Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Dr. Radjamin Nasution Walikota Pertama Surabaya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
  • print Cetak

dr Radjamin Nasution

Namanya dr. Radjamin Nasution, gelar Sutan Kumala Pontas, lahir di Barbaran Julu, Panyabungan Barat, Mandailing Natal, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892.

Di Surabaya, Radjamin Nasution termasuk bumiputera yang berpendidikan tinggi. Naluri dan jalan pikirannya bangkit. Apalagi ia menyadari bahwa tinggal dan berkeluarga di tempat kelahiran sobatnya, dr. Soetomo. Radjamin mulai menyingsingkan lengan baju, memulai babak baru bertarung berhadapan dengan kaum Belanda di parlemen Kota Surabaya. Karir Radjamin di parlemen makin menguat hingga terpilih menjadi wakil Jawa Timur mewakili Kota Surabaya ke Volksraad (parlemen pusat) dari Partai Parindra. Posisi Radjamin menjadi “double gardan”, di satu tangan menjadi anggota senior Dewan Kota Surabaya (wethouder), dan di tangan lainnya sebagai anggota Volksraad.

Dari kampung ke kampung, Radjamin Nasution melihat kondisi masyarakat dan menampung aspirasi rakyatnya. Dalam hal tertentu, Radjamin tidak segan-segan menegur dan menggertak Walikota Surabaya, Fuchter yang berkebangsaan Belanda jika ada pembangunan yang dijalankan jauh menyimpang dari kebutuhan rakyat.

Figur Radjamin galak terhadap Belanda, sebaliknya santun terhadap rakyatnya. Karakter yang lengkap ini juga disukai pasukan Jepang. Ketika datang pertama kali ke Surabaya, militer Jepang mengangkatnya sebagai walikota, menggantikan kedudukan Fuchter yang saat itu sibuk mengurusi soal deportasi bangsa Eropa dari Surabaya. Bahkan di masa pendudukan Jepang, Radjamin kerap bersinggungan dengan kebijakan pemerintah dari negeri sakura itu.

Saat pemerintahan Jepang menyatakan “kalah” dalam Perang Dunia II, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, tepat pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Takahashi Ichiro kemudian menyerahkan sepenuhnya kepala pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, Radjamin Nasution.

Ketika Jepang takluk atas sekutu, pimpinan Republik di Jakarta mengangkatnya menjadi walikota. Konon, pengangkatan Radjamin sebagai walikota incumbent itu atas penilaian Ir. Soekarno sendiri. Soekarno adalah putra daerah Surabaya (lahir dan dibesarkan di Surabaya). Ini berarti, Radjamin tidak memerlukan rekomendasi Amir Sjarifoeddin dan M. Hatta untuk penunjukannya, karena Soekarno sendiri yang merekomendasikan.

Soekarno, Hatta dan Amir adalah tiga founding father negara Republik Indonesia. Sedangkan Amir Sjarifoeddin (Harahap) adalah adik sekampung halaman Radjamin di Tapanuli Selatan.

Radjamin Nasution yang bertempat tinggal di Jalan Alun-alun Rangkah, Surabaya itu, memerintah Kota Surabaya dalam suasana perang. Saat menjadi walikota, Radjamin lebih banyak disibukkan dengan urusan perang. Ketika terjadi pertempuran sengit antara Arek-arek Suroboyo melawan Sekutu yang dikendalikan oleh tentara Inggris, banyak korban berjatuhan. Ratusan dan mungkin ribuan orang gugur di medan perang Surabaya. Patriot bangsa ini kemudian dikuburkan di berbagai tempat.

Atas gagasan Walikota Surabaya Radjamin Nasution, kemudian pemakaman para pejuang yang gugur itu dipindahkan ke lapangan “Canna” (Sekarang TMP Kusuma Bangsa). Untuk pertama kalinya dimakamkan 26 orang pejuang. Upacara pemakaman ini dipimpin langsung oleh Radjamin Nasution selaku kepala pemerintahan Kota Surabaya. Salah satu putranya ialah Irsan Radjamin, suami dari wanita pejuang Surabaya, Hj. Lukitaningsih Irsan Radjamin yang pernah menjabat Ketua Umum Wirawati Catur Panca (Ibu-ibu Kelasyakaran Pejuang Eksponen Angkatan 45).

Ketika menjadi walikota, Radjamin bersama stafnya sibuk mengurusi pengungsian. Radjamin yang seorang dokter juga mengambil posisi sebagai Kepala Dinas Kesehatan Surabaya dan mengkoordinasikan save and rescue terhadap pejuang-pejuang yang terluka dari medan perang. Radjamin berinisiatif mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk bahan pakaian para pejuang di Surabaya. Radjamin mondar mandir antara markas pemerintahan Kota Surabaya di pengungsian (Mojokerto dan Tulungagung) dan front pertempuran di Kota Surabaya. Namun setelah pengakuan kedaulatan RI, Radjamin yang bertindak sebagai walikota di pengungsian dan belum pernah dipecat, tak dinyana haknya diambil alih alias dirampas. Radjamin lebih memilih berjuang kembali lewat parlemen untuk bisa tetap dekat dengan rakyatnya.

