Selasa, 7 Jul 2026
light_mode

Tano Sere dan Manggore

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • print Cetak

 

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Sejarah telah membuktikan bahwa sungai amat erat hubungannya dengan kehidupan manusia sebagai sumber peradaban utama. Di mana ada aliran sungai besar, maka bisa dipastikan sebuah peradaban megah akan lahir di tepiannya. Begitupun dengan takdir sejarah Mandailing Natal yang memiliki deretan peninggalan purbakala sebagai saksi dan bukti bahwa daerah aliran sungai purba di sini pernah menjadi pusat kosmopolitan yang sangat maju pada abad ke-8 hingga ke-12 masehi. Situs Candi Biaro Pidoli dan Candi Simangambat di Siabu konon dahulu posisinya berhadapan langsung dengan wilayah tangkapan air sungai purba. Bagi para ahli hal ini mengonfirmasi sebuah teori penting tentang tata ruang peradaban air di masa lalu bahwa leluhur Mandailing kuno mendirikan pusat spiritual, pusat politik, dan pasar komoditas selalu berdekatan dengan dermaga sungai. Sungai besar di masa itu berfungsi sebagai sarana penghubung daerah pedalaman Mandailing langsung ke jaringan perdagangan global, membawa komoditas legendaris seperti hasil hutan, kemenyan, dan tentu saja butiran emas murni ke pelabuhan

Banyak  “huta” untuk pertama kalinya lahir di pinggiran sungai. Ini sangat besar pengaruhnya bagi munculnya kehidupan masyarakat adat Mandailing yang mengagungkan sungai sebagai sumber kehidupan utamanya dalam perekonomian. Sungai menjadi “roh” yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat . Ini dapat dilihat dari banyaknya pantun bahasa Mandailing yang menggunakan kata “Aek” sebagai ungkapan yang dipergunakan untuk memberi nasehat, cerita kebahagiaan, untuk “marpokat” dan yang lainnya. Sungai buat orang Mandailing zaman dulu itu bukan cuma sekadar pajangan alam atau pembatas wilayah yang sepi. Sungai itu justru jadi pusatnya kehidupan, tempat bertemunya tradisi lisan, hukum adat, jalan transportasi, sampai jadi cermin kesucian spiritual untuk sebuah kampung. Sungai sangat memegang peran yang penting, stretegis dan vital bagi masyarakat .

Coba ingat lagi cerita dari para tetua kita tentang kesuburan tanah Mandailing dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya sehingga dikenal dengan “tano sere”. Tano Sere yang berarti Tanah Emas bukan sekadar julukan puitis, melainkan sebuah rekaman sejarah riil tentang kekayaan geologis dan falsafah hidup masyarakat Mandailing yang sudah diakui dunia sejak ribuan tahun lalu. Bahkan hampir di semua aliran sungai besar yang membelah bumi Mandailing mulai dari wilayah Mandailing Julu sampai ke daerah hilir mengandung emas, sehingga dari dahulu aktivitas perekonomian berupa mendulang emas tradisional atau “manggore” itu ramai sekali dan jadi urat nadi kebudayaan yang hidup.

Kalau mau dikaji dari sisi kebudayaan yang lebih dalam, ungkapan “Tano Sere” sebetulnya adalah sebuah ungkapan magis yang semestinya menjadi cemeti spiritual bagi setiap generasi untuk bertindak sebagai seorang “kurator” dalam peradaban. Seorang kurator bertugas merawat, menyeleksi, menjaga orisinalitas, dan memastikan bahwa warisan yang berharga tersebut tidak rusak atau punah ditelan zaman begitu saja. Dalam rekam sejarah, para Raja Mandailing di masa lalu telah mencontohkan tindakan kuratorial ini dengan sangat agung. Dari balik tiang-tiang panggung yang kokoh dan berwibawa di Bagas Godang, para penguasa adat itu sama sekali tidak pernah menyuruh rakyatnya untuk menggali atau mengeruk emas habis-habisan. Padahal, lewat titah kekuasaannya, semua bisa saja terjadi karena raja-raja itu jug mengetahui persis kalau tanah Mandailing yang mereka pimpin itu isinya mengandung emas.

