Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

Ilusi Kemerdekaan Kurdi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 6 Okt 2017
  • print Cetak

Bendera Irak dan Kurdistan

 

Oleh: M. Ma’ruf
Direktur-Religious Democracy Institute

…….Kurdi sudah pasti tidak akan mendapatkan kemerdekaan sebagai negara normal, tapi kemungkinan besar malah akan menjadi daerah jajahan baru sebagai tempat pangkalan militer AS dan Israel untuk bermimpi menyerang Iran melalui tangan suku Kurdi…….

 

Eforia berita hasil referendum kemerdekaan Kurdi terus menghiasi media lokal dan Internasional. Komisi pemilihan mengatakan 92% dari 3,3 juta orang Kurdi dan non-Kurdi yang memberikan suara mereka mendukung pemisahan diri.

Arah berita begitu pelan, halus terancang dan rapi menyuarakan hati nurani suku Kurdi. Godaan syaraf kemanusiaan rasa keadilan mulai menghipnotis. Kebimbangan emosi publik dipermainkan. Antara menjaga integritas teritori Irak dan kelayakan suku Kurdi mendapatkan hak kemerdekaan, antara keterancaman wilayah Irak, Suriah, Iran, dan Turki berikut rembetan tuntutan kemerdekaan suku Kurdi di wilayah empat negara sekaligus.

Akankah Kurdi menjadi sebuah negara merdeka, rakyatnya makmur dan bebas dari penindasan baik kolonial maupun rezim lokal. Jawaban prediksi penulis adalah akan terjadi absurditas perang dan kemerdekaan ilusi.

Kenapa demikian, karena referendum Kurdi hanyalah implikasi runtutan sistematis dimulai dari skenario Arab Spring (pergantian rezim pro Barat), kondisi pasukan ISIS sebagai relawan Israel di wilayah Irak dan Suriah yang mulai habis, kejutan absurditas blokade Arab Saudi dkk terhadap Qatar, dan yang terbaru referendum Kurdi dapat dibaca sebagai fase pintu perang selanjutnya.

Referendum bagi kemerdekaan suku Kurdi disaat ujung perang melawan ISIS hampir tuntas, artinya estafet peran ISIS diganti oleh suku Kurdi. Referendum Kurdi artinya undangan perang terbuka, suku Kurdi siap tempur menungggu diserang empat negara sekaligus. Fenomena referendum Kurdi menjadi umpan maut bagi perang yang absurd.

Sementara, bagi Trumpt dan Netanyahu referendum Kurdi sesuai dengan plot skenario “New Midle East” yang dipersiapkan dengan baik dimulai dari invasi AS ke Irak 2003. Memecah wilayah di sekitar Israel menjadi negara-negara kecil berdasarkan etnis, mazhab  dan agama. Setelah sebelumnya ISIS sukses menjalankan misi prakondisi penghancuran image Islam dan perusakan infrastruktur Suriah dan Irak.

Tulisan berikut akan mengupas sisi absurditas Perang dan Ilusi Kemerdekaan.

Absurditas Perang

Sudah terang akan terjadi absurditas perang jika suku Kurdi demi mempunyai negara sendiri hanya mengandalkan hasil referendum meski diniatkan sebagai alat tekan dan bergaining terhadap pemerintahan Irak. Sudah pasti absurd jika elit  Kurdi  hanya mengandalkan dukungan militer dan politik Israel dan AS tanpa memperhatikan suara negara yang mengelilinginya dan dunia internasional.

Jika hanya mengandalkan dua elemen tersebut artinya jutaan  rakyat suku Kurdi berikut geografinya akan berpotensi diekploitasi habis-habisan oleh Israel dan AS.

Jumlah 30 juta rakyat Kurdi yang tersebar di Irak, Suriah, Turki dan Iran akan berpotensi menjadi relawan gratis bagi kepentingan Israel dan AS. Kecerobohan pemerintahan AS mengirimkan pasukanya ke Vietnam yang mengakibatkan korban masif militer AS dan hasil perang yang memalukan AS tentu tidak akan diulang.  Israel dan AS tidak perlu membangun koalisi Internasional untuk menginvasi empat negara tersebut.

