LABUSEL: KETIKA RAJA KOTAPINANG HADIR DI ISTANA BUPATI (bagian 2)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 22 menit yang lalu
- print Cetak
Sutan Diaru dan Mimpi Besar dari Pinang Awan

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Jika sejarah Sumatera dibaca hanya berdasarkan batas kabupaten modern, maka sebagian besar cerita penting kawasan ini akan hilang.
Karena pada masa lalu tidak ada Labuhanbatu Selatan.
Tidak ada Mandailing Natal.
Tidak ada Padang Lawas.
Yang ada adalah jaringan sungai, perdagangan, dan kekuasaan.
Salah satu simpul penting jaringan itu adalah Kerajaan Pinang Awan yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Kotapinang.
Posisinya strategis.
Berada di jalur Sungai Barumun yang menghubungkan pedalaman Sumatera dengan pesisir timur dan Selat Malaka.
Melalui sungai itulah komoditas, manusia, agama, dan pengaruh politik bergerak selama berabad-abad.
Sejumlah sumber sejarah menyebut Kesultanan Kotapinang memiliki hubungan genealogis dengan lingkungan Pagaruyung yang pengaruhnya menjangkau banyak wilayah Sumatera bagian tengah dan timur (Tengku Luckman Sinar, Bangun dan Runtuhnya Kerajaan Melayu di Sumatera Timur, 2006).
Namun cerita ini menjadi lebih menarik ketika nama Mandailing mulai masuk.
Dalam tradisi Mandailing, Raja Sibaroar Nasakti Nasution merupakan figur yang sangat penting.
Ia bukan hanya leluhur genealogis.
Ia juga tampil sebagai simbol kepemimpinan dan pemersatu masyarakat Mandailing dalam berbagai tarombo dan cerita adat.
Di sinilah muncul kisah yang masih hidup hingga hari ini.
Bahwa Sibaroar Nasakti memperoleh gelar Sutan Diaru melalui pengakuan dari lingkungan kerajaan Melayu yang berkaitan dengan Kotapinang dan jaringan kerajaan sahabat pada masanya.
Meski sebagian besar kisah ini hidup dalam tradisi lisan dan tarombo adat, maknanya tetap menarik untuk dibaca.
Karena dalam tradisi politik Melayu, pemberian gelar bukan sekadar penghormatan.
Ia adalah pengakuan.
Ia adalah legitimasi.
Dan sering kali merupakan bentuk aliansi.
Jika konteks zamannya diperhatikan, muncul kemungkinan bahwa pengangkatan Sutan Diaru bukan hanya urusan Mandailing semata.
Saat itu kawasan Sumatera sedang mengalami berbagai perubahan besar.
Persaingan antarkerajaan.
Perubahan jalur perdagangan.
Serta tekanan kekuatan-kekuatan eksternal yang perlahan memasuki wilayah-wilayah tradisional.
Dalam situasi demikian, jaringan antarkerajaan menjadi sangat penting.
Dan figur seperti Sibaroar Nasakti mungkin dipandang mampu menjembatani hubungan antara pedalaman Mandailing dengan dunia Melayu di kawasan Barumun dan Kotapinang.
Karena itulah sebagian budayawan membaca Sutan Diaru bukan sekadar gelar adat.
Melainkan simbol harapan lahirnya kepemimpinan regional yang mampu memperkuat kawasan.
Menariknya, memori itu belum benar-benar hilang.
Hingga hari ini, nama Sibaroar, Sutan Diaru, Pagaruyung, dan Kotapinang masih muncul dalam berbagai diskusi sejarah lokal.
Bahkan bagi sebagian kalangan adat, hubungan Mandailing dan Kotapinang tidak pernah benar-benar putus.
Ia hanya berubah bentuk.
Dari hubungan politik menjadi hubungan budaya.
Dari aliansi kerajaan menjadi memori kolektif.
Dan mungkin itulah sebabnya mengapa setiap pertemuan antara institusi adat Kotapinang dan tokoh-tokoh dari kawasan Mandailing selalu mengandung resonansi sejarah yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. (bersambung)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