Di sinilah letak analisis budaya yang paling mahal, para raja dahulu sadar kalau kedaulatan seorang penguasa tidak diukur dari seberapa banyak emas yang berhasil disimpan di gudang istana, melainkan dari seberapa makmur dan jernihnya ruang hidup yang diwariskan ke generasi anak cucu. Mereka tahu kalau nafsu keserakahan manusia itu seperti api yang jika dikasih umpan emas sedikit saja bakal membakar habis satu peradaban. Makanya, kekuasaan politik adat saat itu dipakai bukan sebagai alat eksploitasi, tapi justru menjadi benteng pertahanan ekologi.

Dari dalam Bagas Godang, para raja dan tetua adat menetapkan aturan ketat yang membingkai potensi kekayaan alam tersebut lewat cara yang sangat halus dan penuh seni. Emas atau sere tidak cuma dilihat sebagai barang dagangan untuk memuaskan ketamakan, tapi diangkat jadi simbol kesucian jiwa yang bermartabat, bersih dan penuh keikhlasan hidup. Menyebut tanah ini sebagai Tano Sere adalah cambuk peringatan kultural agar ruang hidup yang pernah mereka tinggali dahulu harus dikuratori kemurniannya laksana emas murni. Lewat tradisi “manggore”, leluhur kita dengan jenius mengubah pencarian harta yang keras menjadi sebuah seni dalam menjalani hidup yang penuh etika. Di mana manusia bisa mengambil rezeki dari bumi secukupnya termasuk di sungai tanpa harus merusak kesuciannya sehingga meninggalkan kebaikan, ketenangan, kedamaian dan juga ketauladanan untuk generasi ratusan tahun ke depan.

Tradisi “manggore” dalam pemikiran saya sengaja diciptakan oleh adat untuk melatih masyarakat supaya bisa menahan diri dari nafsu keserakahan. Pemilihan bahan kayu bulat “ceper” yang dinamai gore—dan bukannya memakai alat besi yang tajam adalah pesan simbolis tentang kelembutan dan keterbatasan yang sengaja dikunci. Ritme mengayak yang pelan-pelan di atas riak air itu memaksa manusia untuk menurunkan ego, bergerak pasrah mengikuti kecepatan arus alam, dan bukan memaksa sungai mengikuti kecepatan nafsu sendiri. Ini baru namanya contoh nyata dari sebuah keyakinan kuno kalau jiwa manusia dan keseimbangan alam itu musti jalan beriringan dalam keharmonisan.

Saat tangan manusia meraba pasir di dasar sungai secara langsung dengan jemari sendiri, itu akan menciptakan kedekatan sensorik yang membuat batin manusia tetap akrab dengan alamnya. Makanya aktivitas mencari emas ini dahulu dikerjakan di waktu-waktu santai, seperti saat habis panen sawah atau  sore-sore sambil mandi di sungai sepulang dari ladang. Nilai sakral emas sengaja diturunkan supaya menjadi sesuatu yang karib, bersahabat dan intim dengan keseharian. Tujuannya supaya emas ini tidak memiliki daya pikat untuk meruntuhkan sekaligus merusak tatanan sosial, sekaligus juga menjamin keadilan bagi anak cucu di masa yang akan datang supaya tetap bisa melihat aliran emas dan kejernihan air sungai yang tidak habis diperas oleh keserakahan satu generasi saja. Tidak ada catatan sejarah di masa lalu yang menceritakan perang antar wilayah untuk memperebutkan daerah yang mengandung emas.

