Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Melissa Perez Kagumi Ritual Shalat

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 30 Agt 2013
  • print Cetak

Melissa Perez lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Sejak kecil ia akrab dengan ritual Katolik seperti Natal, Misa, dan Rosario. Meski keluarganya percaya pada satu Tuhan, yang disebut Yesus, namun, pada waktu lain mereka menyebutnya lain, yakni Bapa. Inilah yang membingungkan Mellisa.

Menurut Melissa, cara hidup Katolik tidak benar-benar ketat. Meski banyak aturan dalam Alkitab yang mewajibkannya mengikuti dan mempraktekannya, ia tidak merasa ada banyak tekanan guna mengikuti aturan itu.

“Dalam Katolik, ketika Anda sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya, maka Allah akan mengampuni Anda. Prinsip ini mirip dengan ajaran Islam. Yang membedakan mungkin, setiap dosa tanggung jawab masing-masing, kalau Katolik dosa itu ditanggung Yesus,” kata dia seperti dikutip Onislam.net, Kamis (28/8).

Lantaran dibesarkan dalam ajaran Katolik, Melissa tidak mengetahui ajaran lain. Ia bahkan tidak mengenal ajaran Islam. Ia hanya tahu umat Islam itu pembunuh. Mereka kerap membunuh orang lain ketika marah.

Saat di Filipina, Melissa melihat umat Islam jarang berbaur dengan komunitas Kristen. Mereka memiliki komunitas dan wilayah tersendiri. “Ketika saya masih menetap di Filipina, rasanya sangat mustahil belajar Islam. Ketika di luar, saya bersyukur mengetahui pesan sejati Islam, Alhamdulillah,” tuturnya.

Melissa belajar hidup mandiri pada usia muda. Orang tuanya bercerai ketika ia masih muda. Kala menghadapi kesulitan itu, Melissa tidak tahu dengan siapa harus berbicara. Sejak itulah, ia memutuskan meminta pertolongan Tuhan.

Pada usia 18 tahun, Melissa mulai bekerja di luar negeri dengan harapan dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil membeli rumah dalam usia 23 tahun

Saat tinggal di luar negeri, Melissa merasakan perbedaan yang besar dalam hal budaya. Ia memiliki kebebasan yang tak mungkin didapatnya ketika berada di Filipina.

Kemudian ketika berusia 29 tahun, muncul keinginan untuk menetap. Ia mulai berpikir membentuk keluarga kecilnya. “Saat itulah, saya bertemu dengan suaminya via internet, lalu saya diajak ke Mesir, dan Alhamdulillah, kami menikah di sana,” tuturnya.

Awalnya, Melissa bingung ketika ia bersuamikan seorang Muslim. Ia membayangkan akan ada kesulitan adaptasi. Suaminya berhasil menyakinkan Melissa untuk tidak terlalu khawatir. “Yang jadi masalah, bagaimana saya menjelaskan kepada keluarga bahwa suami saya seorang Muslim,” ungkapnya.(republika.co.id)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Toge Panyabungan Ditetapkan Sebagai Makanan Khas Mandailing

    Toge Panyabungan Ditetapkan Sebagai Makanan Khas Mandailing

    • calendar_month Jumat, 22 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        JAKARTA (Mandailing Online) – Toge Panyabungan ditetapkan sebagai makanan khas etnis Mandailing. Penetapan itu disahkan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2017 yang berlangsung pada tanggal 21 hingga 24 Agustus 2017 lalu di Jakarta oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. Dalam website http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbaceh/2017/08/24/sidang-penetapan-warisan-budaya-takbenda-indonesia-2017/ dijelaskan bahwa penetapan […]

  • Darul Mursyid Raih Nilai Tertinggi se-Sumut

    Darul Mursyid Raih Nilai Tertinggi se-Sumut

    • calendar_month Senin, 1 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAPSEL (Mandailing Online) – Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid mendapat nilai tertinggi akreditas I se-Sumatera Utara dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah Madrasah (BAN-SM). Perolehan nilai A dari BAN-SM ini bukan kali pertama diperoleh Darul Mursyid, melainkan sudah beberapa kali. Hanya saja, nila A yang terkandung kali ini cukup tinggi yakni 96 atau tertinggi. Kepala […]

  • 2 Unit Rumah di Tanggabosi Madina Hangus Terbakar

    2 Unit Rumah di Tanggabosi Madina Hangus Terbakar

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Dua unit rumah semi permanen milik warga Desa Tanggabosi II, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), hangus terbakar, Jumat (06/05/2011) malam sekitar pukul 21.15 WIB. Satu unit rumah habis total dan satu unit lagi terbakar sebagian. Penyebab kebakaran diduga akibat pemilik rumah meninggalkan sayur yang masih dimasak di dapur rumah. Rumah yang hangus terbakar […]

  • Para Caleg Mulai Perang Poster di Panyabungan

    Para Caleg Mulai Perang Poster di Panyabungan

    • calendar_month Jumat, 16 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Poster-poster para calon anggota legislatif (caleg) DPR RI, DPRD provinsi maupun DPRD kabupaten mulai perang alat peraga di kota Panyabungan, Mandailing Natal (Madina). Pantauan wartawan, Jum’at (16/8/2013), poster dan baliho serta spanduk para caleg ramai di sepanjang jalan protokol Panyabungan maupun taman kota. Pesan- pesan yang tertulis umumnya ucapan selamat berpuasa […]

  • Kawasan Mandailing Julu Butuh Perbaikan Jalan dan Air Bersih

    Kawasan Mandailing Julu Butuh Perbaikan Jalan dan Air Bersih

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pada reses ke III DPRD Mandailing Natal (Madina) di wilayah Mandailing Julu menemukan beberapa desa membutuhkan perbaikan infrastruktur jalan dan pengadaan air bersih. Anggota DPRD dari Fraksi PKB Daerah Pemilihan II Madina, Ir.Zubeir Lubis, Kamis (19/9/2013) mengatakan usulan masyarakat untuk perbaikan infrastruktur jalan penghubung antara Desa Rao-rao menuju Desa Panjaringan, sekitar […]

  • Karang Taruna Siabu Ambil Bagian Meriahkan Tahun Baru Islam

    Karang Taruna Siabu Ambil Bagian Meriahkan Tahun Baru Islam

    • calendar_month Selasa, 18 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    SIABU(Mandailing Online) – Menurut Ringgo Ketua Karang Taruna Kecamatan Siabu, Tahun Baru Islam adalah bentuk takzim terhadap sejarah serta budaya Islam. Sejarah yang dimaksud adalah cerita Nabi Muhammad bersama Sayidina Abu Bakar RA hijrah dari Kota Mekah ke Madinah. Momen inilah yang kemudian menentukan Tahun Baru Islam 1 Muharram. Sebagai bentuk rasa gembira dalam menyambut […]

expand_less