STA dan Willem Iskander Diseminarkan
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tokoh bahasa Sutan Takdir Alisjahbana dan tokoh pendidikan abad 19 Sutan Iskandar alias Willem Iskander di seminarkan di Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Jum’at (19/6/2026).
Seminar berlangsung di aula Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Madina. Pesertanya dari berbagai kalangan: akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat dan profesi.
Diselenggarakan Dinas Sosial Madina bekerjasama dengan Gerep Institute (pusat kajian Mandailing), dibuka Sekertaris Daerah Kabupaten Madina Afrizal Nasution.
Drs. Askolani Nasution, budayawan yang juga penulis buku “Tata Bahasa Mandailing” tampil sebagai pemateri di seminar “Merintis Indonesia Modern, Jejak Pemikiran, Bahasa dan Kebudayaan Sutan Takdir Alisjahbana”.
Askolani dalam paparan mengurai Sutan Takdir Alisjahbana (STA) tentang episode sastra Melayu klasik, era Balai Pustaka dan lahirnya Pujangga Baru (1930-1933). Ketika tata bahasa Indonesia mulai tumbuh liar, STA menolak itu, berupaya mengembalikan ke tata bahasa semula.
STA lahir 1908 di Natal. Peletak pondasi Bahasa Indonesia (1936), menerbitkan buku “tata bahasa baru bahasa Indonesia”.
STA membongkar tata bahasa dan kosakata bahasa Indonesia agar bisa mengikuti perkembangan teknologi dan bahasa internasional lainnya.

Drs. Askolani Nasution saat menyampaikan materi tentang Sutan Takdir Alisjahbana.(Dok. Mandailing Online/Dahlan Batubara)
Sementara di seminar “Menelusuri Jejak Kepahlawanan Willem Iskander dalam Membangun Pendidikan dan Kesadaran Bangsa”, Patuan Mandailing Hasanul Arifin Nasution tampil sebagai pemateri.
Patuan Mandailing merupakan rumpun keluarga Willem Iskander.
Berdasar catatan pihak keluarga, Sati Nasution gelar Sutan Iskandar atau Willem Iskander memperoleh dididikan secara adat dan agama sejak remaja oleh Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar.
Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar selain sebagai seorang raja juga merupakan ulama terkemuka masa itu, dan menjadi salah satu figur penting bagi Sati Nasution.
Didikan secara adat dan agama itu membentuk karakter dan mental spritual Sati Nasution.
“Bahkan di pase remajanya Sati Nasution lebih banyak waktunya di Hutasiantar,” ujar Patuan Mandailing.
Di era Sutan Kumala Yang Dipertuan Hutasiantar itu Hutasiantar memiliki arah kebijakan pada adat, ilmu agama dan kemajuan.

Patuan Mandailing pemateri Willem Iskander (kiri). Dr. Datuk Imam Marzuki, M.A (kanan). (Dok. Mandailing Online/Dahlan Batubara)
Dr. Datuk Imam Marzuki, M.A tampil sebagai pembanding pada dua seminar tersebut.
Meski telah banyak data-data sejarah yang dapat dikumpul para sejarahwan, namun upaya-upaya penggalian masih harus terus dilakukan. Oleh karena itu, kata Datuk Marzuki, sudah banyak negara yang menggugat negara-negara kolonial agar mengembalikan manuskrip-manuskrip yang dibawa dan tersimpan di negara para penjajah.
Banyak daerah di Indonesia menghadapi kendala mengusulkan tokoh-tokoh pahlawan dari daerahnya akibat kekurangan data otentik, karena data-data penting dan naskah-naskah tersimpan di negara penjajah. (dab)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

