Senin, 31 Agu 2026
light_mode

'Saudara Tua' kembali melirik Indonesia

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 29 Okt 2010
  • print Cetak

Oleh: Ahmad Djauhar

Saudara Tua itu kembali merangkul Saudara Muda dengan pelbagai janji dan keseriusan untuk memajukan ekonomi negeri yang pernah dijajahnya. Komitmen bagi megaproyek baru senilai US$52,9 miliar sekitar Rp500 triliun menjadi bukti keseriusan Pemerintah Jepang, sang Saudara Tua, untuk mendukung penuh pengembangan koridor ekonomi baru di sepanjang Pesisir Timur Sumatra (East Sumatra-ES) hingga Barat Laut Jawa (North West Java-NWJ).

Tidak hanya berhenti di situ. Komitmen Jepang mendukung pengembangan ekonomi Indonesia akan terus ditingkatkan seiring dengan kesepakatan mewujudkan program ambisius pembangunan enam koridor pengembangan ekonomi baru di Indonesia.

Ini program berjangka sangat panjang, karena hasilnya baru dapat dinikmati pada periode 2030-2050. Masih lama, memang, tetapi jika fondasinya tidak diletakkan dari sekarang, kapan lagi.

Di atas kertas, pembangunan keenam koridor ekonomi baru itu memang sangat dibutuhkan Indonesia untuk dapat menjadi pemain dunia di bidang ekonomi.

Dengan potensi kekayaan alam yang luar biasa, dunia memerlukan Indonesia sebagai pemasok komoditas strategis. Persoalannya adalah minimnya infrastruktur yang menjadikan harga komoditas unggulan Indonesia tidak kompetitif.

Untuk diproses di dalam negeri, investor yang umumnya kelas kakap merasa enggan karena menganggap tidak menguntungkan apabila mendirikan fasilitas pemrosesan di Indonesia. Satu-satunya jalan adalah dengan menjualnya dalam bentuk mentah, yang tentu saja harganya akan sangat murah, mengingat nilai tambah bagi setiap komoditas tersebut amat rendah.

Itulah alasan mengapa negeri ini memerlukan sistem konektivitas nasional yang lebih baik. Membanjirnya aneka produk dari negeri lain ke pasar domestik adalah bukti nyata akibat lemahnya sistem konektivitas nasional. Simak, misalnya, fenomena meruyaknya buah jeruk impor. Bila didatangkan ke Jawa, harga jeruk dari Fujian, China, jauh lebih murah ketimbang jeruk yang ditanam oleh petani di Pontianak, Kalimantan Barat.

“Perbaikan sistem konektivitas nasional tidak dapat ditawar-tawar lagi,” ujar Menko Perekonomian Hatta Radjasa menjelang pembicaraan Ekonomi Indonesia-Jepang di Tokyo 12-16 Oktober.

Pembangunan sistem konektivitas semata dipandang tidak menyelesaikan masalah, karena itu harus diikuti dengan upaya menghidupkan berbagai sentra ekonomi yang selain kaya akan potensi sumber daya alam, juga memiliki magnitude penggerakan ekonomi berskala massal.

Enam koridor

Jadilah konsep koridor ekonomi yang terbagi dalam enam koridor dan tiga fase yang diberi titel Indonesia Economic Development Corridors (IEDC). (Lihat tabel)

Nah, konsep inilah yang kemudian dijual a.l. ke Saudara Tua. Pertimbangannya adalah, menurut Muhammad Lutfi, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Jepang, Negeri Sakura memiliki kepentingan strategis untuk melindungi investasinya di Indonesia.

Beberapa fakta yang melatarbelakangi kerja sama baru ini relevan dengan strategi tersebut. Total akumulasi investasi Jepang di Indonesia selama dua dekade terakhir menduduki peringkat tertinggi, sebanyak 1.907 proyek dengan nilai US$21,6 miliar, jauh di atas Singapura (1.224 proyek, US$17,37 miliar), Inggris (555 proyek, US$8,81 miliar), dan AS (446 proyek, US$7,53 miliar).

Selain itu, Indonesia merupakan pemasok LNG terbesar bagi Jepang, meliputi 20% kebutuhan domestik negeri itu. Indonesia juga pemasok kedua terbesar batu bara ke Jepang setelah Australia. Jadi, kedua bangsa memiliki kepentingan strategis untuk tetap melanjutkan kerja sama, dan hal itu terlihat jelas dari perhatian pemerintah maupun kalangan dunia usaha Jepang.

