Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

KESUSASTRAAN MANDAILING (bagian 2)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 9 Okt 2015
  • print Cetak

 

Oleh: Askolani Nasution

Beberapa tonggak sastra yang berkembang di kolonial tersebut patut dicatat periode-periode pertumbuhan sastra berikut:

  1. Willem Iskander (1840-1876). Ia menulis dalam bahasa Mandailing yang amat imajinatif terutama karena dipengaruhi kemampuannya yang tinggi dalam penguasaan bahasa Melayu. Karya-karyanya dipublikasikan secara luas setelah kematiannya, antara lain:
  • “Hendrik Nadenggan Roa, Sada Boekoe Basaon ni Dakdanak.” (Terjemahan). Padang: Van Zadelhoff and Fabritius (1865)
  • “Leesboek van W.C. Thurn in het Mandhelingsch Vertaald.” Batavia: Landsdrukkerij. (1871)
  • “Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk.” (1872)
  • “Taringot di Ragam-ragam ni Parbinotoan dohot Sinaloan ni Alak Eropa.” Naskah ini diadaptasi dari buku “Ceritera Ilmu Kepandaian Orang Putih” yang ditulis oleh Abdullah Munsyi, seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Melayu. (1873)
  1. Soetan Martua Raja (Siregar). Ia lahir dari keluarga aristokrat di Bagas Lombang Sipirok, berpendidikan HIS, sekolah elite di Pematang Siantar. Karyanya adalah:
  • “Hamajuon” (Bahan Bacaan Sekolah Dasar)
  • “Doea Sadjoli: Boekoe Siseon ni Dakdanak di Sikola.” (1917). Buku ini menimbulkan daya kritik terhadap pemikiran anak-anak. Ditulis dengan aksara Latin (Soerat Oelando) yang relatif mengembangkan pedagogik sekuler. Buku ini mengadopsi poda, semacam storyteller yang berisi petuah, ajaran moral dalam konteks tingkat berpikir anak-anak.
  • “Ranto Omas” (Golden Chain), 1918.
  1. Soetan Hasoendoetan (Sipahutar), penulis novel dan jurnalis. Karya-karyanya:
  • Turi-Turian (cerita bertutur, mengisahkan hubungan interaksi antara manusia dengan penguasa langit)
  • “Sitti Djaoerah: Padan Djandji na Togoe.” (1927-1929), sebuah serial berbahasa Angkola Mandailing yang dimuat secara berantai dalam 457 halaman. Serial ini dimuat di mingguan “Pustaha” yang terbit di Sibolga. Kisah ini diyakini menjadi alasan pembaca membeli surat kabar tersebut. Serial ini mengadopsi cerita-cerita epik, turi-turian, dan berbagai terminologi sosial masyarakat Angkola-Mandailing dan ditulis dengan gaya bertutur novel. Ini selaras dengan berkembangnya berbagai novel berbahasa Melayu yang dipublikasikan pemerintah kolonial. Dalam sejarah kesusastraan Indonesia, masa ini dikenal dengan masa Angkatan Balai Pustaka atau Angkatan 20-an. Soetan Hasundutan mengatakan bahwa ia menulis novel roman ini karena terinspirasi dengan novel “Siti Nurbaja” (Marah Rusli, 1922) yang sangat populer ketika itu.
  • “Datoek Toengkoe Adji Malim Leman.” (1941), terbitan Sjarief, Pematang Siantar.
  1. Mangaradja Goenoeng Sorik Marapi, menulis buku “Turian-turian ni Raja Gorga di Langit dohot Raja Suasa di Portibi.” Buku ini diterbitkan Pustaka Murni Pematang Siantar bertajuk tahun 1914.
  2. Sutan Pangurabaan. Karyanya, “Ampang Limo Bapole.” (1930), “Parkalaan Tondoeng” (1937), “Parpadanan” (1930), dan sebuah buku berbahasa Melayu “Mentjapai Doenia Baroe” (1934). Di samping buku-buku yang ditulis Willem Iskander, buku-bukunya juga menjadi buku bacaan untuk sekolah-sekolah masa kolonial.
  3. Soetan Habiaran Siregar menggali bahasa, tari-tarian, dan lagu yang berasal dari Angkola-Mandailing. Ia menulis beberapa turi-turian, antara lain: “Turi-turian ni Tunggal Panaluan”, “Panangkok Saring-Saring tu Tambak na Timbo” (1983), dan lain-lain. Selain itu, ia juga membuat komposisi lagu yang dibuat menggunakan komposisi beat berirama cha-cha.

Selain sastra berbahasa Mandailing Angkola tersebut, penting dicatat tumbuhnya sastra Indonesia yang berbahasa Melayu tetapi dengan mengadopsi warna lokal. Misalnya novel “Azab dan Sengsara” (1921) yang ditulis Merari Siregar. Novel ini mengangkat kontekstual adat dan budaya semacam kawin paksa, warta warisan, hubungan kekerabatan, dan tradisi lokal Mandailing-Angkola.

