Minggu, 20 Sep 2026
light_mode

Islam Mewujudkan Kemerdekaan Hakiki

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 15 Agt 2021
  • print Cetak

Oleh: Nurhabibah, S.Pd
Tinggal di Padangsidempuan

Tak terasa beberapa hari lagi  bangsa Indonesia merayakan kembali hari kemerdekaan negeri ini untuk yang ke-76 kalinya. Di tengah suasana perayaan kemerdekaan itu, bangsa ini tentu layak bertanya: Apa sebetulnya arti kemerdekaan yang hakiki itu? Betulkah kita telah benar-benar merdeka? Betulkah kita telah sungguh-sungguh terbebas dari segala bentuk penjajahan?

Penjajahan pada hakikatnya adalah politik suatu bangsa/negara untuk menguasai bangsa/negara lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Hakikat penjajahan sama dengan perbudakan. Sama-sama merupakan ekpsloitasi satu pihak atas pihak lain secara zalim.

Penjajahan gaya lama dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer. Mengambil-alih dan menduduki satu negara/wilayah serta membentuk pemerintahan kolonial di negara/wilayah jajahan. Cara ini secara umum sudah lama ditinggalkan. Pasalnya, penjajahan secara militer ini mudah membangkitkan perlawanan dari penduduk negeri yang dijajah. Jelas, karena mereka secara nyata merasakan langsung penindasan atas diri mereka, negeri mereka dan sumberdaya mereka.

Karena itu kaum penjajah kemudian menempuh model/gaya penjajahan baru. Penjajahan ini tak mudah dirasakan oleh pihak terjajah. Penjajahan ini mewujud dalam bentuk kontrol atas ekonomi, politik, pemikiran, budaya, hukum dan hankam negeri yang dijajah. Tujuannya tetap sama: mengeksploitasi kekayaan negeri terjajah demi kesejahteraan dan kemakmuran kaum penjajah.

Penjajahan gaya baru sama berbahayanya dengan penjajahan gaya lama. Bahkan boleh jadi lebih berbahaya. Sebabnya, dengan penjajahan gaya baru, pihak terjajah sering tak merasa sedang dijajah. Contohnya adalah bangsa ini. Bangsa ini setiap tahun tetap antusias merayakan hari kemerdekaannya. Namun demikian, pada saat yang sama bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaan mereka terus dikuasai oleh bangsa lain lewat perusahaan-perusahaan mereka. Tambang emas, minyak, gas dan banyak sumberdaya alam lainnya di negeri ini telah lama dikuasai dan diekploitasi. Misalnya PT Freeport. Atau misalnya di daerah kita sendiri seperti PT. SMGP yang ada di Mandailing Natal.

Alhasil, bangsa dan negeri ini sebetulnya belum benar-benar merdeka secara hakiki. Belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Secara fisik kita memang merdeka. Namun demikian secara pemikiran, ekonomi, politik, budaya, dll sejatinya kita masih terjajah.

Misalnya saja, bagaimana kita bisa merasa merdeka saat di tengah – tengah masyarakat kita banyak yang kelaparan. Apakah kita tidak malu meneriakkan merdeka di saat banyak saudara saudara kita yang masih tidur di kolong jembatan.

Bukankah sejatinya yang namanya merdeka itu terbebas dari yang  namanya tekanan.

Lalu bagaimana kemerdekaan yang hakiki itu seharusnya?

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT, itulah misi utama Islam. Itu pula arti kemerdekaan hakiki. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan Islam ini, Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«… أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ  …»

Amma badu. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, v/553).

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syubah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash ra.). Ia diutus setelah Mughirah bin Syubah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, II/401).

Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia sekaligus mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT. Islam datang untuk membebaskan manusia dari kesempitan dunia akibat penerapan aturan buatan manusia menuju kelapangan dunia (rahmatan lil alamin). Islam juga datang untuk membebaskan manusia dari kezaliman agama-agama dan sistem-sistem selain Islam menuju keadilan Islam.

Semua itu akan menjadi nyata jika umat manusia mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT dan Rasul saw. Caranya dengan memberlakukan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Tanpa itu, kemerdekaan hakiki, kelapangan dunia dan keadilan Islam tak akan pernah bisa terwujud. Selama aturan, hukum dan sistem buatan manusia yang bersumber dari akal dan hawa nafsu mereka terus diterapkan dan dipertahankan maka selama itu pula akan terus terjadi penjajahan, kesempitan dunia dan kezaliman. Allah SWT telah memperingatkan hal itu:

﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ﴾

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh bagi dia kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (TQS Thaha [20]: 124).

Karena itulah Allah SWT memerintahkan kita semua untuk menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Penerapan hukum syariah Islam itu menjadi bukti kebenaran dan kesempurnaan klaim keimanan dan penghambaan mereka kepada Allah SWT (Lihat, antara lain: QS an-Nisa [4]: 65). Pada saat yang sama, Allah SWT mewajibkan penguasa untuk memerintah dengan menggunakan hukum-hukum syariah.

