Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

Aksara Mandailing Menyebar ke Toba

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 4 Nov 2017
  • print Cetak

 

Aksara Tulak-Tulak

Aksara Mandailing dikenal dengan aksara Tulak-Tulak. Aksara ini merupakan metamorfosa dari huruf Pallawa.

Berdasar penelitian para ahli sejarah dan antropolog, Aksara Tulak-Tulak ini menyebar dari selatan (Mandailing) kea rah utara (Toba).

Harry Parkin dalam “Batak Fruit of Hindu Thought”, (1978:101) menyimpulkan, bahwa ”aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah…”.

Sementara itu, Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai’I, dalam Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII (Jakarta 2009: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia), menyebutkan aksara di kawasan Tapanuli mula-mula ada di Mandailing.

Kesimpulan itu berdasarkan perbandingan dan analisa nama-nama huruf diakritik oleh Uli Kozok.

Pakar sejarah dan sastra Sumut, Z Pangaduan Lubis dalam artikel “Sekilas Budaya Mandailing” menyebutkan orang Mandailing memiliki aksara etnisnya sendiri yang dinamakan surat tulak-tulak. Meskipun masyarakat Mandailing memiliki aksara tetapi boleh dikatakan aksara tersebut pada masa lalu tidak dipergunakan untuk mencatat atau menulis sejarah. Kalaupun aksara etnis tersebut dipergunakan buat menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, ia hanya dipergunakan menuliskan tarombo (silsilah keluarga). Selain itu lebih banyak dipergunakan buat mencatat ilmu pengobatan tradisional dan ilmu peramalan dalam kitab tradisional yang disebut pustaha.

Oleh karena itu hingga sekarang tidak ditemukan catatan sejarah Mandailing yang dituliskan dengan surat tulak-tulak.

Di Mandailing surat tulak-tulak dipergunakan untuk menulis pustaha. Ada pustaha yang terbuat dari kulit kayu atau lak-lak yang dilipat-lipat, dan ada juga yang terbuat dari satu ruas atau beberapa ruas bambu. Pustaha yang terbuat dari kulit kayu yang dilipat-lipat biasanya berisi mantra-mantra dan cara-cara penyembuhan tradisional. Selain itu ada juga yang berisi ilmu perbintangan (semacam ilmu astrologi), ilmu meramal, dan ilmu-ilmu gaib. Sedangkan pustaha yang terbuat dari bambu satu ruas atau lebih, biasanya berisi tarombo atau silsilah keluarga.

Menurut Harry Parkin, dalam bukunya yang berjudul Batak Fruit of Hindu Thought (1978:102), bahwa tanggal yang tercatat sebagai tanggal pertama kali pustaha didapat seorang kolektor merupakan satu-satunya bukti mengenai usia pustaha. Pada 18 Mei 1746, Alexander Hall menyerahkan satu pustaha kepada British Museum. Itulah pustaha tertua yang pernah dikenal. Dalam buku yang sama Harry Parkin juga menjelaskan bahwa gaya bahasa yang digunakan dalam menulis pustaha dinamakan hata ni poda (ragam bahasa nasehat). Hal ini berarti semua pustaha (yang dimiliki berbagai kelompok etnis di Sumatera Utara, seperti Mandailing, Angkola, Toba, Simalungun, Karo, dan Pakpak) menggunakan gaya bahasa yang serupa.

Gaya bahasa tersebut, menurut Voarhoeve, adalah satu ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing). Pustaha dari daerah lain, seperti Toba, Simalungun, Karo, dan Fakfak, tidak ditulis dengan bahasa yang murni kelompok-kelompok etnis tersebut, tetapi ditulis dengan ragam hata poda yang dicampur dengan bahasa etnis yang bersangkutan.