 

KESUSASTRAAN MANDAILING KONTEMPORER

Berubahnya kurikulum pendidikan setelah masa kemerdekaan turut menyebabkan memudarnya penggunaan bahasa Mandailing. Selain itu, euforia bangsa yang baru saja merdeka dan menguatnya instrumen-instrumen berkarakter nasional yang tercermin dalam bahasa dan budaya baru bernama “Indonesia” dan teraktualisasi secara masif dalam sistem pendidikan nasional, menjadi kausalitas yang patut ditandai. Hal ini diperburuk lagi dengan menguatnya “Java Oriented” dalam era Pemerintahan 1965 – 1998. Bahasa Indonesia yang dijadikan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah dan merebaknya bahan bacaan berkultur nasional, semua itu berperan dalam melemahkan “saro ita”. Kurikulum Tahun 2006 yang membuka ruang ‘muatan lokal” ternyata juga gagal ditindaklanjuti daerah dengan penguatan bahasa dan karakteristik daerah.

Sastra literer nyaris mati. Hanya beberapa cerita sporadis yang muncul dalam media massa daerah. Itu juga dengan daya tarik yang diyakini rendah, karena pembaca merasa ‘asing’ dengan bahasa yang digunakan. Tentu karena ada rentang yang ‘tak termaknai’ antara bahasa sastra Mandailing prakontemporer dengan bahasa Mandailing sebagai lingua-franca dalam konteks modern. Ada gap penguasaan makna bahasa antara penulis dengan penikmat sastra. Itu yang mendorong pemencilan sastra Mandailing.

Tahun 2009, saya menulis cerpen “Parkancitan”. Ketika cerpen itu saya kupas di sekolah, anak-anak menerimanya dengan aneh.

“I kan tu alak na maradong dei. Ho, aha nanga nadongmu? Sugi-sugi pe nga tartabusi ho,” ning ia sungkar. Sip polngit doma au.

Sangajo tie. Na larat mantong iba da. Dung do boto marbagas, lima ma daganak bo, na so unjung dope margonti santut niba. Hum baju ni daganak payah. Pala uida boto baju ni ayah si Butet, ekle baya. Dua pulu taon mantong naso igosok i baju nia. Gosokan takar dope na jolo. Isibakkon soni bulung ni pisangi laos manggosok. Ulang ma milas tu ninna. Na goso ma.(bersambung)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Awas Lobang di Jalan AMD Lama

    Awas Lobang di Jalan AMD Lama

    • calendar_month Senin, 10 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Lobang menganga dan berbahaya muncul di jalur jalan AMD Lama yang menghubungkan Lintas Timur ke Kelurahan Kota Siantar, Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Para pengemudi diminta hati-hati, sebab rawan terjadi kecelakaan. Lobang itu berdiameter sekitar 1 meter dengan kedalaman sekitar 1 meter, persis berada di badan jalan sisi pinggir. Keberadaan lobang tersebut […]

  • Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution Himbau Ciptakan Pembinaan Akhlak

    Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution Himbau Ciptakan Pembinaan Akhlak

    • calendar_month Jumat, 13 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mandailing Natal adalah kabupaten yang memiliki culture (adat budaya) dan agama yang sangat kental. Hal ini bisa dibuktikan dengan sifat dan perilaku yang sopan dan santun antara sesama. Demikian Bupati Mandailing Natal Drs. H. Dahlan Hasan Nasution dalam pidatonya pada acara silaturrahim dengan masyarakat di Desa Muara Botung, Kecamatan Kotanopan, pekan […]

  • DPRD: Segera tetapkan jadwal pencoblosan

    DPRD: Segera tetapkan jadwal pencoblosan

    • calendar_month Selasa, 4 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Seluruh Fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ) Mandailing Natal, untuk segera menetapkan jadwal serta dimulainya tahapan, lanjutan pelaksanaan Pencoblosan ulang Pemilukada di Kabupaten Mandailing Natal. Hal tersebut karena telah tercantumnya mata anggaran Pencoblosan ulang Pemilukada Madina pada APBD Madina tahun anggaran 2011. Hal tersebut disampaikan seluruh Fraksi di DPRD Madina […]

  • Singapura Lirik Kopi Ulu Pungkut
    Tak Berkategori

    Singapura Lirik Kopi Ulu Pungkut

    • calendar_month Selasa, 7 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Importir Singapura mulai melirik bubuk kopi luwak yang diproduksi kelompok usaha Langgamtama, Desa Simpang Banyak Jae dan Simpang Banyak Julu, Kecamatan Ulu Pungkut, Mandailing Natal (Madina). “Singapore sudah meminta 2 ton, namun kita belum mampu membutuhi permintaan itu,” kata Mursal Lubis, pengurus Langgamtama kepada wartawan, Senin (6/5/2013) di Panyabungan. . […]

  • Tahu Dimana Ngarijan Salim & Linda Kodrat? Laporkan!

    Tahu Dimana Ngarijan Salim & Linda Kodrat? Laporkan!

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Wisnu AS meminta bantuan masyakarat Provinsi Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, agar memberitahukan keberadaan pasangan suami istri, Ngarijan Salim dan Linda Kodrat, yang sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polri dan buronan Interpol 182 Negara sejak Tahun 2006. “Kita berharap bantuan seluruh masyarakat agar memberitahukan keberadaan pasangan suami istri […]

  • Sambut Ramadhan: MUI Madina Keluarkan 12 Himbauan

    Sambut Ramadhan: MUI Madina Keluarkan 12 Himbauan

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Dalam menyambut Ramdhan 1436, Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muspida Madina mengeluarkan 12 poin himbauan kepada kaum muslimin. Himbauan ini dikeluarkan untuk kekhusyukan dan kenyamanan umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Hal itu dikatakan Ketua MUI Madina Drs. H. Syamsir Batubara didampingi Sekretaris, Ahmad Asrin,S.Ag.MA kepada wartawan Selasa (16/6). Himbauan itu : […]

expand_less