Tokoh Bergelar Sutan (Willem) Iskander Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional (bagian 5-selesai)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak

Willem Iskander
Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Willem Iskander: Pelopor Pendidikan atau Produk Politik Etis Kolonial?
Nah, di sinilah sisi paling kontroversial dari rekam jejak Willem Iskander mulai muncul. Ada pertanyaan yang kadang muncul diam-diam:
Apakah Willem Iskander murni pejuang pendidikan rakyat, atau justru bagian dari proyek kolonial Belanda?
Pertanyaan ini tidak lahir tanpa dasar. Faktanya:
* Willem Iskander mendapat pendidikan di Belanda,
* mendirikan sekolah dalam sistem kolonial, dan
* Kweekschool Tanobato memang mendapat dukungan pemerintah Hindia Belanda.[1]
Artinya, apa?
Secara administratif, Sutan Iskander memang bergerak di dalam ruang kolonial.
Di titik ini muncul kritik: Jangan-jangan pendidikan bumiputera saat itu sebenarnya alat Belanda mencetak pegawai pribumi murah? Jangan-jangan!
Dan memang, sejarah pendidikan kolonial Hindia Belanda menunjukkan pendidikan bumiputera sering diarahkan untuk kepentingan administrasi kolonial.[2]
Akan tetapi pertanyaannya:
Apakah itu otomatis membuat Willem Iskander sekadar alat kolonial?
Belum tentu.
Banyak tokoh bumiputera abad ke-19 dan awal abad ke-20 justru memakai celah pendidikan kolonial untuk membangun kesadaran rakyat.
Dalam banyak kasus sejarah kolonial, ruang yang dibuat penjajah kadang dipakai balik oleh kaum pribumi untuk:
Belajar,
membangun identitas, dan
melahirkan elite intelektual baru.
Beberapa penelitian tentang Willem Iskander menunjukkan dia bukan sekadar mengajar dengan model kolonial mentah.
Leluhur Raja Ahmad Husein Nasution ini justru menggunakan Bahasa Mandailing, menulis sastra lokal, dan mencoba mendekatkan pendidikan dengan masyarakat bumiputera.[3]
Di sinilah perdebatan menariknya.
Apakah Willem Iskander:
bagian dari mesin kolonial, atau
justru intelektual bumiputera yang memanfaatkan sistem kolonial untuk memajukan rakyatnya?
Mungkin jawabannya tidak hitam-putih.
Tetapi justru karena itulah Willem Iskander penting dibicarakan hari ini. Sejarah Indonesia tidak selalu lahir dari tokoh yang sepenuhnya berada “di luar sistem”. Kadang perubahan justru datang dari orang-orang yang bekerja di dalam ruang sempit kolonial, lalu perlahan membukakan jalan bagi bangsanya sendiri.***
Referensi:
[1] [Islamic Education Journal — Peranan Willem Iskander dalam Pendidikan Sumatera Utara](https://jurnal.medanresourcecenter.org/index.php/IE/article/view/1152?utm_source=chatgpt.com)
[2] [Repository Universitas Jambi — Willem Iskander dalam Modernisasi Pendidikan Guru Bumiputera](https://repository.unja.ac.id/39620/?utm_source=chatgpt.com)
[3] [MIND Jurnal — Pendidikan Berbasis Budaya Lokal Willem Iskander](https://jurnal.radisi.or.id/index.php/JurnalMIND/article/view/492?utm_source=chatgpt.com)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