Fakta yang demikian ini mendukung kesimpulan yang diperoleh sebagai hasil perbandingan tulisan-tulisan dari berbagai idiom bahwa bahasa yang dipergunakan untuk menulis pustaha mendapatkan aksaranya dari Selatan (Mandailing). Ragam bahasa poda terkait dengan ilmu-ilmu gaib para datu ini menghadirkan berbagai problema linguistik. Masing-masing datu mempunyai jargon atau sistem singkatan bahasanya sendiri. Masing-masing ilmu gaib mempunyai terminologinya sendiri yang tidak digunakan dalam bahasa sehari-hari, sehingga tidak dipahami secara umum. Biasanya hanya datu yang bertanggungjawab atas penulisan pustaha, dan yang dapat memberikan suatu penjelasan yang penuh dan jelas tentang isi pustaha.

Suatu perbandingan mengenai aksara yang punya persamaan yang digunakan untuk menulis pustaha, bersama dengan fakta bahwa bahasa poda merupakan ragam bahasa kuno dari Selatan (Mandailing) memberikan petunjuk satu pola perkembangan dari Selatan ke arah Utara. Isi pustaha menunjukkan rasa tertarik yang jelas terhadap konsep megicoriligious (konsep sihir-religius).

Harry Parkin (1978:101) menambahkan, bahwa ”aksara tersebut masuk ke daerah Toba dari Mandailing. Dari Toba jalan yang dilaluinya bercabang dua mengelilingi danau, satu cabang bergerak memasuki Simalungun, dan cabang yang satu lagi memasuki Dairi, dan dari sana masuk pula ke Karo. Hal ini terjadi secara bertahap dan alamiah…”. Sedangkan sarjana Barat lain yaitu Uli Kozok dalam bukunya Warisan Leluhur, Sastra dan Aksara Batak (1999:61-79) juga menggambarkan persebaran surat tulak-tulak dari Mandailing ke Utara (sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah peta).

Kalau penggunaan aksara surat tulak-tulak dipakai sebagai pertanda jaman sejarah di Mandailing, kita juga belum tahu sama sekali kapan waktunya warga Mandailing menggunakan aksara etnis tersebut. Itu berarti bahwa kita tidak tahu kapan mulai warga Mandailing mengawali jaman sejarahnya.

Barangkali tidak salah kalau sejarah Mandailing kita bicarakan dengan mengawalinya dengan jaman Hindu di Indonesia atau jaman Hindu di Mandailing. Karena kita tahu bangsa Hindu yang datang ke Indonesia termasuk Mandailing mempunyai aksara. Dalam hubungan ini ada beberapa pendapat (teori) yang mengatakan bahwa aksara-aksara etnis yang terdapat di Nusantara ini termasuk surat tulak-tulak berasal dari aksara Hindu yang disebut aksara Pallawa, Dewa Nagari dan Kala Nagari.

Kalau pendapat ini kita terima maka dapatlah kita katakan bahwa jaman sejarah di Mandailing mulai dari awal abad Masehi. Karena pada masa itulah orang Hindu dari India mulai masuk ke Mandailing antara abad pertama dan abad kelima Masehi. Sebab pada abad ke 2 Masehi orang Hindu dari India mulai sibuk mencari emas karena pasokan emas ke India pada waktu itu mulai terhenti akibat terjadinya kerusuhan besar di Asia Tengah akibat terjadinya penyerbuan bangsa Tar Tar dan bangsa Hun serta bangsa Mongol.

Kita tahu bahwa bangsa Hindu menyebut pulau Sumatera: Swarna Dwipa (Pulau Emas) yang menjadi tujuan orang Hindu dari India pada waktu mereka berusaha mencari emas. Di pulau Sumatera wilayah Mandailing (yang pada masa dahulu termasuk di dalamnya kawasan Pasaman) kaya dengan emas. Dari zaman dahulu sampai sekarang, Mandailing dinamakan Tano Rura Mandailing, Tano Omas Sigumorsing yang berarti Tanah Emas.***

 

Editor : Dahlan Batubara

 

Sumber :

Pangaduan Lubis : “Pelestarian Warisan Buadaya Mandailing”, 1998

Pangaduan Lubis : “Sekilas Budaya Mandailing”

Prof. Dr. Uli Kozok “Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII” (Jakarta 2009: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia).

