Sabtu, 31 Okt 2026
light_mode

BERMARGA, BERADAT MELAYU: Membaca Keunikan Budaya Masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara

  • account_circle Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2026
  • print Cetak

 

Oleh:
Nur’ainun Ritonga
Dosen Sekolah Tinggi Islam Negeri Mandailing Natal

&

Yunizar Ritonga
Guru Sekolah Dasar Swasta Shinta Jaya Labuhanbatu Utara

 

 

Di Sumatera Utara, marga sering menjadi penanda identitas seseorang. Ritonga, Hasibuan, Siregar, Nasution, Harahap, Daulay, Simanjuntak, Marpaung, dan berbagai marga lainnya mudah ditemukan. Namun, bagaimana jika bermarga Tapanuli atau Mandailing, tetapi dalam kesehariannya menggunakan bahasa Melayu dan menjalankan adat Melayu? Fenomena inilah yang ditemukan di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara.

Di daerah ini, marga tetap menjadi bagian penting dari identitas keluarga. Tapi, marga tersebut tidak serta-merta menentukan adat dan kebiasaan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang marga, adat Melayu justru hadir kuat dalam bahasa keseharian, tradisi, tata cara kehidupan sosial, hingga berbagai upacara keluarga.

Keunikan tersebut tampak dalam berbagai praktik budaya, dalam perkawinan misalnya, penggunaan sunting memperlihatkan nuansa Melayu yang berbeda dari perangkat busana yang lazim dikenakan dalam tradisi Mandailing dan Toba, seperti Bulang pada tradisi Mandailing dan Sortali pada tradisi Toba. Masyarakat mengenal tari inai, bordah, dan nasi hadap-hadapan dalam acara pernikahan, tolak bala, upah-upah, menurunkan, mengayun bayi dalam acara pra dan pasca kelahiran bayi. Berbagai tradisi tersebut memperlihatkan kuatnya nuansa Melayu dalam kehidupan masyarakat yang sebagian besar memiliki marga. Fenomena “Bermarga, tetapi beradat Melayu”, menunjukkan bahwa identitas tidak selalu tunggal. Marga dapat menjadi penanda garis keturunan, sedangkan bahasa, adat dan kebiasaan sehari-hari terbentuk melalui lingkungan sosial tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi. Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan mencakup berbagai unsur kehidupan yang saling berkaitan dan kebudaayan bersifat dinamis mengikuti perkembangan masyarakat.

Lalu, apakah seseorang yang bermarga tetapi tidak bisa berbahasa Tapanuli atau Mandailing berarti kehilangan identitas budayanya? Atau, apakah seseorang yang bermarga tapi menjalankan adat melayu dapat disebut tidak lagi memiliki identitas dari garis keturunannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dipandang sebagai pertentangan, justru menunjukkan bahwa identitas budaya terbentuk melalui proses yang panjang.

Seseorang dapat mempertahankan marga sebagai identitas keluarga, sekaligus menggunakan bahasa dan menjalankan adat yang berkembang di lingkungan tempat tinggalnya. Kondisi ini juga tidak serta-merta berarti bahwa suatu budaya telah hilang. Ketika satu unsur melemah, unsur lainnya dapat tetap bertahan atau bahkan berkembang. Bahasa mungkin berubah, tetapi bukan berarti seluruh identitas yang diwariskan ikut hilang.

Sebagai masyarakat pesisir, Kampung Mesjid menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang sosial dan budaya. Interaksi yang berlangsung dari waktu ke waktu memungkinkan terjadinya proses pewarisan, penyesuaian, dan percampuran budaya. Dari proses tersebut lahir identitas masyarakat yang tidak selalu dapat dijelaskan hanya berdasarkan marga.

