Kamis, 11 Jun 2026
light_mode

Seputar Guru Olahraga Pukuli Wartawan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 24 Jul 2011
  • print Cetak


Korban Menolak Diajak Berdamai
MADINA-
Todung Mulya Lubis, wartawan media cetak yang dipukuli guru olahraga SMK Negeri 1 Siabu, Karoche, menolak diajak berdamai, Jumat (22/7).
Menurut Todung, Kamis (21/7) malam keluarga Karoche mendatangi keluarganya. Mereka (keluarga Karoche) ingin berdamai agar kasus ini tak berlanjut. Namun, keluarga Todung tidak mau berdamai dan tetap ingin kasus berlanjut.
“Mereka datang ke rumah tadi (kemarin) malam. Mereka minta damai, tetapi saya tak mau. Saya ingin kasus ini tetap berlanjut,” tegasnya.
Sementara itu, Karoche sudah ditetapkan sebagai tersangka. Berdasarkan keterangan saksi, Karoche telah melakukan pemukulan terhadap Todung Mulya Lubis. Tersangka diancam pasal 351 tentang penganiayaan ringan.
Hal ini disampaikan Kapolsek Siabu AKP S Daulay saat dikonfirmasi METRO, melalui telepon selulernya, Jumat (22/7).
“Kita telah menetapkan Karoche sebagai tersangka atas pemukulan itu, tapi kita belum memeriksa dia. Saat ini kita telah memeriksa sejumlah saksi, yakni kepala sekolah, Darlin, dan seorang wali murid yang saat itu berada di dalam ruangan,” sebut Kapolsek.
Kapolsek menambahkan, pihaknya akan memeriksa tersangka hari ini, Sabtu (23/7). Untuk sementrara tersangka disangkakan pasal 351 tentang penganiayaan dengan ancaman maksimal 2 tahun penjara.
Sebelumnya diberitakan, seorang wartawan jadi sasaran amuk seorang guru olahraga di SMA Negeri 1 Siabu, Madina, Kamis (21/7). Adalah Todung Mulya Lubis, wartawan media cetak terbitan Medan yang harus menderita luka lebam di bagian wajah karena dipukuli oleh sang guru tersebut. Tidak terima diperlakukan seperti itu, Todung membawa kasus ini ke kantor polisi.
Kejadian bermula saat Todung dan rekannya, Darlin mendatangi SMAN 1 Siabu atas undangan silaturahmi via telepon dari kepala sekolah (kasek) Drs Aliruddin Pulungan. Waktu dihubungi, kasek mengaku ingin membicarakan rekaman dugaan kutipan-kutipan liar di SMA yang dipimpinnya. Setibanya di sekolah tersebut, Todung dan Darlin menunggu di depan ruang Kasek. Tiba-tiba datang guru olahraga yang bernama Karoche dan langsung melontarkan kalimat kasar.
“Di mana kau simpan rekaman itu? Berikan sama saya!” ucap Todung menirukan kalimat Karoche.
Mendengar permintaan itu, ia (Todung) diam saja. Rekaman yang diminta Karoche adalah rekaman dugaan pengutipan liar pembayaran SKHU dan uang PMDK siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “Saya punya rekaman kalau siswa yang mau mengambil SKHU, dan bagi yang ingin melanjutkan ke PT harus membayar Rp500 ribu per siswa. Itu lah (rekaman) yang diminta Karoche tetapi belum saya berikan,” beber Todung.
Dijelaskannya, laporan dugaan kutipan liar ini diperolehnya dari masyarakat sekitar. Atas dasar itu lah ia melakukan investigasi mencari tahu kebenaran dugaan kutipan tersebut. “Beberapa hari yang lalu, saya jumpa dengan Karoche dan dia minta rekaman itu, tapi tidak saya berikan tapi dia terus memaksa. Dan, saat diundang kepala sekolah untuk bersilaturahmi, saya mau saja. Ternyata saya malah mendapat perlakuan kriminal. Ia (Karoche) memukuli saya. Pukulannya beruntun ada sepuluh kali. Pukulannya melayang ke muka (wajah), kepala, dada, dan bibir,” terangnya sambil menunjukkan bibirnya yang pecah.
Todung menambahkan, usai dipukul Karoche, pihak sekolah bersama Camat Siabu Mukhlis MSi mengajaknya untuk negosiasi atas pemukulan tersebut, bahkan Kepala Dinas Pendidikan Madina Imron Lubis turut meminta Todung untuk berdamai agar kasus tersebut tidak diperpanjang.
“Mereka (Kadis, Kepsek, Camat, red) minta supaya kasus ini jangan diperpanjang dan dilakukan perdamaian, tetapi dalam hal ini saya tersakiti,” tambahnya.
Sementara itu, Karoche yang dikonfirmasi METRO usai melakukan rapat di ruang Camat Siabu membantah telah memukul Todung. Menurutnya, Todung yang memukul duluan. “Saya tak memukul dia (Todung, red), dia yang mukul saya,” bela Karoche.
Sedangkan rekan Todung, Darlin yang mengaku berada saat kejadian itu, mengaku melihat Karoche memukuli Todung dan bukan hanya sekali. “Saya lihat langsung Karoche memukuli Todung. Ia (Todung) hanya bisa menutupi wajah dengan tangan sembari berusaha menghindar,” beber Darlin.
Kadisdik Madina Imron Lubis, kepada wartawan usai melakukan negosiasi di ruang Camat Siabu mengatakan Todung yang terlebih dahulu memukul Karoche sehingga terjadi perkelahian. “Pengakuan Karoche, Todung yang duluan mukul, tetapi kita inginkan kasus ini berakhir dengan damai,” sebut Imron.
Kepala SMAN 1 Siabu Aliruddin, mengatakan pihaknya tidak tahu apa sebenarnya masalah yang terjadi antara Todung dengan Karoche. Menurut kasek, ia mendapat telepon dari Todung untuk mempertanyakan beberapa hal, tetapi dikatakan Aliruddin agar Todung datang ke sekolah. “Saya bilang dia datang saja ke sekolah, tetapi kalau persoalan mereka saya tak tahu karena saya masih 2 minggu bertugas di SMAN 1 Siabu ini,” akunya.
Kapolres Madina AKBP A Fauzi Dalimunthe SIK yang dikonfirmasi METRO melalui Kapolsek Siabu AKP S Daulay membenarkan pihaknya menerima pengaduan atas nama Todung Mulya Lubis dengan nomor surat pengaduan LP/52/VII/2011/Sek Siabu. “Benar kita menerima pengaduan itu, dan sekarang sedang dilakukan pemeriksaan terhadap korban,” sebut kapolsek. (wan)
Sumber : Metro_Tabagsel

