Jumat, 28 Agu 2026
light_mode

Obor Literasi Mandailing Online

  • account_circle Moechtar Nasution
  • calendar_month 4 menit yang lalu
  • print Cetak

Oleh: Moechtar Nasution
Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)

 

Bukalah media sosialmu sekarang, jagat digital rasanya tidak berbeda jauh dengan pasar malam yang riuh rendah, riuh pikuk, dan penuh sesak oleh teriakan-teriakan yang saling tumpang tindih demi berebut perhatian. Arus modernisasi telah bergerak begitu cepat, mengikat batin dan keseharian kita dalam jaringan yang nyaris tak kasat mata.

Berdasarkan data terbaru dari catatan Digital 2026 Indonesia, hari ini ada sekitar 230 juta manusia di negeri ini atau setara dengan 80,5 persen dari seluruh urat nadi populasi kita—yang hidupnya bertumpu pada dunia internet. Dari jumlah yang luar biasa besar itu, sekitar 180 juta jiwa di antaranya, atau sekitar 62,9 persen dari kita semua, telah membiarkan jemari dan waktu mereka melekat erat di dalam riuhnya berbagai beranda media sosial. Mulai dari cara kita menyapa saudara yang jauh, memilah kabar berita, mencari ilmu, hingga urusan dapur dan berbelanja, semuanya kini mengalir dan tunduk dalam genggaman layar digital. Kita tidak lagi berada dalam situasi kelaparan kabar, melainkan justru sedang terombang-ambing, terseret, dan nyaris tenggelam di dalam lautan informasi yang simpang siur, serba instan, dan sering kali tidak jelas dari mana hulu serta ujung pangkalnya.

Di antara ratusan juta pasang mata yang menatap layar gawai itu, halaman media sosial kita setiap harinya langsung dibanjiri oleh potongan berita pendek yang sengaja dibuat heboh demi memancing umpan klik, video-video singkat yang sekadar mencari sensasi agar viral, serta ruang komentar yang dipenuhi perdebatan kusir yang menguras energi dan membuat kepala bertambah pening. Informasi datang silih berganti seperti ombak besar yang menghantam pantai, tanpa memberi kita waktu sejenak pun untuk merenung, mengendapkan batin, atau mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan di sekeliling kita.

Di tengah lingkaran arus informasi yang berjalan begitu cepat, liar, dan nyaris tanpa saringan inilah, kehadiran sebuah wadah informasi lokal yang jernih seperti Mandiling Online menemukan arti pentingnya yang paling mendalam. Merayakan hari jadinya yang penuh berkah, momen ini menjadi waktu yang sangat tepat bagi kita semua untuk kembali duduk merenung di bawah rindang ingatan. Kita perlu melihat bagaimana sebuah media lokal mampu memegang dua peran besar sekaligus yang sangat berat yakni menjadi penjaga api warisan budaya leluhur agar tidak padam ditiup angin kencang modernisasi sekaligus menjadi benteng pertahanan terakhir bagi akal sehat, hati nurani, dan kejernihan berpikir masyarakat di tingkat akar rumput.

Membuka Jalan Sepi yang Mencerahkan

Melihat kembali rekam jejak perjalanan Mandailing Online sejak masa awalnya adalah seperti membaca sebuah kisah tentang keberanian seorang pengembara tua yang memilih berjalan di atas jalan sunyi yang sepi, berbatu, dan gelap gulita. Sebagai pelopor atau media siber lokal pertama yang berani lahir di Kabupaten Mandailing Natal, portal berita ini bukan sekadar hadir untuk ikut mengantre di belantara internet yang sangat luas atau sekadar mencari ruang kosong untuk sekedar menumpang lewat mencari nama. Mereka sebenarnya sedang melakukan sebuah kerja peradaban yang besar dan khidmat untuk meletakkan batu pertama bagi fondasi melek huruf, kecerdasan digital, dan keberanian bersuara di Bumi Gordang Sambilan.

