Jumat, 19 Jun 2026
light_mode

WILLEM TIDAK BUNUH DIRI, TAPI DIMATIKAN NARASI..!!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 2 menit yang lalu
  • print Cetak

 

(CATATAN BERHARGA DARI SEMINAR ILMIAH MENELUSURI JEJAK KEPAHLAWAN WILLEM ISKANDER DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN KESADARAN BANGSA)

 

Oleh : Moechtar Nasution*

 

Aula Lantai III Gedung Perkuliahan STAIN Mandailing Natal hari ini menjadi perbincangan di atmosfer sejarawan Indonesia. Dari sini terbit testimoni yang langsung mengoyak-oyak dan mematahkan semua stigma, desas-desus dan bisik-bisik negatif tentang tokoh sejarah kebanggan masyarakat Mandailing Natal. Suara keras dan tegas  Patuan Mandailing, salah satu narasumber seminar ini yang juga merupakan perwakilan keluarga besar Willem Iskander menghantam telinga seperti pukulan keras yang langsung menghantam jantung pusat produksi hoaks dan narasi sesat milik kolonial sejak ratusan tahun yang lalu hingga sekarang ini. Suara ini mendobrak sejarah. Luka lama itu diingatkan kembali, sebuah ingatan yang teramat perih untuk dikenang karena dibumbui pemutar-balikan fakta dan pembunuhan karakter terhadap Sati Nasution-glr Sutan Iskandar-yang kelak lebih dikenal dengan nama Willem Iskander.

Seminar ilmiah hari ini kerjasama Dinas Sosial, Perlindungan Anak dan Perempuan Madina dengan GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina) jelas bukan hanya urusan pemenuhan terhadap fortopolio pengajuan sebagai syarat pengajuan calon pahlawan nasional, bukan juga urusan formalitas akademis untuk mendapatkan sertifikat dengan sekian Jam Pelajaran (JP). Tidak…Jauh dari itu semua. Seminar ini adalah panggilan untuk menggugat narasi sejarah yang telah sekian purnama masih mengabadikan kebohongan demi kebohongan yang dilestarikan dalam berbagai persfektif kajian.

Dari aula ini lahir pengakuan yang mungkin besok atau lusa atau puluhan tahun nanti akan tetap diperdebatkan karena telah meruntuhkan tembok-tembok narasi pengebirian dalam memaknai seorang Sati Nasution. Jelas testimoni ini akan meretas atmosfir dunia kesejarahan karena yang berbicara adalah keluarga besar almarhum Willem Iskander yang makamnya pun di Belanda tidak diketahui persis lagi di mana letaknya. Kesimpulan seminar ini beliau bukan hanya layak tapi wajib diusulkan sebagai calon pahlawan nasional. Titik, dan tidak ada perdebatan lagi. Mau dibantah dengan apapun seminar telah menjawabnya lugas dan bertanggungjawab. Tanpa rekayasa dan settingan, peserta seminar dari budayawan, sejarawan, akademisi, birokrasi, mahasiswa, pemuda dan beberapa organisasi yang bergerak dalam profesi kependidikan dengan tanggung jawab terhadap masa depan bersepakat untuk memperjuangkan hal ini menjadi kenyataan.

Terlalu lama kita abai karena membiarkan kabut tebal menutupi fakta sejarah yang terungkap hari ini. Cukuplah makam tokoh pelopor ini saja yang tidak diketahui pasti, jangan tambahi dosa ini lagi dengan menutupi makam pemikirannya dengan sikap tidak peduli dan “gutgut”mu itu.

Hari ini di aula itu, jeritan ketidakadilan itu akhirnya pecah jadi perdebatan dan penegasan. Suasana yang biasanya kaku dan formal berubah total, cair seketika. “Kami  bukan untuk mengemis pengakuan  dengan tangan menengadah seolah-olah kami butuh belas kasihan mereka tapi kami datang untuk menuntut hak sejarah tokoh besar kami yang sudah terlanjur dirampas selama ini” tegas Patuan Mandailing dengan mata berbinar dan suara serak. Statemen yang membakar nalar, logika, dan emosi.

