Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Sekapursirih dari Pementasan “Multatuli” : Humanisme Douwes Dekker dan Sejarah Jalur Ekonomi Kopi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 31 Jul 2017
  • print Cetak

Adegan Multatuli dengan Saijah di drama “Multatuli” (foto : Dahlan Batubara)

 

Pementasan drama “Multatuli” produksi Jeges Art di Taman Raja Batu, Panyabungan, Senin (31/7) sungguh sangat luar biasa. Plot cerita mengalir dengan sempurna, dialog-dialog yang menyentuh serta adegan-adegan yang berkarakter kuat.

Askolani Nasution, sang sutradara, begitu berhasil membangun dimensi emosi yang sangat kuat pada setiap adegan. Pun, para pemain sangatlah pula piawai memerankan peran masing-masing. Drama kian hidup dan memukau oleh polesan musik latar yang mampu membangun ruang dan setting cerita.

Drama “Multatuli” ini bersetting era kolonial Belanda tahun 1800-an menampilkan humanisme Eduard Douwes Dekker atau lebih popular dengan sebutan Multatuli, seorang kontrolir kolonial yang  berkedudukan di Natal.

Askolani Nasution berhasil mencuatkan humanisme dan pemikiran Multatuli yang visioner dalam upaya menggerakkan ekonomi pribumi masa itu lewat gagasan pembukaan infrastruktur jalan sebagai bagian dari rangkaian pengembangan komoditas kopi Mandailing.

Dalam buku “Madina Madani” (2004) karya sejarahwan Mandailing Basyral Hamidi Harahap  mencatat, pembukaan jalur-jalur jalan telah berhasil mempercepat laju distribusi komoditi kopi Mandailing di masa itu, sehingga volume ekspor begitu sangat tinggi.

Pembukaan jalan-jalan itu telah merubah pola angkutan kopi dari cara panggul menjadi angkutan grobak pedati. Ruas-ruas jalan itu didesain oleh Philipus Godon seorang Asisten Residen Mandailing Angkola yang berkedudukan di Panyabungan. Godon adalah sahabat Multatuli. Dalam catatan sejarah, keduanya sama-sama berangkat dari Eropa untuk bertugas di kawasan Mandailing, Hindia Belanda.

Ruas-ruas jalan yang dibangun itu meliputi, jalur Jembatan Merah-Muara Sipongi; jalur Panyabungan-Gunung Baringin; jalur Panyabungan-Jembatan Merah; jalur Jembatan Merah-Tanobato; jalur Tanobato-Natal dan jalur Panyabungan-Sigalangan. Dari Sigalangan, ruas-ruas jalan juga dibuka hingga ke Sidimpuan, Sipirok sampai ke Lumut.

Jalur-jalur darat itu mampu dengan cepat mendistribusikan pergerakan angkutan kopi dari sentra-sentra perkebunan kopi rakyat menuju unit-unit gudang yang dibangun di berbagai titik, seperti gudang di Muarasipongi dan gudang Tanobato.

Pembangunan pelabuhan laut di Sikara-kara, Natal untuk pengapalan biji kopi dari kawasan Mandailing Julu dan Mandailing Godang telah mempercepat ketibaan di Nederland. Begitu juga pelabuhan Lumut untuk layanan distribusi kopi dari kawasan Sipirok.

Karakter seorang Multatuli terasa begitu hidup diperankan oleh Bob Dimas, satu karakter protagonis yang memiliki rasa kemanusiaan tinggi seorang pejabat kolonial.

Tokoh Saijah juga sangat terasa hidup yang diperankan Ika Desika Dahlan Hasan. Figur gadis pribumi pencerah yang visioner.

Dialog-dialog Multatuli dan Saijah dalam berbagai adegan mampu menaikkan emosi penonon sehingga drama ini menjadi begitu hidup.

Saya yang sejak awal hingga pementasan berakhir duduk dan konsentrasi di sudut kiri panggung  begitu khusuk dan sangat terlena mengikuti setiap adengan.

Drama “Multauli” ini tak saja mencuatkan gagasan humanisme, dimensi ekonomi dan gambaran sosial budaya masa 1800-an itu, tetapi Askolani Nasution juga sangat piawai membungkus plot cerita dengan sentuhan emosi hati gadis Saijah. Hubungan cinta antara Multatuli dengan Saijah yang harus kandas oleh faktor perbedaan budaya (Eropa-Melayu) pun telah menguras emosi kesedihan penonton.

Sama seperti film-film produksi Tympanum Novem (kini bermetamofosa menjadi Jeges Art), pemainnya umumnya adalah individu yang tak pernah bersentuhan dengan dunia teater atau dunia akting.

Bayangkan, di drama “Multatuli” ini, hanya Ali Fikri Pulungan (memerankan ayah Saijah) saja yang sudah berkategori makan asam garam peraktingan, serta Ulan Gustina (memerankan ibu kandung Saijah) yang sudah agak sering mengikuti pengambilan gambar untuk film-film produksi Tympanum.