AS dan Israel akan menjaga dan melindungi kepentingan nasionalnya, yakni menekan jumlah korban tentara AS dan Israel. Dengan kepastian tinggi, penguatan persenjataan militer Kurdi oleh AS dan kepahlawanan rakyat Kurdi setelah berhasil mengalahkan ISIS menjadi modal moral untuk berani menghadapi militer reguler di empat negara sekaligus (Irak, Iran, Turki dan Suriah). Tentu dengan upgrade persenjataan militer yang lebih mematikan oleh AS. Potensi suku Kurdi lebih ampuh untuk diekploitasi dibandingkan dengan ISIS, karena suku Kurdi lebih mengakar. Perang melawan suku Kurdi akan lebih lama dan melelahkan dibandingkan dengan perang melawan ISIS.

Setelah AS dan Israel sukses mengekploitasi masa pakai Turki menjadi panitia masuknya ISIS untuk menghancurkan Suriah, maka pangkalan AS (NATO) di Turki tidak menutup kemungkinan akan dipindah ke Kirkuk yang kaya minyak.  Trumpt akan berpikir dua hal, penguatan pangkalan militer baru dan keuntungan minyak. Sambil perang tidak lupa  menyedot minyak Kirkuk. Kekayaan minyak Kirkuk menjadi modal perang lebih efisien dibanding di masa ISIS yang harus menjual lewat Turki.

Secara militer, minyak gratis di Kirkuk akan mengongkosi pesawat, kendaraan milter dan tank. Dengan memakai wilayah Kurdi yang berbatasan di empat negara sekaligus, maka rudal-rudal bekas yang murah masa perang dunia 2 akan mudah menjangkau Tehran, Bagdad, Ankara dan Damaskus.

Inilah absurditas perang yang akan terjadi, korbanya tidak hanya  30 juta warga Kurdi, tapi juga suku Turki, Persia, Arab, Sunni, Syiah, Kristen dan Yazidi. Dunia akan segera menyaksikan, teater absurd ala Hollywood -bagaimana mungkin kekuatan anti ISIS yang semula satu fron, karena manisnya referendum berubah 180 derajat antar kawan menjadi saling bantai.

Ilusi Kemerdekaan

Akankah referendum Kurdi akan berbuah menjadi satu negara berbasis etnis layaknya sebuah negara merdeka, makmur dan damai? Jawabanya mustahil, jikapun terjadi, maka wilayah Kurdi akan menjadi barak militer AS persis di Afganistan. “Negara gagal Kurdi” tidak akan bisa melakukan kegiatan ekspor dan impor karena seluruh akses darat dan udara di tutup di empat wilayah perbatasan sekaligus. “Negara gagal Kurdi” juga tidak mempunyai akses laut untuk berhubungan dengan dunia luar. Negara Kurdi agar (self sufficient) butuh ekspor minyak keluar, atau membangun pipa minyak membentang melalui Syria dan Turki. Hingga sekarang saja atas permintaan Bagdad; Yordania, Mesir, UEA, Turki, Iran sudah mengentikan penerbangan ke Kurdistan.

Olehkarenanya momentum referendum kemerdekaan Kurdi-di saat riwayat ISIS hampir tamat adalah murni kecanggihan dan keberhasilan Israel memanipulasi rakyat Kurdi. Referendum adalah buah dari investasi bisnis dan politik militer Israel yang sudah terjalin lama. Jika ISIS di ekploitasi dengan janji “permen khilafah”,  maka suku Kurdi di ekploitasi dengan ilusi “permen negara merdeka”. Dengan demikian, sihir referendum Kurdi adalah tawaran permainan rolet ala Israel dengan tingkat bunuh diri 100% bagi suku Kurdi. Israel butuh patner dan legitimasi negara yang didirikan berdasarkan etnis seperti halnya Israel Jewish State.

Referendum Mengalahkan Rasionalitas

Sebenarnya, sedikit saja elit partai suku Kurdi berpikir rasional – tentu akan mudah lepas dari perangkap Israel. Kenapa suku Kurdi terlalu mudah terbuai dengan cinta palsu Israel karena mau mendukung kemerdekaanya. Bukankah puluhan tahun Israel masih menyiksa rakyat Palestina dan tidak mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Bukankah AS dan Israel masih menjajah Palestina, dan tiba-tiba sekarang begitu baik mendukung Kurdi untuk merdeka?. Sebuah fenomena absurd dan hipokrit.

Meski lewat pernyataan resmi, Deplu AS mendukung dialog Kurdi dengan pemerintah Irak, tapi sekaligus menyatakan hasil referendum Kurdi tidak akan mempengaruhi hubungan baik AS dengan suku Kurdi. Ingat, politik luar negri AS selalu bermuka dua, berperan seolah menjadi wasit (penengah) sekaligus mendukung militer Kurdi terang-terangan.

