Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Merantau ke Semenanjung Malaysia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 20 Jul 2012
  • print Cetak

Pengukuhan kekuasaan colonial di Madina menimbulkan guncangan budaya yang kedua setelah kehadiran Paderi di Madina. Guncangan yang paling menonjol ialah menurunnya marwah raja-raja setempat. Pengadilan sebagai satu lembaga yang merupakan ujud sahala harajaon telah diambil alih oleh penguasa colonial.
Sehingga charisma raja-raja terus pudar lebih-lebih setelah mereka digaji dan diberi tugas sebagai pemungut belasting, pajak, dikalangan rakyatnya sendiri.
Keadaan itu berlangsung sampai pada dasawarsa kedua abad XX. Banyk raja-raja yang merasa terteka, karena target jumlah pungutan pajak itu tidak mudah dicapai. Ada di antara raja-raja itu yang terpaksa meninggalkan Madina terus merantau ke Tano Doli, Tanah Deli, bahkan ke Semenanjung Malaya.

Flora, nama samaran Kepala Kuria Tamiang, Sutan Kumala Bulan, menulis di Pewarta Deli edisi I Juni 1917, bahwa ada beberapa Kepala Kuria yang dipecat karena dianggap tidak cakap menjalankan tugasnya. Pemecatan itu disebabkan para Kepala Kuria itu tidak mampu mencapai target setoran pajak kepada penguasa colonial. Salah seorang di antara Kepala Kuria itu, Mangaraja Gunung Mandailing, Kepala Kuria Hutasiantar, yang karena malu atas pemecatan itu menjual harta bendanya, kemudian hijrah ke Negeri Perak di Semenanjung Malaya dan hidup dalam keadaan yang sederhana di sana (Said, 198?:143).

Yang menarik perhatian adalah migran Mandailing di Tanah Semenanjung pada abad XIX dipimpin oleh raja-raja dan tokoh-tokoh masyarakat, Namora Natoras. Mereka meninggalkan kampong halaman yang rusuh terus. Para tokoh itu adalah antara lain: Raja Asal, Raja Bilah, Sutan Puasa, Raja Brayun [sic], Raja Barnang, Raja Othman [sic], Raja Ira [sic], Samaripun, Imam Perang Raja Berungun [sic], Imam Peri Seri Handalan, Panglima Raja,Panglima Muda Segara, Imam Perang Sebaghdad, Panglima Muda dan Imam Perang Malim. Banyak orang Mandailing yang kini berdiam di Malaysia adalah keturunan para migrant awal itu, termasuk diantaranya Abdu-Razzaq Lubis, pemerhati social budaya Mandailing yang berdiam di Pulau Pinang (Lubis, 2001:61).

Kerja paksa yang disebut rodi dialami penduduk Madina. Pekerja paksa dari Sihepeng memerlukan waktu 2,5 hari berjalan kaki untuk mencapai tempat rodi. Para suami pergi, sedangkan isteri harus membayar pajak dan kerja paksa untuk Burgerlijke Openbare Werken. Hal ini antara lain diungkapkan oleh Flora di dalam tulisannya yang dimuat harian Pewarta Deli tanggal 25 April 1917 (Said, 198?: 106).

Patut dicatat satu prestasi gemilang keturunan perantau Mandailing di Malaysia, ialah posisi yang diraih oleh Tun Haji Abdul Aziz bin Haji Abdul Majid Fakta menunjukkan bahwa setiap perantau memiliki kelebihan di bandingkan dengan rata-rata masyarakat yang ditinggalkannya dan masyarakat yang di datanginya. Kelebihan itu antara lain etos kerja yang ditampilkan dalam kemauan bekerja keras, cita-cita yang tinggi untuk memperbaiki mutu kehidupan, ketegaran menegakkan kebenaran, patriotisme, kepemimpinan, lebih mengutamakan orientasi masa depan, berpikir kritis, ulet, berjiwa pelopor, berani, suka belajar, mampu mengadaptasi nilai-nilai baru, inventif, adaptif, religius, hemat, arif dan bijaksana. Kepribadian seperti itu kelak menampilkan orang Mandailing sebagai contoh teladan di kalangan warga masyarakat yang didatanginya. Sejarah perkembangan masyarakat Melayu modern di Malaysia telah membuktikan hal itu.(MO/MP/red)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkab Didesak Bentuk Tim Penyelesaian Perkebunan