Lebih dari sekadar urusan menjaga alam, kehidupan sungai yang ditempa dengan tradisi “manggore” ini terbukti sudah jadi rahim sejarah yang melahirkan orang hebat di bangsa ini. Ada ikatan budaya yang kuat antara karakter menahan diri, kesabaran saat mendulang, dan ketajaman berpikir yang mengalir serta jernihnya air sungai. Bukti nyatanya itu kelihatan jelas saat awal-awal sejarah berdirinya Republik Indonesia. Dari tepi sungai Mandailing yang penuh kearifan ini, lahir sosok Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, salah satu dari tiga jenderal bintang lima dalam sejarah militer Indonesia. Waktu kecil dulu, sang jenderal besar ini tumbuh dan besar di Hutapungkut wilayah yang dilewati sungai-sungai jernih dari Pegunungan Bukit Barisan. Bacalah beberapa buku karangannya akan terlihat bagaimana karakter kepemimpinan Jenderal Nasution yang selalu tenang, kejernihan berpikir, dan teguh memegang prinsip, dan selalu mengutamakan kepentingan bangsa nomor satu.

Bagi saya ini sebenarnya adalah cerminan dari watak peradaban sungai yang membesarkannya. Beliau dididik dengan lingkungan budaya yang secara tidak  langsung mengajarkan bahwa memperjuangkan kemerdekaan membutuhkan mentalitas orang yang mendulang emas, selalu semangat, berkorban, penuh keikhlasan, tahan dengan kesunyian, dan menolak keras cara-cara instan yang bisa merusak tatanan kehidupan.

Secara sains sederhana, “manggore” yang membudaya di sungai-sungai besar ini adalah bentuk kecerdasan lokal yang sangat bersahabat dengan alam dan cocok dengan struktur air sungai. Dengan modal piringan kayu gore itu saja, para pendulang bisa mengandalkan hukum fisika biasa. Mereka menyelam sendiri pakai tangan kosong, mengambil sedimen pasir bawah air, terus digoyang-goyangkan di atas permukaan air. Karena massa jenis bijih emas itu jauh lebih berat daripada pasir biasa, maka butiran pasir yang ringan bakal hanyut sendiri terbawa arus, sedangkan serpihan kuning berkilau yang berharga tetap akan tinggal dengan aman di cekungan kayu. Sangat sederhana, tidak ada yang tersakiti dan menyakiti serta sama sekali tidak merusak lingkungan sungai sedikit pun.

Menariknya, kaitan erat antara spiritualitas sungai, sejarah emas, dan pembentukan watak sosial masyarakat lokal ini juga dikaji secara mendalam oleh antropolog dan peneliti lokal Mandailing, Zulkifli Lubis. Dalam bukunya yang berjudul Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Di Mandailing, ia memaparkan analisis tajam bahwa bagi orang Mandailing kuno, lingkungan alam seperti perairan sungai bukanlah objek pasif yang bisa dieksploitasi sesuka hati, melainkan sebuah ruang sakral yang diatur oleh pranata nilai adat yang sangat ketat. Zulkifli Lubis menegaskan bahwa tradisi semacam mendulang manual ini sebetulnya berfungsi sebagai mekanisme kendali sosial agar keseimbangan ekologi tetap terjaga lintas generasi. Keindahan dan keteraturan hidup inilah yang bikin “manggore” masuk dalam ingatan karya sastra kita. Sastrawan legendaris asal Kotanopan, Rayani Sriwidodo, dalam buku-buku dokumentasi budayanya sering sekali memotret “manggore” sebagai bagian dari keharmonisan hidup yang penuh rasa syukur, sama khidmatnya seperti  orang yang bersawah atau marsaba.

