Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Perjalanan Ikan Jurung Keramat, Danau Siais Dan Aek Batangtoru

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
  • print Cetak


Menyusuri Pedalaman Tapsel

Ikan Jurung Keramat, Danau Siais, dan Aek Batang Toru
Sebuah keajaiban bertahan selama hampir satu abad di desa Rianiate, Kecamatan Padangsidimpuan Barat, Tapanuli Selatan. Ribuan ikan jurung berukuran sampai 50 cm dengan berat mencapai 2 kg lebih, hidup liar dalam sebuah sungai kecil dan dangkal yang mengalir di belakang rumah penduduk. Bila kemarau tiba dan debit sungai mengecil, hanya 1/3 dari tubuh ikan-ikan itu yang benam dalam air. Gampang sekali menangkapnya. Tapi penduduk tidak memakan atau mengganggunya. Sebuah kepercayaan keramat telah menyelamatkan mereka dari kepunahan.

Kebelet menyaksikan pemandangan ajaib ini? Tidak gampang! Desa Rianiate adalah desa pedalaman yang terisolir dari darat dan merupakan pemukiman terakhir ke arah pesisir timur Kabupaten Tapsel. Jalan daratnya melewati beberapa puncak perbukitan dengan bebatuan yang sudah dibungkus lumpur. Saat ini, praktis tidak ada mobil yang berani masuk. Bahkan kendaraan roda dua pun sangat jarang melintas, sehingga rerumputan mulai tumbuh di bekas lindasan roda.

Dari Padangsidimpuan, ibu kota Tapsel, simpang menuju desa Rianiate dicapai dengan melewati jalur beraspal Padangsidimpuan-Sibolga selama satu jam perjalanan. Sebelum mencapai jembatan Batang Toru, terdapat tempat wisata pemandian Aek Parsariran. Kita bisa beristirahat atau mandi-mandi di sini, karena Parsariran memang sudah dikelola sebagai lokasi wisata dan pemerintah sudah membangun fasilitas-fasilitas seperti pondok-pondok, ruang ganti, mushalla, dan toko-toko jualan.

Dari Parsariran, simpang Rianiate hanya berjarak sekitar 3 km, persis sebelum jembatan Aek Batang Toru. Kita harus berbelok ke kiri dan melanjutkan perjalanan melewati desa Hapesong dan perkebunan milik swasta. Sampai beberapa kilometer ke dalam, kondisi jalan masih bagus. Setelah itu, jalan sudah berbatu dan berlobang, meski masih dilewati satu dua angkutan pedesaan.

Segalanya menjadi suram dan sulit begitu sampai di desa Simataniari. Dari sini, perjalanan mulai mendaki dengan batu-batunya yang tajam dan besar. Satu gugusan pegunungan lagi harus dilalui dengan perjalanan sulit yang memakan waktu sekitar tiga jam. Penduduk sekitar melewatinya dengan berjalan kaki, termasuk anak-anak SD dari desa Bahung yang berlokasi di sebuah lembah di balik gunung tersebut.

“Cuma di sana SD paling dekat. Aku sama kawan-kawan sudah biasa melewati gunung, tapi karena jalannya curam dan berlumpur, kami nggak bisa pakai sepatu,” kata Dalian, seorang siswa SD kelas 6. Desa Bahung hanyalah pemukiman yang berisi belasan rumah dan satu gereja kecil. Sekitar 30-an anak SD tetap bersekolah meski harus melewati hutan dan gunung tiap hari.

Dari Bahung ke desa Rianiate, badan jalan makin menyempit dengan beberapa jembatan kayu yang sudah bobrok. Perkampungan terakhir di pinggiran Danau Siais itu menampilkan suasana masa lalu. Sebagian besar rumah penduduk terbuat dari papan yang sudah berusia tua dan berbentuk panggung. Satu-satunya bangunan mewah di sana adalah mesjid yang berdiri di pinggir sungai Rianiate yang konon pembiayaannya dibantu oleh mantan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar.