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Karut Marut Dana Desa (bagian 2)

    Karut Marut Dana Desa (bagian 2)

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Catatan : Askolani Nasution   Lima tahun Dana Desa berjalan. Apa yang berubah? (1) Rapat beton bersilang di tengah perkampungan tanpa urgensi apa pun terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. (2) Pertikaian masyarakat meninggi, antara mereka yang kecipratan dengan yang tidak. (3) Kesejahteraan Kepala Desa sebagian besar meningkat tajam, berbanding terbalik dengan kesejahteraan penduduk desa. Akumulasi dana […]

  • Berniatkah Timur reformasi Polri?

    Berniatkah Timur reformasi Polri?

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, merupakan lokasi yang mendapatkan pengawalan super ketat dari aparat kepolisian. Namun beberapa tahanan yang berada di Rumah Tahanan (Rutan) ini bisa leluasa berplesiran meninggalkan rutan, seperti yang dilakukan oleh terdakwa mafia hukum, Gayus Halomoan Tambunan. Menurut sumber Waspada Online, hal ini tidak hanya dilakukan […]

  • Hukum Menabung di Bank (1)

    Hukum Menabung di Bank (1)

    • calendar_month Selasa, 17 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Menabung di bank telah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat modern. Guna meningkatkan kesejahteraannya, sebagian besar masyarakat telah memiliki kebiasaan untuk menabung di bank. Tabungan merupakan simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati. Lalu  apa hukumnya menabung di bank? Adakah  jenis tabungan yang dilarang oleh ajaran Islam? ‘’Kegiatan tabungan […]

  • Minimarket Indomaret Disegel Pemkab Madina

    Minimarket Indomaret Disegel Pemkab Madina

    • calendar_month Selasa, 4 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Akibat tidak mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) PT Indomaret yang bertempat di Kelurahan Sipolu- Polu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di segel oleh pemkab Madina,  melalui  Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT) yang di bantu oleh Satpol PP, Jumat (31/01).(hol)

  • Ibu Bunuh Anak Kandung, Buah dari Demokrasi

    Ibu Bunuh Anak Kandung, Buah dari Demokrasi

    • calendar_month Rabu, 16 Des 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Radayu Irawan, S.Pt Tinggal di Padangsidimpuan Lagi, dan terus berulang. Bak buih di lautan. Kali ini kasus pembunuhan anak kandung berasal dari Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Ibu muda (30) berinisial MT tega membunuh ketiga anak balitanya yang berinisial YL (5), SL (4), dan DL (2). Ketiganya tewas dalam keadaan leher tergorok. […]

  • Nurlaila: Pelaku Pembuang Mayat Bayi Lebih Kejam daripada Hewan Buas

    Nurlaila: Pelaku Pembuang Mayat Bayi Lebih Kejam daripada Hewan Buas

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    SIDIMPUAN – Pasca ditemukannya mayat bayi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Batubola kemarin, rupanya mengundang umpatan dan kutukan dari kaum ibu-ibu yang menyaksikan saat mayat bayi malang tak berdosa itu divisum di kamar mayat RSUD Kota Psp, Rabu (2/9) kemarin. “Ya Allah… siapalah yang tega berbuat seperti ini… Apa tidak ada lagi rasa perikemanusiaannya […]

expand_less