Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Toge Panyabungan tak Hanya Ramadhan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 24 Jul 2011
  • print Cetak


Namanya Toge Panyabungan. Selintas seperti nama kecambah kacang hijau yang sering dijadikan sayuran. Tapi toge yang satu ini adalah sebuah jajanan kuliner khas Mandailing, tepatnya berasal dari Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Panganan segar yang konon identik dengan bulan puasa ini memiliki rasa yang khas dan sangat lezat. Apalagi kalau dicampur dengan tape maka rasanya pasti akan semakin nikmat.
SEJATINYA, Toge Panyabungan sesungguhnya adalah sejenis kolak. Di dalamnya terdapat campuran tape, pulut hitam, lupis, bubur candil dan cendol yang dicampur gula merah cair serta santan sebagai kuahnya. Rasanya tentu saja manis. Bagaimana sebenarnya bentuk makanan ini.
Mungkin jika pertama kali mendengarnya maka orang akan mengasumsikan makanan ini adalah toge atau kecambah kacang hijau yang diberi manisan berupa gula. Tak salah juga jika orang yang tak pernah makan beranggapan seperti itu mengingat namanya toge. Tapi sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan es campur biasa. Sebab panganan ini akan tambah lebih enak lagi jika ditambah dengan es batu.

Selain lezat, keistimewaan Toge Panyabungan dapat menambah tenaga setelah menahan lapar sejak pagi hari. Selain itu, banyaknya kandungan ketan menyebabkan tubuh yang mengonsumsinya menjadi hangat. Maka tak heran kalau Toge Panyabungan banyak diserbu pembeli terutama pada saat menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Tak heran namanya kini tersiar ke mana-mana. Hal itu membuat kehadiran Toge Panyabungan menjadi sebuah jajanan kuliner yang digemari. Bila dahulu dagangan ini hanya hadir di bulan puasa, tetapi kini hal itu telah berubah. Kini, pada hari biasa pun penggemarnya sudah dapat menikmati karena sudah ada yang menjualnya meskipun hanya segelintir pedagang saja.

Hollad Nasution misalnya. Pedagang Toge Panyabungan yang membuka lapak setiap hari di Jalan Letda Sudjono simpang Gang Makmur persisnya di samping loket bus ALS ini begitu tampak laris manis didatangi pembeli. Lapak dagangannya yang hanya bermodalkan steling diangkut vespa butut terkesan sangat familiar hingga Pak Hollad begitu akrab dengan pelanggannya. Seperti saat ditemui MedanBisnis beberapa waktu lalu, Pak Hollad begitu akrab di mata pembelinya meskipun hanya sekadar menegur pria dua anak ini dengan ramah. “Ya mereka pernah beli dan tahu rasanya seperti apa, jadi sudah seperti keluarga,” kata Pak Hollad membuka pembicaraan.

Diakui pria berusia 52 tahun ini kalau panganan Toge Panyabungan begitu laris di setiap bulan Ramadhan. Mendengar namanya, para pembelinya pun bukan hanya dari masyarakat suku Mandailing saja. Kolak yang berisikan lima bahan utama ini juga telah disukai lidah semua orang yang meminumnya. Maka tak heran, Toge Panyabungan sudah mulai memasyarakat. Selain rasanya yang menyegarkan, Toge Panyabungan juga mampu menghilangkan haus dahaga serta pengganjal perut yang lapar. “Rasanya yang manis dan ramenya bahan campuran di dalamnya menjadikan Toge Panyabungan menjadi makanan favorit,” tambah Pak Hollad tersenyum.

Pria berlobe ini sebenarnya juga tidak tahu kenapa namanya disebut Toge Panyabungan. Memang katanya, jenis kuliner seperti ini memang awalnya dijual di daerah Panyabungan, Madina, Sumatera Utara. Tetapi dasar kata toge juga tidak memiliki arti, dan bukan merupakan bagian dari pembuatan makanan yang berasa manis ini. “Mungkin karena dari sana (Panyabungan) kali ya, tapi toge sama sekali memang tidak ada kita pakai di dalamnya,” jelasnya lagi.

Berbahan Asli
Meskipun terlihat mudah, hanya saja bahan baku Toge Panyabungan bukanlah sembarangan. Bahkan agar cita rasanya mampu memuaskan selera pembeli, maka bahan pembuatan kuliner ini memakai bahan asli. Bahan-bahan seperti beras ketan hitam, putih, gula merah, santan kelapa, tape, cendol, lupis dan cenil semuanya harus diracik dengan alami. “Dagangan kita semua berbahan asli tidak ada pakai zat pengawet, pewarna atau pemanis rasa. Kalau tidak seperti itu, ya semua pelanggan pasti akan lari,” aku Pak Hollad.

Bahkan untuk bahan baku gula merah saja, Pak Hollad tidak mau membeli yang sudah jadi. Ia mengaku membuatnya sendiri dengan cara memasak gula aren yang didatangkan langsung dari Kampung Maga Tanah Male, Panyabungan, Madina. “Gula merahnya memang berasal dari gula aren murni yang kita masak, bahkan bahannya kita datangkan dari Madina,” bebernya sembari mengatakan mulai fokus berjualan Toge Panyabungan sejak 2004 silam ini.

