Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Toge Panyabungan tak Hanya Ramadhan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Minggu, 24 Jul 2011
  • print Cetak


Namanya Toge Panyabungan. Selintas seperti nama kecambah kacang hijau yang sering dijadikan sayuran. Tapi toge yang satu ini adalah sebuah jajanan kuliner khas Mandailing, tepatnya berasal dari Panyabungan, ibukota Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Panganan segar yang konon identik dengan bulan puasa ini memiliki rasa yang khas dan sangat lezat. Apalagi kalau dicampur dengan tape maka rasanya pasti akan semakin nikmat.
SEJATINYA, Toge Panyabungan sesungguhnya adalah sejenis kolak. Di dalamnya terdapat campuran tape, pulut hitam, lupis, bubur candil dan cendol yang dicampur gula merah cair serta santan sebagai kuahnya. Rasanya tentu saja manis. Bagaimana sebenarnya bentuk makanan ini.
Mungkin jika pertama kali mendengarnya maka orang akan mengasumsikan makanan ini adalah toge atau kecambah kacang hijau yang diberi manisan berupa gula. Tak salah juga jika orang yang tak pernah makan beranggapan seperti itu mengingat namanya toge. Tapi sebenarnya makanan ini tak jauh beda dengan es campur biasa. Sebab panganan ini akan tambah lebih enak lagi jika ditambah dengan es batu.

Selain lezat, keistimewaan Toge Panyabungan dapat menambah tenaga setelah menahan lapar sejak pagi hari. Selain itu, banyaknya kandungan ketan menyebabkan tubuh yang mengonsumsinya menjadi hangat. Maka tak heran kalau Toge Panyabungan banyak diserbu pembeli terutama pada saat menjelang berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Tak heran namanya kini tersiar ke mana-mana. Hal itu membuat kehadiran Toge Panyabungan menjadi sebuah jajanan kuliner yang digemari. Bila dahulu dagangan ini hanya hadir di bulan puasa, tetapi kini hal itu telah berubah. Kini, pada hari biasa pun penggemarnya sudah dapat menikmati karena sudah ada yang menjualnya meskipun hanya segelintir pedagang saja.

Hollad Nasution misalnya. Pedagang Toge Panyabungan yang membuka lapak setiap hari di Jalan Letda Sudjono simpang Gang Makmur persisnya di samping loket bus ALS ini begitu tampak laris manis didatangi pembeli. Lapak dagangannya yang hanya bermodalkan steling diangkut vespa butut terkesan sangat familiar hingga Pak Hollad begitu akrab dengan pelanggannya. Seperti saat ditemui MedanBisnis beberapa waktu lalu, Pak Hollad begitu akrab di mata pembelinya meskipun hanya sekadar menegur pria dua anak ini dengan ramah. “Ya mereka pernah beli dan tahu rasanya seperti apa, jadi sudah seperti keluarga,” kata Pak Hollad membuka pembicaraan.

Diakui pria berusia 52 tahun ini kalau panganan Toge Panyabungan begitu laris di setiap bulan Ramadhan. Mendengar namanya, para pembelinya pun bukan hanya dari masyarakat suku Mandailing saja. Kolak yang berisikan lima bahan utama ini juga telah disukai lidah semua orang yang meminumnya. Maka tak heran, Toge Panyabungan sudah mulai memasyarakat. Selain rasanya yang menyegarkan, Toge Panyabungan juga mampu menghilangkan haus dahaga serta pengganjal perut yang lapar. “Rasanya yang manis dan ramenya bahan campuran di dalamnya menjadikan Toge Panyabungan menjadi makanan favorit,” tambah Pak Hollad tersenyum.

Pria berlobe ini sebenarnya juga tidak tahu kenapa namanya disebut Toge Panyabungan. Memang katanya, jenis kuliner seperti ini memang awalnya dijual di daerah Panyabungan, Madina, Sumatera Utara. Tetapi dasar kata toge juga tidak memiliki arti, dan bukan merupakan bagian dari pembuatan makanan yang berasa manis ini. “Mungkin karena dari sana (Panyabungan) kali ya, tapi toge sama sekali memang tidak ada kita pakai di dalamnya,” jelasnya lagi.

Berbahan Asli
Meskipun terlihat mudah, hanya saja bahan baku Toge Panyabungan bukanlah sembarangan. Bahkan agar cita rasanya mampu memuaskan selera pembeli, maka bahan pembuatan kuliner ini memakai bahan asli. Bahan-bahan seperti beras ketan hitam, putih, gula merah, santan kelapa, tape, cendol, lupis dan cenil semuanya harus diracik dengan alami. “Dagangan kita semua berbahan asli tidak ada pakai zat pengawet, pewarna atau pemanis rasa. Kalau tidak seperti itu, ya semua pelanggan pasti akan lari,” aku Pak Hollad.

Bahkan untuk bahan baku gula merah saja, Pak Hollad tidak mau membeli yang sudah jadi. Ia mengaku membuatnya sendiri dengan cara memasak gula aren yang didatangkan langsung dari Kampung Maga Tanah Male, Panyabungan, Madina. “Gula merahnya memang berasal dari gula aren murni yang kita masak, bahkan bahannya kita datangkan dari Madina,” bebernya sembari mengatakan mulai fokus berjualan Toge Panyabungan sejak 2004 silam ini.