Kita perlu memutar kembali ingatan pada suasana bertahun-tahun yang lalu, ketika dunia maya masih menjadi sesuatu yang asing, berkabut dan sesekali membingungkan. Di masa-masa sulit itulah, ketika belum ada peta penunjuk jalan yang jelas dan semua orang masih meraba-raba dalam gelap, media ini berdiri dengan teguh memegang erat obor penerang, dan mendobrak kebekuan informasi lewat tulisan-tulisan jurnalistik. Ada sebuah janji batin yang sangat kuat di sana, sebuah komitmen yang lahir dari ketulusan batin yang paling dalam bahwa suara-suara dari pinggiran tanah adat tidak boleh dibiarkan mati kesepian atau tenggelam begitu saja oleh hiruk-pikuk berita kota besar yang sering kali hanya memikirkan diri mereka sendiri.

Jasa sejarah yang telah mereka torehkan ini sungguh luar biasa nilainya, sebuah kebaikan yang tidak akan lekang oleh waktu dan akan terus dikenang oleh generasi demi generasi bagi perkembangan daerah. Langkah penuh keberanian yang mereka mulai dulu ibarat sebuah mata air jernih yang memancar dari celah batu di puncak gunung. Airnya mengalir pelan ke bawah, membasahi lembah-lembah yang kering, memberi minum pada jiwa-jiwa yang dahaga akan kebenaran, dan perlahan-lahan melahirkan anak-anak sungai baru. Dari satu obor yang mereka nyalakan di masa lalu dengan penuh perjuangan dan tetesan keringat, kini puluhan lentera informasi lain ikut berpijar dan menyala menerangi setiap sudut kabupaten ini.

Media ini berhasil mematahkan rasa sangsi banyak orang dan membuktikan kepada dunia luar bahwa cerita dari desa terpencil pun punya kelas, punya harga diri yang tinggi, dan sangat layak untuk dibaca oleh masyarakat luas di belahan bumi mana pun. Dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran, kemandirian, serta aturan etika yang ketat kepada media-media yang lahir setelahnya, mereka telah melakukan sebuah kerja kebudayaan yang sangat agung. Mereka mendidik kita semua bahwa menulis tentang kampung halaman bukan sekadar pekerjaan mesin yang mencatat kejadian sehari-hari demi mengejar keuntungan materi atau popularitas murah yang cepat hilang. Menulis tentang Mandailing Natal adalah sebuah laku khidmat, sebuah ibadah kebudayaan untuk merawat kehormatan, ingatan, dan martabat tanah kelahiran agar tetap tegak berdiri menantang kerasnya perubahan zaman.

Dahlan Batubara: Penjaga Sunyi yang Abadi

Siapa yang tidak mengenal Dahlan Batubara? Pria sederhana berperawakan kecil ini mungkin tidak memiliki kemewahan fisik yang mencolok atau kegagahan yang mengintimidasi mata, tetapi di dalam dadanya yang ringkih, bersemayam sebuah nyali besar yang sanggup menantang badai yang paling kencang sekalipun. Bukalah kembali ingatan kolektif kita ke enam belas tahun yang lalu, sebuah masa di mana kata “media online” bahkan belum pernah terlintas di dalam kepala kebanyakan orang di daerah kita, sebuah era di mana jaringan internet masih menjadi barang mewah yang langka. Ketika semua orang masih merasa nyaman bersandar pada kertas-kertas koran konvensional dan ketakutan untuk melangkah ke dunia baru, pria bertubuh mungil ini justru sudah melompat jauh ke depan, menembus sekat-sekat ketidaktahuan zaman, dan nekat merajut takdir baru bagi dunia literasi digital di Mandailing Natal.

Beliau adalah sebatang lilin yang rela menghabiskan dirinya sendiri, terbakar pelan dalam sepi, demi menerangi malam yang pekat, menolak tunduk pada kemudahan hidup, dan memilih setia pada panggilan nurani yang sunyi namun menggetarkan batin.

Ada keindahan yang sangat dalam sekaligus mengharukan dalam kesetiaan sunyi yang beliau jalani hingga hari ini tanpa pernah mengeluh atau meminta sanjungan publik. Langkah kakinya yang tenang adalah perwujudan dari filosofi kepemimpinan sejati yang mengakar pada bumi. Ia tidak perlu berteriak di tengah komplek perkantoran Payaloting untuk didengar, tidak perlu memukul dada untuk terlihat perkasa, melainkan cukup dengan menyalakan lentera kecil agar jalan yang gelap dan penuh duri menjadi terang bagi orang lain. Bagi Dahlan Batubara, setiap jengkal tanah Mandailing Natal adalah ruang hidup yang suci, tempat di mana darah leluhur tertumpah dan harapan anak cucu digantungkan. Setiap kalimat yang beliau raut di Mandailing Online adalah sebuah doa, sebuah perjuangan, dan sepotong cinta untuk martabat sebuah  kepeloporan.

