 Desa

    Dana ADD Madina Tahun Ini 24 Milayar Untuk 377 Desa

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Total dana untuk Anggaran Dana Desa (ADD) tahun 2014 sebesar 16 milyar rupiah untuk 377 desa di Mandailing Natal (Madina). “Dari total anggaran tersebut dialokasikan untuk membayar honor kepala desa, sekretaris desa non PNS, 4 orang perangkat desa, untuk rutin atau ATK di desa. Sisanya untuk pembangunan atau pembinaan masyarakat,” ungkap […]

  • Terduga Pelaku Perkosaan di TRB Diamankan Polisi

    Terduga Pelaku Perkosaan di TRB Diamankan Polisi

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Masih ingat 3 terduga pelaku pemerkosaan yakni WF, D dan P terhadap SN (20) Wanita Desa Pidoli Lombang, Panyabungan. Kini 1 diantara 3 pelaku yang sempat buron berhasil diamankan polisi dari Polres Madina. WF (21) diduga salah satu pelaku pemerkosaan diketahui di amankan kepolisian pada Minggu Malam (24/11). Hal itu dibenarkan […]

  • Hutan Bakau di Natal Telah Punah

    Hutan Bakau di Natal Telah Punah

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NATAL (Mandailing Online) – Hutan Bakau (Mangrove) yang dulunya tumbuh subur dan berkembang elok ada di pinggiran sungai dan pantai laut di Desa Sikara-kara Kecamatan Natal, Mandailing Natal, kini sudah tak nampak lagi secara kasat mata. Hanya tinggal kenangan. Sejak tahun 2012, kawasan hutan bakau ini digarap oleh PT. Tri Bahtera Srikandi untuk dijadikan […]

  • Ada Jaksa Masuk Sekolah di Madina

    Ada Jaksa Masuk Sekolah di Madina

    • calendar_month Jumat, 14 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online ) Jaksa Masuk Sekolah menjadi salah satu program Kejaksaan Negeri Mandailing Natal ( Madina ). SMK Negeri 1 Panyabungan menjadi lokasi pertama pelaksanaan agenda tersebut. Kegiatan Penyuluhan Hukum melalui program Jaksa Masuk Sekolah itu berlangsung Kamis 13/2/2024. Jupri Wandry Banjarnahor, S.H., M.H., selalu Kepala Seksi Intelijen Kejari Madina bersama Yamofuzo Telaumbanua, […]

  • Kartu Indonesia Pintar dari Presiden

    Kartu Indonesia Pintar dari Presiden

    • calendar_month Sabtu, 25 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BERSAMA PELAJAR – Presiden Jokowi bersama pelajar di Tapian Sirisiri, Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, Sabtu (25/3/2017). Selain sejumlah agenda lain, kunjungan Jokowi ke Mandailing Natal ini juga menyerahkan Kartu Indonesia Pintar kepada pelajar. Berdasar data yang diperoleh dari Kementerian Pendidikan, sebanyak 2.690 pelajar tingkat SD, SMP dan SMA yang mendapat KIP, sejumlah diantaranya diserahkan […]

expand_less