Senin, 14 Sep 2026
light_mode

Partuturan di Dalam Masyarakat Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2014
  • print Cetak

Bahasa adalah refleksi dan identitas yang paling kokoh dari sebuah budaya. Bahasa Mandailing merupakan identitas orang Mandailing yang dipelihara dan dikembangkan sebagai pengemban kebudayaan dan tata kemasyarakatan Mandailing.

Asal bahasa Mandailing merupakan perkembangan dari Proto- Malayo-Polinesia yang selanjutnya diklasififikasikan ke dalam sub kelompok Malayo Polinesia Barat (Western Malayo-Polynesia) menurut Robert Blust.

Fungsi bahasa Mandailing menurut penulis adalah:
1. Melambangkan kebanggaan dan identitas daerah serta masyarakat penutur dan pendukung bahasa Mandailing.
2. Merupakan alat ekspresi dan komunikasi keluarga.
3. Sebagai media dari kebudayaan daerah Mandailing dan Agama Islam.
4. Sebagai bahasa dan aksara yang digunakan dalam desa adat dan lembaga adat.
5. Sebagai bahasa yang dapat memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia yang saling menunjang dan menghidupi satu dengan yang lainnya.
6. Mengungkapkan budaya dan unsur kreativitas masyarakat penutur serta pendukungnya.
7. Merupakan muatan lokal untuk pendidikan sekolah seperti: SD, SMP dan lainnya.

Dalam kehidupan berkomunikasi sehari-hari di dalam masyarakat Mandailing rasa kekeluargaan dan keakraban diucapkan lewat partuturan. Partuturan biasanya berdasarkan hubungan darah dan perkawinan serta kekerabatan. Partuturan yang berlaku dalam masyarakat Mandailing diciptakan oleh nenek moyangnya sebagai sistem tutur sapaan yang dipergunakan dalam berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari orang Mandailing.

Keunikan bahasa Mandailing terdiri tujuh (7) macam ragam adalah:
1. Bahasa adat (ata adat) bahasa yang dipergunakan pada waktu upacara adat.
2. Untuk bahasa sehari-hari dipergunakan jenis bahasa yang dinamakan ata somal atau ata na biaso.
3. Untuk bahasa ratapan (lamentasi) dipergunakan jenis bahasa yang dinamakan ata andung, ragam bahasa ini tergolong bahasa sastra.
4. Untuk bahasa yang dipergunakan untuk pemyembuhan atau kegiatan yang berkaitan dengan dunia gaib, yang dinamakan ata sibaso.
5. Untuk bahasa yang digunakan ketika berada dalam hutan, yang dinamakan ata parkapur.
6. Untuk bahasa yang digunakan ketika bertengkar berkelahi, yaitu ragam bahasa caci maki yang dinamakan ata bura dohot jampolak.
7. Untuk bahasa yang menggunakan dedaunan sebagai lambang untuk istilah-istilahnya, yang dinamakan ata bulung-bulung.

Pertuturon adalah berisi aturan hubungan antar perorangan atau unsur dalam Dalihan Na Tolu (etika bertutur), dimana tutur menjadi perekat bagi hubungan kekerabatan. Dengan menyebut tutur terhadap seseorang diketahuilah jalur hubungan kekerabatan diantara mereka yang menggunakan dan sekaligus menentukan prilaku atau etika apa yang pantas dan tidak pantas diantara mereka yang bergaul.

Partuturon mengatur dan menentukan bagaimana seseorang bersikap, berbicara terhadap orang lain dan demikian juga sebaliknya. Dari partuturon akan diketahui sejauhmana hubungan seseorang dengan orang lain berdasarkan hubungan darah, hubungan kekerabatan atau hubungan berdasarkan perkawinan.

Pada prinsipnya partuturon merupakan etika, sikap, dan tingkah laku seseorang jika berkomunikasi dengan orang lain, yang bertujuan untuk saling menghormati, semangat persaudaraan, rasa persatuan dan semakin eratnya ikatan kekeluargaan yang harmonis. (H. Pandopotan Nasution, SH, Tabloid Sinondang Mandailing 24/01/08).

Masyarakat Mandailing mempunyai gaya bicara yang khas, yaitu gaya bicara dengan lagu kalimat yang membujuk, memikat (yang disebut gaya bicara pantis) dengan logat, aksen lemah lembut dengan suara yang halus dan sopan santun. Gaya bicara tersebut bersifat diplomatis, sering tidak langsung kepada pokok pembicaraan.