Itu sebabnya harga Toge Panyabungan tiap tahun terus mengalami kenaikan karena bahan bakunya berasal dari bahan asli. Kini, sebungkus Toge Panyabungan dijual Pak Hollad seharga Rp 6.000. Tetapi pak Hollad juga menyiasati dengan tetap menjual es cendol tanpa Toge Panyabungan seharga Rp 4.000. “Untuk hari biasa harganya memang seperti itu. Tetapi kalau bulan puasa kemungkinan naik, karena semua kebutuhan bahan pokok kan semuanya juga naik. Paling berkisar naik seribu rupiah lah untuk sebungkus Toge Panyabungan,” jawab Pak Hollad yang berjualan sejak pukul 11.00 WIB hingga 18.30 WIB ini.

Larisnya panganan Toge Panyabungan tentu membawa berkah bagi Pak Hollad. Bayangkan, setiap harinya ia mampu mengumpulkan omzet bekisar Rp 350 – 400 ribu hasil dagangannya. Terlebih lagi bila bulan puasa, pria yang sudah berjualan Toge Panyabungan musiman sejak 1998 ini mengaku hasil dagangannya bisa menembus Rp1 – 2 juta per harinya. “Kalau di bulan puasa omzetnya memang cukup banyak, bahkan kami sampai kerepotan melayani pembeli. Tetapi hasilnya ya Alhamdulillah,” bilangnya lagi.

Hal itu pula membuat Pak Hollad Nasution bersama istrinya, Deli Hasna boru Harahap mampu memiliki rumah sendiri serta dapat membiayai pendidikan bagi sepasang anak kesayangannya. Bahkan putri sulungnya, Rizky Andriani boru Nasution saat ini tengah mengenyam bangku kuliah masuk semester IV di Universitas Prima. Sedangkan si bungsu, Zulkifli Nasution masih duduk di bangku SMA. Padahal bila melihat pekerjaan Pak Hollad yang dahulunya bekerja sebagai kenek bus ALS, maka profesinya sekarang dengan hanya berjualan Toge Panyabungan dianggap menjadi berkah. “Syukur Alhamdulillah, ganti profesi dari kernet menjadi pedagang es telah membawa berkah,” tandas Pak Hollad sumringah. (Oleh : cw-zulfadli siregar)
Sumber : medanbisnisdaily.com

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perpres 54/2010 Disosialisasikan

    Perpres 54/2010 Disosialisasikan

    • calendar_month Rabu, 15 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sosialisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah sangat penting untuk dilakukan. Karena Perpres tersebut merupakan sebagai pengganti dari Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. Hal itu disampaikan Walikota Medan Rahudman Harahap diwakili Kabag Program Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Medan Mulia […]

  • Kepdes dan Aparat Desa Akan Dapat Gaji Tetap dan Dana Tunjangan

    Kepdes dan Aparat Desa Akan Dapat Gaji Tetap dan Dana Tunjangan

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Terkait Undang-Undang Desa Yang Baru Disahkan DPR RI PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tak lama lagi, desa akan mendapat alokasi anggaran pembangunan tersendiri yang cukup besar dari pemerintah pusat. Tak itu saja, kepala desa hingga para aparat desa juga akan mendapat gaji tetap, dana tunjangan pokok dan tunjangan kesehatan. Regulasi ini tertuang dalam Undang-Undang Desa yang […]

  • Kecurangan Mulai Terbongkar

    Kecurangan Mulai Terbongkar

    • calendar_month Senin, 3 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Kecurangan seleksi penerimaan CPNS di Pemkab Padang Lawas (Palas), terbongkar. Hasil skoring (nilai) yang dikeluarkan Universitas Indonesia (UI) yang merupakan penyeleksi CPNS Palas, diduga dimanipulasi. Sekretaris Forum Peduli Padang Lawas (FPPL) Partahanan Hasibuan di Medan, Ahad (26/12/2010), menjelaskan pihaknya mendapatkan data hasil skoring untuk 17 CPNS dari UI yang diduga lulus namun ternyata oleh […]

  • Kehadiran FKUB Diharap Tingkatkan Kerukunan Beragama

    Kehadiran FKUB Diharap Tingkatkan Kerukunan Beragama

    • calendar_month Sabtu, 3 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pengukuhan Pengurus Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) diharapkan bisa meningkatkan kerukunan umat beragama di daerah itu. Pengurus FKUB Madina periode tahun 2012-2017 dikukuhkan, Selasa (30/10) di aula Hotel Rindang, Panyabungan. Hadir dalam pengukuhan itu, Ketua FKUB Provinsi Sumatera Utara DR H Maratua Simanjuntak, Bupati Madina HM […]

  • Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    Dorong Pemulihan Ekonomi, Bank Sumut Diminta Genjot KUR

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) – Bank Sumut diminta menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai agenda kerja prioritas. Sebab, posisi KUR sangat penting dalam pemulihan ekonomi. Itu dikatakan Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa Rajekshah saat membuka Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Tahun 2021 dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Sumut di […]

  • Seminar Kebangsaan di Madina

    Seminar Kebangsaan di Madina

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online)-Pemkab Mandailing Natal (Madina) mengadakan seminar sehari dan talk show peningkatan wawasan kebangsaan, Kamis (24/10/2019). Lika Saragih dari Kemendagri;  Prof. Dr Turmizi Lubis serta Ketua STAIN Madina Torkis Lubis menjadi narasumber. Seminar yang berlangsung di gedung Serbaguna, Panyabungan itu dihadiri organisasi-organisasi pemuda, ormas, usur polisi dan TNI, LSM, tokoh masyarakat, ASN […]

expand_less