Malah di tahun 2025, getaran spiritual antara manusia, emas, dan sungai ini sempat diangkat jadi karya seni tinggi oleh budayawan terkemuka kita,  Drs. Muhammad Bakhsan Parinduri atau yang sering pakai nama pena Jasinaloan. Lewat sanggar tari miliknya, beliau pernah mementaskan mahakarya “Tor-Tor Manggore” dan tor-tor lainnya di Alahan Kae, Ulu Pungkut. Setiap gerakan penari yang meniru tangan orang lagi memutar gore di air adalah pesan kalau menjemput rezeki itu musti penuh kelembutan, agar air sungai tetap jernih untuk diwariskan ke generasi esok.

Tapi jika di lihat kenyataan hari ini, romansa kedamaian peradaban sungai yang dulu terkenal rasanya sudah hilang tanpa bekas. Ada rasa sedih dan galau yang mendalam setiap kali melihat Sungai Batang Gadis belakangan ini. Pertanyan yang kerap muncul, apakah aktivitas “manggore” yang bersahaja itu sekarang masih tersisa di suatu tempat, atau apakah sebenarnya sudah mati total?

Saya dan kawan-kawan penggiat GEREP INSTITUTE mencoba menganalisa fenomena tambang illegal ini di malam minggu yang lalu ditemani pisang goreng dengan minuman air putih. Saya sepakat kemungkian besar tradisi yang usianya sudah ratusan tahun ini terpaksa dan dipaksa menyerah di tengah kepungan mesin-mesin besi modern. Jika itupun masih ada, dipastikan sudah tidak terlalu banyak penggunanya. Suara gemericik air yang damai dan sunyinya kayuhan gore sekarang tenggelam oleh deru “beko” yang saling bersahutan dengan raungan mesin sedot bertenaga solar yang dijuluki “dompeng”.

Bagi saya yang lahir dan besar melihat keindahan tanah ini, raungan bising itu terdengar mengerikan, seolah-olah mesin-mesin itu sedang merobek paksa warisan suci kakek-nenek kita. Di tengah hiruk-pikuk mesin yang bisingnya mungkin melebihi suara knalpot di jalanan ibukota, piringan kayu warisan leluhur kita itupun sepertinya suatu saat nanti akan hilang ditelan bumi.

Fungsi kita sebagai “kurator” peradaban runtuh seketika, dan warisan budaya antar generasi putus dalam sekejap mata. Dampak budayanya akan sangat jauh mengerikan bagi generasi Mandailing di masa depan, karena anak cucu kita nanti kemungkinan besar tidak akan  pernah lagi melihat wujud asli dari “manggore” tersebut. Praktik luhur ini terancam punah dari kenyataan hidup, bergeser dari kebiasaan yang nyata jadi cuma sekadar tulisan mati di buku-buku, atau cuma jadi gerakan tari-tarian di panggung yang sudah kehilangan makna aslinya atau juga hanya akan diketemukan dalam cerita-cerita romantisme dan mitos masa lalu tanpa pernah mereka bisa memahami bagaimana rasanya menyatu dengan ritme kejernihan air sungai.

Jika peradaban sungai telah hancur, maka dipastikan dampaknya akan berdampak dalam kehidupan manusia. Dampak buruk dari hadirnya “beko” dan “dompeng” yang agresif ini sudah teramat sering sekali dikupas dalam ribuan artikel, esai, atau laporan lingkungan di luar sana. Makanya di tulisan ini saya rasa tidak perlu lagi menjabarkan panjang lebar soal kerusakan fisik yang hitung-hitungannya sudah kita ketahui bersama. Ancaman yang paling besar sebenarnya kita hadapi dewasa ini  dan berdampak jauh di atas kerusakan alam adalah matinya kemanusian.

Kita sama sekali tidak menolak kemajuan zaman atau antipati dengan teknologi akan tetapi jika itu dipergunakan untuk memutus mata rantai kehidupan manusia dengan alam jelas kita akan menolak. Dan jika itu yang terjadi terus menerus maka ini sama saja artinya “tano sere” itu tidak membawa keberkahan kecuali hanya kenikmatan sesaat. Dan itu mengandung makna bahwa secara sadar kita sedang mengubur masa depan generasi berikutnya dan bukan hanya sekedar membuat liang kubur semata.

