Gerep Institute dan Tawaran MEP (Bukan MOVE!) untuk Madina
- account_circle M. Ludfan Nasution
- calendar_month 12 jam yang lalu
- print Cetak
Sebuah Percikan Pemikiran untuk Menguatkan Ekosistem Bandara AH Nasution
Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Pegiat di Gerep Institute

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin perlu mulai kita diskusikan bersama:
Apakah Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution cukup hanya dibangun sebagai infrastruktur transportasi, atau harus dipikirkan sebagai pintu masuk menuju sebuah ekosistem ekonomi baru?
Pertanyaan inilah yang kemudian memunculkan sebuah percikan gagasan yang saya coba tawarkan untuk didiskusikan, baik di internal Gerep Institute maupun kepada publik yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Mandailing Natal.
Namanya: Mandailing Experience Project (MEP)
Dan perlu ditegaskan sejak awal: MEP bukan MOVE! Jadi, tak perlu memunculkan kekhawatiran berlebihan.
Bukan gerakan politik. Bukan kendaraan kepentingan tertentu. Bukan pula sebuah program yang sudah diputuskan secara kelembagaan.
MEP masih merupakan sebuah gagasan yang sedang diuji, didiskusikan dan dipertajam.
Namun, gagasan besar sering kali memang bermula dari percikan kecil yang kemudian menemukan ruang dialog.
Menghubungkan Bandara dengan Masa Depan Kawasan
Kehadiran Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, lebih-lebih setelah punya jadwal penerbangan tiga kali dalam satu pekan per 1 Agustus 2016, merupakan momentum penting bagi Mandailing Natal.
Tetapi sebuah bandara tidak otomatis menghadirkan kemajuan. Bandara hanyalah pintu.
Maka, pertanyaan berikutnya:
Apa, siapa dan bagaimana sesutu yang akan masuk melalui pintu tersebut?
Apakah hanya penumpang?
Atau juga mereka yang termasuk:
- wisatawan;
- investor;
- pelaku usaha;
- peneliti;
- Mahasiswa dan pelajar;
- komunitas; dan
- peluang ekonomi baru?
Sebuah bandara akan hidup jika ada ekosistem yang membuat orang memiliki banyak alasan (sosial dan komersial) untuk datang.
Sedikit tentang Gerep Institute
Sebelum bicara tentang MEP, ada baiknya berkenalan lebih jauh dengan Gerep Institute (GI). Seperti layaknya komunitas yang melembaga, institusi nir-laba ini merupakan wadah berhimpun sejumlah aktivis sosial yang masing-masing punya latar belakang pengabdian masyarakat.
Gerep Institute merupakan lembaga kajian dan pengembangan masyarakat berbentuk perkumpulan berbadan hukum yang bergerak dalam bidang kajian sosial, budaya, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan lokal.
Gerep Institute hadir dengan pendekatan: Research – Empowerment – Partnership.
Yakni, menghubungkan pengetahuan, masyarakat dan kolaborasi untuk menghasilkan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Kalau ditanya soal legalitas dan tata kelola, Gerep Institute memiliki struktur: 1) Dewan Pendiri dengan peran penjaga visi dan nilai dasar organisasi; 2) Dewan Pengarah yang memberikan arahan strategis dan pengembangan jaringan; dan 3) Dewan Pengurus untuk melaksanakan program dan kegiatan organisasi.
Untuk menjalankan misi-misinya, GI terbagi dalam tiga bidang. Pertama, Hubungan Masyarakat dan Lembaga dengan fokus kegiatan kemitraan; komunikasi publik; jaringan pemerintah; dan kerja sama eksternal.
Kedua, Bidang Kajian yang fokus pada penelitian: sosial; policy paper; dan dokumentasi.
Ketiga, Bidang Kebudayaan yang fokus pada pelestarian budaya; sejarah; tradisi; dan ekonomi budaya.
