Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Pilih Mana, CSR Tak Seberapa Atau Kelola SDAE, Rakyat Sejahtera?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 1 Jun 2022
  • print Cetak

Oleh: Djumriah Lina Johan
Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Hadi Mulyadi melayangkan protes karena Rp 200 miliar dana CSR perusahaan tambang batu bara di wilayahnya disalurkan ke kampus-kampus di pulau Jawa. Dia tidak terima, karena selama ini perusahaan tersebut mengeruk sumber daya alam di Kaltim, namun tidak memperhatikan pendidikan di Kaltim.

“Saya atas nama masyarakat Kaltim kecewa dengan sebuah perusahaan yang memberikan beasiswa Rp 100 miliar kepada ITB, Rp 50 miliar kepada UGM, Rp 50 miliar kepada UI. Total Rp 200 miliar, total Rp 200 miliar, sementara tidak satu rupiah mereka berikan ke Kalimantan Timur,” ucap Hadi Mulyadi saat menghadiri Rapat Paripurna di DPRD Kaltim, Rabu (11/5/2022).

Selain itu, Hadi pun mempersoalkan perusahaan tambang batu bara yang produksinya meningkat namun penyaluran dana CSR (Corporate Social Responsibility) tidak ada peningkatan untuk masyarakat Kaltim. Lantaran itu, Hadi mengajak masyarakat bersama-sama menggugat ketidakadilan perusahaan-perusahaan yang lebih memperhatikan kesejahteraan pendidikan di luar Kaltim. Sebab menurutnya dana sebanyak itu dapat membantu ribuan pelajar di Kaltim. (Detikcom, 16/5/2022)

Sebenarnya, andaikan semua SDAE (Sumber Daya Alam dan Energi) itu dikelola penuh oleh negara, niscaya tidak hanya mampu memberikan pendidikan terbaik bagi mahasiswa di pulau Jawa, bahkan mampu menyejahterakan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Sebab, kebutuhan rakyat akan tercukupi dari pengurusan negara. Dana hasil pengelolaan SDAE dapat teralokasikan untuk memenuhi semua kebutuhan rakyat, seperti sandang, pangan, papan, fasilitas transportasi, kesehatan, pendidikan, dsb.

Problem salah fokusnya negara dalam mengelola ekonomi adalah akibat penerapan aturan kapitalistik. Dalam aturan ini, fokus utama negara adalah mencari untung tanpa menyertakan peran agama dalam setiap keputusannya. Negara telanjur terikat pada perjanjian-perjanjian dengan negara lainnya. Utangnya pun makin menggunung. Jangankan mengelola SDAE, untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya saja negara dapat dari berutang. Walhasil, mau tidak mau, negara ini harus nurut pada yang memberikan utang.

Melihat subur dan kayanya negeri Zamrud Khatulistiwa ini, para pengusaha dalam maupun luar negeri pasti akan tergiur. Keuntungan yang menjanjikan membuat mereka melakukan berbagai intrik demi mendapatkannya. Mirisnya, negara sengaja mendiamkan bahkan mendukungnya. Siapa yang untung? Tentu bukan rakyat atau negara, melainkan mereka para kapitalis. Rakyat cukup jadi penonton saja. Sehingga program CSR sejatinya hanya remahan saja. Sangat jauh hasilnya jika SDAE dikelola secara mandiri oleh negara.

Kondisi ini memperlihatkan negara salah urus dalam mengelola ekonomi. Negara membiarkan asing, aseng, dan asong untuk mengelola kekayaan SDAE dan justru mengharapkan dan akhirnya kecewa dengan program CSR.

SDAE sejatinya merupakan kepemilikan umum. Umatlah pemilik sesungguhnya dari SDAE, sementara negara hanya sebagai pengelola saja.

Karena merupakan kepemilikan umum, maka diharamkan bagi swasta untuk menguasainya, karena itu berarti menghalangi umat mendapatkan haknya.

Rasulullah saw bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, api, dan padang gembalaan.” (HR Abu Dawud dan Ibn Majah)

Pada prinsipnya, negara hanya menarik biaya dari masyarakat sebesar biaya produksi, transportasi, dan litbang dari produk energi yang dihasilkan. Namun, negara boleh-boleh saja mengambil keuntungan dari harga produk energinya, dengan catatan tidak memberatkan dan hasilnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat dalam bentuk lain.

Kedaulatan dan ketahanan energi merupakan kewajiban dalam Islam. Ketiadaan kedaulatan energi, yang di antaranya disebabkan penguasaan asing terhadap SDAE, akan sangat mengancam kedaulatan negara.

