Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Sulit Atasi Hama Tikus pada Padi, Dosen IPB Bagikan Solusinya

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 8 Jul 2022
  • print Cetak

hama tikus pada padi

 

Hama tikus saat ini masih menjadi ancaman bagi pertanian, khusunya padi. Untuk mengatasinya, telah dilakukan berbagai upaya pengendalian terpadu yang dianggap cocok agar bisa menekan kerugian.

Dosen IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Swastiko Priyambodo mengatakan, relief Candi Borobudur menunjukkan bahwa tikus sejak dulu telah menjadi hama padi sejak dulu. Sampai dengan saat ini, hama tikus mampu bertahan dan melawan setiap upaya tindakan pengendalian.

Swastiko menuturkan, terdapat tiga kata kunci dalam manajemen pengendalian hama tikus. Pertama, yaitu keterpaduan berbagai metode pengendalian mulai dari sanitasi, kultur teknis, fisik, mekanis, biologi dan kimia yang dipadukan dan bersifat kompatibel.

Kedua, lanjut dia, yaitu kebersamaan dalam pengendalian populasi hama tikus sawah. Terakhir, yaitu keberlanjutan upaya pengendalian pada setiap musim tanam perlu dilakukan secara terus menerus.

Pakar tikus dari IPB University tersebut menjelaskan, manajemen populasi tikus secara non-kimia namun dapat bersifat toksik biasanya dengan menggunakan protozoa. Namun, cara ini terbilang sulit untuk diterapkan di lapangan dan terbilang mahal.

Selain itu, dia mengatakan, metode ini juga masih kalah saing dengan rodentisida kimia yang harganya lebih murah dan dijual bebas di pasaran. Sebaliknya, manajemen kimia namun bersifat non-toksik dengan menggunakan rodentisida seperti Rodol dinilai tidak terlalu efektif.

Dia menyebut, keefektifannya sudah diuji di IPB dan hasilnya menunjukkan, tikus tidak terlalu suka dengan umpan tersebut.

“Alternatifnya, manajemen tikus dilakukan dengan kultur teknis yakni dengan metode budidaya tertentu. Misalnya, seperti trap crop dan push-pull system repellent,” ungkap Swastiko dalam Webinar Propaktani “Ayo Kendalikan Tikus“ yang digelar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Rabu (6/7/2022).

Sayangnya, tambah Swastiko, kedua metode tersebut tidak bisa dikombinasikan pada hamparan pertanaman padi.

Untuk metode budidaya lainnya yakni, tumpangsari padi gogo dan palawija atau pohon buah, sistem jajar legowo atau tanam padi serempak pada area sawah. Tanam padi serempak ini dapat dikembangkan menjadi agroekowisata pada hamparan sawah.

Saat ini, IPB dan mahasiswanya telah mencoba mengembangkan hamparan sawah menjadi agroekowisata yang dilakukan bersama pemerintah Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat (Jabar).

Lebih lanjut, Swastiko menjelaskan, upaya manajemen lainnya yakni dengan cara sanitasi atau bersih lingkungan. Hal ini penting dilakukan karena lingkungan yang buruk akan menjadi tempat yang disukai bagi tikus.

Sementara itu, untuk manajemen tikus secara fisik atau mekanis dapat dilakukan dengan mengintegrasikan teknologi terkini seperti Internet of Things (IoT). Menurutnya, dengan aplikasi handphone, petani lebih mudah untuk mendeteksi perangkap yang berhasil menangkap tikus.

Namun, tutur Swastiko, biaya operasional cenderung mahal, berbeda dengan cara pengedalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami, seperti Tyto alba, musang atau garangan, dan ular tikus.

Selain itu, umumnya petani juga menggunakan rodentisida sebagai umpan beracun. Petani juga kerap mencoba mengkreasikan rodentisida dengan menggunakan tumbuhan yang dapat meracuni tikus.

Berkenaan dengan hal itu, Swastiko sendiri mendukung upaya kreasi dan inovasi yang datang dari petani.

“Namun, perlu diingat tikus sifatnya melawan, belum tentu tikus yang tersisa mau memakan umpan tersebut. Di lapangan banyak tersedia makanan yang lain. Namun, upaya ini harus tetap didukung agar tidak lagi ketergantungan pada industri pestisida,” terang Swastiko.

Swastiko juga mengimbau kepada para petani agar waspada pada rodentisida illegal karena akan sangat bersifat toksik dan berbahaya bagi konsumen dan petani sendiri.