Mesjid ini punya sejarah yang cukup panjang, karena desa Rianiate juga termasuk perkampungan tua. Saat ini jumlah penduduknya sekitar 270 rumah tangga. Pada awalnya bangunan mesjid itu hanyalah sebuah tempat peribadatan sederhana. Alkisah, pada tahun 1939, seorang syekh pengikut tarekat naqsabandiyah datang dari Desa Tabuyung, pesisir barat. Ia mendirikan persulukan persis di pinggiran sungai Rianiate.

Suatu masa, sang syekh menghadapi masalah dengan air sungai yang dipakainya sebagai tempat wuduk. Ia merasa air sungai makin kotor oleh aktivitas penduduk di bagian hulu, sehingga syarat untuk sebuah tempat wuduk yang bersih tidak terpenuhi lagi. Setelah berikhtiar dan berdoa pada Tuhan, beliau akhirnya mendapat pemecahan yang konon datang dari sebuah mimpi.

Entah ia dapatkan dari mana, suatu hari ia membawa seekor ikan jurung besar (penduduk setempat menyebutnya ikan merah). Ikan itu ia lepas di sungai belakang mesjid dengan tujuan menjadi penyaring kotoran dari hulu. Ini sebenarnya bisa dijelaskan lewat ilmu biologi, yakni membasmi sesuatu dengan memanfaatkan sifat rantai makanan makhluk hidup. Ikan jurung tersebut memakan kotoran-kotoran dari hulu dan seterusnya berkembang biak menjadi ribuan ekor.

Untuk kelestariannya, syekh dan pengikutnya melarang penduduk mengambil dan memakan ikan-ikan itu. Sebuah kepercayaan kemudian berkembang. Sampai hari ini penduduk sangat meyakini bahwa ikan jurung itu bukanlah ikan biasa. Mereka “dilindungi” oleh sang syekh dan tidak ada seorang pun yang selamat bila berani memakan atau mengambilnya.

Menurut Henry Dalimunthe, seorang penduduk yang tinggal di tepi sungai, sudah banyak kejadian yang membuktikan keyakinan mereka itu. Suatu hari dua orang pendatang dari Padangsidimpuan menangkap dan membakar ikan untuk “teman” (tambul) minum tuak. Keduanya lantas meninggal dalam keadaan mabuk. Kemudian seorang anak muda tiba-tiba buta matanya dalam tugasnya sebagai operator alat berat untuk pelebaran sungai. Diduga, ia telah mengganggu ketenteraman ikan karena membuat sungai keruh. Beberapa kasus lain adalah orang-orang yang perutnya gembung setelah nekad mengabaikan peringatan warga.

“Kami tidak pernah melarang siapapun menangkap atau memakan ikan merah. Tapi kami sudah memberi peringatan duluan. Tapi kalau tidak percaya juga, kami biarkan saja. Jadi, jangan salahkan kami kalau terjadi sesuatu kemudian,” ujar Henry serius.

Keanehan lain yang memperkuat mitos itu adalah tingkah laku ikan yang tidak pernah jauh-jauh dari sekitar mesjid. Mereka hanya mau berenang paling jauh dalam radius sekitar 20 meter ke hilir atau ke hulu. Dalam sungai yang dangkal tersebut, ikan-ikan jurung bergerombol dan bergabung dengan penduduk yang mandi atau mencuci.

Bayangkan, ribuan ekor jurung seberat 2 kiloan berkeliaran di sekeliling Anda dengan sebagian tubuhnya tak muat lagi dalam air. Ini adalah pemandangan langka dan mungkin satu-satunya di dunia!

Sebuah kearifan tradisional telah menjaga populasi jurung di Rianiate. Entah sampai kapan hubungan unik manusia dan ikan ini bertahan. Menurut penduduk setempat, belakangan, kasus kematian ikan merah makin sering terjadi. Bila kemarau terlalu panjang, ikan-ikan mati mengambang sampai ratusan ekor. Persentuhan warga dengan produk-produk modern seperti deterjen telah mempengaruhi kualitas air sungai. Diduga, pada saat kemarau, tingkat konsentrasi pencemaran sungai menjadi tinggi, dan akhirnya membunuh ikan.