Walaupun dukungan Israel bagi kemerdekaan Kurdi begitu gamblang, tapi sangat disayangkan, banyak para penulis dan pengamat timur tengah terus saja mengeksploitasi sentimen kerinduan suku Kurdi untuk merdeka. Sementara mereka tidak menulis secara faktual dan langsung fokus pada sikap Israel sebagai bahan analisa.

Prediksi penulis-suku Kurdi sudah pasti tidak akan mendapatkan kemerdekaan sebagai negara normal, tapi kemungkinan besar malah akan menjadi daerah jajahan baru sebagai tempat pangkalan militer AS dan Israel untuk bermimpi menyerang Iran melalui tangan suku Kurdi.

Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan Parstoday Indonesia.

Disadur dari : ParsTuday

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dispensasi Nikah Marak, Solusi Praktiskah?

    Dispensasi Nikah Marak, Solusi Praktiskah?

    • calendar_month Selasa, 28 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ross A.R Aktivis Dakwah Kota Medan Miris, banyak sekali terjadi di berbagai daerah pengajuan dispensasi nikah usia dini, dan itu terjadi di berbagai provinsi di negeri ini. Beberapa waktu lalu digemparkan di Ponorogo dimana anak SMP dan SMA mengajukan dispensasi nikah ke KUA setempat dengan alasan mereka telah hamil sebelum menikah. Lantas muncul kembali […]

  • Harga Cabai di Madina Mulai Pedas

    Harga Cabai di Madina Mulai Pedas

    • calendar_month Kamis, 25 Mei 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) – Harga cabe merah naik Rp. 3.000 dari harga sebelumnya Rp. 12.000 sampai Rp13.000. Naiknya harga cabai akibat kurangnya pasokan cabai yang masuk dari luar daerah ke pasar pasar tradisonal di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina). Selain cabai merah, harga cabe hijau dan cabe rawit juga ikut naik, cabe rawit yang awalnya […]

  • Ada Anggaran Empat Pilar di 377 APBDes 2024 di Madina

    Ada Anggaran Empat Pilar di 377 APBDes 2024 di Madina

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online) : Sosialisasi Jaksa Garda Desa nampaknya ditunda pelaksanaannya oleh sejumlah Desa di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina) penundaan sosialisaai itu kuat dugaan karena jadwal pelaksanaan bocor ke wartawan. Diketahui ada alokasi APBDes tahun 2024 untuk 4 pilar. 4 pilar itu adalah Wesbang, Penyuluhan hukum, Jaksa Garda Desa dan Sosialisasi Perangkat Desa. […]

  • Uning-uningan ni Ompunta (2-selesai)

    Uning-uningan ni Ompunta (2-selesai)

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Edi Nasution Alat musikal ini disebut juga uyup-uyup yang terbuat dari selembar bulung tarutung bolanda (daun pohon sirsak) atau terbuat dari sepotong bulung pisang (daun pohon pisang) yang digulung membentuk kerucut, lalu dimasukkan ke dalam mulut untuk ditiup dengan cara dan teknik tertentu. Di samping itu, adakalanya sang kakak (perempuan) menyanyikan nina bobok bue-bue […]

  • Fasilitas na Adong di Lapangan Pembangkit Listrik Panas Bumi

    Fasilitas na Adong di Lapangan Pembangkit Listrik Panas Bumi

    • calendar_month Kamis, 8 Jun 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Asrori Naposo Bulung Desa Sibanggor Tonga Pangartian Panas Bumi             Di Kabupatem Madina on adong rencana ni pemerintah ima get mambaen pembangkit listrik Panas Bumi (geothermal). Manurut informasi bahasona kapasitasna ima sekitar 240 MW. I bagasan ni i, indape sude alak mangarti botul mengenai pembangkit listrik panas bumi on, sanga aha sajodo bangunon […]

  • Wabup Atika: Gotong Royong Harus Dijaga

    Wabup Atika: Gotong Royong Harus Dijaga

    • calendar_month Kamis, 6 Okt 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) membuka secara langsung kegiatan pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-19 yang ditandai dengan pemukulan gong di Desa Banua Simanosor, Kecamatan Bagajuang, Kabupaten Madina, Kamis (6/10/2022). Atika menyampaikan salam dari Bupati dan Ketua TP PKK Madina yang tidak bisa hadir pada kesempatan tersebut. “Pak Bupati […]

expand_less