Beliau berdiri laksana pohon beringin tua yang tumbuh di tengah alaman bolak, rimbun daunnya melindungi dari terik matahari, tetapi akarnya tetap kukuh mencengkeram bumi, menolak tumbang oleh rayuan kepentingan politik sesaat, menolak goyah oleh ancaman, dan menolak hanyut oleh arus murahan yang mengorbankan keyakinan demi sebuah sensasi umpan klik. Gairah perjuangannya tidak pernah padam oleh usia yang terus merambat tua atau tubuh yang didera lelah, justru semangat itu semakin membara di tengah kesunyian jurnalisme daerah yang sering kali kesepian.

Pria berperawakan kecil ini membuktikan kepada kita semua dengan sangat benderang bahwa ukuran nyali seseorang tidak pernah ditentukan oleh besarnya tubuh, luasnya kekayaan, atau tingginya kedudukan formal, melainkan oleh keteguhan hatinya dalam mendekap kebenaran saat badai sedang berkecamuk di sekelilingnya. Dedikasinya yang sunyi, tanpa pamrih, dan mengalir seperti air jernih dari pegunungan ini telah menjadi teladan hidup yang abadi.

Beliau mengajari bahwa kehormatan tertinggi seorang jurnalis adalah ketika ia memilih setia menjaga warisan tanah ibunya, menjaga penanya, menjaga adat, menjaga budaya meski ia harus berjalan sendirian di bawah sepinya malam yang dingin. Semangatnya yang menyala-nyala di dalam kesunyian adalah alasan mengapa obor ini tetap tegak berdiri, menantang takdir, menolak mati, dan terus menjadi kompas moral serta penunjuk arah yang tepercaya bagi peradaban literasi di Bumi Mandailing Natal.

Ruang Diskusi yang Menyatukan Warga

Bila kita berbicara tentang urat nadi kehidupan masyarakat di Mandailing Natal, batin dan ingatan kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari tradisi lopo atau kedai kopi. Sejak zaman “ompung-ompung” kita dulu, lopo bukan sekadar tempat untuk melepaskan lelah setelah seharian memeras keringat di sawah atau ladang, melainkan sebuah ruang kehidupan yang paling hangat dan demokratis. Di sanalah warga dari berbagai kalangan berkumpul tanpa memandang pangkat dan kasta, duduk  di atas bangku kayu tanpa ada sekat pembatas status sosial untuk saling bertukar kabar burung, berdiskusi hangat tentang masalah air sawah yang tersumbat, hingga menyampaikan kritik sosial yang jenaka namun tajam menembus jantung kebijakan sembari menyeruput pekatnya seduhan kopi Mandailing yang legendaris.

Di era modern yang serba digital ini, tradisi kebersamaan yang indah, jujur, dan penuh rasa kekeluargaan itu tidak boleh dan tidak akan pernah hilang begitu saja ditelan waktu. Ia justru menemukan jalan baru, melompat masuk ke dalam layar gawai kita, menemukan wadahnya yang lebih luas, lebih rapi, dan lebih menyatukan lewat ruang digital yang disediakan dengan tulus oleh media lokal ini. Hubungan sosial yang dulunya dibatasi oleh  kedai kopi di sudut desa, kini menjelma menjadi sebuah obrolan besar, sebuah musyawarah digital raksasa yang melibatkan seluruh warga kabupaten dari hulu hingga ke hilir.

