Bandara AH Nasution: Momentum Kebangkitan Tabagsel Menuju Daerah Maju
- account_circle Irwan Daulay
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak
Oleh: Irwan Daulay
Pemerhati Ekonomi & Pembangunan

Pesawat Wings Air mendarat di Bandara Abdul Haris Nasution, Jum’at (1/8/2026). Ini penerbangan perdana pesawat jenis ATR tersebut untuk rute Medan (KNO) – Madina (AHN).
…
Pembangunan Bandara AH Nasution merupakan salah satu tonggak sejarah penting bagi Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Gagasan awal bandara ini dirancang oleh Bapak Amru Daulay sebagai upaya membuka keterisolasian wilayah Tabagsel melalui konektivitas udara dengan berbagai daerah di Indonesia, bahkan ke luar negeri. Bandara ini juga diharapkan menjadi pintu gerbang bagi kemudahan mobilitas masyarakat, termasuk untuk perjalanan ibadah haji dan umrah, dunia usaha, pendidikan, kesehatan, serta sektor pariwisata.
Gagasan besar tersebut kemudian diwujudkan melalui kerja keras Bapak Dahlan Nasution dengan dukungan penuh Bapak Darmin Nasution dan Bapak Todung Mulya Lubis. Pada masa kepemimpinan Bupati Sukhairi Nasution, pembangunan fisik bandara berhasil dirampungkan hingga 100 persen, dan pada masa Bupati saat ini bandara mulai dioperasikan. Keberhasilan ini patut diapresiasi sebagai hasil estafet kepemimpinan yang menunjukkan bahwa pembangunan daerah memerlukan kesinambungan, bukan sekadar keberhasilan satu periode pemerintahan.
Namun, pengoperasian bandara bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal dari pembangunan yang lebih besar. Tahapan berikutnya adalah menyusun rencana pengembangan jangka panjang agar Bandara AH Nasution mampu didarati pesawat bermesin jet berbadan sedang hingga berbadan lebar. Untuk itu diperlukan perpanjangan dan peningkatan kualitas runway, penyempurnaan fasilitas navigasi penerbangan, terminal, kawasan logistik, serta infrastruktur pendukung lainnya.

Irwan Daulay
Bandara ini juga harus terhubung dengan sistem transportasi darat yang terintegrasi sehingga dapat berfungsi sebagai pusat konektivitas (hub) bagi wilayah Tabagsel di Sumut, Sumatera Barat dan sebagian Provinsi Riau. Mobilitas orang dan barang yang semakin cepat akan menurunkan biaya logistik, meningkatkan daya saing investasi, serta memperluas akses pasar bagi hasil pertanian, perkebunan, pertambangan, dan industri pengolahan.
Karena itu, salah satu proyek strategis yang layak diperjuangkan kepada Pemerintah Pusat adalah pembangunan jalur kereta api lintas Pantai Barat yang menghubungkan Labuhanbatu–Tabagsel–Pariaman dan terintegrasi dengan Bandara AH Nasution. Di samping itu, percepatan pembangunan jalan Panyabungan Timur–Padang Lawas serta Panyabungan–Muara Batang Gadis juga menjadi kebutuhan mendesak untuk membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Namun pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa infrastruktur saja tidak otomatis melahirkan kemajuan ekonomi. Jalan, pelabuhan, bandara, dan rel kereta api hanya akan menjadi pengungkit apabila diikuti dengan strategi industrialisasi dan investasi yang jelas. Karena itu, para kepala daerah di Tabagsel perlu menyusun Business Plan bersama sebagai peta jalan pembangunan kawasan ekonomi regional.
Tabagsel memiliki modal yang sangat besar. Wilayah ini kaya akan komoditas pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, pertambangan, energi, serta memiliki potensi pariwisata alam dan budaya yang belum tergarap optimal. Letaknya juga sangat strategis sebagai penghubung Pantai Barat Sumatera dengan jalur ekonomi Sumatera bagian timur. Jika seluruh potensi tersebut diintegrasikan melalui kawasan industri, pusat logistik, hilirisasi komoditas, dan pengembangan UMKM modern, maka Tabagsel berpeluang menjadi salah satu koridor pertumbuhan ekonomi baru di Pulau Sumatera.
Keberhasilan itu tentu memerlukan perencanaan yang visioner, melibatkan para ahli, akademisi, dunia usaha, dan pemerintah secara terpadu. Pemerintah daerah juga harus mampu menciptakan iklim investasi yang sehat melalui penyederhanaan perizinan, kepastian hukum, keamanan berusaha, penyediaan lahan industri, utilitas yang memadai, serta dukungan sumber daya manusia yang kompeten.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah daerah tidak lagi hanya bergantung pada APBD maupun Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. APBD seharusnya diposisikan sebagai pemicu (trigger) untuk menarik investasi swasta, BUMN, dan investor internasional. Daerah-daerah maju di dunia umumnya bertumbuh karena mampu menggerakkan investasi produktif, bukan semata-mata mengandalkan belanja pemerintah.
Seluruh prasyarat menuju daerah maju sesungguhnya telah dimiliki Tabagsel: sumber daya alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis, jumlah penduduk dan sumber daya manusia yang memadai, serta kini didukung oleh keberadaan Bandara AH Nasution. Yang dibutuhkan adalah keberanian menyusun visi besar, konsistensi menjalankan pembangunan lintas periode, dan semangat bekerja keras secara bersama-sama.
Apabila seluruh kekuatan tersebut mampu dikelola secara profesional dan berkelanjutan, maka Bandara AH Nasution bukan sekadar fasilitas transportasi udara, melainkan akan menjadi simbol kebangkitan ekonomi Tabagsel dan pintu masuk lahirnya pusat pertumbuhan baru di Pulau Sumatera. ***
- Penulis: Irwan Daulay
- Editor: Dahlan Batubara

