Selasa, 22 Sep 2026
light_mode

UN Jujur: Antara Iktikat Baik Pemerintah dan Keseriusan Para Guru

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2015
  • print Cetak

 

Oleh: Abdul Mujib Nasution
Dosen STAI Madina

 

"Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab. (Prof. M. Arifin, 2003: 37)".

 

Dengan sangat jelas dan terang benderang, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ( SISDIKNAS)  Bab II Pasal 3 di atas, tertulis bahwa di antara tujuan pendidikan Nasional adalah mendidik siswa agar berakhlak mulia. Untuk itu, pembentukan akhlak mulia siswa bukan hanya menjadi tugas guru PAI, akan tetapi menjadi tugas semua orang yang terlibat dalam sebuah proses pendidikan. Dan agar tujuan tersebut efektif, maka seharusnya semua kegiatan dan aktifitas pembelajaran di sekolah seluruh Indonesia diarahkan untuk mencapai tujuan dimaksud bukan malah sebaliknya bertentangan dengan amanat undang-undang di atas, termasuk di dalamnya pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

UN seyogyanya  dijadikan sebagai alat evaluasi terhadap program-program yang telah ditentukan oleh sekolah, bukan malah dijadikan tujuan akhir dari pendidikan dan pengajaran itu sendiri. Sehingga dalam pelaksanaan UN ditempuh berbagai cara yang tidak jujur  agar para siswa mendapatkan nilai yang tinggi. Kalau cara-cara itu yang ditempuh, berarti sekolah sama saja dengan penyedia jasa bimbingan belajar, les privat dan lain sebagainya yang fokus tujuannya hanya kepada bagaimana siswa lulus, bukan bagaimana siswa berwatak dan punya karakter.

Dan untuk itu, untuk apa dibangun sekolah kalau tujuannya hanya ditekankan untuk lulus UN saja tanpa menyentuh hakekat dan esensi pendidikan itu sendiri, yaitu menjadikan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang Sisdiknas di atas.

 

IKTIKAT BAIK PEMERINTAH

Meskipun formulasi pelaksanaan UN itu sendiri masih diperdebatkan oleh banyak pihak, namun patut diapresiasi bahwa pelaksanaan UN tahun ini dianggap sudah lebih baik. Hal itu dibuktikan dengan melibatkan penilaian sejak semester awal. Kemudian disusul dengan deklarasi “UN Jujur dan Berprestasi” tingkat nasional yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Anis Baswedan beberapa bulan yang lalu. Deklarasi “UN Jujur dan Berprestasi” juga diikuti oleh seluruh Dinas  Pendidikan di seluruh wilayah Indonesia termasuk kabupaten dan kota.

Kalau dilihat secara sepintas, apa yang telah dilakukan pemerintah-dari pusat sampai daerah-merupakan bentuk political will yang baik untuk menjadikan pelaksanakan UN tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu “UN Jujur dan Berprestasi”. Tinggal kita melihat pelakasanaan di lapangan. Apakah himbauan pemerintah tersebut hanya bersifat verbal belaka tanpa ada tindak lanjut? Logikanya, kalau seandainya dalam pelakasanaan UN nanti ditemukan kecurangan-kecurangan dan kemudian dilaporkan ke pihak-pihak terkait namun tidak ada tindak lanjut dari laporan-laporan tersebut, berarti pemerintah tidak serius untuk menjadikan UN tahun ini benar-benar jujur dan berkualitas.

Maka dari itu, seharusnya pemerintah daerah – dalam hal ini kabupaten dan kota – tidak hanya melakukan penanda tanganan “Pakta Pelakasananaan UN Jujur dan Berprestasi” dengan kepala sekolah saja, akan tetapi seharusnya melibatkan semua pengawas UN.

 

KESERIUSAN PARA GURU

Untuk mencapai “Pelaksanaan UN Jujur dan Berprestasi” tahun ini, maka tidak boleh tidak para guru harus memulai dengan cara berprilaku jujur dalam segala hal, bukan hanya di depan siswa dan dalam rangka menghadapai UN saja. Dan ini memerlukan keseriusan yang tinggi dari semua guru. Kalau sampai ada oknum guru – na’udzubillah – menjadi tim sukses (Timses) untuk para siswanya pada Ujian Nasional (UN) kali ini, maka di manakah wibawa seorang guru akan diletakkan.

