Rabu, 4 Mar 2026
light_mode

PERISAI ISLAM DAN UMAT

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 7 Agt 2020
  • print Cetak

Rasulullah saw. diutus oleh Allah SWT dengan membawa risalah Islam untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin) (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Rahmatan lil ‘alamin mewujud dalam ragam kemaslahatan dan terhalanginya berbagai kemafsadatan.
Rahmatan lil ‘alamin akan terwujud jika syariah Islam diterapkan secara menyeluruh dan total. Penerapan syariah Islam secara menyeluruh dan total jelas membutuhkan adanya kekuasaan. Karena itulah Rasul saw. diperintah untuk meminta kekuasaan kepada Allah SWT.
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا
Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (TQS al-Isra’ [17]: 80).

Imam Ibnu Katsir, mengutip Qatadah, menyatakan, “Dalam ayat ini jelas Rasul saw. menyadari bahwa tidak ada kemampuan bagi beliau untuk menegakkan agama ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah beliau memohon kepada Allah kekuasaan yang bisa menolong, yakni untuk menerapkan Kitabullah, memberlakukan hudûd Allah, melaksanakan ragam kewajiban dari Allah dan menegakkan agama Allah…” (Tafsîr Ibn Katsîr, 5/111).
Islam memang tidak bisa dilepaskan dari kekuasaan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah mengirim surat kepada salah seorang amil-nya. Di dalam surat tersebut antara lain beliau mengungkapkan:
وَ الدِّيْنُ وَ الْمُلْكُ تَوْأَمَانِ فَلاَ يَسْتَغْنِي أَحَدُهُمَا عَنِ اْلآخَرِ
Agama dan kekuasaan itu ibarat dua saudara kembar. Tidak cukup salah satunya tanpa didukung oleh yang lain (Abdul Hayyi al-Kattani, Tarâtib al-Idâriyah [Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah], 1/395).

Jadi untuk menerapkan Islam secara total dan menyeluruh diperlukan kekuasaan. Kekuasaan harus dibangun berlandaskan Islam sekaligus dikhidmatkan untuk Islam, menerapkan Islam, menjaga Islam dan mengemban Islam ke seluruh manusia. Inilah fakta yang terjadi sepanjang sejarah umat Islam.

Dulu Rasul saw. menegakkan kekuasaan dengan mendirikan pemerintahan Islam (Daulah Islam) di Madinah. Kemudian diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin dengan sistem Khilafahnya. Khilafah ini berlanjut pada masa Umayah, ‘Abasiyah dan Utsmaniyah selama lebih dari 13 abad. Selama itu kekuasaan selalu diorientasikan untuk menerapkan, menegakkan, memelihara, menjaga dan mengemban Islam serta memelihara urusan umat Islam dan melindungi mereka.

Begitulah posisi dan fungsi kekuasaan yang disyariatkan oleh Islam. Syamsuddin al-Gharnathi Ibnu al-Azraq (w. 896 H) dalam Badâi’u as-Suluk fî Thabâi`i al-Muluk menyatakan, “Sungguh kekuasaan itu berfungsi untuk menjaga agama dari penggantian dan perubahan. Telah dinyatakan dari Azdasyir bahwa agama itu adalah pondasi dan kekuasaan adalah penjaga (ad-dînu ussun wa as-sulthân hârisun). Al-Mawardi mengakui hal ini dengan kesimpulannya, bahwa agama yang kekuasaannya hilang, hukum-hukumnya akan diganti dan sunnahnya diubah. Sebagaimana kekuasaan, jika lepas dari agama, akan berubah menjadi tiran dan merusak zaman.”

Apa yang dinyatakan oleh Imam al-Mawardi itu nyata sekarang ini. Ketika Islam tidak lagi mempunyai kekuasaan, hukum-hukumnya diganti, Sunnahnya diubah. Hukum Islam diganti dengan hukum buatan manusia bahkan hukum peninggalan para penjajah. Ajaran-ajaran Islam pun distigma buruk. Bahkan dikriminalisasi. Termasuk para pengembannya. Ironisnya, hal itu dilakukan bukan hanya oleh orang-orang kafir, tetapi juga oleh mereka yang mengaku Muslim. Jihad dan Khilafah, yang merupakan ajaran Islam, dikriminalisasi serta dianggap sebagai bahaya yang mengancam dan bagian dari konten radikal dalam makna negatif. Begitu pula hukum jilbab dan pakaian syar’i, jenggot, poligami, waris, penyembelihan syar’i, dan lain-lain. Semua diserang. Dianggap tak manusiawi dan dituding sebagai bentuk keterbelakangan.
Ajaran Islam diubah atas nama moderasi. Padahal moderasi Islam sejatinya adalah menyesuaikan ajaran Islam dengan model dan keinginan Barat kafir. Umat Islam digiring untuk membenci ajaran Islam dan syariahnya. Umat Islam diformat agar menjadi manusia sekular. Hanya menggunakan Islam dalam urusan privat. Lalu mencampakkan Islam dan syariahnya dalam urusan publik kemasyarakatan.

