Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

Masdoelhak Nasoetion, Kematiannya Menimbulkan Kemarahan PBB (Bagian 2 – selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 30 Jan 2017
  • print Cetak

Masdoelhak Nasoetion

Siapa Masdoelhak? Masdoelhak adalah anak Padang Sidempoean kelahiran Siboga. Nama lengkapnya Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan, cucu dari Soetan Abdoel Azis dari Goenoeng Toea, Mandailing. Ayah Masdoelhak bernama Nazar Samad Nasoetion gelar Mangaradja Hamonangan (lahir di Padang Sidempoean) dan ibunya bernama Namora Siti Aboer br Siregar (lahir di Padang Sidempoean). Masdoelhak, anak keenam dari tujuh bersaudara ini setelah menyelesaikan pendidikan dasar Belanda (ELS) di Siboga berangkat sekolah MULO di Medan dan kemudian dilanjutkan ke AMS di Jawa dan tinggal bersama abangnya Makmoen Al Rasjid (dokter lulusan STOVIA). Pada tahun 1930, Masdoelhak anak seorang pengusaha di Residentie Tapanoeli ini lulus ujian AMS. Dari 55 kandidat lulus 42 orang dan Masdoelhak salah satu dari lima siswa terbaik yang direkomendasikan melanjutkan ke pendidikan tinggi di Negeri Belanda (lihat, Soerabaijasch handelsblad, 19-05-1930).

Masdoelhak berangkat dari Batavia dengan menumpang kapal s.s. Prins der Nederland’ menuju Amsterdam tanggal 4 Oktober 1930  dengan nama pada manifest kapal,  Masdoelhak Hamonangan (lihat De Telegraaf, 01-10-1930). Di Universiteit Leiden, Masdoelhak mengambil bidang hukum. Selama kuliah Masdoelhak yang terbilang cerdas ini juga aktif dalam organisasi ekstrakurikulir. Masdoelhak dan kawan-kawan di Universitas Leiden menggagas didirikannya himpunan mahasiswa untuk mempromosikan Indonesia dengan nama  Studentenvereniging ter bevordering van de Indonesische Kunst (SVIK). Menurut Pasal 2 Anggaran Dasar organisasi ini dinyatakan bertujuan untuk mempromosikan seni rupa Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran akan seni rupa Indonesia dan ekspresi lain dari budaya Indonesia. Organisasi mahasiswa yang diresmikan tanggal 1 November 1935 ini sebagai ketua disebut Masdoelhak Hamonangan gelar Soetan Oloan (lihat De tribune : soc. dem. Weekblad, 23-11-1935).

Setelah lulus tingkat sarjana di Universiteit Leiden, Masdoelhak tidak pulang melainkan melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral di Utrecht (Rijksuniversiteit). Pada tahun 1943 Masdoelhak lulus ujian doctoral sebagaimana dilaporkan  Friesche courant, 27-03-1943. Masdoelhak berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak).

Setelah berhasil menjadi doktor hukum, Masdoelhak pulang kampung. Pada saat pulang ke tanah air, Indonesia di bawah pendudukan Jepang, Namun tidak lama kemudian, Jepang menyerah kepada sekutu lalu Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Pada tanggal 22 Agustus ditunjuk Mr. M. Hasan sebagai gubernur Sumatra, mewakili pemerintah pusat berkedudukan di Medan (lihat foto: Masdoelhak dan Hasan berdiri berdampingan). Lalu kemudian Sumatra dibagi tiga wilayah: Sumatra Utara, Sumatra Tengah dan Sumatra Selatan. Yang ditunjuk untuk gubernur muda (residen) di Sumatra Utara adalah Mr. S.M. Amin Nasoetion (lahir di Aceh, sekolah rakyat di Manambin, Mandailing, ELS di Siboga dan sekolah hukum di Batavia menyusul dua abangnya di STOVIA, Amir dan Munir). Untuk Walikota Medan (pertama) ditunjuk Mr. Loeat Siregar. Untuk (wakil) Residen Tapanoeli diangkat Abdoel Hakim Harahap (kemudian menjadi Gubernur Sumatra Utara yang ketiga). 

