Minggu, 2 Agu 2026
light_mode

Melirik Produksi Pupuk Organik di Desa Rumbio

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 27 Okt 2016
  • print Cetak

Adar Mulo Rangkuti dan usaha yang dikelolanya bersama teman-temannya di Desa Rumbio

Adar Mulo Rangkuti dan usaha yang dikelolanya bersama teman-temannya di Desa Rumbio

Program kerjasama antara Bank Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal telah berhasil membina kelompok usaha yang memproduksi pupuk organik bokasi, bio gas dan pestisida non kimia di Desa Rumbio Kecamatan Panyabungan Utara.

Keberhasilan itu terlihat dari produk-produk yang dihasilkan dari urin dan kotoran lembu yang diharapkan akan mampu menyuplai pupuk non kimia serta pestisida alami bagi inovasi pertanian tanaman pangan di Mandailing Natal dalam upaya menghasilkan produk tanaman pangan yang bebas dari kandungan  kimia sebagaimana permintaan pasar internasional dewasa ini.

Usaha yang dipimpin Adar Mulo Rangkuti yang juga Ketua Litbang Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Mandailing Natal itu itu memiliki output produk multi hasil, yakni pupuk organik bokasi padat, pupuk organik cair, pestisida dan gas.

Produk pupuk organik bokasi padat itu pun memiliki dua jenis produk, yakni pupuk organik bokasi biasa dan pupuk oragnik bokasi terintegrasi. Perbedaan bokasi biasa dan bikasi terintegrasi itu terletak pada komposisi campuran bahan-bahan lain diluar kotoran lembu. Bokasi terintegrasi lebih banyak jumlah campran non kotoran lembunnya dibanding bokasi biasa. Hanya saja keduanya sama-sama berbetuk serbuk.

Sedangkan pupuk organic cair dihasilkan dari gabungan air urin lembu dengan bahan-bahan non kotoran lembu.

Pestisida yang dihasilkan dari kegiata itu berasal dari air urin lembu ditambah dengan bahan-bahan lain non kotoran lembu.

Seluruh produk pupuk yang dihasilkan, baik bokasi padat biasa, bokasi padat terintegrasi maupun pupuk organik cair serta pestisida adalah produk non kimia alias alami sehingga tanaman yang memakai pupuk itu kelak tidak akan terkontaminasi dengan kimia sebagaimana permintaan pasar internasional terhadap produk pertanian yang bebas kandungan kimia.  

Oleh karenanya, produk-produk yang dihasilkan kelompok di Desa Rumbio itu sudah layak direkomendasikan oleh pemerintah daerah sebagai penghasil pupuk dan pestisida non kimia yang dianjurkan untuk dipakai oleh petani yang berbudidaya tanaman pangan.

 

Gas Kompor dan Gas Lampu

Untuk produk gas yang dihasilkan kelompok itu, terbagi dalam dua fungsi. Pertama untuk bahan bakar lampu. Kedua untuk bahan bakar kompor memasak.

Untuk bahan bakar lampu penerangan, gas yang dihasilkan dipipakan ke dalam selongsong petromak, sehingg gas itu berfungsi sebagai pengganti minyak. Jika selama ini orang selalu memakai minyak tanah sebagai bahan bakar lampu petromak, maka saat ini sudah bisa memakai bahan bakar bio gas tersebut.

Pola pemakaian bio gas untuk lampu itu juga sama penerapannya untuk kompor gas, dimana gas juga dipipakan ke dalam saluran masuk gas di dalam kompor gas yang biasa dipakai oleh ibu rumah tangga di dapur rumah mereka.

“Gas ini berasal dari box digester yang dipipakan ke dalam kompor gas dan petromak,” kata Adar Mulo Rangkuti.

 

Tahapan Proses

Baik pupuk organik bokasi maupun gas yang dihasilkan berasal dari jaringan proses yang sama. Karena bahan baku utamanya adalah kotoran lembu yang dipidahkan dari kandang lembu kemudian dimasukkan ke dalam box pengaduk.

Dari box pengaduk itu, kotoran lembu merembet ke dalam box digister. Di dalam digister inilah terjadi pemisahan gas dari material kotoran lembu. Gas yang memisah itu keluar dari digester melalui pipa kecil menuju satu titik stasiun, dan dari sini bergerak melalui pipa ke kompor dan lampu.

“Nah, setelah gas memisah dari materal kotoran lembu itulah material kotoran lembu telah menjadi pupuk setengah masak. Makanya digester ini berfungsi sebagai pengolah gas dan penetralisir pupuk,” kata Adar Mulo.

Selanjunya, materal yang telah tak mengandung gas tersebut merembet ke dalam bak lain. Dari bak itu kemudian memasuki tahapan pengeringan yang kemudian diolah menjadi pupuk bokasi, baik bokasi biasa mapun bokasi terintegrasi.