*Perisai Islam dan Umat*
Kekuasaan Islam mewujud dalam format Daulah Islam pada masa Rasul saw. Lalu dilanjutkan dengan sistem Khilafah Islam oleh para Sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin. Kemudian dilanjutkan lagi oleh Khilafah Umayah, Khilafah ‘Abbasiyah dan berikutnya Khilafah Utsmaniyah. Sepanjang sejarahnya Khilafah terus menjadi perisai yang menjaga kemuliaan Islam, pelaksanaan hukum-hukumnya dan kemurnian ajarannya. Khilafah pun terus mendakwahkan Islam ke seluruh dunia.

Kekuasaan Islam (Khilafah) juga menjadi perisai bagi umat Islam. Khilafah menjaga kemuliaan kaum Muslim dan melindungi mereka dari marabahaya. Hal itu terus berlangsung sepanjang eksistensi kekuasaan Islam selama tidak kurang dari 13 abad.

Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim pasukan kaum Muslim untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam, 3/9-11).

Pembelaan terhadap kehormatan dan darah kaum Muslim terus dilakukan oleh para penguasa Muslim sepanjang sejarah. Al-Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma’atsir al-Inafah fî Ma’âlim al-Khilâfah, menjelaskan sebab penaklukan Kota Amuriyah pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Amuriyah, salah seorang raja Romawi, telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga berteriak dan menjerit meminta pertolongan. Berikutnya, seperti dikisahkan oleh Ibnu Khalikan dalam Wafiyatu al-A’yân, dan Ibnu al-Atsir dalam al-Kâmil fî at-Târîkh, saat berita penawanan wanita mulia itu sampai kepada Khalifah Al-Mu’tashim Billah, ia segera mengerahkan sekaligus memimpin sendiri puluhan ribu pasukan kaum Muslim menuju Kota Amuriyah hingga berhasil membebaskan wanita mulia itu dan Kota Amuriyah itu pun ditaklukkan.

Sultan al-Hajib al-Manshur (971-1002 M) di Andalusia pernah mengancam penguasa Kerajaan Navarre di wilayah Spanyol karena diketahui menyekap tiga orang Muslimah di salah satu gereja di wilayah mereka. Sultan al-Hajib al-Manshur segera mengirim pasukan berjumlah besar untuk menghukum Kerajaan Navarre. Penguasa Navarre ketakutan. Dia segera mengirim surat permintaan maaf, lalu melepaskan tiga Muslimah tersebut dan menyerahkan mereka kepada kaum Muslim. Bahkan dia berjanji akan menghancurkan gereja tersebut.

Khilafah Utsmaniyah berperan penting memberikan keamanan bagi perjalanan para jamaah haji dengan menempatkan armada laut di laut Hindia. Khilafah Utsmaniyah juga mengirim bantuan personel pasukan termasuk ahli teknik dan senjata, berikut senjata, meriam dan kapal yang dipimpin laksamana Kurtoglu Hizir Reis ke Kesultanan Aceh untuk bersama-sama melawan dan mengalahkan penjajah Portugis.

Sungguh fakta sejarah itu sangat berbeda dengan kondisi umat Islam saat ini. Tak sedikit umat Islam yang diusir, disiksa bahkan dibunuh di berbagai tempat. Di Rogingya, Uiguhur, Suriah, Palestina, beberapa bagian Afrika, dan lainnya. Namun, tidak ada yang membela dan melindungi mereka. Semua itu akibat telah hilangnya kekuasaan Islam. Itulah Khilafah Islam.

Kekuasaan Islam (Khilafah) telah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai perisai yang menjaga dan melindungi umat Islam. Tugas dan kewajiban ini telah ditegaskan oleh Rasul saw dalam sabda beliau:
«إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »
Sungguh Imam (Khalifah) itu laksana perisai (junnah); orang-orang berperang mengikuti dia dan berlindung kepada dirinya (HR al-Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan bahwa Imam (Khalifah) adalah junnah (perisai), yakni seperti penghalang. Ia berfungsi menghalangi musuh menyerang kaum Muslim, menghalangi sebagian masyarakat menyerang sebagian yang lain, melindungi kemurnian Islam dan orang-orang berlindung kepadanya.

Jelas, umat saat ini memerlukan kehadiran kembali kekuasaan Islam, yakni Khilafah, yang akan kembali menjaga dan melindungi mereka. Bukan hanya kebutuhan umat, menegakkan Khilafah merupakan kewajiban atas mereka.

Al-Imam al-Hafidz Abu Zakaria an-Nawawi asy-Syafii berkata, “Umat Islam wajib memiliki seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, menyelamatkan orang yang dizalimi, menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan, menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah.” (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin (III/433).

