Mitigasi Iklim Pesisir, Komunitas PINARA Ajak Warga Ubah Limbah Sabut Jadi Cocopeat
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

NATAL (Mandailing Online) — Ancaman perubahan iklim di wilayah pesisir membutuhkan tindakan nyata yang berkesinambungan dimulai dari tingkat lokal.
Menjawab tantangan tersebut, Komunitas PINARA (People, Innovation, Nature Awareness, and Renewable Action) kembali melangkah melalui praktik lapangan pembuatan cocopeat dari limbah sabut kelapa bersama kaum muda dan perempuan pesisir di Desa Buburan, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal, Minggu (18/10/2026).
Aksi praktik lapangan ini merupakan bagian berkesinambungan dari rangkaian program SABUT Revive yang telah dilaksanakan sejak April lalu. Sebelumnya, Komunitas PINARA telah sukses menyelenggarakan workshop interaktif serta sesi edukasi dan pelatihan literasi perubahan iklim guna membangun kesadaran kolektif masyarakat lokal.
“Kami tidak ingin edukasi iklim berhenti di dalam ruangan saja. Sejak dimulai pada bulan April lalu melalui workshop dan kelas edukasi iklim, masyarakat sudah paham ancaman krisis lingkungan di pesisir kita. Hari ini adalah praktik lapangannya: bagaimana teori mitigasi perubahan iklim diterjemahkan menjadi aksi mekanis memproses limbah,” ungkap Romi Disman, Ketua Komunitas PINARA sekaligus Koordinator Program SABUT Revive.
Dia menjelaskan, pengolahan sabut kelapa menjadi cocopeat bukan sekadar kegiatan daur ulang sampah biasa, melainkan bentuk mitigasi perubahan iklim berbasis masyaakat di pesisir.


Sabut kelapa yang biasanya membusuk dan melepaskan emisi atau dibakar begitu saja, kini diolah menjadi media tanam organik berefisiensi tinggi.
Cocopeat memiliki kemampuan menyerap dan mengikat air hingga beberapa kali lipat berat volumenya, sehingga sangat efektif menjaga kelembaban tanah pesisir yang rentan terhadap kekeringan akibat kenaikan suhu global.
Antusiasme warga pesisir Desa Buburan dalam mengawal aksi iklim ini terus mengalami peningkatan signifikan. Tercatat sejak kick-off program di bulan April hingga sesi praktik hari Minggu kemarin, lebih dari 40 warga masyarakat yang didominasi kaum muda dan kelompok perempuan telah aktif berpartisipasi.
Dari segi dampak fisik lingkungan, keberlanjutan aksi ini telah berhasil mengolah lebih dari 20 kilogram limbah sabut kelapa menjadi produk cocopeat bermanfaat.
“Dulu kalau melihat sabut kelapa menumpuk di pinggir pantai atau belakang rumah, pikiran kami cuma satu: bakar atau biarkan membusuk. Tapi setelah ikut edukasi dari bulan April dan ikut praktik hari ini, kami baru paham kalau ini bagian dari menjaga lingkungan dari dampak perubahan iklim,” cerita Ayu, salah satu peserta kaum muda Desa Buburan.
Ayu menambahkan, tanggapannya terhadap pelatihan ini sangat positif: “Kami senang sekali bisa ikut kegiatan ini dan mendapat ilmu baru membuat cocopeat,” ujarnya singkat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif kepemimpinan kaum muda untuk aksi iklim responsif gender dan partisipasi di komunitas marjinal yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia, dengan dukungan dari IKI Small Grants yang didanai oleh Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan Hidup, Aksi Iklim, Konservasi Alam, dan Keamanan Nuklir (BMUKN) serta dijalankan oleh GIZ sebagai bagian dari Inisiatif Iklim Internasional (IKI) Pemerintah Jerman. (rel/dab)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)