Mandailing Online hadir sebagai jembatan hidup yang sangat kokoh dan setia, yang menghubungkan wilayah-wilayah yang dipisahkan oleh jarak geografis yang ekstrem, perbukitan yang terjal, dan kontur alam yang menantang di sepanjang Tapanuli Bagian Selatan. Media ini meruntuhkan dinding-dinding penyekat yang selama ini membuat masyarakat merasa terisolasi, seolah hidup sendirian di daerahnya masing-masing tanpa tahu kabar saudaranya di seberang gunung. Mereka memberikan kesempatan yang sama rata bagi warga yang tinggal di pelosok pesisir Pantai Barat yang berombak dan berangin kencang, hingga masyarakat yang menetap di puncak-puncak dingin pegunungan Ulu Pungkut yang selalu diselimuti kabut, untuk menyuarakan isi hati, harapan, dan keluhan mereka secara langsung.

Kehadiran ruang digital ini menjadi penawar yang mujarab bagi penyakit kesenjangan informasi yang sering menimpa masyarakat daerah pinggiran yang jarang tersentuh perhatian pemerintah pusat. Ketika raksasa media televisi nasional selalu sibuk menyiarkan masalah politik kelompok, perdebatan di Senayan, dan gaya hidup mewah di ibu kota, media lokal inilah yang setiap hari dengan setia memikirkan daerah.

Obor Literasi sebagai Penuntun Spiritual Diaspora Mandailing

Salah satu bagian paling indah, puitis, dan menyentuh bagian terdalam dari hati kita atas kehadiran media lokal di internet adalah kemampuannya menembus batas-batas geopolitik untuk menyapa orang-orang kita yang sedang hidup di pelukan tanah rantau yang jauh. Kita semua tahu bahwa suku Mandailing secara turun-temurun diikat oleh sebuah tradisi merantau yang sangat kuat. Ini bukan sekadar urusan pindah tempat tinggal, melainkan sebuah perjalanan hidup yang penuh keberanian, pertaruhan nasib, dan sering kali menyimpan kegetiran batin yang dalam, di mana putra-putri terbaik daerah pergi meninggalkan kehangatan rumah, dekapan ibu, dan tanah kelahiran demi menuntut ilmu atau mencari kehidupan yang lebih baik.

Jutaan warga keturunan Mandailing kini menetap di kota-kota besar yang padat dan bising seperti Medan, Jakarta, Bandung, bahkan membentuk komunitas besar yang mengakar kuat di Malaysia dan berbagai belahan dunia lainnya. Di tanah yang jauh, di tengah kesibukan kota yang asing, egois, dan sering kali dingin tanpa tegur sapa yang tulus, rasa rindu pada bunyi kepakan sayap burung di hamparan sawah yang hijau, aroma tanah kering yang diguyur hujan pertama di Pakantan, serta kehangatan tutur sapa bahasa ibu sering kali datang tiba-tiba di kala sepi menyergap, menjelma menjadi ruang sunyi yang sangat menyiksa batin para perantau.

Dalam konteks kerinduan yang mendalam dan tidak bertepi inilah, obor informasi Mandailing Online bertransformasi dari sekadar situs berita biasa menjadi sebuah tali pusar spiritual yang mengalirkan kembali darah kehidupan dan petuah leluhur langsung ke jantung para perantau. Media ini hadir menyerupai sepucuk surat cinta dari kampung halaman yang datang setiap hari walau kadang terlambat untuk membawa kehangatan batin dan ingatan masa kecil. Seorang perantau yang sedang duduk sendirian di sudut kafe modern di Kuala Lumpur atau terjebak dalam kemacetan parah di bawah gedung-gedung pencakar langit Jakarta, dalam hitungan detik, bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan desanya saat ini melalui layar ponsel mereka. Mereka bisa memantau perkembangan politik di daerahnya, melihat kondisi pembangunan jalan di kampungnya, sampai ikut merasakan kemeriahan tabuhan adat dan lantunan doa dalam sebuah ritual pernikahan atau kemalangan di tanah kelahiran mereka. Media lokal ini berhasil membuat jarak yang ribuan kilometer jauhnya terasa runtuh seketika, mengembalikan ingatan mereka pada akar rumput tempat mereka pertama kali tumbuh dan belajar tentang arti kehidupan. Lewat ruang diskusi dan kolom komentar yang disediakan dengan bebas, para perantau tidak lagi menjadi penonton pasif yang terasing dari lembaran sejarah tanah kelahirannya. Mereka diajak melompat masuk ke dalam gelanggang batin kampung halaman untuk menyumbangkan pemikiran-pemikiran konstruktif dari luar yang berwawasan luas, membuka jaringan kerja global yang bisa membantu daerah, dan menyalurkan bantuan serta investasi nyata demi memajukan kemaslahatan, martabat, dan kesejahteraan bumi Gordang Sambilan agar tidak tertinggal dari daerah lain.

