Kamis, 23 Jul 2026
light_mode

LABUSEL: KETIKA RAJA KOTAPINANG HADIR DI ISTANA BUPATI (bagian 3-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • print Cetak

Masa Depan yang Menunggu Ditulis

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

Pertanyaan terbesar bagi Labuhanbatu Selatan hari ini bukanlah soal kerajaan.
Bukan pula soal silsilah.

Melainkan soal masa depan.
Bagaimana daerah yang bertumpu pada sawit ini mampu menciptakan nilai tambah ekonomi?

Bagaimana generasi muda memperoleh kesempatan kerja yang layak?
Bagaimana pembangunan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat?

Itulah tantangan yang berada di hadapan pemerintahan Bupati Fery Sahputra Simatupang dan Wakil Bupati Syahdian Purba.

Namun pembangunan tidak pernah hanya soal angka.
Ia juga soal identitas.

Daerah yang kehilangan ingatan sering kali kehilangan arah.

Di sinilah arti penting warisan sejarah Kotapinang.

Bukan untuk menghidupkan kembali kerajaan.

Bukan pula untuk membangun romantisme masa lalu.

Melainkan untuk menjaga kesadaran bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari jaringan peradaban yang luas.

Sebuah ruang yang menghubungkan Barumun, Padang Lawas, Kotapinang, hingga Mandailing.

Puing-puing Istana Bahran yang masih tersisa di Kota Pinang sebenarnya menyampaikan pesan yang sederhana.

Bahwa kekuasaan bisa berubah.
Pemerintahan bisa berganti.
Tetapi identitas suatu masyarakat dapat bertahan jauh lebih lama.

Istana itu memang tidak lagi berdiri megah seperti dahulu. Sebagian besar hancur setelah Revolusi Sosial 1946 yang mengakhiri era kekuasaan tradisional di banyak wilayah Sumatera Timur (Anthony Reid, 1979).

Namun reruntuhannya tetap menjadi penanda sejarah.

Pengingat bahwa daerah ini pernah memainkan peran penting dalam jalur peradaban Sumatera.

Karena itu, ketika Sultan Kotapinang XIV hadir dalam kegiatan pemerintahan daerah bersama Bupati Labuhanbatu Selatan, mungkin yang terlihat hanyalah sebuah acara resmi.

Tetapi di baliknya tersimpan pesan yang lebih panjang.

Bahwa pembangunan tidak harus memutus hubungan dengan sejarah.
Bahwa modernitas tidak harus menghapus identitas.

Dan bahwa masa depan sering kali menjadi lebih kuat ketika ia dibangun di atas pemahaman yang jernih terhadap masa lalu.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang bisa dibaca dari Labusel hari ini.
Di tengah sawit yang terus tumbuh.
Di tengah jalan-jalan yang terus dibangun.

Di tengah birokrasi yang terus bekerja.
Masih ada ruang bagi sejarah untuk ikut berbicara.

Dan dari Kota Pinang, suara itu masih terdengar pelan:
bahwa kawasan Barumun, Kotapinang, dan Mandailing pernah terhubung oleh mimpi yang sama.

Kini, giliran generasi hari ini menentukan apakah mimpi itu akan berhenti sebagai cerita lama, atau berubah menjadi modal sosial bagi masa depan kawasan.

Yang menarik adalah munculnya tiga simbol kekuasaan yang hidup berdampingan di Kotapinang hari ini:
1. Kantor Bupati Labuhanbatu Selatan.
2. Kesultanan Adat Kotapinang.
3. Puing-puing Istana Bahran.

Secara visual saja sudah kuat sekali.
Bayangkan:
• Bupati Fery Sahputra Simatupang bekerja dari kantor pemerintahan modern.
• Sultan Tuanku Sultan Irvan Bahran Ma’moer Perkasa Alamsyah I memelihara legitimasi budaya dan sejarah Melayu.
• Sementara di sudut lain Kota Pinang, puing-puing Istana Bahran masih berdiri sebagai saksi bisu bahwa pernah ada pusat kekuasaan yang jauh lebih tua daripada kabupaten itu sendiri.

Di Kota Pinang hari ini, tiga zaman hidup berdampingan.

Di satu sisi berdiri kantor Bupati Labuhanbatu Selatan tempat kebijakan pembangunan dirumuskan.

Di sisi lain, Sultan Kotapinang XIV masih menjalankan peran adat sebagai penjaga warisan Melayu.

Dan tidak jauh dari sana, puing-puing Istana Bahran mengingatkan bahwa sebelum republik hadir, kawasan ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang disegani di jalur Sungai Barumun.

Di antara tiga titik itulah, Labusel sedang menulis masa depannya.
Lalu masuk ke bagian yang lebih “ngintrik”:
Apakah Pertemuan Bupati dan Sultan Sekadar Seremonial?

Atau sesungguhnya merupakan tanda bahwa Labusel sedang mencoba merajut kembali benang sejarah yang pernah menghubungkan:
• Kotapinang,
• Barumun,
• Padang Lawas,
• dan Mandailing?
Karena ketika kita menelusuri kisah Raja Sibaroar Nasakti Nasution yang memperoleh gelar Sutan Diaru dari lingkungan kerajaan Melayu Kotapinang, tampak bahwa hubungan kedua kawasan itu bukan hubungan baru.