Sedangkan untuk Sumatra Tengah yang beribukota di Bukittinggi ditunjuk Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion. Dalam perkembangannya, Belanda melancarkan agresi dan kemudian pemerintahan sipil Indonesia diganti dengan pemerintahan semi militer (Presiden Ir. Soekarno, Wakil presiden Drs. M. Hatta dan Menteri pertahanan Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap). Untuk gubernur Sumatra Utara ditunjuk Mayor Jenderal dr. Gindo Siregar, sedangkan Masdoelhak dipanggil ke Yogyakarta untuk membantu pemerintahan pusat (menjadi penasehat). Di Sumatra Selatan sendiri wilayah dibagi empat keresidenan, dua diantaranya yakni Palembang dan Lampung (keresidenan Palembang menjadi negara boneka Belanda, keresidenan Lampung tetap independen bagian republik). Untuk keresidenan Lampung, yang diangkat masyarakat menjadi residen adalah Mr. Gele Harun Nasoetion.

Sebagai awal pembentukan pemerintahan, peran ahli hukum saat itu begitu penting. Untuk sekadar diketahui, Amir, Masdoelhak, Amin dan Gele adalah ahli-ahli hukum cemerlang yang berasal dari Mandheling en Ankola dan telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam permulaan republik ini. Amir diakui sendiri oleh Hatta dalam biografinya sebagai orang yang cerdas. Masdoelhak cukup lama menjadi adviser M. Hatta dan selalu disertakan terutama dalam kunjungan rahasia ke luar negeri untuk menemui para pimpinan negara sahabat yang mendukung kedaulatan RI. Masdoelhak adalah doktor hukum pribumi kedua (Utrecht, 1943), sedang doktor hukum pertama adalah Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi, anak Batangtoru, Padang Sidempoean (Leiden, 1925). Gele Harun lulus sarjana hukum di Leiden (1938).

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) 1938 adalah anak Batangtoru, Padang Sidempoean, Parlindoengan Loebis. PPI yang waktu bernama Indisch Vereeniging digagas oleh Radjiun Harahap gelar Soetan Casajangan Soripada, anak Batunadua, Padang Sidempoean dan diresmikan tahun 1908 dengan presiden pertama Soetan Casajangan (pribumi kedua yang kuliah di Belanda). Setelah lulus dokter 1940, Parlindoengan Loebis (satu-satunya orang Indonesia) ditangkap Jerman dan dimasukkan ke kamp konsentrasi Jerman karena alasan politik Parlindungan yang menentang fasis. Untuk sekadar diketahui lagi, kakak kandung Gele bernama Ida Loemongga adalah dokter pribumi pertama yang bergelar doktor (Amsterdam, 1932). Satu lagi, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia kelahiran Padang Sidempuan (sepupu Amir Sjarifoeddin) meraih  gelar PhD bidang pendidikan di Rijks Universiteit pada tahun 1933 yang menjadi anggota Volksraads bersama-sama dengan Husni Tamrin (pahlawan Betawi) memperjuangkan pendidikan pribumi di parlemen. Last but not lease: A.F.P. Siregar gelar M.O. Parlindoengan, anak Sipirok satu-satunya mahasiswa pribumi yang kuliah di Jerman (1938) dan mendapat gelar insinyur teknik kimia yang semasa agresi menjadi satu-satunya ahli bom di pihak republik (bergerilya di Jawa Timur). Di Surabaya dan Jawa Timur M.O. Parlindungan bahu membahu dengan dr. Radjamin Nasoetion (lulusan STOVIA), anak Barbaran Djoeloe, Mandailing (Walikota Pertama Surabaija–dari era Belanda, Jepang hingga Republik). Setelah pengakuan kedaulatan Kolonel M.O. Parlindungan diangkat menjadi direktur pertama (peninggalan Belanda) Pabrik Sendjata dan Mesioe (PSM) di Bandung (cikal bakal PINDAD).