Maka jangan berharap banyak, bangsa ini akan berubah kalau cara-cara semacam ini masih dilakukan oleh para pendidik atau guru yang seharusnya menjadi orang yang digugu dan ditiru. Kalau gurunya kencing berdiri, maka muridnya akan kencing berlari. Bagaimana mungkin bangsa ini akan keluar dari lilitan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sudah menjadi penyakit kronis negeri ini, yang pelakunya dari hulu ke hilir, dan dari tingkat masyarakat awam sampai pada jajaran pejabat tinggi, kalau pola-pola pendidikannya masih menempuh cara-cara yang tidak baik alias kotor.

Guru seharusnya tahu diri dan menyadari, bahwa praktek ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN akan menjadi benih buruk yang akan bersemai kuat dalam jiwa setiap siswa. Dan kalau tidak diamputasi, prilaku semacam itu akan menjadi bibit yang siap tumbuh kapan saja dan dimana saja. Dan itulah sebenarnya yang menyebabkan bangsa ini menjadi bangsa yang korup, meskipun penduduknya mayoritas muslim.

Guru harus sadar bahwa kejujuran merupakan pondasi fundamental dan amat sangat penting untuk membangun sebuah peradaban bangsa. Kejujuran tidak cukup di mulut saja, akan tetapi ia harus diikuti dengan sepak terjang dan prilaku nyata sehari-hari. Prilaku jujur tidak bisa dilakukan secara instan, akan tetapi memerlukan latihan dan pembiasaan yang panjang. Kejujuran tidak bisa dilakukan secara parsial dan setengah-setengah, akan tetapi harus menyeluruh dan komprehensip.

Kejujuran harus dimulai sejak dini, tidak bisa menunggu besar nanti. Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi. Pernah suatu ketika Syaikhona Kholil – ulama karismatik asal Madura yang merupakan guru hampir semua ulama besar di Jawa termasuk KH, Hasyim Asy’ari pendiri NU – didatangi seorang ibu muda dengan membawa anaknya yang masih kecil. Si ibu muda ini minta Syaikhona kholil agar mau menasehati anaknya yang amat suka makan gula. Karena si ibu ini takut gigi anaknya nanti bolong dan rusak. Setelah diminta untuk menasehati anak si ibu muda tersebut, Syaikhona Kholil malah menyuruh ibu dan anaknya itu untuk pulang dan datang kembali seminggu berikutnya.

Apa yang dilakukan Syaikhona Kholil? Ternyata beliau juga suka makan gula. Untuk itu, selama seminggu beliau berlatih untuk tidak suka makan gula sebagaimana anak kecil tadi. Baru beliau mau menasehati si anak kecil tersebut. Kisah ini memberikan inspirasi kepada kita semua, khususnya para guru bahwa, perkataan yang datang dari hati, juga akan sampai ke dalam hati. Sedangkan perkataan yang datang hanya sebatas dari lidah, maka akan juga sebatas lidah saja.

Guru pun harus memberikan pemahaman kepada para siswanya bahwa, lulus atau tidak lulus dalam ujian merupakan sesuatu hal yang biasa. Dan untuk itu, guru harus mengajarkan dan membiasakan siswa untuk berusaha dan berikhtiar dengan semaksimal mungking sambil berdo’a kepada Allah Swt. Artinya, para siswa harus disuport dan diberikan pemahaman serta dilatih untuk bekerja keras dalam segala hal.

Dalam konteks UN, kalau hak-hak siswa sudah diberikan;  dari sejak pembelajaran yang baik, les tambahan, try out menjelang ujian, sudah diajarkan metode terbaik dalam belajar, disamping juga mereka sudah belajar semaksimal mungkin, namun masih ada yang tidak ada lulus UN, kita berharap siswa akan menerima dengan legowo. Karena mereka sudah dilatih untuk menerima hal-hal terburuk sekalipun.