Daerah ini memperlihatkan bahwa identitas budaya dapat berlapis, marga tetap memiliki posisi penting sebagai penanda genealogis. Sementara bahasa Melayu dan berbagai adat Melayu menjadi bagian kuat dari kehidupan sosial masyarakat sehari-hari. Dari masyarakat Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara kita belajar, bahwa marga menjadi jejak keturunan, sedangkan bahasa dan adat mencerminkan perjalanan sosial masyarakatnya. Keunikan tersebut bukan kekacauan identitas, melainkan bagian dari kekayaan budaya masyarakat pesisir Sumatera Utara yang terus hidup, bergerak dan berkembang. ***

 

  • Penulis: Nur'ainun Ritonga dan Yunizar Ritonga
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 2-selesai)

    Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 2-selesai)

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Seorang pemimpin dapat disebut sebagai “Community Worker” jika pemimpin tersebut selalu bekerja di tengah-tengah masyarakat, dan bukanlah yang menampakkan sifat elite yang berlebihan, apalagi lupa pada kampung halamannya. Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Karena ke depan masyarakat butuh pelayan yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Yang memimpin proses rekonstruksi dan program kesejahteraan […]

  • Gelombang di Pantai Barat Sumut Capai Ketinggian 3,5 Meter

    Gelombang di Pantai Barat Sumut Capai Ketinggian 3,5 Meter

    • calendar_month Sabtu, 13 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, (MO) – Ombak di pantai barat Sumatera Utara diperkirakan bisa mencapai ketinggian 3,5 meter. Ombak setinggi itu berpeluang terjadi di perairan Tapanuli Tengah, Kepulauan Nias, dan Sibolga. Karenanya, nelayan di kawasan itu diminta waspada. Tidak hanya di pantai barat, di Pantai Timur seperti perairan Belawan, Deli Serdang, Asahan, dan Tanjung Balai, ombak bisa mencapai […]

  • Terkait Posisi Lowong Wabup Madina, Golkar Desak Konsultasi ke Mendagri

    Terkait Posisi Lowong Wabup Madina, Golkar Desak Konsultasi ke Mendagri

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Partai Golkar Mandailing Natal (Madina) mendesak pihak eksekutif dan DPRD Madina melakukan konsultasi ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Itu dikatakan Ketua DPD II Partai Golkar Madina, As Imran Khaitamy Daulay, SH kepada wartawan, Senin (27/10) terkait jabatan wakil bupati Madina yang lowong pasca dilantiknya Dahlan Hasan Nasution menjadi bupati depenitif […]

  • ICW Nilai KJP Hanya Program Pencitraan Jokowi

    ICW Nilai KJP Hanya Program Pencitraan Jokowi

    • calendar_month Selasa, 1 Apr 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi dinilai terlalu memaksakan program Kartu Jakarta Pintar (KJP) untuk pencitraan. Akibat sistem yang tidak siap, pengelolaan KJP menjadi tidak berjalan maksimal. Riset Indonesia Corruption Watch (ICW) melansir adanya temuan sejumlah masalah dalam program KJP. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Agus Pambagio meyakini 90 persen data […]

  • Camat Tambangan : Pengurus dan Anggota PKK Tambangan Harus Aktif Sosial Kemasyarakatan

    Camat Tambangan : Pengurus dan Anggota PKK Tambangan Harus Aktif Sosial Kemasyarakatan

    • calendar_month Rabu, 26 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    TAMBANGAN ( Mandailing Online ) Muslih S.sos Camat Tambangan, Kabupaten Mandailing Natal mengatakan, Program Sunatan masaal, operasi bibir sumbing, dan mendorong warga yang sakit untuk berobat ke Puskesmas Tambangan menjadi program ke masyarakatan yang akan di dukung oleh ibu ibu PKK Kecamatan Tambangan. Hal ini dikatakannya saat melantik Ketua dan pengurus PKK Kecamatan Rabu 26/7/2023. […]

  • Rhoma Irama : saya ikhlas dicemooh

    Rhoma Irama : saya ikhlas dicemooh

    • calendar_month Sabtu, 8 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Surabaya, (MO) – Raja Dangdut Rhoma Irama mengaku ikhlas menerima cemoohan orang di berbagai media sosial. “Kalau saya menanggapinya santai saja, tidak perlu ditindaklanjuti dan ditanggapi berlebihan. Saya ikhlas kok,” katanya kepada wartawan di Surabaya, Sabtu pagi. Menurut Rhoma, dia sudah melihat macam-macam cemoohan yang dilayangkan orang kepadanya melalui beberapa media sosial seperti Blackberry Messenger […]

expand_less