Bayangkan jika negara Islam harus tergantung pada asing untuk mendapatkan sumber energi demi menunjang peradabannya, maka negara Islam akan sangat mudah dikendalikan oleh asing.

Demikian pula, jika ketahanan energi kurang akibat SDAE tidak memadai untuk keperluan negara, negara Islam juga bisa ditekan asing. Hal ini jelas-jelas terlarang dalam Islam.

Allah Swt. berfirman, “…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS An Nisa’: 141)

Dengan demikian, pertanyaannya mau pilih mana, CSR tak seberapa atau kelola SDAE, rakyat sejahtera?

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Madina Hasil Pilkada Diharap Kembangkan UMKM

    Bupati Madina Hasil Pilkada Diharap Kembangkan UMKM

    • calendar_month Kamis, 18 Jul 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) adalah sektor riil penopang utama dalam pertumbuhan ekonomi rakyat dan penciptaan lapangan pekerjaan. Termasuk juga ekonomi kreatif sabagai bagian penting dalam sektor riil masa kini yakni aktivitas kerajinan yang menghasilkan produk bernilai estetika dan nilai jual. Sektor ini diharap menjadi prioritas penting bagi bupati Mandailing […]

  • Usai UN Siswa SMK Coret -coret

    Usai UN Siswa SMK Coret -coret

    • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk SMK berakhir Rabu (20/4) kemarin. Berakhirnya UN tersebut, beberapa peserta meluapkan rasa kegembiraan dengan aksi corat-coret seragam. Bagi mereka tentu hal ini merupakan tren atau luapan kegembiraan, tetapi harus disadari tindakan tersebut kurang terpuji apalagi dibarengi dengan tindakan lain di luar corat-coret karena tidak mencerminkan generasi terdidik. Pantauan METRO, […]

  • Pilkada “Restoratif”: Raih “Emas”, Buang Cemas! (Bagian 2-selesai)

    Pilkada “Restoratif”: Raih “Emas”, Buang Cemas! (Bagian 2-selesai)

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: M Ludfan Nasution Era Otda Keadaan pada awal Era Otda (Otonomi Daerah) pun nampaknya tak jauh berbeda. Para keturunan raja yang menyebut diri sebagai “anak ni raja, anak ni namora” muncul dan mendapat peran kunci. Klaim wilayah untuk memekarkan kawasan Mandailing, Tanah Ulu (Muarasipongi) dan pesisir Natal pun menuntut pengakuan dan penguatan dari tokoh-tokoh […]

  • Gawat! Menteri Malaysia Perkosa TKW

    Gawat! Menteri Malaysia Perkosa TKW

    • calendar_month Rabu, 5 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KUALA LUMPUR : Perwakilan pemerintah Indonesia di Malaysia tengah memonitor beredarnya kabar tentang seorang pembantu rumah tangga Indonesia yang diperkosa seorang menteri Malaysia pada 2007 lampau. Meski demikian, isu itu dinilai sulit diusut lebih jauh. Demikian dinyatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.Kepala Penerangan KBRI Suryana Sastradipraja mengatakan kasus itu mengemuka belakangan ini […]

  • Saparuddin Haji Lubis : Strategi 60-10 Hingga Program Kopi

    Saparuddin Haji Lubis : Strategi 60-10 Hingga Program Kopi

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Membangun Madina itu bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi kuncinya adalah apakah kita semua mau bersama-sama membangun Madina? Itu kalimat calon bupati Madina Saparuddin Haji Lubis dalam satu perbincangan dengan Mandailing Online, beberapa waktu lalu. Selain itu, ada 2 poin dari visi Saparuddin Haji yang juga menyedot perhatian audiens. Pertama, visi tentang pembangunan Madina […]

  • Direktur MATA Optimis Kejaksaan dan Polisi Pelajari Dugaan Kecurangan Rekrutmen PPPK Madina

    Direktur MATA Optimis Kejaksaan dan Polisi Pelajari Dugaan Kecurangan Rekrutmen PPPK Madina

    • calendar_month Rabu, 27 Des 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MEDAN ( Mandailing Online )- Direktur MATA Pelayanan Publik Abyadi Siregar, optimis pihak kepolisian atau kejaksaan Mandailing Natal (Madina) sedang mempelajari kasus dugaan kecurangan rekrutmen calon PPPK di daerah tersebut. Apalagi persoalan hukum ini sudah viral beberapa hari terakhir. “Sebagai penegak hukum yang profesional, kepolisian atau kejaksaan pastilah merespon dan mengatensi setiap isu-isu kasus hukum […]

expand_less