Minggu, 18 Okt 2026
light_mode

Ekonomi Sumut Stagnan, Provinsi Lain Bikin Lompatan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ketika Maluku Utara melonjak lewat hilirisasi, Bali bangkit lewat Pariwisata dan Sulawesi menyalakan industri baru — Sumatera Utara Justru Tampak Berjalan dengan Mesin Lama

Di atas kertas, ekonomi Sumatera Utara masih tumbuh.

Tidak runtuh. Tidak krisis. Dan, nilainya tidak pula merah.

Tetapi justru di situlah problemnya: Sumut memang masih bergerak, namun tidak lagi terasa menghentak.

Di saat sejumlah provinsi mulai melompat dengan identitas ekonomi baru, Sumatera Utara justru tampak seperti mesin besar yang berat berbelok — hidup, tetapi kehilangan ledakan energinya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Sumut Triwulan I-2025 tumbuh 4,67 persen secara tahunan. Angka itu memang positif, tetapi melaz gyengapa provinsi sebesar Sumut justru mulai terdengar biasa?

Padahal secara geografis, Sumut nyaris memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi regional:
pelabuhan strategis,
jalur Selat Malaka,
perkebunan besar,
bandara internasional,
kawasan industri,
bonus demografi,
hingga posisi sebagai pintu utama Sumatera.

Tetapi entah mengapa, energi ekonominya tidak meledak.

Yang terlihat justru ekonomi yang terus bergerak dalam pola lama: perdagangan,
transportasi, konsumsi,
dan distribusi barang.

Sumut tampak ramai, tetapi belum tentu progresif.

Bandingkan dengan Maluku Utara.

Provinsi itu dahulu nyaris tidak masuk radar ekonomi nasional. Kini ia menjadi simbol baru pertumbuhan lewat hilirisasi nikel. Sulawesi Tengah bergerak dengan smelter dan industrialisasi mineral. Kepulauan Riau mengandalkan manufaktur dan kawasan industri Batam. Bali bangkit kembali dengan pariwisata global.

Mereka menemukan “mesin pertumbuhan baru”.

Sementara Sumut?
Masih sibuk mengedarkan energi lama.

Inilah yang mulai terasa mengkhawatirkan:
Sumut tumbuh, tetapi tidak sedang meloncat.

Padahal dalam kompetisi ekonomi modern, yang menentukan bukan hanya besar kecilnya ekonomi, melainkan kecepatan transformasinya.

Dan di titik itu, Sumut mulai terlihat tertinggal.

Masalah lainnya adalah pertumbuhan Sumut tampak semakin terkonsentrasi di kawasan tertentu:
Medan,
Deli Serdang,
koridor industri,
dan jalur perdagangan utama.

Sementara banyak wilayah pinggiran masih bergerak lambat.

Pantai barat Sumatera Utara belum benar-benar berubah menjadi pusat ekonomi baru.

Daerah pertanian masih terjebak pada komoditas mentah.

Petani sawit dan karet tetap rentan pada fluktuasi harga.

Anak muda desa terus bergerak ke kota — atau keluar daerah.

Akibatnya, statistik pertumbuhan terlihat sehat, tetapi denyut optimisme sosial tidak benar-benar terasa merata.

Di sinilah publik mulai mengalami semacam paradoks:
ekonomi tumbuh,
tetapi rasa percaya diri daerah tidak ikut tumbuh.

Yang lebih menarik lagi, struktur pertumbuhan Sumut justru menunjukkan dominasi sektor-sektor yang bersifat “sirkulatif”:
perdagangan,
transportasi,
akomodasi,
makan-minum,
dan jasa.

Artinya ekonomi bergerak karena orang belanja, bepergian, memindahkan barang, dan mengonsumsi sesuatu.

Tetapi pertanyaannya:
di mana ledakan industri baru?
di mana hilirisasi besar?
di mana manufaktur modern?
di mana pusat inovasi?

Sumut seperti terlalu nyaman menjadi pasar — bukan pemain utama produksi masa depan.

Padahal sejarah menunjukkan:
daerah yang hanya kuat dalam konsumsi biasanya ramai di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang.

Yang paling problematik mungkin bukan melambatnya angka pertumbuhan.

Melainkan hilangnya narasi besar.

Hari ini publik sulit menjawab:
Sumut sebenarnya mau menjadi apa?

Pusat agroindustri?
Kawasan hilirisasi sawit?
Pusat logistik ASEAN?
Kekuatan industri maritim?
Ekonomi digital Sumatera?
Atau sekadar provinsi transit perdagangan?

Belum ada jawaban yang benar-benar terasa hidup.

Dan, ketika sebuah daerah kehilangan arah transformasi, pertumbuhan ekonomi perlahan berubah hanya menjadi rutinitas statistik:

  • angka naik,
  • laporan dibacakan,
  • grafik dipamerkan,

Tetapi, masyarakat tidak benar-benar merasakan ledakan “hoki” untuk masa depan.

