Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 2-selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2015
  • print Cetak

Seorang pemimpin dapat disebut sebagai “Community Worker” jika pemimpin tersebut selalu bekerja di tengah-tengah masyarakat, dan bukanlah yang menampakkan sifat elite yang berlebihan, apalagi lupa pada kampung halamannya. Kesan pemimpin yang begitu elite, mutlak harus ditinggalkan. Karena ke depan masyarakat butuh pelayan yang selalu mengabdi untuk kepentingan masyarakat. Yang memimpin proses rekonstruksi dan program kesejahteraan masyarakat. Yang diharapkan di sini adalah dengan selalu berada di tengah-tengah masyarakat, memudahkan bagi elite-elite politik untuk menyerap aspirasi masyarakat secara langsung.

Bapak Dahlan Hasan Nasution menyadari betul bahwa dengan bekerja di balik meja sambil menunggu laporan dari bawahannya bukanlah sesuatu hal yang efisien untuk mendengarkan aspirasi dari masyarakat. Pola kepemimpinan model ini dalam rentang sejarah peradaban bangsa kerap tidak bersinergi dengan aspirasi masyarakat. Kematangannya terbukti di titik ini. Bahkan tak jarang beliau terjun ke masyarakat tanpa pengawalan SKPD yang terkait, agar bisa lebih mudah untuk berbaur dengan masyarakat tanpa ada rasa sungkan dan segan. Sehingga masyarakat pun lebih leluasa untuk menyampaikan apa yang ada di dalam benak mereka selama ini.

Sejarah adalah pengalaman. Jika kita buka lembaran sejarah kejayaan Islam dibawah pimpinan Umar Ibn Al-Khattab, ra akan kita temukan sifat mengayomi masyarakat yang luar biasa. Umar tidak bisa tidur dengan nyenyak di malam hari jika belum melakukan ronda dan mengunjungi rakyatnya untuk memastikan apakah mereka sudah tidur atau masih memikirkan makanan untuk anaknya. Di sinilah terlihat betapa pentingnya mendengar dan berbaur dengan masyarakat agar persoalan yang dihadapi bisa dilihat dan dicarikan solusi secara tepat. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau tahu kondisi dan keadaan masyarakatnya. Mereka mau “blusukan” (istilah yang popular sekarang) untuk memastikan dan melihat apa yang rakyat butuhkan. Sehingga rakyatnya tidak takut menyampaikan aspirasinya kepada mereka. Rakyat akan sungkan, malu dan takut apabila pemimpinnya hanya duduk, tanda tangan dan berpidato di depan atau di dalam gedung.

“Blusukan” adalah salah satu cara ampuh untuk lebih dekat dengan rakyatnya dan mendengarkan keluh kesah rakyatnya. Banyak kisah “blusukan” dizaman Umar Ibn Al-Khattab, ra di antaranya :

“Suatu hari Khalifah Umar sedang “blusukan” di salah satu perkampungan, tak diduga beliau mendengar tangisan anak-anak kecil yang sedang kelaparan dari salah satu rumah. Dengan bergegas beliau menghampiri rumah tersebut dan menanyakan kepada ibu mereka, “Wahai ibu, kenapa anak-anakmu menangis seperti ini?” tanya Umar. Sang ibu menjawab, “Kami selama beberapa hari belum makan”. Umar bertanya lagi, “Apa yang engkau masak itu” sambil menunjuk sesuatu di dalam penanak makanan, “Saya hanya memasak air sebagai pelipur kelaparan mereka, apabila mereka sudah capai menangis, mereka akan tertidur dengan sendirinya” jawab ibu tadi. Ibu tadi melanjutkan bicaranya, “Saya heran kepada pemimpin negeri ini, kami yang miskin ini tidak pernah dikunjungi dan tidak pernah diberi kesejahteraan” gumam ibu tersebut. Khalifah Umar pun hanya terdiam dan langsung bergegas pergi ke Baitul Mal (gudang makanan). Khalifah Umar lalu mengambil sekarung gandum dengan digendong sendiri olehnya, salah satu pengawalnya bertanya, “Ya Amirul Mukminin, ijinkan saya membantumu membawakan karung tersebut?”. “Apakah engkau kuat menanggung dosa-dosaku kelak di hari Kiamat sebagai pemimpin umat” jawab Umar, pengawalnya pun terdiam. Setelah sampai di rumah tersebut, si ibu sangat senang bukan kepalang sambil berucap, “Engkau lebih peduli daripada pemimpin negeri ini, siapakah engkau wahai pemuda?”, Khalifah Umar pun menjawab, “Saya adalah Umar yang kurang peduli pada rakyatnya dan barusan engkau terangkan sikapnya tadi”. Si ibu itu pun kaget dan langsung meminta maaf kepada Khalifah Umar bin Khattab.”