Menjaga Warisan Adat Tetap Hidup di Dada Anak Muda

Tantangan terbesar, paling berat, dan paling menakutkan yang dihadapi oleh anak-anak muda kita saat ini, baik yang lahir di bawah naungan pohon-pohon rindang di kampung halaman maupun yang tumbuh besar di tengah rimba beton tanah perantauan, adalah ancaman lupa pada budayanya sendiri. Di bawah gempuran kebudayaan populer global yang masuk tanpa permisi, bergerak masif dan sangat halus melalui algoritma media sosial di layar gawai, nilai-nilai dan falsafah adat yang adiluhung terancam menyusut, memudar, dan akhirnya padam total di hati generasi penerus kita. Jika tidak ada pihak yang peduli, berani bersuara, dan mau berkorban waktu serta tenaga, kearifan lokal yang sangat indah seperti aturan kekerabatan Dalihan Na Tolu yang mengajarkan kita cara menghormati dan menghargai sesama manusia, kedalaman petuah dalam sastra lisan umpama yang penuh makna filosofis kehidupan, hingga pemahaman sakral tentang aturan tabuhan Gordang Sambilan lambat laun akan bergeser dari maknanya yang asli. Budaya kita terancam kehilangan jiwanya, menyusut hanya menjadi barang tontonan hiburan yang eksotis bagi turis asing, menjadi pelengkap seremonial yang kosong tanpa ada makna batin yang tertanam di dalam dada orang yang melakukannya.

Untungnya, Mandailing Online mengerti betul arti penting dari ancaman kepunahan budaya dan hilangnya jati diri ini. Mereka secara konsisten, hari demi hari, terus merawat ruang khusus untuk sejarah dan kebudayaan sebagai sebuah obor yang bertugas mengusir kegelapan sosiologis tersebut dari ingatan kolektif kita. Mereka menolak keras membiarkan sejarah dan adat istiadat kita lapuk dimakan rayap waktu atau hilang dari ingatan hanya karena kelalaian, rasa gengsi yang salah, dan kemalasan kita sendiri sebagai generasi penerus. Dengan mengubah cerita-cerita lisan dari para tetua adat yang tersimpan di kepala mereka sebelum mereka berpulang, silsilah keluarga kuno (tarombo) yang mulai menguning dan rapuh, serta catatan-catatan sejarah lama yang tercecer di berbagai tempat menjadi artikel-artikel digital yang rapi, utuh, mendalam, dan mudah dicari di mesin pencari internet.

Mereka sesungguhnya sedang membangun sebuah perpustakaan digital yang abadi dan tidak bisa terbakar oleh waktu. Tulisan-tulisan ini bukan cuma berguna sebagai rujukan ilmiah bagi para mahasiswa yang sedang belajar atau peneliti yang datang dari jauh, melainkan menjelma menjadi kompas penunjuk jalan, sebuah jangkar spiritual bagi anak-cucu para perantau agar di mana pun mereka berpijak di muka bumi ini, di bawah langit mana pun mereka bernaung mencari penghidupan, mereka tetap tahu dari mana darah mereka mengalir, tahu menghargai leluhurnya, dan tidak pernah kehilangan identitas asli mereka sebagai orang Mandailing yang memiliki adat, martabat, harga diri dan juga marga tentunya.

Menjadi Penjaga Akal Sehat di Tengah Badai Internet

Di balik segala kemudahan, kecepatan, kebebasan, dan keindahan yang ditawarkannya kepada peradaban manusia, dunia digital hari ini juga menyimpan sisi gelap yang sangat mengerikan, dan penuh dengan racun pemecah belah. Kita semua hari ini tanpa sadar sedang bertarung melawan sistem media sosial global, sebuah tirani algoritma yang dirancang secara licik hanya untuk memancing emosi kemarahan, memicu perpecahan antar-saudara, dan mengejar ketenaran palsu demi mendapatkan keuntungan materi sepihak bagi para pemilik modal.  Fenomena kegelapan siber ini mewujud nyata dan telanjang dalam bentuk banjir berita bohong (hoaks), fitnah, serta adu domba politik lokal yang sangat memuakkan dan tidak mendidik, terutama ketika musim pemilihan kepala daerah tiba di mana ambisi kekuasaan mengalahkan rasa persaudaraan padahal asa persaudaraan dan nilai kekeluargaan yang sudah dipelihara berabad-berabad di Mandailing Natal adalah kekuatan dasar yang kita miliki untuk tidak terperosok dalam lembah revolusi industry 4.0 dan revolusi hijau 5.0.

