Ekonomi Sumut Stagnan, Provinsi Lain Bikin Lompatan?
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 50 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Ketika Maluku Utara melonjak lewat hilirisasi, Bali bangkit lewat Pariwisata dan Sulawesi menyalakan industri baru — Sumatera Utara Justru Tampak Berjalan dengan Mesin Lama
Di atas kertas, ekonomi Sumatera Utara masih tumbuh.
Tidak runtuh. Tidak krisis. Dan, nilainya tidak pula merah.
Tetapi justru di situlah problemnya: Sumut memang masih bergerak, namun tidak lagi terasa menghentak.
Di saat sejumlah provinsi mulai melompat dengan identitas ekonomi baru, Sumatera Utara justru tampak seperti mesin besar yang berat berbelok — hidup, tetapi kehilangan ledakan energinya.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Sumut Triwulan I-2025 tumbuh 4,67 persen secara tahunan. Angka itu memang positif, tetapi melaz gyengapa provinsi sebesar Sumut justru mulai terdengar biasa?
Padahal secara geografis, Sumut nyaris memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi regional:
pelabuhan strategis,
jalur Selat Malaka,
perkebunan besar,
bandara internasional,
kawasan industri,
bonus demografi,
hingga posisi sebagai pintu utama Sumatera.
Tetapi entah mengapa, energi ekonominya tidak meledak.
Yang terlihat justru ekonomi yang terus bergerak dalam pola lama: perdagangan,
transportasi, konsumsi,
dan distribusi barang.
Sumut tampak ramai, tetapi belum tentu progresif.
Bandingkan dengan Maluku Utara.
Provinsi itu dahulu nyaris tidak masuk radar ekonomi nasional. Kini ia menjadi simbol baru pertumbuhan lewat hilirisasi nikel. Sulawesi Tengah bergerak dengan smelter dan industrialisasi mineral. Kepulauan Riau mengandalkan manufaktur dan kawasan industri Batam. Bali bangkit kembali dengan pariwisata global.
Mereka menemukan “mesin pertumbuhan baru”.
Sementara Sumut?
Masih sibuk mengedarkan energi lama.
Inilah yang mulai terasa mengkhawatirkan:
Sumut tumbuh, tetapi tidak sedang meloncat.
Padahal dalam kompetisi ekonomi modern, yang menentukan bukan hanya besar kecilnya ekonomi, melainkan kecepatan transformasinya.
Dan di titik itu, Sumut mulai terlihat tertinggal.
Masalah lainnya adalah pertumbuhan Sumut tampak semakin terkonsentrasi di kawasan tertentu:
Medan,
Deli Serdang,
koridor industri,
dan jalur perdagangan utama.
Sementara banyak wilayah pinggiran masih bergerak lambat.
Pantai barat Sumatera Utara belum benar-benar berubah menjadi pusat ekonomi baru.
Daerah pertanian masih terjebak pada komoditas mentah.
Petani sawit dan karet tetap rentan pada fluktuasi harga.
Anak muda desa terus bergerak ke kota — atau keluar daerah.
Akibatnya, statistik pertumbuhan terlihat sehat, tetapi denyut optimisme sosial tidak benar-benar terasa merata.
Di sinilah publik mulai mengalami semacam paradoks:
ekonomi tumbuh,
tetapi rasa percaya diri daerah tidak ikut tumbuh.
Yang lebih menarik lagi, struktur pertumbuhan Sumut justru menunjukkan dominasi sektor-sektor yang bersifat “sirkulatif”:
perdagangan,
transportasi,
akomodasi,
makan-minum,
dan jasa.
Artinya ekonomi bergerak karena orang belanja, bepergian, memindahkan barang, dan mengonsumsi sesuatu.
Tetapi pertanyaannya:
di mana ledakan industri baru?
di mana hilirisasi besar?
di mana manufaktur modern?
di mana pusat inovasi?
Sumut seperti terlalu nyaman menjadi pasar — bukan pemain utama produksi masa depan.
Padahal sejarah menunjukkan:
daerah yang hanya kuat dalam konsumsi biasanya ramai di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.
Yang paling problematik mungkin bukan melambatnya angka pertumbuhan.
Melainkan hilangnya narasi besar.
Hari ini publik sulit menjawab:
Sumut sebenarnya mau menjadi apa?
Pusat agroindustri?
Kawasan hilirisasi sawit?
Pusat logistik ASEAN?
Kekuatan industri maritim?
Ekonomi digital Sumatera?
Atau sekadar provinsi transit perdagangan?
Belum ada jawaban yang benar-benar terasa hidup.
Dan, ketika sebuah daerah kehilangan arah transformasi, pertumbuhan ekonomi perlahan berubah hanya menjadi rutinitas statistik:
- angka naik,
- laporan dibacakan,
- grafik dipamerkan,
Tetapi, masyarakat tidak benar-benar merasakan ledakan “hoki” untuk masa depan.
Karena itu, mungkin sudah waktunya Sumut berhenti sekadar merasa besar — lalu mulai berani menentukan lompatan.
Pemerintah daerah, dunia kampus, pelaku usaha, hingga elite politik tidak cukup hanya menjaga stabilitas angka pertumbuhan. Mereka harus mulai membangun “visi ekonomi baru” yang lebih berani:
Hilirisasi sawit dan pertanian, industri pengolahan berbasis pelabuhan, penguatan kawasan pantai barat,
pengembangan ekonomi kreatif anak muda, hingga transformasi UMKM menjadi rantai industri modern.
Sumut tidak kekurangan sumber daya. Yang mulai terasa langka justru keberanian membangun arah.
Dan, mungkin, di situlah pekerjaan paling mendesak hari ini:
Bukan sekadar membuat ekonomi tetap tumbuh,
tetapi mengembalikan keyakinan bahwa Sumatera Utara masih mampu menjadi kekuatan yang mengejutkan masa depan.***
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)