Ia sudah berumur ratusan tahun.
Dan di sinilah artikelnya bisa menjadi lebih tajam:
Mungkin yang sedang kita lihat hari ini bukan kebangkitan kerajaan.
Bukan pula nostalgia masa lalu.
Melainkan upaya menjaga memori bahwa kawasan Barumun-Kotapinang-Mandailing pernah dibayangkan sebagai satu ruang peradaban yang saling terhubung.

Lalu pada bagian Labusel hari ini, kita masukkan gambaran yang lebih konkret:
• Kota Pinang sebagai pusat pemerintahan.
• Dominasi ekonomi sawit dan perkebunan.
• Tantangan hilirisasi ekonomi.
• Peluang generasi muda.
• Relasi antara institusi adat dan pemerintahan modern.

Jika dulu Raja Kotapinang dan para penguasa pedalaman memberi legitimasi kepada Sibaroar Nasakti melalui gelar Sutan Diaru untuk memperkuat kawasan, lalu seperti apa bentuk “Sutan Diaru” di abad ke-21 ini?
Apakah dalam wujud pembangunan kawasan regional? Pendidikan? Infrastruktur?

Ataukah kemampuan para pemimpin hari ini untuk menyatukan kembali kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan yang pernah terhubung oleh sejarah yang sama?***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3 Desa di Panyabungan Barat Belum Punya Kepala Desa?

    3 Desa di Panyabungan Barat Belum Punya Kepala Desa?

    • calendar_month Rabu, 24 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT (Mandailing Online) – Warga tiga desa di Kecamatan Panyabungan Barat mengaku belum memiliki pelaksana tugas kepala desa pasca berakhirnya priode kepala desa defenitif. Hal itu diadukan sekitar 15 orang perwakilan masyarakat dari  Desa Batang Gadis, Desa Saba Jior dan Desa Huta Baringin didampingi Camat Panyabungan Barat M.Amin kepada Komisi I DPRD Mandailing Natal […]

  • SRI dan BPGC Dampingi Petani Kopi

    SRI dan BPGC Dampingi Petani Kopi

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      ULU PUNGKUT (Mandailing Online) – Sumatra Rainforest Institute (SRI) dan Batang Pungkut Green Conservation (BPGC) melakukan pendampingan terhadap para petani kopi enam desa di Kecamatan Ulu Pungkyt dan kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina). Ke enam desa itu meliputi Desa Pagar Gunung, Aek Nangali,  Hatupangan, Hutagodang, Alahan Kae dan Desa Habincaran. Demikian disampaikan Direktur SRI, Rasyid Assaf […]

  • Generasi Stunting Tanggungjawab Negara, Bukan Beban

    Generasi Stunting Tanggungjawab Negara, Bukan Beban

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Intan Marfuah Aktivis Muslimah Pemerintah Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara berhasil mencapai nol kasus stunting berkat program Pemberian Makanan Bergizi (PMB) tambahan yang diluncurkan di berbagai desa. Camat Loa Kulu, Ardiansyah, mengungkapkan bahwa program PMB telah berjalan sejak Juni 2024 dan menjadi salah satu program andalan dalam upaya menurunkan angka stunting di Kutai Kartanegara. […]

  • Rombongan NNB Diamuk Massa

    Rombongan NNB Diamuk Massa

    • calendar_month Senin, 1 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tuntut Pelaku Ditangkap, Warga Sisipa Blokir Jalan Warga Desa Siloung, Sialang, dan Parindoan atau Sisipa, Kecamatan Batang Toru, Tapsel, memblokir jalan dengan mendirikan tenda dan menanam pohon karet, Minggu (31/7) pagi. Aksi ini menyebabkan kemacetan sekitar 3 kilometer selama 6 jam. Menurut Kades Sisipa Ikhlas Rambe, pemblokiran jalan tersebut merupakan buntut dari aksi pengeroyokan yang […]

  • Ribuan Warga Madina Dapat Sertifikat Tanah

    Ribuan Warga Madina Dapat Sertifikat Tanah

    • calendar_month Rabu, 22 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 1.000 lembar sertifikat tanah diterbitkan untuk masyarakat di sejumlah desa di Mandailing Natal (Madina). Masyarakat yang memperoleh sertifikat tanah itu antara lain Desa Banjar Aur Utara, Rantobi, Muara Parlampungan, Batu Sondat, Simpang Koje. Penyerahan secara simbolik dilakukan Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution dan Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution […]

  • Penerima Raskin di Panyabungan Dikutip Baiya Transpor

    Penerima Raskin di Panyabungan Dikutip Baiya Transpor

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Warga Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengeluhkan harga beras bagi keluarga miskin (Raskin) pada November 2010 sebesar Rp 2.000/kg. Padahal, harga sebelumnya Rp 1.600/kg. Naiknya harga karena warga dibebani biaya transportasi Rp 400/kg. “Kita merasa keberatan karena yang kita tahu harga Raskin hanya Rp 1.600/Kg. Kalau alasannya untuk biaya operasional […]

expand_less