***

Dalam buku 'Gele Harun: Residen Perang' (2014) yang ditulis Mulkarnaen Gele Harun Nasution, Kaidir Asmuni, Umar Bakti dan Nihara Dalimonthe, disebutkan bahwa Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan pada tahun 2008 mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dr. Mr. Masdoelhak adalah sepupu Letkol Mr. Gele Harun dan satu lagi sepupu mereka yakni Mr. Egon Hakim berjuang di Sumatera Barat yang ketiganya adalah cucu dari Soetan Abdoel Azis Nasoetion di Padang Sidempoean. Kapan Gele Harun, Residen Pertama Lampung  menjadi pahlawan nasional? Mari kita tunggu. (*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan berbagai sumber tempo doeloe / Tapanuli Selatan Dalam Angka)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringatan HUT Satpam Ke-32 Polres Madina

    Peringatan HUT Satpam Ke-32 Polres Madina

    • calendar_month Jumat, 18 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN,(Mandailingonline)— Kepolisian Resor Mandailing Natal menggelar upacara dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Pengamanan yang ke-32 dan diikuti oleh seluruh Satpam se-Kabupaten Madina, Rabu (16/1) di halaman mapolres Madina. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Kepala Polres Madina AKBP Achmad Fauzi Dalimunthe, S.iK. Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Madina membacakan amanat dari Kapolri Jenderal Polisi Drs. […]

  • Jembatan Ambruk, Kecamatan Batahan Terisolir

    Jembatan Ambruk, Kecamatan Batahan Terisolir

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jembatan di jalur Pantai Barat Mandailing Nmatal (Madina) penghubung Kecamatan Natal – Kecamatan Batahan, ambruk, pekan lalu. Jembatan yang berada di titik Desa Kubangan Pandan Sari Kecamatan Batahan ini diduga dibangun amburadul sehingga ambruk ketika dilalui truk pembawa alat berat (trado). Tokoh Pemuda Batahan, Aswin kepada wartawan, Rabu (24/9/2014) mengatakan, […]

  • Kades Batumundom Bantah Laporan Masyarakatnya ke DPRD Madina terkait Narkoba

    Kades Batumundom Bantah Laporan Masyarakatnya ke DPRD Madina terkait Narkoba

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – buntut laporan sejumlah warga desa Batumundom, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) ke Polres dan DPRD Madina yang menuding Kepala Desa Batumundom Kazwan Siregar tidak peduli terhadap pengusunan Perdes terkait pemberantasan narkoba. Kazwar selaku kades membantah dan menilai warga yang melapor itu telah melakukan perbuatan fitnah terhadap […]

  • Harapan Parbetor untuk Paslon SAHATA

    Harapan Parbetor untuk Paslon SAHATA

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon (Paslon) Saipullah-Atika (SAHATA) tidak hanya didukung kaum elite. Rakyat akar rumput (grassroots) pun bergerak untuk mendukung dan memilih SAHATA agar menjadi bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) periode 2025-2030. Kali ini dukungan akar rumput itu disuarakan oleh para pejuang nafkah keluarga dari kalangan pengemudi becak motor (Parbetor). Mereka […]

  • Ketika Program Plasma PTPN IV Tak Mensejahterakan di Madina

    Ketika Program Plasma PTPN IV Tak Mensejahterakan di Madina

    • calendar_month Rabu, 23 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Syufrin 2007-2019 rentang waktu yang diberikan kepada PT.Perkebunan Nusantara IV untuk membangun kebun plasma seluas 9.000 Ha kepada 4.500 KK petani plasma yang telah di revitalsasi oleh Dirjen Perkebunan RI. Dan selama 13 tahun berjalan pembangunan kebun kelapa sawit yang telah dilaksanakan oleh BUMN ini sepatut dan sewajarnya kita pertanyakan: sejauhmana prosfektif […]

  • Wajah DPR 2014-2019 tak lebih baik

    Wajah DPR 2014-2019 tak lebih baik

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA –  Wajah Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019 diperkirakan tidak lebih baik dari DPR saat ini. Hal itu karena tidak sedikit calon anggota DPR yang terpilih lewat pemilu legislatif lalu menggunakan politik uang atau hanya mengandalkan popularitas. Sebaliknya, sejumlah aktivis DPR yang dikenal kritis dan berintegritas justru gagal masuk parlemen. Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan […]

expand_less