Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Rivalitas Abdul Haris Nasution vs Zulkifli Lubis (bagian 2 dari 2 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 3 Agt 2022
  • print Cetak

Abdul Haris Nasution dan Zulkifli Lubis

Suatu hari, kepala Stasiun Padalarang, yang berada di wilayah Divisi Siliwangi, ditembak PMC. “Maka terpaksa PMC ditindak. Semua badan penyelidik yang beroperasi dibawah markas besar atau kementerian pertahanan di Yogya, berangsur-angsur kena penertiban oleh Divisi saya,” aku Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda (1989: 217).

Seperti Lubis, Nasution juga tak ketinggalan ikut Republik. Dia memimpin para pemuda dan bekas tentara di Bandung setelah proklamasi 1945. Seperti Lubis pula, pangkatnya dengan cepat jadi kolonel. Waktu Nasution menjadi Panglima Markas Besar Komando Djawa (MBKD) setelah 1948, Lubis, yang ditendang Perdana Menteri Amir Sjafruddin sebagai kepala intel, memimpin badan intelijen di MBKD. Dan sulit baginya membangun intelijen di Kementerian Pertahanan setelah 1948, hingga dia lebih banyak di militer (Angkatan Darat).

Perang Kolonel

Setelah tentara Belanda cabut, Lubis berusaha membangun lagi badan intelijen dengan nama Intelijen Kementerian Pertahanan (IKP) pada 1952. Badan ini tak lama umurnya. Lubis lalu diarahkan oleh Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Kolonel Tahi Bonar Simatupang untuk memimpin Biro Informasi Staf Angkatan Perang (BISAP).

Sementara itu, pada awal 1950-an, Nasution sudah menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Dua kali dia mengisi posisi itu. Dalam sejarah Angkatan Darat, dia orang terlama yang menjadi KSAD, sekitar 7 tahun. Semasa Nasution jadi KSAD itulah pertentangan antara Lubis dengan Nasution meruncing.

Sejak akhir era Revolusi, menurut catatan Suhario Padmodiwiryo alias Hario Kecik dalam Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit (1995), “sudah terjadi ketidakserasian antara TB Simatupang, AH Nasution dan Z Lubis. Ketiga perwira berkedudukan tinggi ini punya pendukung masing-masing” (hlm. 399).

Perseteruan pun berlanjut di Staf Umum Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan era 1950-an.

Rivalitas antara Lubis dengan Nasution tentu diperparah dengan pertentangan para politisi era 1950-an. Lubis jelas berseberangan dengan Nasution dalam Peristiwa 17 Oktober 1952. Lubis berhasil mengintai kelompok Nasution yang hendak membubarkan parlemen—yang berisikan politisi yang dianggap tidak becus urus negara. Lubis, yang kala itu berada di pihak presiden—yang tak ingin parlemen bubar—kasak-kusuk membayangi demonstran yang digerakkan kelompok Nasution.

“Orang-orang saya sempat masuk diantara mereka,” kata Lubis dalam memoarnya (hlm. 61).

Orang-orang Lubis berhasil mengarahkan demonstran dan bikin kecewa kelompok Nasution. Di akhir demontrasi, para demonstran berteriak “Hidup Bung Karno” dan usaha kelompok Nasution untuk membubarkan parlemen pun gagal.

Setelah 17 Oktober 1952 itu, Lubis diangkat menjadi Wakil KSAD. Sementara Nasution tersingkir dari posisi KSAD dan dari 1952 hingga 1955 ia jadi orang sipil yang menyusun banyak buku dan membangun Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI).

Lubis mendampingi Bambang Sugeng sebagai KSAD. Bambang Sugeng hanya jadi KSAD dari 1952 hingga 1955. Lubis pun jadi pejabat KSAD selama hampir dua bulan. Setelahnya Bambang Utoyo pun jadi KSAD untuk empat bulan. Setelahnya Nasution naik lagi jadi KSAD.

Hario Kecik dalam memoarnya menyebut, Perdana Menteri Burhanudin Harahap pernah menunjuk Zulkifli Lubis sebagai KSAD. Tapi karena tak ingin dianggap ambisius, Lubis menolak. Lubis pun mengajukan beberapa nama seperti Gatot Subroto, Simbolon, Sudirman, dan lain-lain (hlm. 407-408).

Waktu Perdana Menteri bertanya, “Mengapa Nasution tidak masuk dalam daftar?” Lubis menjelaskan bahwa dalam Konferensi Yogya, Nasution pernah menyatakan sikap bahwa dirinya akan meninggalkan Angkatan Darat. Namun, Lubis mengatakan, jika Burhanudin Harahap berkenan, nama Nasution akan dimasukkan dalam daftar.

“Sebenarnya, yang menggarap ‘pengusulan Nasution’ ini adalah orang-orang Masyumi. Pada waktu itu disarankan pada Lubis untuk mendatangi Nasution untuk minta keterangan tertulis kesediaan Nasution dicalonkan sebagai KSAD,” tulis Hario Kecik.

Beberapa perwira yang belakangan terlibat PRRI/Permesta tak suka Nasution jadi KSAD lagi. Nasution dua kali menolak ketika Lubis menghampiri. Namun waktu Lubis di Makassar, Nasution mengatakan kepada media bahwa dirinya mau jadi KSAD.