Panorama Siais dan Aek Batang Toru

Selain keajaiban ikannya, desa Rianiate masih punya simpanan lain untuk dikunjungi. Menyusuri sungai Rianiate sejauh kira-kira 1 km lagi ke hilir, kita akan berakhir pada sebuah danau yang sangat indah: Danau Siais.

Puluhan sungai besar dan kecil dari gugusan pegunungan di sekelilingnya memberikan kontribusi air, termasuk Aek Batang Toru sebagai penyumbang terbesar. Danau Siais adalah danau terluas kedua yang dimiliki Sumatera Utara setelah Danau Toba. Tapi potensi wisata ini belum terjamah sama sekali. Sebaliknya, para mafia kayu sudah mencederai duluan hutan-hutan di sekelilingnya.

Sebagai danau alam, Siais menyimpan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat di sekitarnya. Warga memenuhi lauk-pauk dengan cara menangkap ikan. Sebagai sarana transportasi penyeberangan, mereka membuat sampan. Tak heran bila warga Rianiate sendiri adalah orang-orang yang terampil membikin sampan.

Bahkan, hari ini, warga Rianiate telah membuat perahu yang lebih besar untuk alat transportasi sungai. Perahu dengan kapasitas 20 penumpang itu memiliki ukuran sepanjang 15 meter dengan lebar badan 1 meter. Sebagai penggeraknya, mereka memakai mesin kompeng berbahan bakar solar. Tak kurang dari 7 perahu kompeng melayani rute Rianiate—Batang Toru dan sebaliknya setiap hari.

Dari sungai Rianiate yang sempit, perahu motor pelan-pelan menghilir ke danau, lalu keluar melalui mulut sungai Batang Toru. Setelah meninggalkan panorama Siais yang indah dan tenang, perahu kompeng selanjutnya bergerak ke hulu menentang arus Batang Toru yang cukup deras. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Batang Toru sekitar 3 jam dengan jarak tempuh kira-kira 60 km.

Selama penyusuran sungai ini, panorama juga cukup menyenangkan. Beberapa jenis satwa liar seperti elang, biawak, dan monyet menjadi daya tarik pemandangan di sepanjang pinggiran sungai. Sekali-sekali, rumah-rumah penduduk yang lebih tepat disebut gubuk dapat dilihat. Penghuninya adalah anak-anak kandung pedalaman yang hidup dengan sangat sederhana.
Sungai Batang Toru adalah salah satu sungai terbesar di Tapanuli Selatan. Ke hilir, arusnya berakhir ke laut di pesisir barat setelah lebih dulu membagi airnya sebagian ke Danau Siais. Sedangkan ke hulu, Batang Toru melintasi Tarutung, Tapanuli Utara. Di sana masyarakat mengenalnya dengan nama Aek Sarulla. Saking populernya, sungai ini sudah memberi inspirasi pada terciptanya sebuah lagu Batak yang juga cukup dikenal karena sering diajarkan pada anak-anak SD. Petikannya antara lain “Aek Sarulla, tu dia ho laho. Na ginjang ma nian jalan mi…”. (Sungai Sarulla, ke mana kau pergi. Panjang kali nian jalanmu…).

Selain karena besar dan panjangnya, belakangan Batang Toru alias Sarulla juga mulai disebut-sebut karena memiliki jeram yang sangat menantang antara Desa Sipetang sampai jembatan Trikora di Batang Toru. Kelompok pecinta alam Kompas USU yang dipimpin Robert AP Lubis pertama kali mengarunginya pada tahun 2002. Menurut salah seorang aktivis Kompas USU, Popoy, sungai Batang Toru memiliki satu jeram besar dengan grade 6. Belum ada yang berani melewatinya, karena risikonya sangat dekat dengan maut. Sebagai perbandingan, arung jeram Asahan yang berkapasitas internasional, hanya memiliki jeram tertinggi dengan grade 5+ dan juga belum ada kelompok yang berani mengarunginya.
Sumber : batangtoruharini