Kewajiban mengangkat Imam/Khalifah, yakni menegakkan Imamah/Khilafah, merupakan Ijmak Sahabat. Ini seperti ditegaskan antara lain oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam ash-Shawâ’iq al-Muhriqah: “Sungguh para Sahabat telah berijmak bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban paling penting (ahammi al-wâjibât).”

Imam al-Ghazali di dalam al-Mustashfâ (1/14) menegaskan bahwa Ijmak Sahabat itu tidak bisa di-naskh (dihapuskan/dibatalkan). Apalagi dibatalkan oleh kesepakatan orang zaman sekarang jika pun kesepakatan itu ada.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. ***

Dicopy dari : buletin Kaffah edisi 153
(17 Dzulhijjah 1441 H/7 Agustus 2020 M)

Hikmah:

Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberi kalian kehidupan.
(TQS al-Anfal [8]: 24).

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manto Berpeluang Jadi Ketua KWRI Madina

    Manto Berpeluang Jadi Ketua KWRI Madina

    • calendar_month Minggu, 7 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – DPD Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI) Kabupaten Mandailing Natal berencana melangsungkan Musyawarah Daerah (Musda) bulan ini. Ketua Panitia Musda, Muhammad Rusdi Batubara didampingi Sekretaris Panitia, Hendri Husein menjawab Mandailing Online di Panyabungan, Minggu (7/11/2021) menyatakan Musda direncanakan berlangaung pada 25 November 2021. Selain merumuskan program organisasi ke depan, Musda ini juga […]

  • Komisi VII Ragui Sosialisai SMGP

    Komisi VII Ragui Sosialisai SMGP

    • calendar_month Kamis, 4 Feb 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Insiden paparan gas PLTP Mandailing Natal ke warga sekitar menuai kecamanan dari DPR. Dalam rapat Komisi VII DPR dengan Kementerian ESDM dan operator PLTP, PT Sorik Marapi Geothermal Power (SMGP), sejumlah anggaota DPR meminta ada sanksi yang harus dijatuhkan. Wakil Ketua Komisi VII Alex Noerdin mengungkapkan sudah semestinya SMGP mendapatkan sanksi karena adanya […]

  • Paslon Harun-Ichwan Seolah Hanya Diperjuangkan Partai Gerindra

    Paslon Harun-Ichwan Seolah Hanya Diperjuangkan Partai Gerindra

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan calon bupati dan wakil bupati nomor 1 Harun-Ichwan seolah hanya diperjuangkan Partai Gerindra. Pandangan itu muncul, karena selama debat kandidat berlangsung di Sapadia Hall, Gunungtua, Padang Lawas Utara (Paluta) , Kamis (14/11/2024). Paslon ini beberapa kali menyampaikan nama partai itu dan ketua umumnya. ‘Kami di Gerindra’, ‘Partai Gerindra’, adalah […]

  • Akulturasi Elitis Mandailing: Standar Baru Kemajuan Madina

    Akulturasi Elitis Mandailing: Standar Baru Kemajuan Madina

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Ludfan Nasution* Sulit menemukan pemahaman yang relatif seragam dalam hal budaya lokal. Lebih-lebih dalam hal kepemimpinan yang bersifat tradisional. Apalagi untuk membaca dan memahami sebuah prosesi adat yang belum “taradat”. Perpaduan unsur adat dengan nilai budaya yang asing atau baru dengan meninggalkan nilai-nilai adat itu sendiri dapat dipahami sebagai akulturasi. Dan, karena pemangku […]

  • Polisi Temukan 18 Titik Ladang Ganja di Madina, Pengendali Seorang Napi

    Polisi Temukan 18 Titik Ladang Ganja di Madina, Pengendali Seorang Napi

    • calendar_month Sabtu, 11 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- “Ada 18 titik lokasi kebun ganja yang ditemukan anggota, setelah dipetakan melalui jaringan satelit dan cara manual  luas nya sekitar 150 hektar,” kata Irjen Pol Agung Setya lewat pres rilis yang dibagikan Kapolres Madina AKBP. Reza Chairul Sidik Sabtu 11/11/2023. Dalam operai itu petugas menemuman ladang ganja itu di wilayah […]

  • STAIN Madina Raih Juara Festifal Tortor se Tabagsel

    STAIN Madina Raih Juara Festifal Tortor se Tabagsel

    • calendar_month Minggu, 9 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAIN Madina dalam ajang Festival Tortor se-Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) yang diikuti oleh peserta dari tingkat SMP, SMA, hingga mahasiswa, tim DEMA STAIN Madina sukses meraih Juara II. Abdul Bais Ketua DEMA STAIN Pada Mandailing Online Minggu, (09/10/2025) mengatakan diraih nya prestasi ini […]

expand_less