Senin, 2 Mar 2026
light_mode

PARRODANG: BERTAHAN SEPANJANG ZAMAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 12 Okt 2015
  • print Cetak

Catatan : Holik Nasution

Parrodang, begitu ia disebut. Pekerjaan ini identik dengan para pencari ikan di kawasan Rodang Tinapor, hamparan rawa besar.

Rodang ini membentang mulai dari Desa Huraba, Siabu, Bonandolok, Simangambat, Hutapuli dan batas muara Batang Gadis di sebelah barat (Mandailing Natal) hingga ke batas Sayur Matinggi di sebelah utara (Tapanuli Selatan).

Selain menjadi sarang nyamuk malaria, sebagaian kawasan Rodang ini juga menjadi lahan pertanian yang subur serta menjadi sumber resapan air. Pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Batang Gadis dan Sungai Batang Angkola,  membentuk  kawasan  rawa yang sangat luas. Karena itu juga menjadi sumber ikan rawa yang khas. Tak banyak yang tahu bahwa suplai ikan sungai untuk wilayah Siabu, Panyabungan, dan Padangsidimpuan, berasal dari kawasan ini.

Berbagai jenis ikan rawa mudah ditemukan di sini, misalnya Aruting, Tingkalang, Limbat, Inggit-inggit, Tawes, Capet dan Tunggu Lubuk. Kadang-kadang ada juga ikan air tawar yang berasal dari ekosistem sungai, misalnya Ikan Mas,  Siruan, Aporas, dan Sulum. Ikan jenis ini diduga berasal dari kedua sungai besar tadi.  Kawasan ini, karena sedemikian pentingnya, ada di peta kolonial. Tapi tentu tak ada di peta daerah Mandailing Natal.

Ratusan keluarga dari desa-desa sekitar memperoleh rezeki di Rodang, baik sebagai petani sawah, palawija, kebun (di daratan yang tak tergenang) dan tentu sebagai pencari ikan (yang tergenang). Lahan-lahan non rawa yang membentang ratusan hektar merupakan lahan yang subur karena kekayaan unsur hara yang dibawa banjir kedua sungai utama.

Banjir memang menjadi musuh utama petani. Masa akhir tahun ketika curah hujan sangat tinggi, celah sempit di Lumpatan Harimau tidak mampu lagi menampung debit air untuk disalurkan ke hilir. Air Sungai yang meluap melimpah di kawasan ini, membentuk genangan besar ratusan hektar. Banjir ini yang membuat panen gagal dan hanyut terbawa banjir. Sudah menjadi tradisi tahunan seperti itu.

Tetapi bersamaan dengan datangnya banjir, beberapa ikan melimpah dari kedua sungai. Dan saat banjir kering, petani ikan akan membawa tangkapan yang banyak.  Perahu nelayan rawa ini akan berseliweran menyusuri celah-celah rawa yang sempit sambil membawa alat penangkap ikan yang berbagai rupa: jaring, keramba, lobu-lobu, dan sebagainya.

Semakin surut air, semakin mudah menangkap ikan, karena ikan terperangkap dalam genangan-genangan rawa. Hanya dalam satu kubangan kecil bisa ditemukan berkilo-kilo ikan dalam berbagai ukuran. Ikan aruting misalnya ada yang sampai seberat 5 – 10 kilogram per ekor. Ikan tangkapan ini yang dijual di desa-desa sekitar Kecamatan Siabu setiap pagi dan sore, atau oleh pedagang tertentu dijual  di  pasar  Panyabungan hingga Padangsidimpuan.

Pekerjaan menangkap ikan ada yang dilakukan malam hari. Ketika hari telah gelap, nelayan mendayung perahunya menyusuri rawa, sambil membawa lampu teplok, bubuh, kail, dan alat penangkap ikan lainnya.  Rawa yang penuh ular berbisa dan binatang buas lainnya, tentu bukan hal yang jarang lagi.

Para nelayan harus melintas di bawah rindangnya pohon yang dahannya tepat di atas lintasan perahu, acapkali berpapasan dengan ular paling berbisa. Bahkan beberapa jenis ular yang menyukai cahaya, segera berlari ke lampu teplok di depan perahu, atau melintas di atas perahu. Dalam kondisi begitu, nelayan sering harus melompat dari atas perahu, berenang tanpa alat penerang, atau menghabiskan malam di atas pohon menunggu pagi. Tapi ada kalanya, kalau rezeki sedang baik, para nelayan bisa membawa tangkapan berkilo-kilo, cukup untuk menutupi biaya kebutuhan hidup dua-tiga hari.

Pagi mereka pulang, mendayung perahu ke pangkalan, lalu minum kopi dan makan lontong di bawah rumpun bambu yang menjadi tambatan perahu. Senda gurau di kedai kopi itu seolah tak ada kesan baru saja menjalani pekerjaan yang bertarung nyawa.  Belasan nelayan duduk di sana sambil menunggu matahari terbit, yang lain di kedai yang ada di sisi lain. Tangkapan pagi hari itu yang dijual di pasar-pasar kecamatan mulai dari Sihepeng, Simangambat, Siabu, Sinonoan, Malintang, Mompang, dan Panyabungan. Beberapa ditampung untuk di jual di Padangsidimpuan.