Permasalahannya sekarang adalah, selama ini banyak terjadi ketimpangan mengenai hasil UN siswa dan tidak sesuai dengan realitas keadaan siswa di lapangan. Sehingga banyak siswa yang protes dan frustasi. Yang biasanya dalam pembelajaran sehari-hari berprestasi dan rangking terus, malah tidak lulus. Sementara ada siswa yang malah sering bolos ketika sekolah dan identik dengan siswa banyak masalah, malah lulus.

Kita semua berharap semoga UN tahun ini benar-benar “Jujur dan Berprestasi”. Dan hal itu semua akan terwujud kalau ada iktikat baik dari pemerintah dan keseriusan dari sekolah serta para guru. Semoga….!!

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemungutan Suara Ulang Pilkada Madina Digugat ke MK

    Pemungutan Suara Ulang Pilkada Madina Digugat ke MK

    • calendar_month Kamis, 5 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Pemungutan Suara Ulang Pilkada Mandailing Natal (Madina) pada 24 April 2011 lalu yang dimenangkan pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Madina Hidayat Batubara-Dahlan Hasan Nasution sesuai penetapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Madina pada 29 April 2011 lalu, digugat ke Mahkamah Konsitusi (MK). Ketua KPU Kabupaten Madina Jefri Antoni SH yang dikonfirmasi melalui telepon mengakui pihaknya mendapatkan […]

  • Warga Yang Hanyut di Aek Sinakakok Batang Natal Ditemukan Meninggal Dunia

    Warga Yang Hanyut di Aek Sinakakok Batang Natal Ditemukan Meninggal Dunia

    • calendar_month Jumat, 8 Mar 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    BATANG NATAL ( Mandailing Online ): Rahuddin Harahap lansia diperkirakan 73 hingga 80 tahun yang merupakan Warga Desa Aek Garingging Kecamatan Linggabayu Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hanyut Kamis (7/3/24) malam sekira pukul 22.00 wib ditemukan meninggal dunia. Korban meninggal akibat terbawa luapan aek Sinakakok yang bermuara ke sungai batang natal ditemukan pukul 09.00 Wib Jum’at […]

  • Mbah Yono Naik Sepeda Keliling Indonesia

    Mbah Yono Naik Sepeda Keliling Indonesia

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Meski di usia tua dan renta, Suyono Notodiwiryo (70) yang familiar dipanggil Mbah Yono, warga Menteng, Jakarta Pusat, ingin membuktikan kecintaannya terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan mengelilingi nusantara naik sepeda. Mbah Yono tiba di Komplek Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Payaloting, Selasa (05/07/2011) sekitar pukul 12.30 WIB dan disambut Asisten Ekonomi dan […]

  • Usut Sumber Duit Amrin Tambunan

    Usut Sumber Duit Amrin Tambunan

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terdakwa korupsi Tunjangan Pendapatan Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Tapanuli Selatan Tahun 2005 senilai Rp 1,5 miliar lebih, Amrin Tambunan, mengembalikan uang sebesar Rp 1,5 M. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia mendesak sumber duit Amrin Tambunan diusut. Penegasan ini disampaikan Sekretaris Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Sumatera Utara (PKC PMII Sumut) Darwin Sipahutar melalui […]

  • Pelestarian Kesenian Mandailing Masih Kurang Serius

    Pelestarian Kesenian Mandailing Masih Kurang Serius

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dinilai masih kurang serius melestarikan kesenian asli Mandailing. Selain itu, perhatian terhadap para seniman juga masih rendah. Kondisi ini bisa berakibat buruk ke depan, yaitu hilangnya kesenian asli Mandailing, dan diperparah oleh derasnya budaya asing masuk ke daerah yang akan mempercepat kemungkinan buruk tersebut […]

  • UKM : SUMBER EKONOMI MASA DEPAN INDONESIA

    UKM : SUMBER EKONOMI MASA DEPAN INDONESIA

    • calendar_month Selasa, 3 Jul 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Alghif Aruni Nur Rukman, S.P Mahasiswa Magister Sains Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor   Masalah yang dihadapi Indonesia saat ini adalah bagaimana kita bisa keluar dari sebutan negara berkembang menjadi negara yang dapat sejajar dengan negara maju. Persoalan ini menjadipentingkarenapotensi Indonesia menjadi negara majumasihterbukaluas, sehingga Indonesia perlumempertahankanpotensi yang adasekaligus juga […]

expand_less