Contoh sederhana, selama proses dialog kedua negara 12-16 Oktober, Indonesia mengirimkan sejumlah delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Menko Perekonomian M. Hatta Radjasa. Anggota delegasi itu a.l. Menteri Perindustrian Mohamad S. Hidayat, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri ESDM Darwin Z. Saleh, Kepala BKPM Gita Wirjawan, Wakil Menhub Bambang Susantono, serta Ketua Kadin Indonesia Suryo B. Sulisto yang disertai sejumlah pelaku usaha nasional. Tak ketinggalan tentu saja Dubes Muhammad Lutfi.

Sedangkan dari Jepang hadir Wakil Senior Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Tadahiro Matsushita, Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Turisme (MLIT) Sumio Mabuchi, serta Ketua Keidanren Hiromasa Yonekura.

Fase pertama

Walhasil, dari pembicaraan tersebut, Jepang dan Indonesia menyepakati kerja sama fase pertama megaproyek baru senilai US$52,9 miliar untuk menyiapkan pengembangan infrastruktur pada koridor ekonomi Sumatra Timur-Barat Laut Jawa (ESNWJ).

Tidak semua kebutuhan dana investasi megaproyek itu berasal dari kocek Pemerintah Jepang, tapi kedua negara sepakat memberikan kesempatan bagi masyarakat maupun dunia usaha ikut membiayai proyek itu dengan skema public private partnership.

Rencana implementasi megaproyek tersebut merupakan bagian dari penyiapan enam koridor pengembangan ekonomi Indonesia (IEDC) yang mencakup sebagian besar wilayah Indonesia, terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan sistem konektivitas nasional. Keempat koridor ekonomi yang akan dikembangkan berikutnya adalah Kalimantan dan Sulawesi Barat (masuk dalam fase kedua), serta Jatim-Bali-Nusa Tenggara, dan koridor Papua (fase ketiga).

Di atas kertas, megaproyek baru bernilai ratusan miliar atau bahkan triliunan dolar AS tersebut cukup kompleks untuk diwujudkan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah program tersebut dapat berkesinambungan, mengingat di negeri ini terdapat pemeo bahwa ganti pemerintahan, berganti pula strategi kebijakan. Rupanya, pemerintah sudah menyiapkan jawabannya.

Menko Hatta Radjasa yakin bahwa siapa pun yang akan memimpin Indonesia pasca-SBY, “dia pasti akan membutuhkan cetak biru ini…Terlebih lagi, rancangan tersebut sudah dijadikan agenda nasional jangka panjang.”

Dalam kesempatan sarapan pagi di Imperial Hotel-hotel langganan petinggi Indonesia jika menyelenggarakan program kenegaraan di Tokyo-Hatta juga berargumen bahwa melihat nilai strategis dan kepentingan jangka panjang program tersebut, Pemerintah Jepang akan senantiasa mendukung.

Menurut M. Lutfi, dukungan kuat Jepang terjadi karena Jepang menyadari kerja sama mereka dengan China akhir-akhir ini surut karena persoalan politik. “Demikian halnya dengan Thailand yang situasi politiknya kurang kondusif, menjadikan mereka lebih memilih Indonesia. Hal itu tampak dari perubahan peringkat investasi Jepang di Indonesia yang memasuki angka biru,” ujarnya.

Pendapat Lutfi diperkuat oleh Takashi Nakayama, Presdir Japan External Trade Organization (Jetro). Menurut dia, selain konsumsi domestik maupun produk domestik bruto Indonesia yang cenderung naik, populasi kelompok usia kerja yang sangat besar, dua kali populasi anak-anak dan lanjut usia, merupakan indikasi pasar yang sehat. Peluang terjadinya peningkatan pendapatan, tuturnya, sangat besar.

Guna mempercepat pelaksanaan IEDC, kedua pemerintah sepakat mengutamakan empat program prioritas yaitu, pertama, kerja sama sektor ketenagalistrikan, kedua, alih teknologi untuk mendorong pengurangan emisi gas rumah hijau, ketiga, mengenalkan inisiatif komunitas pintar, dan keempat, mempercepat pelaksanaan program yang tercakup dalam rencana pengembangan Metropolitan Priority Area senilai US$7 miliar.

Regional hub

Tak pelak lagi, melalui program MPA Jakarta akan disulap sebagai regional hub. Untuk itu beberapa kendala besar harus dibenahi terlebih dahulu, misalnya percepatan pengembangan infrastruktur dan meningkatkan iklim investasi.

Paket proyek pertama dalam program MPA terdiri dari pembangunan pelabuhan baru, akses jalan, peningkatan kawasan industri di Jakarta Timur, dan penambahan pasokan energi (listrik dan gas).

Adapun paket kedua berupa sistem transportasi massal yang lebih efisien, terutama yang memberikan kontribusi langsung bagi kebutuhan logistik industri agar dapat lebih efisien. Termasuk di dalamnya, ungkap Hatta, “kita harus bicara pembangunan MRT [mass rapid transit] dan double double-track untuk kereta api di Jabodetabek.”