Pentingnya Kepemimpinan Islam

Tugas pemimpin atau penguasa dalam Islam adalah melakukan pengaturan urusan dunia (siyasah ad-dunya). Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa siyasah (politik) adalah mengatur sesuatu dengan apa yang membuat sesuatu itu baik (al-qiyam ‘ala asy-syay bi ma yushlihuhu). Yang wajib digunakan dalam melakukan tugas siyasah itu tidak lain adalah syariah. Ini sejalan dengan perintah Allah SWT baik kepada umat Islam maupun penguasa untuk menerapkan syariah.

Semua itu hanya bisa berjalan dan terwujud di dalam sistem kepemimpinan Islam yang disebut oleh para ulama  dengan istilah Imamah/Khilafah.

Sistem kepemimpinan Islam — yakni Imamah/Khilafah — inilah yang benar-benar bakal mampu mewujudkan kemerdekaan hakiki bagi umat manusia. Hanya sistem ini pula yang sekaligus bisa mewujudkan tujuan kemerdekaan itu, yakni kehidupan yang adil, makmur, sejahtera, aman dan tenteram. Tentu dalam naungan ridha Allah SWT.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saipullah-Atika akan Jabarkan Program-program Konkret di Acara Debat Kandidat

    Saipullah-Atika akan Jabarkan Program-program Konkret di Acara Debat Kandidat

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution telah bersiap mengikuti debat publik kandidat Pilkada Madina yang rencananya diadakan di Hotel Sapadia, Gunungtua, Padanglawas Utara (Peluta), Sumatera Utara pada 14 November 2024. Kesiapan mengikuti debat itu disampaikan oleh calon bupati Madina […]

  • Citayam Fashion Week, Potret Salah Urus Generasi

    Citayam Fashion Week, Potret Salah Urus Generasi

    • calendar_month Minggu, 24 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Mariani Siregar, M.Pd.I Dosen dan Pengamat Politik Kini sedang ramai bicara soal Citayam fashion week yang viral di media sosial. Pasalnya, remaja atau anak-anak muda dari daerah SCBD (Sudirman-Citayam-Bojonggede-Depok)  suka berkumpul-kumpul dan melakukan atraksi fashion di jalan Sudirman tersebut. Hingga akhirnya, aksi mereka menjadi viral bahkan dijadikan sebagai spot membuat konten-konten khususnya fashion. Kabarnya, […]

  • Pemungutan Suara Ulang di Madina Tanpa Kampanye

    Pemungutan Suara Ulang di Madina Tanpa Kampanye

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi, pemilukada ulang di Kabupaten Mandailing Natal hanya pemungutan suara ulang. Artinya, pesta demokrasi lima tahunan itu dihelat tanpa verifikasi data pemilih dan kampanye. Demikian ditegaskan Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Jefri Antoni SH, kepada METRO, Senin (24/1). Menurut Jefri, untuk tahapan tidak ada lagi. Dalam hal […]

  • Warga Panyabungan Serbu Pasar Beras Murah

    Warga Panyabungan Serbu Pasar Beras Murah

    • calendar_month Kamis, 31 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Pagi ini Kamis 31/8/2023 Ratusan warga di Pasar Lama Panyabungan, Mandailing Natal ( Madina ) menyerbu pasar murah beras yang digelar Pemkab Madina. ada 7 ton beras ukuran 5 kg yang jual dengan harga Rp.49.500/ Saknya atau Rp.9900/ kg nya. Operasi pasar ini sendiri digelar ditengah tengah naiknya harga beras di […]

  • Terlibat Pemerkosaan dan Pemerasan, Oknum Satpol PP Madina Terancam Dipecat

    Terlibat Pemerkosaan dan Pemerasan, Oknum Satpol PP Madina Terancam Dipecat

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Oknum anggota Satpol PP Pemkab Madina berinisial I terancam dipecat karena diduga kuat terlibat pemerkosaan dan pemerasan terhadap korban SN ( 20 ) dan pacarnya inisial Y pada hari rabu 6/11 kemaren di kawasan desa parbangunan tepatnya disebuah rumah kosong. Berkat keterangan korban SN kepada Polisi, oknum honor di Satpol PP […]

  • Ulu Pungkut Siapkan Festival Gordang Sambilan

    Ulu Pungkut Siapkan Festival Gordang Sambilan

    • calendar_month Sabtu, 4 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Panyabungan (MO) – Tokoh-tokoh masyarakat Kecamatan Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal saat ini tengah mempersiapakan Festival Gordang Sambilan dan Moncak yang rencananya dilaksanakan pada 23 hingga 24 Agustus. Lokasi festival akan berlangsung di pelataran Bagas Godang, Desa Huta Godang, Ulu Pungkut. Festival ini bersegmen festival rakyat, karena diselenggarakan oleh rakyat dalam upaya pelestarian dan pengembangan […]

expand_less