Sesekali cobalah tundukkan kepala melihat bumi dan pandanglah sungai itu dengan penuh kedamaian, mungkin engkau akan menemukan ‘kehangatan’ milik para leluhur kita terdahulu.  Insya Allah. ***

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pupuk Terlambat, Panen Padi Diperkirakan Merosot

    Pupuk Terlambat, Panen Padi Diperkirakan Merosot

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Para petani di Siabu, Mandailing Natal dongkol. Pasalnya, hasil panen di musim tanam ini akan merosot akibat keterlambatan pendistribusian pupuk ke tingkat petani. “Waktu diperlukan pupuk tak ada. Ehh, menjelang padi berbulir pupuk pun dayang. Untuk apa lagi itu. Terlambat sudah.!!!!!,” kata Juan, (38), petani di Desa Huraba Kecamatan Siabu, Rabu […]

  • Di Desa Terisolir, Raskin Bukan Beras Miskin

    Di Desa Terisolir, Raskin Bukan Beras Miskin

    • calendar_month Senin, 9 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailig Online) –  Beras miskin kadang tak lah menjadi beras miskin, terutama bagi penduduk di desa terisolir. Beras miskin untuk Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal sudah masuk pekan lalu. Tetapi penduduk miskin harus mengeluarkan ongkos ojek sebesar 1.000 rupiah per kilo gram. Penduuduk miskin di desa-desa terisolir harus memakai jasa ojek mengangkut […]

  • KPK Tahan Mantan Dirut PLN

    KPK Tahan Mantan Dirut PLN

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya mengambil langkah tegas terkait pengembangan penyidikan kasus korupsi dalam pengadaan Roll Out Costumer Information System- Rencana Induk Sistem Informasi (CIS-RISI) pada PT PLN (Persero) distribusi Jakarta Raya dan Tangerang. Setelah lebih dari setahun menetapkan Mantan Dirut PT PLN Eddie Widiono sebagai tersangka, lembaga antikorupsi tersebut melakukan penahanan terhadap yang […]

  • Antisipasi Banjir, Warga Minta Sungai Aek Mata Panyabungan di Dikeruk

    Antisipasi Banjir, Warga Minta Sungai Aek Mata Panyabungan di Dikeruk

    • calendar_month Selasa, 10 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Diawal  musim penghujan ini, warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai aek mata mulai khawatir banjir, kekawatiran itu akibat terjadinya pendangkalan dan tunpukan sampah di sungai aek mata. Memang ketika musim penghujan tiba, sejumlah pemukiman warga di sepanjang sungai aek mata selalu menjadi langganan banjir. Ini yang membuat Sobir warga pasar […]

  • Hikma Sumut Gelar Konferda VI

    Hikma Sumut Gelar Konferda VI

    • calendar_month Senin, 23 Apr 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Konfrensi Daerah (Konferda) VI Himpunan Keluarga Besar Mandailing (Hikma) Sumut berlangsung 23-25 April 2018 di Asrama Haji Medan. Sekitar 21 Pengurus Pimpinan Daerah Hikma se-Sumatera Utara dengan jumlah peserta sekitar 400 orang hadir mensukseskan Konferda. Sebelumnya, pada Minggu kemarin, Ketua Umum PD Hikma sumut H Aswin Parinduri SH berharap Hikma mampu […]

  • Oknum Guru Cabuli Siswi

    Oknum Guru Cabuli Siswi

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Seorang oknum guru berinisial K (28), yang mengajar di salah satu sekolah swasta setingkat SMP di Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal mencabuli siswinya sebut saja Bunga (16), yang saat ini duduk di kelas tiga. Perbuatan asusila tersebut dilakukan warga Kelurahan Simangambat, Kecamatan Siabu ini sebanyak lima kali di sebuah gubuk kebun rambutan milik ortu […]

expand_less