Paket proyek ketiga, berupa pengembangan baru bandar udara mengingat kapasitas bandara di Jakarta dan sekitarnya sudah kelebihan beban.

“Sedangkan paket proyek keempat dan kelima masing-masing adalah sistem pemasokan air industri dan manajemen limbah. Kedua paket terakhir ini adalah bukti konkret untuk mewujudkan program green industry,” ujar Hatta.

Melihat besarnya skala proyek MPA tersebut, lanjutnya, akan berimplikasi pada ketersediaan dana untuk pembiayaan dan swasta melalui program public private partnership tentu diharapkan ikut mengambil peran besar.

Program IEDC dengan MPA sebagai proyek prioritasnya itu semestinya dijalankan dengan konsisten dan berkesinambungan. Dibutuhkan ketegasan, kecepatan, dan keberanian dalam pengambilan keputusan untuk membereskan sejumlah agenda, baik dari sisi ekonomi maupun politik, untuk mewujudkan rancangan besar menuju percepatan kesejahteraan bangsa. Beranikah Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono mewujudkannya? (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
Sumber : Bisnis.com

Tags
  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Madina Temukan Ladang Ganja 1 Hektar

    Polres Madina Temukan Ladang Ganja 1 Hektar

    • calendar_month Rabu, 15 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN,( Mandailing Online )-Polisi dari Polrea Mandailing Natal ( Madina ) kembali temukan ladang ganja seluas 1 hektar di perbukitan tor sihite, Desa Pardomuan, Kecamatan Panyabungan Timur, Madina. Dipimpin Kasat Narkoba AKP Irwan , tim menelusuri perbukitan dengan berjalan kaki. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke lokasi. Tiba di lokasi, tim melihat ladang […]

  • Dibuka, MTQ dan FSN di Kotanopan

    Dibuka, MTQ dan FSN di Kotanopan

    • calendar_month Selasa, 1 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (Mandailing Online) – Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Festival Seni Nasyid ke XV Tingkat Kecamatan Kotanopan, resmi dibuka Senin malam (29/2) di Lapangan Terminal Pasar Kotanopan. Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Syafe’i Lubis bertindak membukanya. Dalam kesempatan itu, Syafe’i Lubis mengharapkan agar kegiatan ini jangan hanya sekedar seremonial, tapi harus bisa memotivasi warga agar […]

  • YRKI Dorong Bawaslu Madina Proses ASN yang Tak Netral di Pilkada

    YRKI Dorong Bawaslu Madina Proses ASN yang Tak Netral di Pilkada

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Yayasan Rumah Konstitusi Indonesia (YRKI) mendorong Bawaslu agar memproses dugaan keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam keterlibatan kampanye Pilkada 2020 di Mandailing Natal. Hal ini disampaikan Irsan Barus, dari Tim Pemantau Pilkada YRKI dalam keterangan persnya, Selasa (27/10) yang diterima redaksi. “Jangan dianggap sepele hal yang demikian, sebab sejak dari awal […]

  • Raja-raja Tabalkan Gelar Patuan kepada Ivan Batubara

    Raja-raja Tabalkan Gelar Patuan kepada Ivan Batubara

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 182 raja-raja Mandailing menobatkan gelar kerajaan kepada Ivan Iskandar Batubara, Kamis (7/7/2022) dalam satu kerapatan adat. Berlangsung di Sopo Godang Hutasiantar, Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kerapatan adat dipimpin Patuan Mandailing dari Mandailing Godang didampingi Mangaraja Iro Parlagutan dari Mandailing Julu. Kerapatan adat adalah sejenis sidang paripurna parlemen. Gelar raja […]

  • Kemeriahan HUT Madina

    Kemeriahan HUT Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Salah Satu Stand Pameran Pembangunan yang memeriahkan Hari ulang tahun kabupaten Madina yang ke 17. Telihat dalam foto Stand RSUD Panyabungan yang menjadi salah Satu Favorit pengunjung dengan Maket Master Plan Perencanaan Pengembangan RSUD Panyabungan.

  • Bintara Polri butuh pendidikan

    Bintara Polri butuh pendidikan

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Intimidasi atau teror yang kerap dilakukan oleh anggota kepolisian ditengarai karena kurangnya pendidikan terhadap para bintara Polri. “Padahal para bintara inilah yang berhubungan langsung dengan masyarakat, bukan para perwira,” terang Koordinator KontraS Sumut, Diah Susilowati, kepada Waspada Online, hari ini. Untuk itu, lanjutnya pihak Polri harus memberikan ilmu yang cukup kepada para bintaranya. […]

expand_less