Di sinilah jurnalisme lokal yang luhur, yang patuh dan tunduk pada aturan etika jurnalistik yang suci, memfungsikan dirinya sebagai penjaga akal sehat publik dan penyelamat nurani warga. Media ini menolak ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, menolak membebek pada isu yang simpang siur hanya demi mengejar klik, jumlah penonton, atau sensasi sesaat yang menipu mata.

Mereka memilih bekerja dengan cara yang dingin, tenang, penuh kehati-hatian, dan bertanggung jawab di tengah badai kemarahan internet yang sedang membakar emosi publik. Mereka menyaring setiap informasi yang masuk dengan ketat. Mereka hadir memberikan penjelasan yang jernih, sejuk, mengalir, dan menenangkan di saat semua orang di media sosial sedang ribut, panik, saling serang dengan caci maki, dan kehilangan arah dalam kebingungan. Media lokal yang bersih dari kepentingan politik praktis kelompok tertentu, mandiri secara sikap, dan jujur seperti inilah yang menjadi modal paling berharga bagi keselamatan dan kedamaian daerah kita. Kehadiran mereka memastikan bahwa warga kita tetap cerdas dalam memilah informasi, tidak mudah diadu domba oleh kepentingan kelompok atau golongan tertentu yang ingin mencari panggung, dan bisa bersama-sama merawat kedamaian serta tali persaudaraan yang kokoh di tanah Mandailing Natal yang kita cintai ini.

Menantang Kebutaan Robot Pintar dan Merangkul Anak Zaman Baru

Menatap masa depan yang bergerak sangat cepat, penuh kejutan, dan tak terduga, tantangan bagi obor informasi ini tidak lagi sekadar berhadapan dengan masalah keterbatasan fisik, kurangnya modal, atau sulitnya jangkauan geografis, melainkan sebuah takdir baru yang bernama dunia robot pintar atau Kecerdasan Buatan (AI) serta pergeseran generasi digital yang sangat radikal. Kita sekarang melihat sendiri dengan mata kepala kita bagaimana mesin-mesin pintar buatan global mulai mengambil alih tugas manusia dalam merangkum sejarah, menceritakan kembali kebudayaan daerah, dan menyaring berita sehari-hari yang kita konsumsi. Namun, kita harus sadar bahwa dalam sistem kerja mesin yang kaku, dingin, dan murni matematis tersebut, robot-robot ini sering kali mengalami kebutaan budaya lokal yang sangat parah. Karena mereka tidak punya hati nurani, tidak memiliki perasaan cinta sebagai manusia, dan tidak pernah mengisap debu tanah Mandailing. Karena itulah robot AI sering kali salah mengartikan istilah-istilah adat kita, keliru menuliskan silsilah marga yang sakral, atau bahkan sama sekali tidak tahu tentang sejarah asli dari desa-desa terpencil di Mandailing Natal hanya karena kurangnya data primer yang otentik di internet.

Di sinilah letak urgen dan pentingnya posisi Mandailing Online. Mereka adalah manusia-manusia asli yang turun langsung ke lapangan, merasakan sendiri bagaimana panasnya sengatan matahari Pantai Barat dan dinginnya tusukan hujan di Rindang Tinapor, menulis dengan hati yang bergetar penuh gairah, dan menyediakan data yang benar serta jujur di dunia internet. Tanpa ada tulisan dari orang Mandailing sendiri yang mengerti rasa dan batin kebudayaannya di dunia digital, sejarah dan kebudayaan kita di masa depan akan ditulis, diatur, diubah, bahkan didikte oleh mesin-mesin asing yang tidak pernah mengerti bagaimana rasanya mencintai tanah ini dengan segenap jiwa raga. Ini adalah perjuangan untuk menjaga kedaulatan ingatan kita sendiri agar tidak dijajah oleh kecerdasan buatan yang tidak berjiwa.