Di awal-awal Nasution jadi KSAD lagi itu, seperti diakuinya dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua (1984), ia berusaha menjaga hubungan dengan Lubis. Waktu Lubis naik haji bersama istrinya, Nasution ikut mengantar dan menjemput ke bandara Kemayoran (hlm. 20-23). Tapi apa yang terjadi kemudian adalah cerita soal rivalitas mereka.

“Sudah jadi pembicaraan umum, bahwa KSAD [Nasution] dan WKSAD [Lubis] tidak bersatu. Bung Hatta pun pernah menyebut gekibbel (cekcok terus menerus) antara kami berdua,” tulis Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas: Masa Pancaroba Kedua.

Tak heran, posisi Lubis sebagai Wakil KSAD pun kemudian digantikan oleh Gatot Subroto pada 1956. Lubis sendiri hendak ditempatkan sebagai Panglima TT I Sumatra, menggantikan Kolonel Mauludin Simbolon. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. Perseteruan kian meruncing.

Lubis membuat gerakan-gerakan, tapi gagal. Satu yang terkenal adalah Peristiwa Kranji. Ada tuntutan dari Lubis dan kawan-kawannya agar pemerintah memberhentikan Nasution. Lubis kemudian dipecat. Waktu Sumatra memanas, Lubis pergi ke sana. Dia bergabung PRRI/Permesta dan kalah besar dari Nasution.

Menjelang HUT TNI ke-73, Tirto menayangkan dua serial khusus tentang sejarah militer Indonesia: “Seri Para Panglima Soeharto” dan “Seri Rivalitas Tentara”. Serial pertama ditayangkan tiap Kamis, serial kedua tiap Jumat. Edisi khusus ini hadir hingga puncak perayaan HUT TNI pada 5 Oktober 2018.***

Dicopy dari: Tirto.id, edisi 28 Agustus 2018 berjudul “Perang Saudara Nasution vs Lubis Panaskan Angkatan Darat”

Penulis untuk Tirto.Id: Petrik Matanasi

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    Malaria Serang Tabuyung, Seorang Warga Meninggal

    • calendar_month Kamis, 28 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Sejumlah warga Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terserang penyakit malaria dan telah menewaskan salah seorang warga. Denip (35) salah seorang warga Tabuyung yang terserang Malaria hingga dirawat di RS Permata Madina, Panyabungan, Selasa (26/04/2011) mengungkapkan, sejumlah warga khususnya pekerja di salah satu perusahaan di Tabuyung diduga terjangkit malaria dalam […]

  • Saksi Bank Sumut Diperiksa

    Saksi Bank Sumut Diperiksa

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kejaksaan Agung (Kejagung) RI telah melakukan proses penyelidikan terhadap kasus kredit macet Bank Sumut ke salah satu kontraktor senilai Rp 1,9 miliar pada Tahun 2007 lalu. Proses penyelidikan ini dilakukan berdasarkan hasil audit BPK RI, yang menemukan adanya kerugian negara dalam pengucuran kredit oleh Bank Sumut kepada salah satu kontraktor. “Maka untuk langkah selanjutnya […]

  • Warga Desa Lancat di Lingga Bayu Dikejutkan Penemuan Mayat Ditimpa Batu Besar

    Warga Desa Lancat di Lingga Bayu Dikejutkan Penemuan Mayat Ditimpa Batu Besar

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Linggabayu ( Mamdailing Online ): warga desa Lancat di Kecamatan Lingga Bayu, Kabupaten Mandailing Natal dihebohkan dengan penemuan mayat yang tertimpa batu di pinggiran sungai batangnatal. Penemuan mayat itu sontak membuat warga sekitar mendatangi lokasi. Dalam video yang beredar di media sosial sekujur tubuh korban tertimpa batu kecuali bagian kepala korban. Belum diketahui pasti identitas […]

  • PARPOL HARUS IKUT BAHAS R-APBD MADINA 2027

    PARPOL HARUS IKUT BAHAS R-APBD MADINA 2027

    • calendar_month Minggu, 27 Sep 2026
    • account_circle Ludfan Nasution
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Ludfan Nasution – Koordinator Mandailing Epicentrum     Parpol mestinya tak hanya bekali Caleg dengan atribut, tapi juga tingkatkan vitalitas kader di DPRD dengan kemampuan advokasi (politik) anggaran. Pembahasan R-APBD Madina 2027 semestinya tidak hanya menjadi urusan TAPD dan DPRD. Ada satu institusi yang perlu ikut memberi perhatian ekstra dari sisi yang berbeda, […]

  • Senja di Pantai Natal

    Senja di Pantai Natal

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        BERANJAK –Seekor kerbau beranjak menuju daratan melintasi garis edar matahari dalam keremangan senja di pantai Panggautan, Natal, Kabupaten Mandailing Natal. Sejumlah titik pantai di Natal memiliki panorama alam yang eksotis dan indah, hanya saja belum dijamah untuk objek wisata.   Peliput: Holik Nasution Editor    : Dahlan Batubara

  • Cawabup Atika Bawa Warga Hutabargot Berobat, Pastikan Operasi Berlangsung

    Cawabup Atika Bawa Warga Hutabargot Berobat, Pastikan Operasi Berlangsung

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Atika Azmi Utammi Nasution kembali membawa warga berobat ke rumah sakit usai melaksanakan penyantunan. Kali ini di Kecamatan Hutabargot, Jumat (20/10/2024). Cerita bermula saat Atika bersilaturahmi dengan pengurus dan anggota Muslimat NU kecamatan itu. Di sela-sela dialog, salah satunya menyampaikan bahwa di […]

expand_less