Bukan itu saja, beliau juga membedah habis dinding-dinding keraguan yang sengaja ditiupkan selama ini oleh pihak-pihak tertentu. Beliau menegaskan bahwa semua kontroversi yang mengelilingi kisah perjuangan Willem Iskander selama di Eropa sebenarnya tak lebih dari bentuk manipulatif kolonial dengan maksud dan tujuan tertentu. Penjajah kan selalu punya cara licik untuk mematikan karakter para pejuang pribumi agar generasinya kehilangan teladan. Isu sensitif mengenai status keagamaan dan akhir hayatnya pun dipatahkan dengan argumen yang sangat rasional dari atas podium. “Boleh saja orang berargumen bahwa dia menjadi kristiani dan mati bunuh diri, tapi sedikit pun kami sama sekali tidak mempercayainya,” tegasnya dengan suara yang bergetar di depan forum dengan mata menghunus kedepan.

Seingat saya inilah pertama kalinya keluarga besar Sati Nasution berbicara di forum ilmiah. Masih dengan semangat yang sama seperti semangatnya Sati Nasution saat berhadapan dengan para pembesar kolonial di Batavia, Patuan Mandailing juga begitu. “Kenapa kami yakin” tanyanya  sembari menjawabnya sendiri ‘karena kamilah keluarganya yang tahu persis siapa Sati Nasution itu”. Setelah acara selesai saya kembali pertegas ini dan dijawabnya dengan lugas bahwa cerita tentang Willem Iskander ini “dituturkan dengan penuh kearifan oleh para tetua kami dari generasi ke generasi karena hanya dia yang melanjutkan sekolah sampai ke Belanda. Cerita ini tetap awet dan terpelihara dengan baik dalam keluarga besar kami hingga hari ini” jelasnya.

Jawaban ini nyata telak mengalahkan seribu pertanyaan yang selama ini seperti tersumbat dalam tenggorokan sejarah. Logikanya sederhana saja namun logis dan rasional. Dari mana dia  bisa mendapatkan senjata api?? Padahal sebagai seorang pribumi yang berada di tanah penjajah, gerak-gerik beliau jelas selalu diawasi dengan ketat. Apakah di Eropa saat itu mendapatkan senjata semudah membalikkan telapak tangan, padahal saat itu beliau sama sekali tidak memiliki akses privilege ke semua lini kekuasaan??

Tentu saja bagi keluarga, dan bagi kita yang mau berpikir jernih, aneka pertanyaan ganjil ini adalah bukti telanjang. Ini hanyalah settingan opini dari pihak kolonial untuk “menjebak” Willem Iskander dalam narasi sesat yang irasional. Mengapa Belanda tega melakukan itu? Jawabannya sederhana: karena Willem tidak patuh. Beliau menolak keras tunduk pada semua desain dan skenario yang akan dikerjasamakan dengannya setelah pulang kembali ke Hindia Belanda. Karena ketidakpatuhan itulah, namanya harus dihancurkan lewat pembunuhan karakter atau character assassination yang teramat keji. Melalui pembunuhan karakter inilah kolonial Belanda sengaja menyuntikkan racun ke dalam memori publik, agar generasi berikutnya merasa malu dan enggan mengingat sosok Sati Nasution sebagai sang pembebas nalar Mandailing.

Tesis pembunuhan karakter ini bukan sekadar luapan emosi keluarga, melainkan sebuah hipotesis ilmiah yang kokoh dalam arus dekolonisasi sejarah. Almarhum Basyral Hamidy Harahap, sejarawan kawakan yang mendedikasikan hidupnya meluruskan sejarah ini, dalam bukunya Peranan Willem Iskander dalam Pembaharuan (1986) secara konsisten membongkar kekeliruan akut tersebut . Beliau mengingatkan bahwa rujukan masa lalu yang menyudutkan Willem sering kali sarat akan distorsi informasi kolonial.