Disinilah keunikan seorang Askolani Nasution yang selalu berhasil menggembleng seseorang menjadi mampu berakting dalam tempo singkat.

Akting taklah sekedar menguasai dan menghayati gerakan, mimik wajah ataupun mengolah emosi dan melakoni sifat orang lain, lebih dari itu emosi bahasa juga sangat penting. Semua itu bukan perkara mudah.

Akhir kata, bagi saya, drama “Multatuli” telah menempatkan kawan-kawan seniman di Jeges Art berada dalam pencapaian yang membangakan. Dan lebih dari itu, Jeges Art telah mampu menghidupkan perteateran di Mandailing Natal, seperti Teater Kartupat di Medan.

Dan, dari dimensi lain, drama “Multatuli” ini bukan lagi sebuah segmen dalam daftar penutupan TTG 2017 di Taman Raja Batu, tetapi pementasan ini telah menjelma menjadi “cambukan visi” bagi kita semua, baik Pemerintah Daerah maupun masyarakat luas untuk lebih menyadari bahwa masa depan ekonomi Madina atau Sumatera Utara berada “di tangan” infrstruktur sebagaimana yang diperlihatkan sejarah kegemilangan kopi Mandailing yang diprakarsai Multatuli dan Godon di masa lalu. (Dahlan Batubara)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Petugas Bersihkan Sungai Aek Mata Dengan Alat Seadanya

    Petugas Bersihkan Sungai Aek Mata Dengan Alat Seadanya

    • calendar_month Senin, 5 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) : Dalam rangka hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environtment Day yang diperingati setiap 5 Juni, Pemkab Mandailing Natal( Madina ) pagi ini 5/6/23 melakukan bersih bersih sepanjang pusat kota Panyabungan tak terlepas sungai aek mata yang kotor akibat tumpukan sampah. Melibatkan tenaga kebersihan, Satpol PP, dan Anggota Koramil 13 Panyabungan , […]

  • Banjir Bandang Diduga Akibat Penggundulan Hutan

    Banjir Bandang Diduga Akibat Penggundulan Hutan

    • calendar_month Senin, 11 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Bupati Perintahkan Dishut Selidiki Hulu Rantopuran   PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Madina, Hidayat Batubara menilai bahwa banjir bandang Sungai Rantopuran di Kecamatan Panyabungan adalah akibat ulah manusia yang tidak bertangungajawab menggunduli hutan. Penilaian itu berdasar bukti-bukti, dimana terdapat banyak kayu-kayu yang hanyut terbawa oleh derasnya arus Sungai Aek Rantopuran saat kejaina bandang. “Ini menandakan […]

  • Dadang Darmawan Salahkan Hendro Susanto Terkait Lolosnya 2 Petahana KPID Sumut yang Bermasalah

    Dadang Darmawan Salahkan Hendro Susanto Terkait Lolosnya 2 Petahana KPID Sumut yang Bermasalah

    • calendar_month Senin, 25 Jul 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Tim seleksi calon anggota KPID Sumut periode 2021-2024 meyesalkan tuduhan negatif Ketua Komisi A DPRD Sumut Hendro Susanto atas lolosnya 2 petahana dengan SK yang diduga cacat hukum. Bagi timsel, orang yang tepat disalahkan justru politisi dari PKS tersebut. “Saya kira demikian,” ungkap Dadang Darmawan selaku Timsel, menyambar pertanyaan wartawan, Senin […]

  • Ekspedisi ke Kawah Gunung Sorik Marapi

    Ekspedisi ke Kawah Gunung Sorik Marapi

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      DI PINGGIR KAWAH – Satu tim dari Tympanum Novem Film’s yang bermarkas di Mandailing foto bersama di pinggir kawah gunung Sorik Marapi dalam satu ekspedisi bulan Juni 2014 ke puncak gunung yang berada di Kabupaten Mandailing Natal. Kawah dan puncak gunung ini memiliki panorama alam yang eksotis dan sangat cocok untuk dijadikan tujuan wisata. […]

  • Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution Akan Dibangun di Madina

    Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution Akan Dibangun di Madina

    • calendar_month Rabu, 13 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Monumen Jenderal Abdul Haris Nasution akan dibangun di Mandailing Natal (Madina). Itu dikatakan Pangdam I Bukit Barisan Mayjen TNI Lodewyk Pusung saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Madina, Rabu (13/1). Menurutnya, pembangunan monumen itu karena sang jenderal berasal dari Madina, serta jasa-jasanya yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia. Hanya saja Pandam […]

  • Kemhan Pantau Isu Penyadapan Rombongan KTT G-20

    Kemhan Pantau Isu Penyadapan Rombongan KTT G-20

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Isu penyadapan terhadap rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam KTT G-20 di Inggris tak hanya didalami Badan Intelijen Negara (BIN). Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga meneliti kasus ini agar tidak menjadi ancaman nasional. “Kita sekarang masih dalami. Supaya harus jelas, harus dilacak darimana sumber awal informasinya itu,” ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam […]

expand_less