Pemimpin yang merakyat bukanlah pemimpin yang bermegah dengan bergelimangnya harta dan dikelilingi para hamba yang selalu menyatakan iya. Pemimpin seperti ini tidak akan bisa bertahan lama disinggasana. Dia akan dihancurkan oleh sikapnya dan orang-orang yang meninabobokkannya. Pemimpin yang dibutuhkan masyarakat adalah pemimpin yang hidup penuh kesederhanaan dan memiliki dedikasi dan pengabdian yang tinggi kepada rakyatnya seperti cerita diatas tadi. Suatu ketika, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya ditemani Anas Bin Malik. Dibarisan belakang mereka, turut hadir pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya.Sementara itu sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung disabuknya. Ia bertanya-tanya dimana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. Ia membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar keseluruh dunia pasti tinggal di Istana yang sangat megah. Benaknya mengatakan itu karena nama Umar bin Khattab sedemikian terkenalnya.

Sesampai di Madinah mereka langsung menuju tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke Masjid sedang menerima delegasi dari Kufah. Mereka pun bergegas ke Masjid. Tetapi tidak juga bertemu Umar. Melihat rombongan itu, anak-anak di Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukan bahwa Amirul Mu’minin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal seorang diri. Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukan bahwa Umar adalah lelaki yang berpakaian seadanya yang tidur di Masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya, tetapi memang itulah kenyataannya. Sambil berdecak kagum Hurmuzan mengatakan, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman”.

Berbicara tentang pemimpin yang merakyat, tentu mesti ada alat yang diposisikan sebagai parameter. Penting bagi rakyat memiliki timbangan untuk menarik kesimpulan apakah pemimpinnya benar-benar merakyat atau pura-pura belaka. Pemaknaan bias terhadap kata merakyat berpotensi menimbulkan pembohongan dan penipuan publik. Pada akhirnya, secara subyektif, sang pemimpin boleh jadi mengklaim bahwa dirinya merakyat. Tapi secara obyektif dan kolektif, rakyat tak sama sekali merasakan bahwa sang pemimpin yang memimpinnya adalah pemimpin yang merakyat.

Satu hal pertama yang penting untuk digarisbawahi, pemimpin merakyat bukanlah pemimpin yang sering sekali mengklaim dirinya sebagai pemimpin merakyat. Mengatakan “Aku cinta rakyat”, “Aku berkawan dengan rakyat”, atau “Aku membela kepentingan rakyat”. Klaim semacam itu tak bisa sama sekali menjadi standar yang dapat menunjukan seorang pemimpin benar-benar merakyat. Pemimpin yang baik pemimpin yang selalu berbuat dan melayani rakyat meskipun tanpa publikasi, kendatipun tidak banyak yang mengetahui dan biarpun tak dikenang. Berbuat karena menyadari itu semua adalah amanah yang harus diemban dan ditanggungjawabi di dunia maupun di akhirat, dan tidak perlu penilaian dari manusia karena sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui segalanya. Umar Ibn Al-Khattab adalah merupakan salah satu cermin pemimpin yang tahu betul bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Pemimpin hebat bukan karena fisik, orasi dan namanya hebat. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mau melihat penderitaan rakyat dan mendengarkan keluh kesah rakyat. Rakyat tidak menginginkan pemimpin yang hanya “ngomong” dan berorasi di luar maupun dalam gedung. Rakyat ingin pemimpin yang mau dekat dengan mereka dan mau mendengarkan rintihan mereka.

Harapan kita tentunya Dahlan Hasan-Ja’far Suheri akan menjadikan kematangan, kedewasaan dan kearifan dari kepemimpinan Umar ibn Al-Khattab tersebut sebagai pembelajaran dan pencerahan kepemimpinan bagi kelanjutan pembangunan Mandailing Natal ke depan. Saatnya kita eliminir pemikiran kerdil yang sering menukik tajam dalam sikap, tingkah laku, perbuatan dan perkataan karena lahirnya pemikiran seperti ini biasanya diembrio dari persoalan-persoalan yang sesungguhnya hanya bersifat subjektif bahkan tidak jarang hanya rekayasa. Maka, berpikir positif mutlak adanya untuk menilai kepemimpinan dalam persefektif apapun dan jenis kepemimpinan seperti apapun. Kita semua adalah pemimpin paling minimal menjadi ayah bagi keluarga yang berperadaban.