Dan itu benar, selama empat tahun saya  bergelut dengan kearsipan. Setiap arsip tidak boleh ditelan mentah-mentah sebagai kebenaran mutlak karena setiap yang menciptakan arsip pasti memiliki kepentingan. Ada metodologi untuk memastikan otensifikasinya dan seterusnya dan seterusnya. Hal ini juga berlaku dalam dunia penulisan sejarah. Bukankah selalu pemenang yang akan menentukan jalannya sejarah. Bisa disimpulkan bahwa pendapat keluarga ini berdiri di atas kesadaran sejarah yang mumpuni karena dimana-manapun narasi Barat mengenai tokoh pribumi adalah formula standar psychological warfare (perang psikologis) kolonial untuk merubuhkan moral para pejuang dan pengikutnya seperti dalam konteks Willem Iskander yang kerap dinarasikan mati bunuh diri karena depresi. Ini politik kolonial yang jahat…!!!

Tujuannya tidak lain memotong suksesi ideologi gerakan literasi yang lahir dari rahim Kweekschool Tanobato sebelum ia sempat membesar. Sikap kritis Patuan Mandailing ini sebenarnya sudah sejalan dengan teori besar historiografi yang dikemukakan oleh para pemikir pascakolonial Barat sendiri. Edward Said dalam karya monumentalnya, Orientalism (1978), secara gamblang memaparkan bagaimana institusi Barat sengaja memproduksi pengetahuan yang dimanipulasi untuk melemahkan karakter serta menjinakkan mentalitas bangsa-bangsa Timur yang membangkang. Melalui Orientalism, Said menunjukkan bahwa stigmatisasi ini bukan sekadar prasangka pribadi, melainkan sebuah alat kekuasaan terstruktur yang dirancang untuk mempertahankan dominasi imperialisme dengan cara meruntuhkan kredibilitas moral para pejuang.

Sejalan dengan itu, sejarawan pascakolonial Ranajit Guha dalam magnum opus-nya, Elementary Aspects of Peasant Insurgency in Colonial India (1983), secara mendalam membongkar bagaimana penguasa kolonial melakukan kriminalisasi dan delegitimasi secara sistematis untuk merusak citra para pejuang kemerdekaan atau pemberontak nalar. Guha menegaskan bahwa dokumen primer buatan birokrat kolonial selalu menderita bias akut karena ditulis dari sudut pandang “kontra-pemberontakan”. Kematian para pemikir pribumi sengaja dibingkai sebagai tindakan keputusasaan, kegilaan personal, atau aib moral demi menyembunyikan fakta ketakutan sistemik pemerintah kolonial terhadap bangkitnya kesadaran nalar masyarakat jajahan.

Melihat aula STAIN Madina hari ini, saya rasa Willem di atas sana sudah bisa tersenyum sedikit. Setidaknya, dia melihat generasinya sekarang yang terpaut jauh masa dan umurnya sudah mulai bangun dari tidur panjang dan sudah mulai menggeliat sedikit, berani bersuara, dan mencoba menghidupkan lagi ingatan tentang dirinya di tengah masyarakat yang selama ini apatis terhadap perjuangannya. Pertemuan ini membuktikan kalau air mata dan darah intelektual yang dia tumpahkan dulu tidak menguap sia-sia. Kita ini sedang belajar tahu diri…!!

Seminar memang sudah bubar, tapi bola api yang dilemparkan dari STAIN Madina sekarang menggelinding panas ke mana-mana utamanya menohok para pemuja narasi sesat tentang kematian Willem Iskander. Dan secara birokrasi, hasil seminar ini akan menyinggahi meja kerja para pejabat hingga sampai ke kementerian di Jakarta  jika semua mulus dan terencana. Tugas kemanusiaan sekarang adalah mengawal proses ini, jangan sampai perjuangan hari ini berakhir jadi arsip berdebu di laci kantor pemerintah.