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yakin Tuhan Itu Esa, Wanita Inggris Itu Memeluk Islam

    Yakin Tuhan Itu Esa, Wanita Inggris Itu Memeluk Islam

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Anisa Kissoon, seorang wanita Inggris ini merasakan manisnya hidayah Allah melalui dakwah tak langsung sang kakak. Ia tumbuh besar bersama sang kakak dengan contoh yang baik darinya. Saat kakaknya berusia 12 tahun, Anisa seringkali mendapati kakak laki-lakinya itu shalat dan membaca Alquran. Bermula dari situ, Anisa tertarik pada dinullah ini. “Banyak pengaruh datang dari kakakku […]

  • Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan Berlangsung Senin

    Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan Berlangsung Senin

    • calendar_month Minggu, 20 Feb 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jika tak ada halangan, Mandailing Natal akan melangsungkan Sidang Adat dan Festival Budaya Bersastra Gordang Sambilan. “Insyaalah dilangsungkan Senin depan, 21 Pebruari 2022″ kata Ketua Umum Badan Pemangku Adat dan Budaya (BPAB) Mandailing Natal (Madina), Mangaraja Soangkupon kepada Mandailing Online di Panyabungan, Jum’at (17/2/2022). Lokasinya direncanakan di kawasan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) Para raja-raja Mandailing […]

  • Dugaan Penggelapan Gaji Aparat Desa Hutaraja Pansel Terus Mencuat. Temuan Baru Intensip Guru MDA, Bilal Mayit dan Kader Kesdes Diduga Juga Digelapkan Kades

    Dugaan Penggelapan Gaji Aparat Desa Hutaraja Pansel Terus Mencuat. Temuan Baru Intensip Guru MDA, Bilal Mayit dan Kader Kesdes Diduga Juga Digelapkan Kades

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online) – Dugaan penggelapan gaji aparat desa oleh Kepala Desa Hutaraja, di Kecamatan Panyabungan Selatan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) terus mencuat. Temuan baru ternyata, Kepala Desa juga diduga menggelapkan gaji BPD, Guru MDA, Bilal mait, BKM Masjid dan Kader Kesehatan desa untuk tahun anggaran 2024 akhir sapai 2025. Dari keterangan Syafruddin […]

  • Bruno Mars Kepincut Fatin Shidqia Lubis

    Bruno Mars Kepincut Fatin Shidqia Lubis

    • calendar_month Kamis, 31 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Jakarta, (MO) – Nyanyian Fatin Shidqia Lubis (16), dalam lomba tarik suara di layar kaca X Factor Indonesia Auditions episode keempat, telah memikat Bruno Mars, artis musik internasional dari Amerika Serikat. Setelah menonton video YouTube yang berisi penampilan pelajar SMA itu membawakan “Grenade”, sang pemilik lagu, Bruno Mars, menampilkan video tersebut ke situs resminya, brunomars.com. […]

  • Kepribadian Anak Tergantung Sistem yang Diterapkan

    Kepribadian Anak Tergantung Sistem yang Diterapkan

    • calendar_month Rabu, 11 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Hadi Kartini Kisah Malin Kundang kembali terjadi. Seorang remaja  yang berinisial MAS 14 tahun tega menikam ayah, ibu, dan neneknya. Dikabarkan, ayah dan neneknya meninggal dunia, sedangkan ibunya mengalami luka tusuk dan telah mendapatkan perawatan medis. Peristiwa ini terjadi pada hari Sabtu (30-11-24), di Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Setelah melakukan penyelidikan, Pelaksana Harian […]

  • KETAKUTAN DI TANAH SENDIRI

    KETAKUTAN DI TANAH SENDIRI

    • calendar_month Jumat, 12 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Warga Sibanggor Tak Lagi Tidur Nyenyak (Bagian 2)   Laporan : Dahlan Batubara dan Seri Aida Lubis   Hamparan sawah itu kini terbengkalai. Petaninya takut ke sawah itu. Bayangan meregang nyawa di sawah oleh sebaran racun senantiasa menghantui sanubari petani. Itu gambaran terkini di kalangan petani Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal, […]

expand_less