Namun, obor yang menyala seterang apa pun, yang dijaga dengan tetesan darah dan air mata sekalipun akan menjadi sebuah kesia-siaan yang berakhir tragis jika tidak ada tangan-tangan muda dari generasi berikutnya yang bersedia menerimanya dalam lari estafet antar-generasi yang panjang. Anak-anak muda dari generasi sekarang di Mandailing Natal adalah anak zaman baru yang lahir, tumbuh, dan menyusu di dalam pelukan gawai sejak mereka masih bayi. Mereka tumbuh bersama video pendek yang cepat berganti dalam hitungan detik, gambar-gambar instan yang memanjakan mata tanpa menuntut pikiran, dan budaya visual yang serba kilat, instan, serta sering kali dangkal.

Mereka sudah jarang, bahkan tidak betah lagi duduk tenang berlama-lama membaca tulisan teks yang panjang, padat makna dan membutuhkan perenungan batin yang kaku. Kenyataan hidup yang pahit dan menantang ini adalah sebuah peringatan keras, sebuah alarm yang berbunyi sangat nyaring bagi pengelola media lokal kita. Agar pesan literasi, nilai moral, perjuangan sosial, serta cerita sejarah yang mereka bawa tidak ditinggalkan oleh zaman dan mati kesepian di sudut sepi sejarah yang dilupakan, mereka harus memiliki gairah dan keberanian untuk melakukan perubahan radikal dalam cara penyampaian berita. Kedalaman cerita sejarah yang berat, ketajaman berita investigasi politik, serta keluhuran nasihat adat harus mampu dikemas ulang, ditransformasikan menjadi konten-konten visual yang menarik mata, estetik, kreatif, lewat infografis yang indah atau video pendek yang menggugah jiwa.Tanpa sedikit pun mengurangi kejujuran, kebenaran, dan kesucian isinya. Mengajarkan rasa cinta kampung halaman, cinta pada keadilan, dan bangga pada adat kepada anak-anak muda dengan cara yang sesuai dengan bahasa, gairah, dan dunia mereka adalah satu-satunya jalan keluar agar obor perjuangan literasi ini tidak padam dan bisa terus menyala berkorbar-korbar di masa depan.

Menjaga Nyala Obor Tetap Abadi

Bertahannya portal informasi Mandailing Online melewati berbagai gelombang kesulitan ekonomi media, hantaman badai disrupsi teknologi, dan perubahan zaman yang bergerak sangat cepat sampai hari ini adalah bukti sahih yang tidak terbantahkan bahwa masyarakat di Mandailing Natal memiliki semangat yang keras, ketangguhan mental yang luar biasa, dan pikiran yang sangat cerdas. Sebagai sang pelopor yang membuka jalan di kala gelap, keteguhan media ini adalah cerminan sejati dari falsafah hidup orang kita yang kokoh bagai batu karang di puncak pegunungan Sorik Marapi, namun juga lembut, jernih, penuh berkah, dan adil mengalir bagai air sungai Batang Gadis yang menghidupi lembah-lembah di bawahnya.

Mereka telah membuktikan kepada kita semua bahwa keterbatasan daerah, jauhnya jarak dari ibu kota, bukanlah penghalang bagi manusia-manusia yang memiliki cita-cita besar untuk melahirkan karya jurnalis yang agung, berwibawa, dan dihormati di kancah nasional maupun dunia.

Mendukung, membaca, menjaga, dan merawat keberadaan media lokal yang independen sekelas ini bukanlah sekadar aktivitas santai untuk mengisi waktu luang di pagi hari sambil memegang cangkir teh hangat atau segelas kopi. Ini adalah sebuah bentuk gotong royong sosial yang nyata, sebuah kerja kebudayaan yang suci dan penuh gairah untuk merawat akal sehat bersama agar tidak waras sendirian. Semoga obor jurnalisme dari bumi Gordang Sambilan ini menolak untuk meredup, menolak untuk tunduk, apalagi padam ditelan zaman. Tetaplah bersuara supaya membumi dengan bahasa manusia, tetaplah  berjalan sekalipun itu penuh duri dan kerikil, dan teruslah menjadi panduan tepercaya yang abadi, menyalakan api gairah di dada generasi masa kini dan masa depan demi kejayaan, kehormatan, martabat, dan kesucian tanah Mandailing yang kita cintai bersama dengan seluruh jiwa, raga, dan napas terakhir kita. Horas Mandailing Online.