Suara dari Madina sudah membahana, menggelar dan membelah langit kesadaran. Mengabaikan Willem Iskander setelah hari ini sama saja dengan mengkhianati sejarah literasi bangsa kita sendiri. Sati Nasution sudah menuntaskan tugasnya mencerdaskan tanah ini. Sekarang bolanya ada di tangan kita: mau jadi bangsa yang tahu cara menghormati guru, atau tetap nyaman menjadi manusia pelupa yang buta sejarah? Wallahu Aqlam Bissawab…

*Penulis adalah ASN pada Dinas Pariwisata Madina dan Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • nternet Alat Bantu Proses Belajar Mengajar

    nternet Alat Bantu Proses Belajar Mengajar

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Pinondang Situmorang SS SPd Guru SMP/SMA WR Supratman 2 Medan Pergeseran yang mengarah pada perubahan paradigma pendidikan sekarang ini berpengaruh pada metode dan strategi pembelajaran. Sebagian besar peserta didik sekarang ini telah belajar melalui internet ataupun media elektronik lainnya, yang merupakan alat bantu mempercepat proses untuk memperoleh informasi ataupun ilmu pengetahuan. Hal ini, akan […]

  • Kementerian PU Diminta Turun

    Kementerian PU Diminta Turun

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Walikota Medan Rahudman Harahap memohon kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk segera menurunkan tim guna mengkaji kelayakan jembatan layang (fly over) Pulo Brayan. Dikhawatirkan, kebakaran beberapa hari lalu mempengaruhi kekuatan konstruksi jembatan. “Berdasarkan informasi dari Kadishub Kota Medan, daya tampung jembatan ini adalah 40 ton. Tapi berhubung kebakaran terjadi, daya tampung kenderaan yang melewati jembatan […]

  • Harga Gula Pasir Memanis, Disperindag Madina Akui Kenaikan Masih Wajar

    Harga Gula Pasir Memanis, Disperindag Madina Akui Kenaikan Masih Wajar

    • calendar_month Kamis, 12 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- di Mandailing Natal ( Madina ), harga gula pasir diam diam memanis, para pedagang dipusat pasar baru panyabungan mengaku tidak tau apa paktor penyebab kenaikan harga gula pasir ini. “,segala jenis gula pasir harganya naik, kalau ditanya kenapa harga naik, kami tidak tau, karena di Madina tidak ada distributor gula pasir […]

  • Kepala Sekolah Berkualitas Dipecat, Warga Protes Pemkab Madina

    Kepala Sekolah Berkualitas Dipecat, Warga Protes Pemkab Madina

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online)  – Inilah akibatnya jika kepala sekolah yang berkualitas diganti oleh pemerintah daerah dan digantikan oleh orang lain yang belum tentu berkualitas. Warga pun memprotes dan menyalahkan Pemkab Mandailing Natal (Madina) yang dinilai tak mau mempertahankan kepala sekolah bermutu. “Ibu kepala sekolah Dorima sudah serasi bagi kami dan sudah sesuai dengan harapan […]

  • FPI Ancam Tindak Greenpeace

    FPI Ancam Tindak Greenpeace

    • calendar_month Minggu, 21 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta – Dewan Pimpinan Daerah Front Pembela Islam DKI Jakarta mengancam akan mengambil langkah tegas terhadap LSM asing Greenpeace, jika pemerintah tidak menindaknya. “Greenpeace sebagai LSM asing jelas sudah melanggar hukum. Pemerintah harus tegas,” kata Ketua DPD FPI DKI Jakarta, Habib Salim Alatas, di Jakarta, Selasa. Menurut Habib Selon, panggilan akrab Habib Salim Alatas, FPI […]

  • Gaja Do Napagaja, Landung Natarkapit

    Gaja Do Napagaja, Landung Natarkapit

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Songon nabiaso alak dikampung pula dung loja-loja marusaho tontu les natulopo ujungna maradian sareto giot laos manyirup-nyirup kopi paet. Songoni mada disada maso ima topekma diari Salasa dilopo nisi Jakombang, bahat ma tarpaida alak namarkumpul palidang-lidang pat dilopo i. Sareto diari I bahat alak dihutai mandung mandaek sarojitana pastimei mandung cerah ma nida parboi nialak […]

expand_less