Sesungguhnya Radjamin Nasution bergelar Sutan Kumala Pontas jauh sebelum dinobatkan rakyat Surabaya sebagai “Arek Soerabaya”. Radjamin sudah menganggap Kota Surabaya sebagai kampung halamannya sendiri.

Radjamin meninggal dunia pada 10 Februari 1957 dan dimakamkan di Surabaya. Saat jenazah disemayamkan di rumah duka ada yang mengusulkan agar almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Sebab, dalam kegiatannya menjelang dan setelah Kemerdekaan RI selalu berada di garis perjuangan. Namun atas “wasiat” almarhum yang disampaikan oleh anak-anaknya, ia ingin dimakamkan di tengah-tengah warga Surabaya. Radjamin Nasution dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Rangkah, di Jalan Kenjeran.

Dan diakhir hayatnya beliau sempat tidak diakui sebagai Walikota Surabaya.

Pengurus Besar Ikatan Pemuda Mandailing (PB IPM) meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mengangkat Rajamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas menjadi Pahlawan Nasional Republik Indonesia.***

Naskah ini dikirim Pengurus Besar Ikatan Pemuda Mandailing

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Momen HUT RI, Desa Sopo Batu Dapat Hadiah Pasokan Listrik

    Momen HUT RI, Desa Sopo Batu Dapat Hadiah Pasokan Listrik

    • calendar_month Rabu, 16 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online)- Desa Sopo Batu salah satu desa terisolir yang berada di Kecamatan Panyabungan Kota Kabupaten Mandailing Natal (Madina) kini sudah merasakan arti kemerdekaan setelah puluhan tahun lamanya menantikan pasokan aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selasa (15/8/2023). Desa yang jaraknya kurang lebih 4 kilo meter dari ibukota Panyabungan Kabupaten Madina ini sebelumnya […]

  • Harga Kakao di Madina Bertahan

    Harga Kakao di Madina Bertahan

    • calendar_month Senin, 25 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Semenjak pemerintah menerapkan Bea Keluar (BK) kakao (coklat–red), harga komoditas ini pada tingkat petani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tak lagi bisa menyentuh level Rp 20.000/kg seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Harganya kini hanya mampu bertahan pada level Rp 15.000 hingga Rp 17.000/kg. Menurut pemhakuan sejumlah petani, sebelum BK kakao diberlakukan, harga jual kakao […]

  • Hore, Jabatan Kepdes di Madina Resmi 8 Tahun

    Hore, Jabatan Kepdes di Madina Resmi 8 Tahun

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA -Mandailing Online: 370 dari 377 Kepala Desa di Mandailing Natal resmi menjabat 8 (Delapan) Tahun setelah dikukuhkan Bupati Madina Muhammad Ja’kfar Sukhairi. Kamis, (18/07/2023). Sebelumnya usia masa jabatan kepdes dalam satu periode hanya 6 tahun kini Kata Bupati Madina Para Kepdes yang sebelumnya sudah pernah dilantik pada Pilkades 2023 lalu, telah resmi menjabat 8 tahun […]

  • Surat Pengunduran Diri Bupati Madina Beredar di Jejaring Sosial

    Surat Pengunduran Diri Bupati Madina Beredar di Jejaring Sosial

    • calendar_month Minggu, 21 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Di jejaring sosial beredar foto surat pengunduran Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution. Surat ber kop Bupati Mandailing Natal itu bertanggal 18 April 2019 itu ditujukan kepada Presiden Republik Indonesia yang ditandatangani Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution D/P Menteri Kordinator Perekonomian Republik Indonesia. Surat itu bernomor 019.6/1214/TUPIM/2019. Prihal “Permohonan […]

  • Survey: Mayoritas Warga Nilai Kepala Desa Tidak Kompeten

    Survey: Mayoritas Warga Nilai Kepala Desa Tidak Kompeten

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Mayoritas responden, atau sebesar 29 persen merasa persoalan pembangunan dan ekonomi desa terletak pada kepala desa dan aparaturnya tidak kompeten. Demikian dilansir Kompas.com, Senin (31/7/2023). Jajak pendapat Litbang Kompas periode Juli 2023 merekam pendapat publik soal berbagai persoalan utama dalam meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat desa. Kemudian, sebanyak 24,3 persen responden […]

  • Bupati Madina Cabut IUP PT Sorik Marapi Geothermal Power

    Bupati Madina Cabut IUP PT Sorik Marapi Geothermal Power

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) — Bupati Mandailing Natal (Madina), Selasa malam (9/12), dikabarkan telah mencabut IUP (izin Usaha Pertambangan) PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP) dalam eksplorasi bagi pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pencabutan ini dikhawatirkan akan berdampak buruk bagi perkembangan investasi di Madina ke depan serta hilangnya peluang Sumatera Utara dalam mengatasi […]

expand_less