Dia juga menjelasakan, terdapat tiga faktor dalam manajemen tikus yaitu, faktor ekologi, faktor ekonomi, dan faktor sosiokultural. Selain memperhatikan faktor lingkungan dan biaya, pengendalian hama tikus juga harus memberikan dampak sosial yang positif terhadap masyarakat.

Sumber: Media Tani

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Desa Aek Nabara Berada di Hutan, Bidan Desa Tak Mau Datang

    Desa Aek Nabara Berada di Hutan, Bidan Desa Tak Mau Datang

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN TIMUR (Mandailing Online) – Warga Desa Aek Nabara, Kecamatan Panyabungan Timur, Mandailing Natal (Madina) tak pernah disentuh layanan medis. Itu karena puskesmas tak ada di desa yang berada di dalam hutan ini. Meski pemerintah daerah telah mengangkat tenaga bidan PTT (Pewagawai Tidak Tetap), pun layanan medis tak jua diperoleh warga, sebab petugas bidan PTT […]

  • Naposo Bulung, BPD, LPM, PKK dan Kopdes di Madina dalam Ancaman Nihilisme!

    Naposo Bulung, BPD, LPM, PKK dan Kopdes di Madina dalam Ancaman Nihilisme!

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Tim Mandailing Epicentrum   Lembaga sosial level desa, seperti Naposo Nauli Bulung (NNB), BPD, LPM, PKK dan Kopdes nampaknya masih ada. Akan tetapi, kalau dilihat dari geliat dan vitalitasnya, semunya dalam kondisi yang lemah. Di momen 5 Mei ini, perlu memunculkan kecurigaan. Kuat dugaan, organisasi desa (ordes) itu terjebak dan dikhawatirkan kontribusinya jadi […]

  • Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis Sudah Mulai Sejak 2012  Apakah Pengunjukrasa Pura-pura Tidak Tahu

    Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratis Sudah Mulai Sejak 2012 Apakah Pengunjukrasa Pura-pura Tidak Tahu

    • calendar_month Kamis, 17 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Aliansi yang berunjukrasa menurunkan bupati ke DPRD Madina, tadi siang, Kamis (17/1) dinilai kurang mengetahui program pendidikan gratis dan kesehatan gratis yang sudah dimulai Pemkab Madina sejak tahun 2012 lalu sebagai implementasi visi misi Hidayat-Dahlan. “Pendidikan Gratis dan Kesehatan Gratsi di Madina sudah digulirkan bupati Madina sejak tahun 2012, kok pengunjukrasa […]

  • Pasca Terbitnya Hak Paten Kopi Mandailing :  Penguatan Petani dan Negosiasi Mandheling Coffee (Bagian 2)

    Pasca Terbitnya Hak Paten Kopi Mandailing : Penguatan Petani dan Negosiasi Mandheling Coffee (Bagian 2)

    • calendar_month Rabu, 16 Nov 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Hak Paten untuk Kopi Mandailing telah diterbitkan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Hukum dan HAM. Namanya Hak Paten Indikasi Geografis Kopi Arabika Sumatera Mandailing. Itu artinya, eksportir dari Indonesia dan produsen bubuk kopi di seluruh dunia yang memasang Mandheling Coffee sebagai nomenklatur labelnya tak dibolehkan lagi kecuali atas seizin dari Mandailing Natal. Perkembangan itu tentu memiliki […]

  • Desa Sipaga-paga Panyabungan Dambakan Air Bersih

    Desa Sipaga-paga Panyabungan Dambakan Air Bersih

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Masyarakat Desa Sipaga-paga, Kecamatan Panyabungan berharap kepada Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) untuk membangun sarana air bersih di desa tersebut. Hal itu disampaikan salah seorang perwakilan masyarakat, Muslim Nasution kepada MedanBisnis, Minggu (14/8) di Panyabungan. Muslim mengatakan, masyarakat sipaga-paga yang berpenduduk sekitar 300 kk sudah lama mendambakan kehadiran sarana air bersih, karena air bersih […]

  • Mobil caleg Hanura pengeroyok wartawan diamankan

    Mobil caleg Hanura pengeroyok wartawan diamankan

    • calendar_month Selasa, 1 Apr 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –   Polisi Resort Madina saat ini terus melakukan penyelidikan kasus pengeroyokan Wartawan Harian Andalas di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), Jeffry Barata Lubis beberapa waktu lalu. Polisi pun telah mengamankan mobil pick up L300 dan ambulance yang diduga digunakan para pelaku. Kedua unit mobil dengan nomor polisi BB 8181 RS […]

expand_less