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harimau Sumatera Ditangkap di Palas

    Harimau Sumatera Ditangkap di Palas

    • calendar_month Rabu, 17 Jul 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SOSOPAN (Mandailing Online) – Setelah lama meresahkan warga, akhirnya seekor harimau sumatera tertangkap di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara. Pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama prajurit TNI dari Koramil 07/Sosopan Kodim 0212/TS dibantu warga berhasil menangkap harimau itu hiduphidup, Selasa (16/7/2019). Harimau jantan itu tertangkap dengan perangkap yang dipasang di […]

  • KPK Kembalikan Uang Korupsi Syamsul Rp75 M

    KPK Kembalikan Uang Korupsi Syamsul Rp75 M

    • calendar_month Rabu, 4 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LANGKAT- Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) akhirnya mengembalikan uang Pemkab Langkat Rp75 miliar lebih. Dana tersebut sebelumnya disita guna keperluan pengungkapan kasus dugaan korupsi yang melibatkan mantan Bupati Syamsul Arifin. Pengembalian uang sitaan dilakukan pada Senin (2/7) lalu sekira pukul 16.00 WIB di kantor Bupati Langkat. Pengembalian itu disaksikan Kapolres Langkat AKB Eric Bhismo dan beberapa […]

  • Di Madina Habis Bimtek Kades Muncul Bimtek BPD

    Di Madina Habis Bimtek Kades Muncul Bimtek BPD

    • calendar_month Kamis, 7 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Ternyata Dana Desa di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) tidak hanya dibuat untuk Bimtek Kepala Desa Saja. Tahap ke III Pencairan dana desa tahun 2023 ini juga dialokasikan anggaran untuk Bimtek BPD ( Badan Permusyawaratan Desa ). Anggarannya mencapai Rp.4000.000/ desa nya. Di Kecamatan Siabu sendiri ada 26 Desa. […]

  • Anggota DPRD Sumut Ti Aisah Ritonga Reses Ke Madina

    Anggota DPRD Sumut Ti Aisah Ritonga Reses Ke Madina

    • calendar_month Rabu, 8 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan MO- Anggota DPRD Propinsi Sumatera Utara dari Partai Demokrat Ti Aisah Ritonga SE reses ke Madina berpusat di Aula Kantor Camat Siabu, Rabu (8/2). Persoalan infrastruktur jalan menjadi bahan aspirasi dari warga kepada Ti Aisah. Selain itu, tapal batas antara Kabupaten Mandailing Natal dengan Tapanuli Selatan juga menjadi bahasan. “Tapal batas antara ini sudah […]

  • PARATA NA MALOS: MENYIRAM KEMBALI JIWA YANG MULAI LAYU

    PARATA NA MALOS: MENYIRAM KEMBALI JIWA YANG MULAI LAYU

    • calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
    • account_circle Moehctar Nasution
    • 0Komentar

    Oleh: Moechtar Nasution    … Arti Sederhana dengan Kedalaman Makna Bagi siapapun yang lahir dan dibesarkan di atas hamparan tanah Mandailing, istilah “Parata na malos” sebenarnya menempati ruang ingatan yang teramat bersahaja. Di kampung halaman, kalimat ini semula hanyalah sebuah representasi dari aktivitas harian yang biasa kita saksikan di pelataran rumah. Ia merujuk pada sebuah […]

  • Usai Bedah Visi-Misi, Tomas Muarasipongi Sepakat Pilih SAHATA

    Usai Bedah Visi-Misi, Tomas Muarasipongi Sepakat Pilih SAHATA

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARASIPONGI (Mandailing Online) – Sejumlah tokoh masyarakat (Tomas) Desa Relokasi, Kecamatan Muarasipongi siap memilih dan memenangkan pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2, H. Saipullah Nasution – Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) pada Pilkada 2024. Mereka siap mendukung dan memilih SAHATA setelah memahami visi-misi Paslon ini yang tergolong realistis […]

expand_less