DIRGAHAYU…!!!

 

  • Penulis: Moechtar Nasution
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menakertrans: Jumlah Penganggur 8,32 Juta Orang

    Menakertrans: Jumlah Penganggur 8,32 Juta Orang

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Yogyakarta, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan, jumlah penganggur terbuka di Indonesia hingga kini mencapai 8,32 juta orang atau 7,14 persen dari 116,53 juta orang angkatan kerja. “Kondisi itu secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi jumlah penduduk yang cukup besar, terbatasnya peluang kesempatan kerja di sektor formal, dan potensi sumber daya alam yang […]

  • PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    PENDIDIKAN YANG MERAKYAT

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)   Oleh:  Abdul Mujib Nasution Dosen STAIM dan IAIN Padang Sidimpuan   Willem Iskandar, tokoh pendidikan berskala nasional jauh sebelum Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, beliau sudah mendirikan lembaga pendidikan untuk menghasilkan guru yang berbasis kerakyatan di tahun 1862. Selain seorang seniman, penulis dan tokoh publik pada masa itu, […]

  • Madina Juara I Lomba Video Edukasi Kanker

    Madina Juara I Lomba Video Edukasi Kanker

    • calendar_month Sabtu, 4 Feb 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Kabupaten Mandailing Natal (Madina) meraih juara Lomba Video Edukasi “Cegah Kanker Dengan Cerdik” berbahasa daerah se-Sumatera Utara (Sumut). Pemenang itu diumumkan pada peringatan Hari Kanker Sedunia oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Sumut, Sabtu (4/2/2023). Peringatan Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) berlangsung di Aula Tengku Rizal Nurdin, Jalan Sudirman 41 […]

  • PT Sorikmas Mining Berikan Beasiswa Berprestasi Bagi Mahasiswa Lingkar Tambang

    PT Sorikmas Mining Berikan Beasiswa Berprestasi Bagi Mahasiswa Lingkar Tambang

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN, (Mandailingonline) – Mahasiswa-mahasiswi Kabupaten Mandailing Natal berprestasi mendapat beasiswa dari PT Sorikmas Mining. Beasiswa ini merupakan bukti kepedulian PT Sorikmas Mining terhadap peningkatan mutu pendidikan di Kab. Madina, khususnya di daerah lingkar tambang. Bantuan beasiswa diserahkan langsung kepada para mahasiswa/i berprestasi di Panyabungan, Rabu (4/7). Senior Community Relations Officer PT Sorikmas Mining, Hidayat Harahap […]

  • Pemkab Madina Jangan Coba-Coba Lindungi Kasus Korupsi di Dinas Kesehatan

    Pemkab Madina Jangan Coba-Coba Lindungi Kasus Korupsi di Dinas Kesehatan

    • calendar_month Kamis, 23 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal jangan coba-coba melindungi pejabat yang diduga koruptor di Dinas Kesehatan Madina. Peringatan itu terkait sejumlah kasus dugaan korupsi di Dinas Kesehatan Mandailing Natal (Madina) saat ini sedang ditangani Kejaksaan Agung. Oknum di Kejakasaan Negeri Mandailing Natal juga diwanti-wanti jangan mencoba-coba bermain mata dengan pejabat korup di Dinas Kesehatan, […]

  • Hidayat: Ini Amanah

    Hidayat: Ini Amanah

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pasangan Hidayat-Dahlan sukses mendulang suara hingga 70 persen lebih. Ini sesuai quick count sementara versi desk pemilukada Madina dan Panwaslu. Melihat hasil ini Hidayat menganggap semua suara yang diperoleh merupakan amanah. “Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat, baik pendukung, tim pemenangan maupun simpatisan yang telah memercayakan amanah kepemimpinan ini kepada kami melalui perolehan suara,” kata […]

expand_less