Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode

Pemkab Madina Gagal Tertibkan Penambang Liar

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 15 Feb 2011
  • print Cetak


MADINA-
Meski menimbulkan protes dari masyarakat, namun pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) sepertinya ‘membiarkan’ tambang emas tradisional liar itu beroperasi. Soalnya, penambang masih melakukan aktivitasnya di lokasi tambang.
Informasi dihimpun METRO, Senin (14/2) dari sejumlah warga, tambang emas masih sulit dihentikan kegiatannya karena beberapa warga sudah menikmati hasil dari tambang tersebut. Disusul dana penertiban penambang tidak ditampung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Padahal sebelumnya, Pemkab Madina mengucurkan dana sebesar Rp 50 juta sejak tahun 2008 hingga tahun 2010 untuk penertiban tambang illegal di 3 kecamatan yakni Siabu, Panyabungan dan Batang Natal.
Kepala Bidang (Kabid) Pertambangan dan Energi, Parmonangan Hutasuhut ST mengaku tambang tersebut tersebut masih beroperasi. Malah tahun 2011, katanya, jumlah penambang bertambah hampir mencapai ratusan hingga ribuan jiwa. Mereka menggunakan berbagai alat mirip kuali, dan Galundung. Sebagian lagi memakai dompeng, bahkan ada juga yang menggunakan papan pipih. Ironisnya, terang Hutasuhut, pengelola tambang tersebut tidak mengantongi izin dari pemerintah. Sementara diketahui selama tambang beroperasi, sudah banyak warga korban luka bahkan korban jiwa, akibat kecelakaan kerja.
Pemerintah berniat menertibkan lokasi tambang, tapi anggaran penertiban tahun 2011 tak dianggarkan. ”Bagaimana mau ditertibkan karena untuk tahun 2011 dananya tak ditampung,” sebut Monang, Senin (14/2).
Sedangkan anggaran tahun 2010, sebesar Rp 50 juta dikembalikan ke kas daerah dan yang dipakai hanya sekitar Rp 15 juta untuk biaya pembelian ATK dan biaya perjalanan dinas ke Pemprovsu. ”Untuk tahun 2010 kita masih peroleh sebesar Rp 50 juta, namun itu kita kembalikan sekitar Rp 35 juta dan sebagian yang lain untuk perjalanan dinas ke Medan untuk koordinasi dengan Pemprovsu,” terangnya.
Masih Monang mengatakan, penambang akhir-akhir ini bukan hanya masyarakat biasa, tetapi ‘kaum elit’ turut andil. Sementara, Sekretaris Eksekutif Madina Institute (MI), Ahmad Rijal Lubis kepada METRO mengatakan, kondisi masyarakat yang saat ini banyak sekali menjadi penambang ‘liar’ tak memiliki izin justru telah menimbulkan banyak masalah. Semisal pernah terjadi konflik yang sempat ke perkelahian antar sesama warga di Kecamatan Hutabargot, belum lagi persoalan dampak lingkungan yang diketahui akan merusak kesehatan masyarakat. (wan)
Sumber : Metro Tabagsel

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Karet Alam Naik Tipis di Panyabungan

    Harga Karet Alam Naik Tipis di Panyabungan

    • calendar_month Kamis, 11 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) Harga karet alam di Panyabungan, Mandailing Natal, Kamis (11/2/2021) naik tipis dari pekan lalu. “Naiknya 100 hingga 200 Rupiah lah perkilo,” ungkap Nairas petani dari Desa Gunung Tua Julu menjawab Mandailing Online. Lokasi penjualan karet alam di pasar Gunung Tua dibuka tiap hari Kamis atau sekali dalam sepekan. Harga mencapai 9.000 ribu […]

  • Bentuk Dukungan ke Palestina, Peserta Upacara Pakai Sal Palestina di Momen Hari Guru

    Bentuk Dukungan ke Palestina, Peserta Upacara Pakai Sal Palestina di Momen Hari Guru

    • calendar_month Sabtu, 25 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Banyaknya pelajar yang menjadi korban keganasan zionis israel yang membombardir wilayah Gaza di Palestina, membuat para guru di Kabupaten Mandailing Natal( Madina ) ikut berduka. Di momen memperingati Hari Persatuan Guru Republik Indonesia ( PGRI ) yang ke 78, mereka memakai Sal berlambang bendera Palestina sebagai bentuk ikut berduka terhadap […]

  • Pemkab Madina Harus Akui Keberadaan Masyarakat Adat

    Pemkab Madina Harus Akui Keberadaan Masyarakat Adat

    • calendar_month Jumat, 18 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ULU PUNGKUT (Mandailing Online) – Sampai saat ini Mandailing Natal belum memiliki peraturan daerah (perda) tentang pengakuan masyarakat adat. Padahal keberadaan masyarakat adat dapat dibuktikan secara fisik dan historis. Ketiadaan perda ini merupakan hutang pemerintah daerah dan DPRD bagi masyarakatnya sendiri. Koordinator Umum Batang Pungkut Green Conservation (BPGC), Syafruddin Lubis Kamis (17/7/2014) menyatakan BPGC berkepentingan […]

  • Acara Mangupa, SARASI Didoakan Bijak Pimpin Tapsel

    Acara Mangupa, SARASI Didoakan Bijak Pimpin Tapsel

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Tim relawan keluarga Syahrul Martua Pasaribu-Aldinz Rapolo Siregar (SARASI) menggelar prosesi mangupa, di Jalan Gende, Kelurahan Hutasuhut, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Sabtu (20/11) lalu. Ketua panitia acara, H Painan Siregar, bersama Ketua Naposo Nauli Bulung Napa Napa Ni Sibualbuali (NNBS), Faisal Reza Pardede, kepada METRO, Minggu (21/11), mengatakan, pelaksanaan syukuran tersebut merupakan […]

  • Bupati Dinilai Tak Becus Membina BPA, Mosi Tak Percaya Kepada Bupati Disiapkan

    Bupati Dinilai Tak Becus Membina BPA, Mosi Tak Percaya Kepada Bupati Disiapkan

    • calendar_month Selasa, 11 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Sutan Palembang Nasution salah satu raja Mandailing mengecam pendapat bupati Mandailing Natal (Madina) yang menyebutkan pengurus Badan Pemangku Adat (BPA) sudah meninggal dunia dan uzur. “Sangat aneh seorang Bupati mengatakan pengurus BPA sudah uzur,” katanya Senin (10/11). “Saya yakin apabila hal ini tidak segera diklarifikasi oleh bupati, maka seluruh raja-raja yang […]

  • M. Kasim Dalimunthe, Pelopor Sastra Indonesia Dari Kotanopan

    M. Kasim Dalimunthe, Pelopor Sastra Indonesia Dari Kotanopan

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : ASKOLANI NASUTION Budayawan   Saya kaget ketika beberapa hari yang lalu tahu bahwa rumah M. Kasim ada di ujung jalan Pesanggarahan Kotanopan. Dan saya sempat berbincang-bincang banyak hal tentang beliau dengan cucunya yang masih tinggal di Kotanopan, terutama menyangkut kemungkinan arsip-arsip naskah yang masih tinggal. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa M. […]

expand_less