Ada juga yang menangkap ikan pada siang hari. Begitu sampai di pangkalan perahu, mereka minum kopi sebentar sambil menunggu panas.  Lalu satu dua nelayan mulai mendayung perahu menyusuri rawa. Sore mereka kembali membawa hasil tangkapan.  Lalu kembali ke pangkalan sambil  minum kopi menunggu maghrib.   Hasil  tangkapan siang itu yang akan dijual di pajak-pajak pagi tradisional di desa-desa sekitar.

Kehidupan seperti itu yang mereka jalani sejak berpuluh atau mungkin ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah kelompok sosial yang nyaris tak pernah digubris, padahal mereka yang sepanjang tahun mensuplai kebutuhan ikan tawar di daerah ini.  Jangan sebut bantuan,  mereka tidak pernah dicatat sebagai petani ikan.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kiprah Para Tokoh Gunung Tua Panyabungan dalam Perjalanan Kebangsaan Indonesia

    Kiprah Para Tokoh Gunung Tua Panyabungan dalam Perjalanan Kebangsaan Indonesia

    • calendar_month Kamis, 4 Agt 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengantar redaksi: Berikut ini catatan ringkas yang disusun oleh Askolani Nasution tentang sejumlah tokoh dari Mandailing yang mewarnai dinamika kebangsaan sejak era pertengahan 1800-an hingga awal kemerdekaan Indonesia. Mereka memiliki peran penting di dalam gerak dinamika kebangsaan, baik peran dalam ilmu pengetahuan maupun gerakan kemerdekaan. Mengejutkan, karena semua tokoh-tokoh dalam catatan ini berasal dari satu […]

  • Harga Kakao di Madina Makin Manis

    Harga Kakao di Madina Makin Manis

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Harga kakao kering di tingkat petani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami trend naik. Mulai dari Rp.20.000 hingga saat ini mencapai Rp.26.000 per kolgramnya. Darwin Lubis, petani kakao di Desa Hutagodang Muda Kecamatan Siabu menjawab wartawan, Minggu (3/10/2013) mengungkapkan terus membaiknya harga salah satu komiditi andalan […]

  • AMMPBB: APBD Sidimpuan 2011 Untuk Siapa?

    AMMPBB: APBD Sidimpuan 2011 Untuk Siapa?

    • calendar_month Selasa, 29 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bukan untuk membiayai urusan birokrasi semata. Kebijakan-kebijakan yang menyentuh langsung pada kemaslahatan masyarakat harus dikedepankan. Elemen masyarakat merasa dikebiri akan alokasi APBD Sidimpuan yang 75% nya dialokasikan untuk birokrasi. Dana APBD Sidimpuan Tahun 2011 sebesar Rp435 miliar telah disahkan. Namun APBD itu dinilai sama sekali tidak menyentuh […]

  • PT SOL Sukses Ujicoba Sumur, Warga Dua Desa Diungsikan

    PT SOL Sukses Ujicoba Sumur, Warga Dua Desa Diungsikan

    • calendar_month Senin, 13 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    TARUTUNG – PT Sarulla Operation Limited (SOL) selaku konsorsium perusahaan yang mengoperasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla Pahae akhirnya berhasil mengembangkan uji coba produksi sumur panas bumi Sil I di Desa Silangkitang, Kecamatan Pahae Jae, Taput, Sabtu (11/1). Dan untuk menghindari gangguan atas dampak uji coba tersebut, sebanyak 400-an warga dua desa […]

  • Tor Simarsayang Sepi Pengunjung, Pedagang Terancam Gulung Tikar

    Tor Simarsayang Sepi Pengunjung, Pedagang Terancam Gulung Tikar

    • calendar_month Rabu, 23 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN- Razia intens yang dilakukan Polres Padangsidimpuan bersama Pemko, MUI, dan elemen lainnya baru-baru ini ini ternyata berimbas negatif terhadap usaha para pedagang di Tor Simarsayang. Sebanyak 31 pengusaha tenda di lokasi objek wisata itu mengaku sudah dua hari tidak mendapatkan pelanggan. Mereka mengaku terancam gulung tikar. Boru Manalu, salah seorang pedagang di Tor Simarsayang […]

  • Gordang Sambilan Menggema di Istana Merdeka

    Gordang Sambilan Menggema di Istana Merdeka

    • calendar_month Jumat, 17 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Jakarta (MO) – Untuk kali pertama, Gordang Sambilan dipertunjukkan di istana merdeka, Jakarta. Alat musik tradisional Mandailing tersebut dipagelarkan dalam acara HUT RI, Jum’at (17/8). Sebanyak 4 orang pemain gordang dari Desa Hutagodang, Ulu Pungkut, Kabupaten Mandailing Natal berangkat pekan lalu ke Jakarta untuk memenuhi pertunjukan Goradang Sambilan. Pemain tambahan diisi oleh orang Mandailing yang […]

expand_less