    Pemkab Didesak Bentuk Tim Penyelesaian Perkebunan

    • calendar_month Jumat, 27 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 10Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota DPRD Mandailing Natal (Madina), Ali Anafiah meminta Pemkab Madina segera membentuk tim penyelesaian sengketa lahan antara perusahaan perkebunan dengan masyarakat. “Pemkab Madina harus tegas terhadap perusahaan perkebunan yang telah mengabaikan hak-hak masyarakat, terutama terhadap perusahaan yang telah melakukan penyerobotan lahan warga,” ketanya kepada wartawan, Kamis (26/9/2013) diruang kerjanya. Tim yang […]

  • Bupati Ancam Pengusaha

    Bupati Ancam Pengusaha

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jika Bermasalah Izin Dicabut Bupati Madina, HM Hidayat Batubara SE ancam pengusaha di wilayah Madina apabila tak mau diatur dan selalu memunculkan masalah dengan masyarakat. Sanksinya, Bupati akan mencabut seluruh izin usaha. Hal itu ditegaskan Hidayat di hadapan ratusan masyarakat yang terdiri dari 3 kecamatan sebagai lokasi perusahaan perkebunan di Madina, yakni Kecamatan Natal, Batahan […]

  • Paslon Harun-Ichwan Kunjungi Majlis Taklim Syeh Yakub Abdul Qadir Al Mandili di Panyabungan

    Paslon Harun-Ichwan Kunjungi Majlis Taklim Syeh Yakub Abdul Qadir Al Mandili di Panyabungan

    • calendar_month Senin, 23 Sep 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online): Sebelum menghadiri pencabutan nomor urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mandailing Natal yang akan berlangsung siang ini 23/9 di Gedung Serbaguna Amru Daulay. Pasangan Calon Bupati Harun- Ichwan menyempatkan diri menghadiri pengajian Majlis Taklim Syeh Yakub Abdul Qadir Al Mandili cabang Baitul Bukhori di Kampung Bargot Panyabungan III. “Pagi […]

  • BERQURBAN

    BERQURBAN

    • calendar_month Senin, 17 Jun 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    “Pinomat sakali saumur hidup” Oleh: Dr. M. Daud Batubara. MSi “Pinomat sakali saumur hidup” (setidaknya sekali seumur didup), untaian kata yang tidak jarang terdengar tercetus dari celah bibir masyarakat yang sering dikategorikan sebagai orang kurang mampu, ketika akan tiba Idul Adha (Hari Raya Haji), saat-saat masyarakat membicarakan qurban. Sebagai seorang muslim, rasanya memang keinginan untuk […]

  • Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    Resesi Buah Pahit Sistem Kapitalis

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Sri Handayani Tahun 2020 menjadi tahun yang berat bagi perekonomian global. Satu demi satu negara berjatuhan ke jurang resesi. Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus Corona (COVID-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, […]

  • Bangun Jalan, Tapsel & Psp Dijatah Rp65 M

    Bangun Jalan, Tapsel & Psp Dijatah Rp65 M

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 1Komentar

    SIDIMPUAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) mengalokasikan dana sebesar Rp1,1 triliun untuk pembangunan sarana jalan di seluruh Sumut. Untuk Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kota Padangsidimpuan mendapat jatah Rp65,57 miliar. “Dana APBD 2014 PU dialokasi Rp1,1 triliun khusus untuk pembangunan infrastruktur jalan. Di antaranya Rp65,57 miliar untuk Tapsel dan Psp,” kata Gubernur Sumatera Utara Gatot […]

expand_less