Itu sebabnya harga Toge Panyabungan tiap tahun terus mengalami kenaikan karena bahan bakunya berasal dari bahan asli. Kini, sebungkus Toge Panyabungan dijual Pak Hollad seharga Rp 6.000. Tetapi pak Hollad juga menyiasati dengan tetap menjual es cendol tanpa Toge Panyabungan seharga Rp 4.000. “Untuk hari biasa harganya memang seperti itu. Tetapi kalau bulan puasa kemungkinan naik, karena semua kebutuhan bahan pokok kan semuanya juga naik. Paling berkisar naik seribu rupiah lah untuk sebungkus Toge Panyabungan,” jawab Pak Hollad yang berjualan sejak pukul 11.00 WIB hingga 18.30 WIB ini.

Larisnya panganan Toge Panyabungan tentu membawa berkah bagi Pak Hollad. Bayangkan, setiap harinya ia mampu mengumpulkan omzet bekisar Rp 350 – 400 ribu hasil dagangannya. Terlebih lagi bila bulan puasa, pria yang sudah berjualan Toge Panyabungan musiman sejak 1998 ini mengaku hasil dagangannya bisa menembus Rp1 – 2 juta per harinya. “Kalau di bulan puasa omzetnya memang cukup banyak, bahkan kami sampai kerepotan melayani pembeli. Tetapi hasilnya ya Alhamdulillah,” bilangnya lagi.

Hal itu pula membuat Pak Hollad Nasution bersama istrinya, Deli Hasna boru Harahap mampu memiliki rumah sendiri serta dapat membiayai pendidikan bagi sepasang anak kesayangannya. Bahkan putri sulungnya, Rizky Andriani boru Nasution saat ini tengah mengenyam bangku kuliah masuk semester IV di Universitas Prima. Sedangkan si bungsu, Zulkifli Nasution masih duduk di bangku SMA. Padahal bila melihat pekerjaan Pak Hollad yang dahulunya bekerja sebagai kenek bus ALS, maka profesinya sekarang dengan hanya berjualan Toge Panyabungan dianggap menjadi berkah. “Syukur Alhamdulillah, ganti profesi dari kernet menjadi pedagang es telah membawa berkah,” tandas Pak Hollad sumringah. (Oleh : cw-zulfadli siregar)
Sumber : medanbisnisdaily.com

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • DCS dapil 3 PDIP Madina

    DCS dapil 3 PDIP Madina

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 3 PDIP Madina

  • Ratusan Kader PP Unjukrasa, Desak Pencabutan Izin PT Sago Nauli

    Ratusan Kader PP Unjukrasa, Desak Pencabutan Izin PT Sago Nauli

    • calendar_month Senin, 10 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Natal) – Sekitar 800 kader Pemuda Pancasila (PP) melakukan unjukrasa ke DPRD Mandailing Natal, Senin (10/2/2020) menuntut pencabutan izin PT Sago Nauli. Unjukrasa yang mulai berlangsung pukul 11.50 WIB itu dipenuhi orasi dan pemampangan poster mengungkap catatan catatan buruk perusahaan perkebunan kelapa sawit di Pantai Barat Madina itu dan dugaan tindakan […]

  • Direktur RSU Panyabungan Perang Mulut Dengan Ibu Kandung Korban

    Direktur RSU Panyabungan Perang Mulut Dengan Ibu Kandung Korban

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Komisi IV Masih Gagal Mediasi Kasus Mal Praktek PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mediasi yang dilakukan Komisi IV DPRD Mandailing Natal (Madina) terhadap kasus dugaan mal praktek di RSU Panyabungan, masih gagal mendamaikan keluarga korban dengan pihak rumah sakit. Pertemuan antara Komisi IV, pihak keluarga korban dan pihak RSU Panyabungan di ruang komisi IV, Selasa (7/1/2014) […]

  • Ima-Tabagsel Apresiasi Kejatisu

    Ima-Tabagsel Apresiasi Kejatisu

    • calendar_month Selasa, 10 Sep 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      MEDAN (Mandailing Online) –  Ikatan Mahasiswa Tabagsel mengapresiasi Kejatisu yang telah menahan 3 pejabat Dinas PU Madina dalam kasus pembangunan Taman Raja Batu. Kejatisu telah menetapkan sekaligus menahan pejabat Dinas Pekerjaan Umum (PU) Madina, Syahruddin (kepala Dinas), Nasarudin S (pejabat pembuat komitmen) dan Lianawat (pejabat pembuat komitmen) Selasa (10/9/2019). Dengan demikian Kejaksaan Tinggi Sumatera […]

  • Gunung Marapi kembali semburkan abu vulkanik

    Gunung Marapi kembali semburkan abu vulkanik

    • calendar_month Rabu, 14 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Bukittinggi, – Gunung Marapi di Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali terlihat menyemburkan abu vulkanik pada Senin pagi sekitar pukul 08.33 WIB. Berdasarkan pengamatan di Kota Bukittinggi, semburan kedua abu vulkanik tersebut terlihat sedikit lebih tebal dari semburan pertama pada pukul 07.30 WIB. Semburan abu vulkanik tersebut sangat jelas terlihat dari kejauhan di […]

  • Dana Desa Kampung Padang di Madina 2025: Pagu Rp965 Juta, Realisasi Baru Rp661 Juta

    Dana Desa Kampung Padang di Madina 2025: Pagu Rp965 Juta, Realisasi Baru Rp661 Juta

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan|| Mandailing Online – Realisasi Dana Desa Kampung Padang,Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal tahun 2025 baru mencapai Rp661.673.400 dari total pagu Rp965.871.000. Artinya masih ada sisa Rp304.197.600 atau 31,5% yang belum disalurkan hingga akhir tahun anggaran. Data ini terungkap dari laporan penyaluran dana desa tahap 1 dan 2. Dari total realisasi, Tahap Satu tersalur Rp478.123.400 […]

expand_less