Secara kultural Pemerintah Kolonial Belanda membiarkan masyarakat setempat hidup dengan bahasa mereka sendiri, dengan kesusastraan mereka sendiri dan bahkan dengan pola interaksi mereka yang sudah ada (Edy Effendy, Membaca kembali realitas sastra pasca kolonial, Media Indonesia, 2 Juni 2007).

Setelah Republik Indonesia sampai saat ini khusus Bahasa Daerah hampir di seluruh Indonesia khususnya bahasa Mandailing tersisih akibat dominasi dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Maka perlu generasi muda melestarikan Bahasa Mandailing, Tata cara/etika interaksi di masyarakat Mandailing dan kesusastraan Mandailing agar tidak punah dalam era globalisasi pada saat ini maupun akan datang.

Menurut Penulis punahnya bahasa (tutur) daerah berarti hilangnya sebagian kebudayaan dan nilai serta kearifan local yang terkandung di dalamnya. (Patuan Dolok III/blog patuan dolok raja panusunan tamiang)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pembangunan Pola Gotong-royong di Desa Pangkat

    • calendar_month Rabu, 29 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lembah Sorik Marapi (Mandailing Online) – Pemkab Madiling Natal (Madina) menerapkan pembangunan pola gotong-royong di Desa Pangkat Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Selasa (28/5). Proyek yang digotong-royongkan adalah pembangunan rabat beton sepanjang 200 meter. “Pemerintah menyiapkan material yang dibutuhkan. Sementara itu, warga melaksanakan kegiatannya,” ungkap Asisten I Pemkab Madina, Musaddad Daulay. Pola ini diharapkan memiliki tiga […]

  • Realisasi Kebun Plasma Tak Ada Sejak 1998, DPR RI Kunjungi Natal

    Realisasi Kebun Plasma Tak Ada Sejak 1998, DPR RI Kunjungi Natal

    • calendar_month Senin, 16 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NATAL (Mandailing Online) – DPR RI turun tangan mengumpul bukti terkait belasan tahun tak ada realisasi kebun plama sawit dari PT. DIS kepada 4 desa di Natal. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Suasana Dachi SH reses dan mengunjungi warga Desa Bintuas dan Desa Buburan, Kecamatan Natal Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sabtu (14/5). Kunjungannya […]

  • DPRD Madina dan Pemerintah Daerah Harus evaluasi Bidan PTT

    DPRD Madina dan Pemerintah Daerah Harus evaluasi Bidan PTT

    • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Keberadaan Bidan Tidak Tetap/Bidan desa, PTT di Penjuru wilayah Daerah Kabupaten Mandailing Natal diharapkan pengevaluasian kinerja, kehadiran, dari wakil Rakyat dan Pemerintah Daerah mengingat, peranan dan sumber dana dari berbagai macam kegiatan penunjang program pemerintah melalaui beberapa Program sangat banyak menyedot keuangan Negara. (MOL)

  • Kemenangan Hidayat-Dahlan Kemenangan Rakyat Madina

    Kemenangan Hidayat-Dahlan Kemenangan Rakyat Madina

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kemenangan Calon Bupati-Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara-Dahlan Hasan Nasution adalah kemenangan seluruh rakyat Madina. Itulah sorakan ribuan masyarakat Madina yang melakukan konvoi, Ahad (24/04/2011) sore sekitar pukul 17.00 WIB setelah mengetahui pasangan Hidayat-Dahlan, unggul. Luapan kegembiraan mereka tunjukkan dengan meneriakkan lapaz Allahu Akbar dan Sholawat Badar diiringi Gordang Sambilan. Saat itu, ekpresi […]

  • Puskesmas Rawat Inap, Atika Melawan Dahlan

    Puskesmas Rawat Inap, Atika Melawan Dahlan

    • calendar_month Rabu, 18 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Di debat itu Dahlan Hasan Nasution menyalahkan Atika Azmi Utammi soal puskesmas rawat inap. Puskesmas rawat inap itu mencuat ketika Calon Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution,B.AppFin,M.Fin mengemukakan gagasan agar puskesmas difungsikan sebagai rawat inap agar rakyat di pelosok yang sakit tak susah ke rumah sakit, terutama puskesmas yang jauh dari rumah sakit. […]

  • Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (1)

    Pelestarian Warisan Budaya Mandailing (1)

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Z. Pangaduan Lubis (in memoriam) Suku Mandailing atau kelompok etnis (ethnic group) Mandailing merupakan salah satu dari sekian ratus suku bangsa penduduk asli Indonesia. Dari zaman dahulu sampai sekarang suku tersebut secara turun-temurun bermukim di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Menurut tradisinya, orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya itu Tano Rura Mandailing […]

expand_less