Mari kita menilai dengan hati yang bersih dan suci karena penilaian yang lahir dari nurani biasanya akan jernih dan terbebaskan dari kepentingan yang mengitari perjalanan kehidupan manusia. Semoga saja ke depan nanti kita akan selalu bersama membangun negeri yang berkemajuan dan berpradaban ditanah kelahiran ini. “Tiada gading yang tak retak namun retaknya harus bisa menjadi hiasan dan bukan seperti kaca retak yang bisa menimbulkan luka dan perbedaan”. Wallohu aqlam bis shawab.

Perampung     : Tim

Editor              : Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yang Muda Bisa Juga Jadi Raksasa

    Yang Muda Bisa Juga Jadi Raksasa

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Atika Azmi Utammi Nasution, B.AppFin, MFin Masayoshi Son adalah pendiri SoftBank saat masih berusia 24 tahun. Kini, SoftBank menginjak usia 39 tahun dengan jumlah karyawan sekitar 38.000 di seluruh dunia dikutip dari website resmi SoftBank. Pria lulusan UC Berkeley California ini berhasil mengembangkan SoftBank menjadi perusahaan terbesar kedua di Jepang setelah Toyota dan […]

  • Deklarasi APDESI 3 Periode Jokowi Berujung Pada Politik Praktis

    Deklarasi APDESI 3 Periode Jokowi Berujung Pada Politik Praktis

    • calendar_month Jumat, 8 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Halvionata Auzora Siregar Mahasiswa   Tak lama ini kita dihebohkan deklarasi oleh para pejabat desa atau perangkat desa yang tergabung dalam organisasi APDESI yang mendukung presiden kita menjabat sampai 3 periode. Isu 3 periode tak heran lagi di berita nasional untuk saat ini. Ada beberapa alasan para anggota APDESI ini untuk mendeklarasikan presiden 3 […]

  • Harga Ekspor Karet Sumut Sentuh Titik Terrendah

    Harga Ekspor Karet Sumut Sentuh Titik Terrendah

    • calendar_month Sabtu, 26 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Harga ekspor karet SIR 20 Sumatera Utara pada November 2015 yang sebesar 1,171 dolar AS per kilogram tercatat sebagai terendah dalam tujuh tahun terakhir. Kondisi ini menyebabkan pendapatan keluarga petani karet di Mandailing Natal masih tetap berada di garis rendah. Sekitar 80 persen penduduk bermatapencaharian dari hasil menyadap karet. Hal ini […]

  • Basmi korupsi, ketegasan Istana penting

    Basmi korupsi, ketegasan Istana penting

    • calendar_month Selasa, 7 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Negara dan masyarakat di era Presiden SBY harus berperang melawan korupsi secara tegas dan tandas. Karena itu, genderang perang terhadap tindak pidana korupsi yang telah ditabuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (Istana) sejak lama, harus digelorakan. Cinta Indonesia Cinta Anti Korupsi (CICAK), misalnya, menegaskan, belakangan ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tidak […]

  • Sekolah Dilarang Rayakan Valentine Day

    Sekolah Dilarang Rayakan Valentine Day

    • calendar_month Selasa, 9 Feb 2016
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    BALIKPAPAN – Sekolah-sekolah di Balikpapan, Kalimantan Timur dilarang merayakan Valentine Day yang jatuh setiap 14 Februari. Hal itu diatur dalam surat edaran yang dilayangkan Dinas Pendidikan Balikpapan. Kepala Dinas Pendidikan Balikpapan Muhaimin mengatakan, pihaknya sudah melayangkan edaran ke semua sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA per tanggal 5 Februari 2016. Surat edaran tersebut terkait larangan […]

  • Siswa yang tak Terlibat Injak Alquran, Diminta Tetap Tenang

    Siswa yang tak Terlibat Injak Alquran, Diminta Tetap Tenang

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    SELUMA, – Siang kemarin Wakil Bupati Seluma, Mufran Imron, SE langsung turun ke lapangan dengan mendatangi SMAN 6 Seluma, yang heboh karena kasus sejumlah siswa menginjaak Alquran saat disumpah oknum gurunya. Dia datang menggunakan mobil Daihatsu APV Nopol B 1509 ZFI. Setibanya di SMAN 6 Seluma, Mufran langsung melihat-lihat ke dalam ruangan kelas siswa setelah […]

expand_less