MEP: Dari Ide Wisata Menuju Ekosistem Pengalaman
Gagasan MEP lahir dari sebuah pemikiran sederhana:
Mandailing Natal memiliki begitu banyak potensi, tetapi masih membutuhkan penghubung.
Madina memiliki:
- budaya Mandailing yang luhur dan kaya;
- Gordang Sambilan, perkusi terbesar dunia;
- Dalihan Na Tolu yang masih lestari;
- Sejarah yang menyimpan kearifan;
- kopi Mandailing yang mendunia dan melegenda;
- kekayaan alam beraneka ragam;
- desa-desa dengan karakter unik;
- produk masyarakat yang cukup variatif.
Namun semua itu masih berjalan secara parsial.
Yang jelas, kaya potensi. Punya banyak aset. Tetapi, belum menjadi sebuah pengalaman yang terintegrasi.
Di sinilah MEP mencoba menawarkan pendekatan.
Bukan sekadar menjual tempat wisata. Tapi, juga menghadirkan pengalaman Mandailing.
Bandara Sebagai Pintu Masuk, Desa Sebagai Ruang Pengalaman
Bayangkan seorang wisatawan tiba di Bandara AH Nasution.
Ia tidak berhenti hanya pada perjalanan menuju kota.
Ia memiliki pilihan:
- menikmati pengalaman budaya;
- mengunjungi kampung tradisi;
- menikmati kopi Mandailing dari sumbernya;
- menjelajah alam;
- belajar kehidupan masyarakat lokal;
- membawa pulang produk UMKM.
Dalam konsep seperti ini, bandara menjadi pintu masuk. Desa menjadi ruang pengalaman. Dan, masyarakat menjadi pelaku utama.
Mengapa Ini Perlu Dibicarakan Gerep?
Sebagai lembaga kajian dan pengembangan masyarakat, Gerep Institute memiliki ruang untuk memikirkan isu-isu strategis daerah.
Karena pembangunan hari ini tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik.
Dibutuhkan:
- gagasan;
- kajian;
- jejaring;
- model kolaborasi.
Karena itu, MEP perlu pertama-tama dibicarakan di internal Gerep:
Apakah gagasan ini relevan?
Apakah memiliki nilai strategis?
Apakah sesuai dengan visi kelembagaan?
Apakah dapat dikembangkan menjadi sebuah program nyata?
Semua pertanyaan itu membutuhkan ruang dialog.
Mengundang Percakapan Publik
Di sisi lain, gagasan besar tidak boleh hanya berhenti di ruang internal.
Karena masa depan Mandailing Natal adalah tanggung jawab bersama.
Pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, komunitas budaya, dan generasi muda perlu ikut memikirkan:
Bagaimana memanfaatkan momentum Bandara AH Nasution?
Bagaimana menjadikan konektivitas sebagai penggerak ekonomi?
Bagaimana membuat budaya dan alam menjadi sumber kesejahteraan masyarakat?
Pertanyaan Terbuka
Pada akhirnya, tulisan ini bukan pengumuman lahirnya sebuah program.
Ini adalah sebuah ajakan berpikir.
Apakah Mandailing membutuhkan sebuah platform yang menghubungkan budaya, alam, masyarakat, dan ekonomi?
Apakah Bandara AH Nasution membutuhkan ekosistem pendukung agar benar-benar menjadi pintu pertumbuhan?
Apakah kita siap mengubah potensi menjadi pengalaman bernilai?
Mungkin jawabannya perlu kita cari bersama.
Dan mungkin, dari percakapan-percakapan kecil hari ini, akan lahir sebuah gagasan besar untuk masa depan.
Itulah Mandailing Experience Project, MEP. Sebuah ide. Satu kemungkinan.
Sebuah percikan yang menunggu diuji oleh waktu dan kolaborasi. ***
- Penulis: M. Ludfan Nasution
- Editor: Dahlan Batubara