Karena itu, mungkin sudah waktunya Sumut berhenti sekadar merasa besar — lalu mulai berani menentukan lompatan.

Pemerintah daerah, dunia kampus, pelaku usaha, hingga elite politik tidak cukup hanya menjaga stabilitas angka pertumbuhan. Mereka harus mulai membangun “visi ekonomi baru” yang lebih berani:

Hilirisasi sawit dan pertanian, industri pengolahan berbasis pelabuhan, penguatan kawasan pantai barat,
pengembangan ekonomi kreatif anak muda, hingga transformasi UMKM menjadi rantai industri modern.

Sumut tidak kekurangan sumber daya. Yang mulai terasa langka justru keberanian membangun arah.

Dan, mungkin, di situlah pekerjaan paling mendesak hari ini:
Bukan sekadar membuat ekonomi tetap tumbuh,
tetapi mengembalikan keyakinan bahwa Sumatera Utara masih mampu menjadi kekuatan yang mengejutkan masa depan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kerugian 44 Milyar Akibat Banjir Bandang

    Kerugian 44 Milyar Akibat Banjir Bandang

    • calendar_month Senin, 11 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Pemkab Madina akhirnya melansir data total kerugian akibat banjir bandang Sungai Rantopuran di Kecamatan Panyabungan dan Sungai Sigaja Kecamatan Naga Juang yang terjadi pada Pebruari lalu. Kerugian mencapai 44 milyar rupiah. Kerusakan yang menyebabkan kerugian meliputi rumah-rumah warga yang rusak berat dan ringan, lahan-lahan pertanian, serta harta benda warga yang […]

  • Mualaf AS Menanti Ramadhan Untuk Berinteraksi

    Mualaf AS Menanti Ramadhan Untuk Berinteraksi

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      CLEVELAND (Mandailing Online) – Sejak mengucapkan syahadat lebih dari lima tahun lalu, Paul K. DeMelto (40 tahun) baru merasakan menjadi seorang Muslim sejati ketika Ramadhan tiba. “Satu hal yang saya harapkan ketika memilih Islam sebagai keyakinan supaya dapat berinteraksi dalam sebuah komunitas,” urai DeMelto pada the Huffington Post yang dilansir Kamis (18/6). Seperti kebanyakan […]

  • Angka Stunting Turun 13,5% di Madina

    Angka Stunting Turun 13,5% di Madina

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut berhasil menurunkan angka stunting. Berdasar data SSGI (Survei Status Gizi) tahun 2022, Madina menunjukkan keberhasilan menurunkan angka stunting menjadi 34,2%, atau mengalami penurunan 13,5% dari tahun 2021 yang masih 47,7 %. Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution menyatakan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang sudah […]

  • Bupati Terbitkan Surat Edaran Desa Tanggap Covid-19

    Bupati Terbitkan Surat Edaran Desa Tanggap Covid-19

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) -Guna mengoptimalkan sinergitas pemerintah desa dalam penanggulangan Covid-19, Bupati Madina menerbitkan surat edaran. Surat Edaran itu Nomor 141/1021/PMD/2020 tanggal 30 Maret 2020 tentang Desa Tanggap Covid-19 dan Penegasan Padat Karya Tunai Desa, ditandatangani Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution. Terdapat 14 poin di Surat Edaran itu yang harus dilaksanakan para kepala desa. Poin-poinnya […]

  • Money Politic di Pilkada Madina Bersumber dari SKPD dan Dana Desa ?

    Money Politic di Pilkada Madina Bersumber dari SKPD dan Dana Desa ?

    • calendar_month Jumat, 8 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Madina Peduli Pilkada Bersih (AMMPPB)  berunjukrasa di Mapolres, Jumat, (8/4/2016),  menyatakan dukungan penuh kepada polisi mengusut kasus politik uang Pilkada Madina. Selain memberikan dukungan, Aliansi juga mengucapan terimaksih kepada Polres Mandailing Natal (Madina) yang telah berani membongkar kasus money politic pada Pilkada 2015 yang […]

  • Fraksi PHN Cuatkan Banyak Poin di Paripurna LPJ

    Fraksi PHN Cuatkan Banyak Poin di Paripurna LPJ

    • calendar_month Jumat, 22 Agt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) disarankan menyelesaikan status akses jalan ke lokasi tempat pembuangan akhir sampah di Desa Batang Gadis. Sebab, status jalan masih milik individu, atau belum milik pemerintah sehingga kerap terjadi komplain dari pemilik tanah kepada para supir truk pengangkut sampah. Saran itu disampaikan Fraksi Persatuan Hati Nurani DPRD Madina […]

expand_less