 

Baru 25 Ekor Lembu

Hingga kini setelah berjalan sekitar 2 tahun, usaha kelompok itu telah menghasilkan rata-rata 324 Kg pupuk bokasi padat per hari. Sedangkan pupuk bio cair terproduksi rata-rata 125 Kg per hari. Keseluruhan produk yang dihasilkan itu berasal dari lembu yang barjumlah 25 ekor.

Tentunya, produk akan kian meningkat jika jumlah lembu yang diternakkan di lokasi itu bertambah banyak.

“Oleh karenanya, kita terus akan mendorong dan membina untuk terus berkembang supaya peningkatan produksi bertambah,” kata Kepala Dinas Pertanian Peternakan Mandailing Natal,  Taufiq Zulhandra di lokasi itu, Sabtu (22/10).

Taufiq juga menyatakan, pihaknya juga terus berupaya agar pasar produk yang dihasilkan kelompok ini terkelola. Termasuk perlunya lisensi dari berbagai lembaga agar produk kelompok itu mampu memasuki pasar.

Selain itu, pihaknya juga sedang mengupayakan menerbitkan draf Peraturan Daerah yang mendorong pemakaian pupuk dari kelompok ini pada setiap kegiatan program budidaya tanaman yang dikelola pemerintah daerah.

 

Peliput : Dahlan Batubara

 

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mungkinkah Banwas Rekomendasi Pansus Palmaris Juga Menjadi Munafik?

    Mungkinkah Banwas Rekomendasi Pansus Palmaris Juga Menjadi Munafik?

    • calendar_month Rabu, 4 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Dahlan Batubara DPRD Mandailing Natal (Madina) membentuk Badan Pengawas Rekomendasi Pansus Palmaris pada Senin (2/5) pada rapat Paripurna DPRD Madina. Badan Pengawas (Banwas) ini berfungsi dan bekerja mengawasi atau melakukan pengusutan terhadap nasib Rekomendasi Pansus Palmaris. Rekomendasi Pansus Palmaris adalah rekomendasi Panitia Khusus DPRD Madina tanggal 3 Januari 2013 lalu yang merekomendasikan pencabutan […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 40)

    MARSIDAO-DAO (episode 40)

    • calendar_month Kamis, 25 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Nanisuratkon : Dahlan Batubara I jolo bagas i, ielana mulak epeng na 15.000 i tingon cakukna, igolomna nangkan ilehensa tu inangna. Tai, dung tontang pintu i, nidasa ma anggina Si Pikek juguk manyuhung na tangis-tangis maniop kadak manareon mudar nanibatukkon inangna i pantar tonga i. Sibuk ni inang nia tungkap martungkol cikukna tu […]

  • JANJI YANG TERLUPAKAN

    JANJI YANG TERLUPAKAN

    • calendar_month Selasa, 25 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Cerpen JANJI YANG TERLUPAKAN Karya : WAHYUNI LUBIS     Entah apa yang paling menyakitkan dari janji yang terlupakan. Awalnya saja yang meyakinkan. Namun akhirnya berahir juga dengan kata selamat tinggal. Untukmu nama yang pernah kusebut dalam do’a. Kau sungguh ahli dalam luka. Dengan sengaja kau membuat hatiku patah untuk yang kedua. Aku tidak tau […]

  • Terkait Banjir Bandang di Ranto Baek

    Terkait Banjir Bandang di Ranto Baek

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Warga Duga Akibat Perambahan Hutan MADINA- Warga korban banjir bandang di lima desa di Kecamatan Ranto Baek, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang terjadi Senin (29/11) lalu, menduga penyebab banjir karena adanya perambahan hutan di sekitar hulu Sungai Simpang Talap. M Idris Nasution, warga Desa Manisak yang menjadi salah satu desa yang diterjang banjir banding, Kamis […]

  • Keturunan Mandailing Malaysia Kembali Menginjakkan Kaki di Tanah Leluhur

    Keturunan Mandailing Malaysia Kembali Menginjakkan Kaki di Tanah Leluhur

    • calendar_month Minggu, 3 Des 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 12 orang keturunan Mandailing di Malaysia melakukan muhibah ke tanah leluhur. Rombongan yang bertajuk “Mulak Tu Huta” itu berlangsung dari tanggal 27 November hingga 2 Desemeber 2017. Mereka mengunjungi berbagai tempat bersejarah di kawasan Padang Lawas, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. “Di Mandailing Natal, mereka kami bawa ke Bagas Godang […]

  • 4 Bulan Hancur, Gedung SD Simpang Tolang Belum Diperbaiki

    4 Bulan Hancur, Gedung SD Simpang Tolang Belum Diperbaiki

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      KOTANOPAN (Mandailing Online) – Gedung SD Negeri 197 Desa Simpang Tolang, Kecamatan Kotanopan, Mandailing Natal (Madina) sudah hancur sejak April lalu, tetapi hingga kini belum juga diperbaiki pemerintah daerah. Gedung sekolah itu hancur setelah ditimpa pohon yang tumbang. Satu ruangan sekolah tidak bisa dipakai untuk belajar. Untuk sementara, siswa terpaksa dialihkan belajar di ruangan […]

expand_less